halah boss malik, bisa ajah nyentil gue... bukan gue gak suka porwatan, tapi mbok yah kalo posting jgn cuma porwatan ajah, skali-skali ikutan urun saran, ikutan ngobrol.. kek gini kan, walau porwatan, tapi ada silahturahminya. setidaknya elo nyapa gue, huehehehehe
walau gue dah pernah dapet sebelumnya, tapi asli kocak bangat nih cerita okeh bro... btw, si bowo skarang dimana bro? gak pernah kedengeran kabarnya? On 1/18/08, malik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sorry ...bagi yang ngak suka foward-an....tapi karena ini menarik bagi > gw....jadi gw mo bagi ama temen -temen sekalian...... > > sorry....bos opik...hehehehehe > > > > > * * > ------------------------------ > > _,_._,___ > Republika, Rabu, 09 Januari 2008 > Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto > > Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit Pusat > Pertamina (RSPP), > begitu mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak > Jumat (4/1) pukul > 14.15 WIB. Ada tokoh pemerintah, tokoh politik, artis, > mantan > pejabat, hingga wartawan. Hari pertama Pak Harto > menempati > Presidential Suite, lantai 5, kamar 536, pengunjung > belum banyak. > > Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo > Arismunandar, Prabowo > Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang > hingga malam, lobi > Gedung A RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil > mewah. Hari itu, > memang terbetik kabar bahwa kondisi kesehatan Pak > Harto menurun, > bahkan sempat kritis. > > Karangan bunga juga terus berdatangan. Jumat, karangan > bunga langsung > diantar ke lantai lima. Sabtu, sudah memenuhi lobi > seluas dua kali > lapangan bulu tangkis. Selasa (8/1) siang, karangan > bunga itu > dilokalisasi di lorong menuju lift Gedung A. Sebagian > besar terlihat > sudah layu. Sejak Jumat malam, wartawan media cetak > dan elektronik > tumplek blek di RSPP. Pada Jumat, Sabtu, dan Ahad, > jumlahnya 70-an > orang. Kemarin, saat kondisi Pak Harto dikabarkan drop > kembali, > jumlahnya mencapai di atas 100. > > Mereka bukan cuma menunggu di lobi Gedung A. Mereka > juga nongkrong > dekat kamar jenazah, kantin samping Gedung A, hingga > ruang UGD. > Berharap ada tokoh atau dokter yang datang atau pulang > lewat jalan > belakang. Mencegatnya, untuk mendapatkan informasi > eksklusif. > > Camelia Malik, Bustanul Arifin (maksudnya bustan-i-l > arifin, > purnawirawan militer, mantan menkop dan kepala bulog; > bustan-U-l > arifin adalah nama dosen Unila, peneliti INDEF), > Moerdiono, dan > Hayono Isman, yang saban hari datang, punya pola > berbeda. Camelia > Malik selalu datang lewat pintu depan, pulang lewat > pintu belakang. > Moerdiono dan anak-anak Soeharto, datang dan pulang > lewat belakang, > dekat kamar jenazah. Hayono Isman dan Bustanul Arifin > yang selalu > lewat depan. Kemarin, Halimah juga lewat belakang, > dekat kantin. > > Sejak Jumat, tunggu-menunggu di Lobi Gedung A RSPP tak > kunjung surut. > Maklum, jumpa pers kondisi kesehatan Pak Harto, hanya > dilakukan pagi. > Tak ada penjelasan pada siang, sore, dan malam hari. > Padahal, laporan > harus selalu disetor. Alhasil, setiap tokoh yang ingin > atau sudah > menjenguk Pak Harto, setiap mobil yang berhenti di > depan lobi, > langsung diserbu. Bagi yang wajahnya sudah familiar, > tentu mudah > dimintai keterangan. Lain soal kalau tak dikenal. > > Masalah kenal-mengenal ini ada cerita tersendiri. > Peliput kebanyakan > wartawan muda, generasi MTV yang lahir akhir 1970-an > atau awal 1980- > an. Sementara pengunjung rata-rata menjadi pejabat > saat para wartawan > masih berseragam merah putih atau putih biru. Di > situlah serunya. > Sabtu sore, dari mobil mewah berwarna gelap, seseorang > bertampang > pejabat berhenti di depan lobi Gedung A. Sontak, > wartawan bergerak > merubungnya. Kamera siap merekam dan menjepret, > reporter sudah > menyorongkan mic dan alat perekam lain, rentetan > pertanyaan sudah > disiapkan. > > Tapi, begitu sang pejabat keluar dari mobil, > jreeengggg, tak seorang > pun mengenalinya. Sunyi sejenak. Para wartawan > melongo, menoleh ke > kiri dan kanan. > > ''Sapa tuh?'' > > ''Siapa ya?'' Celetukan itu bertaburan. > > ''Kenal gak?'' > > ''Nggak tuh. Menteri kali?'' > > Tapi, dengan kadar kecuekan tingkat tinggi, para > reporter langsung > memberondongnya, ''Pak, namanya siapa?'' > > ''Mau jenguk Pak Harto, ya?'' > > ''Pak, dulu jabatannya apa?'' > > Mulanya, dia kaget. Tapi kemudian senyam-senyum. > Begitu pula wartawan > yang sampai akhir tak berhasil mengorek identitasnya. > > Tebak-tebakan pun muncul. ''Kayaknya mantan menteri > pertambangan dulu > deh. Wajahnya sih mirip Pak Sadli.'' > ''Heh, menteri tahun berapa tuh?'' tanya wartawan > lain. > > ''Ah, bukan tuh. Wajahnya mirip Bustanul Arifin, > mantan menteri > koperasi.'' > > Wartawan lain, dengan wajah bingung, bertanya, '''Hah? > Bustanul > siapa?'' > > Sampai Senin (7/1), peristiwa serupa masih terulang, > saat seseorang > turun dari Volvo di depan lobi Gedung A. ''Mau jenguk > Pak Harto, > Pak?'' Dia menjawab, ''Iya.'' Tapi, usai wawancara, > para wartawan > kembali saling pandang, ''Siapa tadi ya?'' > > Mengorek informasi dari karangan bunga, juga punya > kisah unik. > Biasanya, begitu karangan bunga masuk lobi, para > wartawan langsung > merubung kurir. Suatu ketika, melihat kartu nama > bertulis Anthony > terselip di karangan bunga lili, seorang wartawan > bergumam, ''Wah, > jangan-jangan dari Anthony Salim.'' > Kendati belum pasti, seorang wartawan yang > mendengarnya langsung > membuat pengumuman: ''Eh, ada karangan bunga dari > Anthony Salim.'' > Tapi, sambil melongo, sebagian wartawan malah > bertanya, ''Siapa tuh > Anthony Salim?'' > > Ada lagi yang aneh bin ajaib. Jumat lalu, melihat > kurir susah payah > mengangkat pot besar, seorang wartawan televisi > bertanya, ''Karangan > bunga dari siapa, Pak?'' Sang kurir menjawab > sekenanya, ''Tidak tahu, > Mas. Katanya sih dari Fuad Hassan.'' > > Dan, si wartawan langsung menyebarkannya. ''Fuad > Hassan ngirim > karangan bunga, tuh.'' > > Terang saja protes muncul. ''Mana mungkin?! Salah kali > lu.'' > > Tapi dia ngotot. ''Gimana salah? Kurirnya yang bilang > sendiri.'' > > Dengan kesal, wartawan lain meledek. ''Woi! Fuad > Hassan udah > > meninggal. Gimana bisa ngirim karangan bunga?'' > > Masih ada lagi. Melihat Sudwikatmono yang punya ikatan > darah dengan > Pak Harto tiba di lobi, dia langsung diserbu dan > diberondong > pertanyaan. ''Bagaimana kondisi Pak Harto, Pak?'' > > ''Sudah bisa berkomunikasi? '' > > ''Selang di tubuhnya ada berapa, Pak?'' > > ''Anak-anaknya lengkap Pak?'' > > ''Ada Tommy, Pak?'' > > Mulut pengusaha yang berjalan tertatih dipapah > ajudannya itu sempat > bergumam, tapi tak sepatah kata pun keluar. Tapi, > berondongan > pertanyaan tak berhenti, sampai dia naik mobil. > Seorang polisi geleng- > geleng kepala melihat kejadian itu. ''Busyet dah, > wartawan. Tega > bener. Udah liat jalan gitu masih aja ditanya. Untung > gak pingsan,'' > katanya, sambil tersenyum. Ya, namanya juga wartawan, > Pak. (evy) > > Myra Puspasari > > > > > > APRIL LORENTINA 766HI > email/ym/FS : [EMAIL PROTECTED] > > > > > > > > > > > > > > > > > ------------------------------ > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it > now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ> > > > -- OpiK http://taufiek.wordpress.com
