Title: Samsung Enterprise Portal mySingle
Bukan mau ikut2an...

Tetapi sekedar menyikapi sang jendral dari satu sisi lain...

Untuk menjadi bangsa yang besar.... harus menghargai jasa2 yang telah dilakukannya selama menjadi Pemimpin Bangsa

namun tanpa harus membebaskan pertanggung-jawaban atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya..

 

Sebuah artikel dari surat kabar harian...

 

 

“Utang” yang Tak Terbayar

 

ANIK Andayani tak menyangka bahwa kebenaran yang pernah dijanjikan bapaknya akan ia temukan di usia menginjak 35, itupun di tempat yang berjarak ribuan mil dari kampung halamannya. Bertahun-tahun, ia tak pernah tahu apa yang telah terjadi dengan bapaknya sehingga ia terpaksa berkelahi dengan kawan lelakinya di bangku sekolah dasar setiap kali bapaknya diejek sebagai orang “Santiaji”.

 

Sejauh itu, yang diketahui Anik hanyalah bapaknya diwajibkan mengikuti ”wejangan” yang digelar oleh desanya karena pernah berbuat ”kesalahan” di masa lalu. Lewat neneknya, ia kemudian mengetahui bahwa bapaknya adalah anggota Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi tani yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di sekolah, ia menerima pelajaran bahwa PKI adalah partai politik buruk rupa yang berulang kali mencoba melancarkan kudeta. Anik sempat mencoba bertanya ke bapaknya tentang kebenaran sejarah usai ia menyaksikan film ”Pengkhianatan G30S/PKI” yang saat itu menjadi tontonan wajib anak sekolah.

Tapi bapaknya menolak menjawab. Sang bapak hanya mengatakan bahwa ”suatu saat nanti, kebenaran akan terungkap dan ketidakbenaran akan menampakkan dirinya.”

Anik pun memutuskan diam. Ia menyimpan tanda tanya dan semua sikap melecehkan yang diterima keluarganya untuk dirinya sendiri. Ia bahkan memutuskan tak melanjutkan sekolah usai mendapatkan ijazah SMP. ”Saya merasa sekolah tinggi juga tak ada gunanya jika ternyata sulit mencari kerja,” ujarnya.

Kesulitan memperoleh kerja yang dialami kakak-kakaknya dan saudara sepupunya, akibat memikul ”dosa” sebagai keturunan PKI, membuat Anik menganggap sekolah adalah sebuah kesia-siaan.

Setelah sempat menjadi penjaga toko di Malang dan bekerja di pabrik sepatu di Surabaya, Anik kemudian memutuskan jadi babu di Singapura dan selanjutnya ke Hong Kong, setelah ia menganggap bahwa penghasilannya sebagai buruh pabrik tak cukup untuk menghidupi kedua buah hati yang lahir dari perkawinannya.

Anik tak menyangka bahwa di Hong Kong, pertanyaannya soal ”sejarah” masa lalu terjawab, lewat akses informasi yang ia dapatkan. ”Bertahun-tahun saya hidup dengan rasa malu dan tak percaya diri hingga memutuskan tak melanjutkan sekolah dan jadi babu. Ternyata semua kisah itu tak benar,” ungkapnya.

 

Momok

Anik adalah satu dari jutaan generasi ”Orde Baru” yang menjadi tumbal dari ”momok” yang diciptakan Soeharto. Selama 32 tahun, rezim Soeharto berhasil memasokkan dongeng sejarah versi mereka ke dalam generasi yang lahir pasca-1965.

Soeharto menciptakan momok dengan nama PKI. Ia menjadikan partai komunis dengan jumlah anggota ketiga terbesar di dunia dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara itu, sebagai ”biang kerok” dari seluruh ketidakstabilan yang terjadi di Indonesia.

Soeharto mendongeng bahwa PKI dan para simpatisannya adalah penanggung jawab tunggal dalam kematiaan tujuh jenderal yang dimasukkan dalam sumur Lubang Buaya. Dan untuk menambah unsur dramatis ditambahilah dongeng tersebut dengan cerita ”horor” tentang penganiayaan tak masuk akal yang dilakukan para perempuan anggota organisasi perempuan yang paling maju saat itu, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Tari telanjang, penyiletan wajah dan penis, menjadi dongeng penyulut kemarahan yang sangat ampuh.

Semua dongeng itu dikekalkan dalam media massa yang dikontrol penguasa, juga buku-buku pelajaran sekolah, bahkan dalam sebuah monumen yang hingga kini masih berdiri gagah.

Selama bertahun-tahun tak ada yang berani mempertanyakan kisah absurd ini. Juga tak ada yang menggugat mengapa begitu banyak jasad yang terapung di sungai, begitu banyak kuburan massal, tanpa pernah ada satu pelaku pun yang dianggap bertanggung jawab. Juga begitu banyak orang yang menjadi penghuni bui tanpa satu pun yang diminta untuk membuktikannya di pengadilan.

Di bawah rezim Soeharto, semua kejadian masa lalu, juga segala hal yang terjadi kemudian, hanya boleh diungkap lewat satu versi tunggal milik penguasa.

Semua organisasi, partai politik, kurikulum sekolah, isi media massa, hingga buku yang beredar harus mendukung semua dongeng ciptaan Soeharto. Melenceng sedikit saja, hotel prodeo sudah menanti, juga peti mati.

Tak terhitung deretan kisah pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di negeri ini di bawah rezim yang sama. Mulai dari perampasan tanah rakyat, pemberangusan hak berpendapat, hingga penculikan dari orang-orang yang menyuarakan hal yang tak sesuai dengan kemauan penguasa. Semua hal yang bersifat alternatif atau counter terhadap kemapanan adalah barang haram di era Soeharto.

Wajar jika kemudian, 10 tahun setelah ia turun dari kekuasaan, kita menyaksikan generasi ”aneh” yang sama sekali tak paham dengan sejarah bangsanya. Sebuah generasi yang terbengong-bengong ketika seorang berkewarganegaraan asing fasih berkisah tentang sastrawan terkemuka Indonesia yang novelnya dijadikan buku bacaan wajib saat dia duduk di bangku sekolah menengah.

Padahal di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, sang sastrawan itu, diasingkan sebagai pesakitan. Karya-karyanya menjadi bacaan terlarang dan haram diajarkan di sekolah.

 

Bangsa ”Koeli”

Indonesia, pasca-Soeharto, memunculkan generasi yang bersusah payah mencari jati diri. Generasi yang tak punya akar dan memandang takjub terhadap globalisasi yang tak lebih dari perputaran dan penumpukan kapital dari perusahaan multinasional.

Generasi yang hanya bisa pasrah saat fasilitas pendidikan dan kesehatan harus mereka bayar dengan mahal karena privatisasi di sektor pendidikan dan kesehatan dianggap konsekuensi wajar saat Indonesia memutuskan menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia yang tak memiliki kata ”adil” dalam kamus dagangnya. Juga atas dikte lembaga-lembaga donor.

Kita kemudian juga menyaksikan bagaimana dikte tersebut menjadikan lapangan kerja menjadi barang langka di Indonesia. Jutaan orang, mayoritas perempuan, kemudian terpaksa pergi dari kampung-kampung mereka, meninggalkan keluarga, hanya untuk mencari suap nasi di negeri lain, menjadi babu, seperti Anik, dan terpaksa menenggang rasa setiap kali mendapat pandang melecehkan.

Ironisnya, pelecehan itu tak hanya mereka dapatkan dari bangsa asing tapi juga bangsa sendiri. Pemerasan terjadi sejak pemberangkatan, penempatan hingga pemulangan. Indonesia menjadi bangsa yang tercabik-cabik.

Seorang sejarawan asal Pakistan, Tariq Ali, menggambarkan kondisi Indonesia saat ini dengan sebuah ucap yang getir. Dalam epilog bukunya Benturan Antarfundamentalis, ia menulis: ”Bangunan besar Indonesia Soekarno telah diledakkan secara sengaja dan dengan sadar.”

Di pertengahan tahuhn 1960-an, dalam sebuah wawancara dengan seorang wartawan asing, pendiri Republik, Soekarno mengatakan dengan bangga: ”Akan aku katakan kepadamu apa yang harus aku banggakan.

Dalam 20 tahun, aku telah membuat negeri 70.000 pulau ini, dari Sabang sampai Merauke, yang membentang lebih luas daripada Amerika Serikat, yang tersusun dari orang-orang dari warisan budaya yang berbeda, yang berbicara dengan bahasa yang berbeda, dengan beragam tuntutan dan kebutuhan menjadi satu bangsa.

Mereka merasa seperti aku merasakan sebagai orang Indonesia yang tidak akan pernah membiarkan kolonialisme dan imperialisme menyerang pantai-pantai kami lagi dalam bentuk apapun. Apakah itu bukan berarti sesuatu untuk dibanggakan . . . Apakah Anda tidak mengerti bahwa ada lebih banyak hal dalam kehidupan ini daripada hanya menjadi kaya?”

Sayang, saat tampuk kekuasaan berpindah ke tangan Soeharto, semua hal menjadi sekadar urusan bagaimana menjadi kaya. Dan untuk tujuan itu, ia tak peduli jika harus mengorbankan akses pendidikan dan kesehatan bagi kaum miskin, memporakporandakan hutan dan merampas tanah petani, menolak memberikan upah layak bagi para pekerja, dan menutup diri terhadap proses demokratik.

Kita menjadi bangsa—seperti yang ditakutkan Soekarno—koeli, baik dalam arti kiasan maupun harafiah.

Inilah ”utang” yang tak pernah dibayar oleh Soeharto hingga ajal menjemputnya.

 
------- Original Message -------
Sender : miendha risfianthi<[EMAIL PROTECTED]>
Date : Jan 28, 2008 14:43 (GMT+07:00)
Title : [sma1bks] Trs: [yamaha_scorpio] OOT; Soekarno

Another View.... (maaf bagi yang tidak berkenan)
tanpa bermaksud untuk membanding2kan..
dan terlepas dari itu semua,,,keduanya adalah "Bapak" bangsa ini.

-Miendha-

  
----- Forwarded by Miendha/Jakarta/ID/Exel on 01/28/2008 02:02 PM ----- 
"hary" <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [EMAIL PROTECTED] 
01/28/2008 11:23 AM 
Please respond to yamaha_scorpio         
        To:        <[EMAIL PROTECTED]> 
        cc:         
        Subject:        [yamaha_scorpio] OOT; Soekarno



Soekarno - Sejarah yang tak memihak

Posted by Iman Brotoseno

under: SEJARAH; SOEKARNO .



Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam

ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel

goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai

Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah

menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik

mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua

saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara

langsung jenasah Soekarno.

Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan

Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.

" Pak Karno seda " ( meninggal )

Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso.

Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3

truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan

Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO

Hartono - Panglima KKO - pernah berkata ,

" Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah

kata KKO "

Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk

turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral

Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa

divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan

panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.



Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia

tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah

dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan

membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.

The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun

menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan

istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari

Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi

yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.

Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang

barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang

barang lain semuanya ditinggalkan.

" Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi ,

demikian Bung Karno menenangkan istrinya.

Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis

sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.

Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie

diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara

misterius mati terbunuh di rumahnya.



Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak

yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka

masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan

kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya

dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan

mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta -

yang juga berasal dari KKO Marinir.



Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta

baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.

Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh

dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya

termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam

dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan

jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman

belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.

Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet

di lantai di ruang tengah.

Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah,

sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang

lain.

Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan

jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak

dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau

mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu

kota .

Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan

terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.



Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,

" Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso.

Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul

mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap

Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan

pengobatan yang seharusnya diberikan. "

( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )



dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung

Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter

Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang

diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi

penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat

yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.

( Kompas 11 Mei 2006 )



Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,

" Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana

Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad

"

( Kompas 13 Januari 2008 )



Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden

Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan

canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela

yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun

Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan

ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus

menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !



Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah

sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan

munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika

justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis

ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi

hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam

membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan

benar atau salah.



Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.

Kesadaran adalah Matahari

Kesabaran adalah Bumi

Keberanian menjadi cakrawala

Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata

( * WS Rendra )




      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

 

 

  
 

Achmad Sutriadi

 

Strategy and Planning Procurement

OMS Division

PT Samsung Electronics Indonesia       

 

vStrategic Sourcing, SCM Process, Supplier Partnershipv

 

 

 

 

__._,_.___

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke