Dari blog tetangga.. semoga kita bisa mengambil ibrahnya..
See.. http://irdin.multiply.com/journal/item/5/Dia_berbicara
DIA BERBICARA
Sebentar lagi saat adzan magrib tiba. Aku memindahkan chanel tv ke
stasiun RCTI, ada tayangan luar angkasa saat adzan magrib yang selalu
diputar. Jajaran bintang - bintang itu membuatku takzim pada Nya. Tak
lama kemudian adzan berkumandang.
Ku ingatkan putraku Hafiz untuk segera sholat.
"Mama dulu aja." Katanya mencari alasan menunda.
"Mama sedang haid, ga sholat." Jawabku.
"Enak jadi cewek, boleh libur sholat." Dia menyahut sambil berjalan ke
kamar mandi. Aku mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Tak
lama kemudian kulihat Hafiz menggelar sajadah. Beberapa tetes air
berjatuhan dari wajahnya karena gerakannya yang sambil melompat -
lompat. Dia anak yang aktif dan lincah, senang menirukan gaya
breakdance. Ketika perayaan 17an di kampung, aku membuat koreografi
untuk hafiz dan beberapa orang temannya. Alhamdulillah sukses. Penonton
mengelu - elukan aksi mereka yang atraktif.
"Lha, kok malah duduk." Tanyaku.
"Hafiz mau cerita dulu." Sambil menyelonjorkan kaki.
Aku tak berkomentar lagi. Biasanya kalau terus dikejar untuk segera
melakukan sesuatu dia malah jadi asal - asalan.
"Ma, tadi kak Taufik cerita disekolah. Ada seorang anak tidak mau pergi
mengaji. Orang tuanya sampai sedih. Terus anak itu akhirnya mau ikut
ngaji asalkan ustadznya bisa menjawab tiga pertanyaannya. Lalu dia
menemui ustadznya dan mulai bertanya. 'Pak ustadz, apa Allah itu ada ?,
dimana?' Eh, anak itu malah ditampar sama ustadznya. 'Lho, kok saya
ditampar ?' dia memegangi pipinya. 'Sakit ?' tanya Pak ustadz. 'Ya
sakit.' Jawab anak itu. 'Kok ngga kelihatan ?' tanya Pak ustad lagi.
Anak itu diam saja. 'Kamu percaya sakit itu ada kan, meskipun tidak
kelihatan tapi kamu bisa merasakan. Allah itu ada, tidak kelihatan tapi
bisa kita rasakan. Sekarang kamu percaya kalau Allah itu ada ?' Pak
ustadz bertanya lagi. Anak itu mengangguk. Lalu dia tanyakan lagi yang
kedua. 'Pak ustadz, Allah itu bicaranya gimana ?'. Lalu jawab Pak
Ustadz, 'Allah berbicara lewat firman yang tertulis di Al Qur'an dan
lewat bukti - bukti'. Lalu pertanyaan ketiga, 'Pak ustadz, setan itu kan
dari api. Terus kalau nanti masuk neraka apa dia sakit, neraka kan dari
api ?'. Jawab Pak Ustad, 'Manusia dari tanah, tapi kalau kamu jatuh ke
tanah sakit ngga ?' Pak ustadz balik bertanya pada anak itu. Dia
mengangguk, dan akhirnya mau ikut ngaji.' Gitu Ma ceritanya. Gimana,
bagus ngga ?" Sepertinya Hafiz puas karena aku menyimak ceritanya.
Mulanya aku merasa Hafiz hanya ingin mengulur waktu saja. Tapi lama
kelamaan aku benar - benar menyimak cerita itu.
"Bagus. Tapi ada yang mama kurang ngerti. Allah berbicara dengan bukti
itu maksudnya gimana Mas ?" Aku memang kurang mengerti maksudnya dan
sebenarnya juga ingin tahu sejauh mana Hafiz mengerti. Hafiz memandang
sekitar, sambil tak beranjak dari sajadah tempatnya duduk. Lalu Hafiz
meraih tumpukan koin lima ratusan yang ada di atas rak TV. Ada enam koin
ditangannya.
"Gini lho ma ..." Hafiz diam sejenak, lalu dia mulai memutar koin - koin
itu. Koin pertama berputar agak lama.
"Ini angka atau gambar ?" Sambil dia menggoyang - goyangkan kepalanya.
Ternyata sisi angka yang kelihatan. Lalu koin kedua diputarnya, dan
terpental ke lemari. Sisi angka juga yang terlihat. Demikian juga koin -
koin yang lain diputarnya satu persatu.
Subhanallah... keenam koin itu sama - sama berhenti pada sisi
angka. Hafiz tersenyum, "Benarkan ma, itu buktinya." Hafiz memandangku
sambil menaik - naikkan alisnya. Aku diam memandangi koin - koin yang
tersebar dilantai.
"Masak sih mas ? Coba, lagi." Pintaku takjub, namun masih kurang yakin.
Dalam hati aku memohon, ya Allah apabila permainan ini adalah atas
seijin Mu, berikanlah keyakinan kepada putraku Hafiz dan tetapkanlah
dalam hatinya akan keberadaan Mu.
Hafiz kembali memutar koin - koin itu satu persatu. Kali ini semuanya
berhenti pada sisi gambar. Aku semakin takjub. Kupandangi keenam koin
itu.
"Subhanallah ... yang bener mas ? Mama masih belum ngerti maksudnya."
Aku semakin heran dan takjub.
"Ma, tadi hafiz berdoa sama Allah. Dan Allah membuktikan diriNya. Coba
siapa yang mengabulkan doa Hafiz ? Allah kan ?" Penjelasannya sangat
bersemangat. Namun tak sepatah katapun dapat kuucapkan. Hatiku bergema
tahmid, subhanallah ... subhanallah ... . Hafiz tak menunggu komentarku.
Dia berdiri dan melaksanakan sholat magrib.
Masih saja aku terdiam. Ketika hafiz selesai sholat, dia ulurkan
tangan. Aku menggapai tangannya, dan dia mencium tanganku.
"Mama coba ya mas." Tanganku berkeringat dan sedikit gemetar. Ya Allah,
aku memohon kepada Mu, buktikanlah kepadaku akan keberadaan Mu. Lalu
satu persatu koin berputar. Hatiku berdebar - debar, seperti sedang
menunggu hasil ujian. Berharap Allah menjawab doaku, namun juga pasrah
pada apa yang akan ditunjukkan Nya. Koin itu ada yang sebentar sudah
berhenti, ada yang lama. Ada yang bertabrakan, ada juga yang berhenti
dalam posisi berdiri beberapa saat lalu ... plek jatuh. Setelah semua
koin berhenti berputar, aku dan Hafiz meneliti satu persatu.
Subhanallah ... keenam koin itu semuanya berhenti pada gambar
garuda. Siapa yang mengatur keenam koin itu. Pastilah Allah yang
mengaturnya seperti itu. Aku yakin Allah ada dan membuktikan keberadaan
Nya. Namun aku takjub, secepat ini Allah mengabulkan doaku. Tak tau lagi
perasaan apa yang hadir dalam hatiku. Aku memandang Hafiz yang sedang
tersenyum pula kearahku. Aku memandangi koin - koin itu lagi satu
persatu, lalu aku memandangi seluruh sudut ruangan kamar. Aku ingin
merasakan keberadaan Nya. Sambil terus berdiam aku mencobanya lagi. Dan
aku hampir menangis, karena untuk yang kedua kalinya kucoba memutar koin
- koin itu, hasilnya sama. Semua bergambar garuda. Enam buah koin selalu
sama. Ya Allah, Engkau tengah berada bersama kami di ruangan ini.
Malam itu hatiku tak henti - hentinya bertahmid, subhanallah ...
subhanallah ... subhanallah ... .
CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged.
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email
and its attachments, if any, or the information contained herein is
prohibited. If you have received this email in error, please
immediately notify the sender by return email and delete this email
from your system. Thank you.