kiriman dari seorang teman.
Sayang ada beberapa file video yang ga' ikut ke kirim.
Cheers
@ji
Episode UGD: Bukan Urusan Saya...
<http://srisariningdiyah.multiply.com/photos/hi-res/upload/R1xuTgoKCngAA
DDwV2E1>
22.28
Bulan sedang menuju tepat ke jantung malam...
sayup suara orang berbincang di jalan terdengar riang dalam gelut malam
minggu
untuk beberapa puluh menit mata terfokus ke arah monitor setelah melirik
jam
dan peluh mulai mengharuskan badan dibersihkan untuk memulai ritual
istirahat
baru saja resluiting terperancah dan jaket di kebas untuk digantung
ketika diluar sana terdengar kegaduhan, sekitar 15 meter dari pusat
syaraf
bunyi roda motor berdecit dengan rem, beradu dengan aspal...
seketika dalam sepersekian detik otak langsung mengirim sinyal ramalan
bahwa yang terjadi selanjutnya adalah seperti biasa, tumbukan besar...
entah antara motor dengan aspal, motor dengan tiang listrik, atau...
kemungkinan terburuk adalah daging dengan sesuatu...
dan ketika suara tumbukan terakhir dengan efek suara dramatis,
berhasil menghentikan untuk sesaat seluruh jalan darah,
menyedot semua kesadaran reflek untuk bergerak,
akhirnya datang juga imajinasi itu...
gambaran terburuk di luar sana...
Tolong jangan sampai sesuatu terburuk yang terjadi,
hanya itu pinta dalam batin, sambil bergegas kembali menyambar jaket,
dan kotak P3K.
============ ========= ========= =======
Tulisan ini ditulis sebelum tulisan ini
<http://multiply.com/mail/message/srisariningdiyah:notes:301> , dan
akhirnya gue posting untuk everyone, setelah menimbang-nimbang baik dan
buruk resiko-nya. Mudah-mudahan resiko negatif lebih kecil daripada
resiko positif-nya. Dan mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi tambahan
pengetahuan kita, terutama bagaimana menghadapi peristiwa serupa kelak.
Emang paling enak 'tuh 'numpahin uneg-uneg di blog, daripada media
massa. Dan uneg-uneg ini 'udah terpendam ratusan tahun eh maksud gue...
pokoknya 'udah terpendam sejak lama, jaman gue masih bocah cilik gitu
'lah. Yang gue maksud dengan uneg-uneg disini adalah kekesalan gue
terhadap sikap dokter yang tindakan-nya tidak mencerminkan profesi yang
dipilih mereka sendiri. Sorry... tulisan ini sama sekali tidak ditujukan
untuk mendiskreditkan profesi tertentu, atau untuk tujuan mencemarkan
nama baik, atau untuk tujuan cari popularitas *kalo dokter yang gue
maksud baca blog gue ini yah*, atau untuk menebar kebencian terhadap
profesi tertentu. Enggak.
Tulisan ini semata murni UNEG-UNEG.
Kalau ada yang sampai protes terhadap tulisan curhat gue ini, mohon
disampaikan melalui jalur pribadi, dan mohon maaf juga nih, gue pasti
baca tapi 'gak janji akan gue layani.
============ ========= ========= =======
Setelah dulu waktu kecil pernah mengalami tindakan dari dokter yang
menyebabkan surutnya kepercayaan gue terhadap profesi satu ini, beberapa
kali situasi yang sama terjadi dan terlewatkan begitu aja dalam hidup
gue, termasuk kejadian yang menurut gue termasuk malpraktek yang
dilakukan dokter RS ***tuuuttt** ** terhadap rekan gue satu rumah yang
mengalami luka bakar hebat sehingga harus segera dilakukan tindakan
operasi. Berhubung aja temen gue orang-nya pasrah-an dan mohon2 ke gue
untuk 'gak cari gara-gara sama dokter-nya, maka gue 'gak tulis deh
kisah-nya di sini.
Dan episode terakhir berhubungan dengan dokter yang bikin gue naik darah
ini terjadi malam ini, Sabtu 8 Desember 2007. Ketika terjadi kecelakaan
di depan rumah yang mengakibatkan seorang gadis 18 tahun bernama Wulan
sempat 'gak sadar beberapa saat setelah kejadian.
+/- 22.50
Begitu terbiasa dengan suara-suara motor di depan rumah yang jatuh
terguling entah karena jalanan licin dan kurang hati-hati
pengendara-nya, atau karena bertabrakan dengan motor lain, membuat gue
sedikit hapal dengan perkiraan hasil akhir kejadian tersebut, dari suara
yang ditimbulkan. Kali ini sungguh dramatis, dan gue 'gak yakin sendiri
apakah kotak P3K yang gue sambar dalam kalut menghambur menuju ke
jalanan depan rumah akan berguna.
Wulan masih tergeletak di tepi jalan ketika orang-orang mulai
mengerumuni. Gue segera minta tolong ke orang-orang yang ada entah itu
siapa, untuk segera 'mindahin Wulan ke dalam rumah, paling enggak
membaringkan di sofa ruang tamu akan membuat dia sedikit lebih nyaman.
Walaupun gue sendiri khawatir karena Wulan 'nggak merespon cubitan di
tangan dan tepukan di pipi, akhirnya gue sedikit lega waktu akhirnya
beberapa menit kemudian Wulan mulai membuka mata. Waktu ditanya
bagaimana rasanya, Wulan diam aja 'gak ada reaksi, hanya bola mata yang
berputar dan juga kepala terkulai.
Heran dengan cukup banyak noda darah di lengan baju, akhirnya gue dan
rekan mulai memeriksa sekujur tubuh Wulan yang 'gak ada luka sama sekali
kecuali lecet bekas kena aspal yang mengeluarkan darah di kaki. Segera
gue semprot spray anti infeksi itu luka, dan cukup lega mendengar Wulan
merintih "sakiiiiiittttt", waktu luka-nya disemprot. Tapi tetap aja kami
heran dari mana noda-noda darah di lengan itu...
Setelah sibuk meneliti dan memastikan 'gak ada masalah dengan patah
tulang, akhirnya kami memberanikan diri untuk membalikkan badan Wulan,
dan dari situ baru kami menyadari... luka di kepala Wulan cukup besar.
Dan genangan darah beku di rambut panjang-nya mendukung perkiraan kami.
Gunting rambut dan handuk basah segera melakukan tugasnya, rambut
panjang-nya sangat lebat. Namun kejadian selanjutnya sungguh membuat
kami takut... Wulan mulai muntah-muntah dengan hebat-nya...
+/- 23.20
Berbekal seadanya tanpa persiapan memadai kami langsung menuju rumah
sakit yang terletak sekitar 400 meter dari rumah. Dan Wulan masih
muntah-muntah di dalam mobil. Sampai di UGD RS Permata Bunda yang
letaknya di perempatan jalan, perawat jaga yang ditemui menyatakan tidak
sanggup menangani, membuat kami harus bergegas menuju RS berikutnya di
daerah menuju Depok Timur. RS Hermina yang cukup besar sempat menerima
Wulan di dalam UGD, dan dokter jaga di dalamnya menyarankan untuk segera
dilakukan CT Scan, melihat luka yang besar di kepala dan tonjolan hitam
di mata Wulan. Kami oke saja mengangguk menyetujui. Dan ternyata... di
RS inipun alat CT Scan tidak ada... *sigh*... Terpaksa Wulan kami pindah
lagi dari bed ke dalam mobil untuk mencari rumah sakit yang cukup besar
dan mempunyai alat CT Scan.
+/- 00.00
RS Sentra Medika,Jl. Raya Bogor Km. 33, Cisalak, Depok.
Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga
yang ada juga kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit,
malah akhirnya kami sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu
langsung memeriksa Wulan dan perawat mulai menginterogasi kami bagaimana
kejadian-nya. Sampai disini gue masih merasa tidak ada masalah, sampai
ketika dokter jaga yang memeriksa kepala Wulan berkata, "ini luka-nya
cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan..."
"Iya dokter, mohon segera diambil tindakan aja" , kami langsung
mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya ulang, "Mau langsung di CT
Scan, atau di rawat dulu?"
Lho... menurut gue aneh pertanyaan-nya sih, tapi... ya sudahlah
berhubung lagi panik dan khawatir keadaan Wulan, kami langsung menjawab
ulang, "langsung CT Scan aja dok". Untuk tambahan informasi, dalam
perjalanan menuju rumah sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi
keluarga dan kerabat Wulan untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak
menyalahi dan melanggar hak-hak orang lain. Ketika gue tanya, "mas,
dokter di rumah sakit menyarankan dilakukan CT Scan, apakah
diperbolehkan Wulan di CT Scan, dan bagaimana mengenai biayanya, maaf?"
dan mereka bilang silahkan ambil tindakan terbaik & 'gak masalah dengan
CT Scan... akhirnya menurut gue ya cukup wajar, ketika gue menyampaikan
kehendak keluarga ke pihak rumah sakit. Yang penting gue tidak merasa
melanggar hak orang lain, itu aja.
Menit-menit berikutnya, gue mulai mondar-mandir antara UGD - Radiologi,
mengisi formulir, dan 'agak mengganggu perawat di ruang Radiologi yang
entah sedang apa di balik tirai, sebelum akhirnya gue menerima tagihan
biaya CT Scan... Rp. 600.000,-
Gue agak berperang dalam batin ketika menerima tagihan itu, antara
menyesal 'nggak well prepared pergi ke rumah sakit *ya begimana lagi
namanya juga buru-buru yah... masih bisa bawa mobil menuju rumah sakit
dan sampai dengan selamat aja 'udah untung alhamdulillah*, dan
membayangkan kalau 'nggak cepet dilakukan CT Scan 'emang seberapa parah
sih, keadaan Wulan?
Akhirnya gue berinisiatip langsung tanya lagi ke dokter jaga di UGD:
"dokter, pasien apa harus segera di CT Scan sekarang atau 'nunggu
keluarga dahulu?"
Dokter menjawab, "sebaik-nya segera" ...
Gue bilang lagi, "kalau gitu bisa 'ngga dokter, kalau pembayaran
dilakukan sebagian dahulu atau setelah dilakukan CT Scan, karena uang
sedang dibawa keluarga dalam perjalanan?"...
"Wah itu terserah bagian radiologi, coba anda tanya ke sana, kami hanya
melaksanakan CT Scan atau tidak, tapi kebijaksanaan administrasi yang
menentukan ada di bagian radiologi langsung",
kata dokter itu lagi sambil 'nulis2 sesuatu di meja tanpa melihat ke
gue.
"Oh, oke dokter, saya ke sana lagi", gue bilang sambil melirik ke Wulan
yang 'teronggok' di bed dan agak bingung... *kog belum diapa-apain
dokter yah*... sementara itu gue lihat ada beberapa dokter dan perawat
yang sedang santai-santai sms dan 'ngobrol dalam ruang UGD ini, yang
pasien-nya hanya Wulan seorang.
Terpacu oleh kenyataan bahwa kalau gue 'nggak cepet ke bagian Radiologi
lagi, nanti Wulan kenapa-kenapa, gue mempercepat langkah dan tanya
suster di Radiologi:
"mbak, mmm... kalau pembayaran-nya nanti setelah keluarga dateng atau
sebagian dulu bisa 'nggak? Jadi pasien di CT Scan dulu sekarang..."
"Wah kalau itu terserah bagian UGD mba, saya cuma jalanin mesin CT Scan
aja disini...", kata suster bikin jantung gue mak nyossssss... dan
langsung menyadari cepat... gila ada apa ini kog gue dilempar-lempar
begini. Dengan wajah agak memelas dan mohon supaya suster mengerti
akhirnya gue bilang:
"mbak, mmm tadi saya baru dari UGD dan dokter di sana minta supaya saya
ke sini minta persetujuan mbak, apa mbak bisa konfirmasi telepon ke UGD
aja daripada saya bolak-balik lagi?"
Dengan muka jelas langsung asem, suster tersebut menelepon bagian UGD,
dan kembali menjelaskan ke gue bahwa prosedur tindakan memang begitu,
bahwa gue harus bayar dulu, baru CT Scan dilaksanakan.
"Walaupun saya bayar sebagian dahulu apa 'gak bisa juga mbak?", tanya
gue lagi.
"Wah kalau itu masalahnya silahkan mbak tanya ke bagian kasir...", yang
mana ketika gue ke sana juga dibilang gue harus minta persetujuan dokter
jaga dahulu.
Weks...
Buru-buru gue menuju UGD lagi, dan bertanya:
*sambil melirik bed Wulan... loh kog belum diapa-apain juga nih Wulan,
masih teronggok aja di bed?*:
"Dokter, saya benar-benar bingung... sebaiknya Wulan harus cepat di CT
Scan atau tidak, saya dan keluarga berharap cepat ada tindakan, tapi
terus terang uang yang ada belum cukup. Saat ini keluarga sedang menuju
kemari bawa uang. Bagaimana dokter?"
"Ya kami hanya menjalankan prosedur di rumah sakit ini saja, ibu...",
kata dokter itu lagi.
"Saya mengerti dok, tapi saya bingung, CT Scan itu benar-benar
dibutuhkan atau tidak untuk Wulan? Kalau persoalan-nya uang, kami mau
membayar sebagian dahulu, tapi tetap katanya harus persetujuan dokter.
Saya sendiri khawatir tadi dia muntah-muntah begitu hebat", dengan nada
agak mulai naik dikiiitttt.. . *gimana 'gak naik suara dikit, dilempar
kesana kemari kayak pingpong gitu... tengah malem pulak*
Dan dokter itu mulai membentak gue di depan Wulan dan beberapa REKAN
SEJAWAT-nya:
"Bagaimana mau di CT Scan kalau pendarahannya belum berhenti!!! Ibu
mengerti !!!??!!!"
Kesadaran langsung terhempas.
Tapi gue masih punya harga diri sedikit:
"Kalau pendarahan-nya harus dihentikan sebelum CT Scan, kenapa tidak
dari tadi dihentikan, dokter? Mungkin tidak di-CT Scan dahulu tidak
masalah, tapi saya lihat terhadap pasien ini masih belum diambil
tindakan apapun dari tadi, sejak saya mondar-mandir ke Radiologi?",
dengan suara mulai agak tersendat, kalut dengan emosi dan airmata yang
hampir tumpah. Dan gue berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya
lagi:
"Maksud saya, apakah dokter tega, kalau misalnya nanti pasien ini mati
tanpa penanganan di sini?",
suara gue makin lirih...
"ITU BUKAN URUSAN SAYA!!!!!"
Gelegar kata-kata dokter itu semakin menghempas gue ke pojokan yang
betul-betul berupa pojokan ruang UGD. Untuk sesaat gue sulit bernafas,
mencoba mencerna dengan kerongkongan tercekat dan pandangan nanar ke
arah dokter itu. Mencoba meraba untuk mengenali jenis spesies apa yang
bersembunyi di balik jubah putih itu. Tumpahan emosi semua orang yang
bercampur-aduk di ruangan itu sangat terasa aroma-nya dalam diam.
Kenyataan memang pahit, tapi sangat terasa kental-nya pahit ketika elu
mencoba menerima kenyataan, bahwa kepercayaan yang selama ini dibangun,
untuk percaya bahwa profesi dokter, yang selama ini dipuja-puji, adalah
penolong sesama MANUSIA, hancur berkeping-keping. Ruang kepercayaan itu
masih ada kog, tapi lantai-nya malam ini kembali dinodai. Sulit untuk
menghapus noda-noda yang melekat dalam kenangan itu.
+/- 00.40
Detik-detik selanjutnya adalah episode drama ketika:
"Bukan... urusan... dokter...", gue mengucap lirih terbata dalam perih
yang tersendat pahit menguar, mengulang kata-kata dokter yang terdengar
jumawa di telinga. Lalu, bagai tersengat lebah dokter-dokter lain dalam
ruangan UGD tersebut mulai berhamburan menghampiri Wulan yang teronggok
bagai daging tanpa harga di bed UGD. Bagai kupu-kupu yang mulai
menyadari, ada sekuntum bunga elok di balik semak berduri, yang wajib
dikerumuni. Bagai para penambang emas yang tiba-tiba menemukan sebongkah
emas dalam tambang. Well, daging sapi yang masih berdarah-darah aja di
supermarket masih berlabel HARGA, yang jelas menunjukkan BENDA BERHARGA.
Dan manusia bernama Wulan ini sama sekali tidak ada harga-nya di mata
dokter yang 'udah membentak gue.
<http://srisariningdiyah.multiply.com/photos/hi-res/upload/R1xvxAoKCngAA
D-or7c1>
dr. Abraham, dr. Sanny, dr. Della & perawat Fauziah,
serta dokter yang membentak gue, membelakangi kamera.
Sementara gue masih tersendat di pojokan UGD, berusaha menghimpun
kepercayaan yang terserak atas apa yang telah terjadi, mencoba mencari
pondasi kekuatan lewat pandangan menghujam lantai. Entah... mungkin para
dokter yang tadi asyik nongkrong tidak mempedulikan Wulan, mulai sadar
bahwa mereka adalah dokter, yang harus menolong sesama, yang kesulitan
dalam fisik yang terluka. Tapi gue 'udah 'nggak peduli kenyataan itu.
Kenyataan-nya yang ada sekarang adalah... dokter jaga yang satu itu
entah siapa namanya... yang seperti-nya berwenang disitu... dalam
kata-kata yang diucapkan dengan jelas... 'nggak peduli sama nasib Wulan,
sebagai sesama MANUSIA.
Dan episode selanjutnya, adalah ketika luka di kepala Wulan yang sudah
mencapai tahap pembengkakan hampir sebesar bola tenis, akhirnya dijahit.
<http://srisariningdiyah.multiply.com/photos/hi-res/upload/R1xw1AoKCngAA
[EMAIL PROTECTED]>
gambar ini gue ambil disela proses penjahitan yang belum selesai,
ketika ada dokter yang menyingkir sebentar dan akhirnya menyelesaikan
jahitan.
Luka pertama ini cukup besar dibanding luka kedua di belakang telinga
kanan.
Dan gue hanya bisa pasrah, di pojokan UGD sambil berucap dalam hati...
apakah harus melalui ini semua, setiap tindakan dalam ruang UGD
dilakukan? Apakah harus ada pembuktian jumawa seorang dokter di balik
jubah putih-nya, dengan kata-kata yang dikeluarkan? Apa yang hendak
dibuktikan dari semua ucapan dokter itu? Dan berapa banyak sudah pasien
yang mungkin mati infeksi karena telat ditangani dokter yang belum
mengumbar jumawa-nya, seperti yang telah dilakukan dokter ini di depan
kami?
Kematian atau cacat mungkin adalah takdir, tapi 'nggak perlu campur
tangan kita untuk mempercepat kematian itu atau memperburuk keadaan.
Usaha semaksimal mungkin untuk mencegah yang terburuk, itu yang penting.
<http://srisariningdiyah.multiply.com/photos/hi-res/upload/R1x1qQoKCngAA
B1mlzI1>
Gue bukan hendak sok pahlawan atau sok tahu dengan semua teori
kedokteran bahwa ini dan itu, yang jelas dalam pikiran gue sebagai
MANUSIA, ketika ada seseorang terlihat terluka di depan elo, entah elo
dokter atau bukan, entah manusia itu hampir mati atau hanya merintih,
entah manusia itu musuh atau sahabat kita, harus segera diambil tindakan
untuk mencegah supaya manusia itu tidak tambah menderita. Itu aja. Gak
perlu teori harus CT Scan-lah, rontgen-lah, MRI-lah...
Sedangkan kucing aja disayang-sayang & ditangisi kalau luka dikit...
manusia bernama Wulan ini, hanya teronggok di UGD sementara kepala
bocor-nya mulai membengkak dan terus mengeluarkan darah dan cairan yang
entah apa lagi...
Untuk sesaat memejam mata, gue berharap ini semua cuma mimpi. Perlahan
gue keluar ruang UGD dan agak terduduk bersandar di pagar taman. Masih
seperti mimpi, gue mulai tersadar ketika bed Wulan didorong melewati
gue, oleh suster dan satpam *mungkin untuk memastikan kita 'gak kabur
kali... gapapa deh yang penting langsung ada tindakan* dan menuju...
Ruang Radiologi. Yes.... thanks God... batin gue sambil mengusap muka.
<http://srisariningdiyah.multiply.com/photos/hi-res/upload/R1xzTgoKCngAA
HwHljE1>
+/- 01.15
Begitu keluarga datang, gue langsung menuju tempat parkir dan segera
pulang untuk melupakan episode mimpi ini. Menurut kerabat yang gue
telepon, Wulan harus dalam pengawasan dokter. Dan sampai sekarang,
kondisi-nya belum pulih kesadaran-nya. Gue cuma bisa berdoa yang terbaik
untuk Wulan...
==========
.... sekali lagi, tulisan ini murni curhat, uneg-uneg.
.... kalau ada yang tersinggung, mohon dimaafkan, namun demikian bila
ada reply, mohon untuk tidak bernada membela dokter yang sudah membentak
gue di depan Wulan. Karena itu sangat menyakitkan dan belum bisa gue
lupakan, apapun alasan-nya,. ..
.... semata hanya agar tidak terulang kembali episode ini, maka gue
tulis di sini.
.... semoga dari tulisan ini kita bisa memetik hikmah pentingnya
kesehatan & keselamatan dalam perjalanan, dimanapun berada.
.... dan semoga rekan-rekan yang berprofesi sebagai dokter dan membaca,
tidak sama dengan dokter yang sudah membentak gue.
.... gue yakin, masih banyak rekan-rekan dokter di luar sana yang baik
dan berdedikasi tinggi kepada kemanusiaan. Paling tidak, untuk semua
dokter dan tenaga paramedis lain yang telah gue sebut nama-nya dan gue
pajang foto-nya di jurnal ini, gue mengucapkan terima kasih atas
penanganan awal yang akhirnya diusahakan cepat kepada saudari Wulan,
walaupun harus melalui episode yang kacau ini. Semoga amal ibadah anda
semua dibalas berlipat ganda oleh Yang Maha Kuasa. Trims...
============ ========= ==
*Detil jam pada catatan ini disesuaikan dengan log pada hp ketika ada
percakapan & pemotretan.
Berdasarkan catatan ini dapat diketahui, Wulan baru dikenai tindakan
medis setelah kira-kira 30 menit dibiarkan. Tidak lama memang, tapi
siapa yang bisa memperkirakan dampak-nya?
Mohon maaf bila salah.
*Berhubung ada perkembangan tak terduga bahwa jurnal ini di-link oleh
banyak rekan, bila ada yang merasa dirugikan dengan adanya catatan dalam
jurnal ini, dapat langsung menghubungi gue di: 0818-848499 atau
srisariningdiyah@ yahoo.com <http://yahoo.com/> , tanpa melibatkan pihak
lain terutama pasien. Semua akibat dari penulisan jurnal ini tanggung
jawab-nya ada pada gue pribadi.
Terima kasih.
Noverto Aji Prasetyo
Sales Planner
PT Frisian Flag Indonesia
Jl. Raya Bogor Km. 5 Pasar Rebo
Jakarta 13760
Phone +62 (21) 8410945, 8400611 (ext. 245)
Fax +62 (21) 8410895, 8400225
mailto:[EMAIL PROTECTED]
www.frieslandfoods.co.id <http://www.frieslandfoods.co.id/>
"The information contained in this message and its attachments is intended only
for the use of the addressee, you may not use, copy or disclose to anyone any
information contained in the message and its attachments. If you received the
message in error, please advise the sender immediately and destroy or delete
the message. E-mail transmission cannot be guaranteed to be secure or error
free as information could be intercepted, corrupted, lost, destroyed, arrive
late or incomplete, or contain viruses. The sender therefore does not accept
liability for any errors or omissions in the content of this message which
arise as a result of e-mail transmission. If verification is required please
request a hard copy version."
"De informatie verzonden met dit e-mail bericht en de bijlagen is uitsluitend
bestemd voor de geadresseerde(n). Gebruik van deze informatie door anderen dan
de geadresseerde(n) is verboden. Indien u dit e-mail bericht bij vergissing
heeft ontvangen, wilt u dan de verzender onmiddellijk waarschuwen en het
bericht vernietigen. Het gebruik van e-mail is niet gegarandeerd veilig of
foutloos; informatie kan worden onderschept, verminkt of verloren gaan; kan te
laat of incompleet binnenkomen of virussen bevatten. Om deze reden neemt de
verzender geen enkele verantwoordelijkheid voor fouten of wijzigingen in de
inhoud van dit bericht als gevolg van het versturen via e-mail. Bij twijfel
verzoeken wij u een kopie op te vragen."