Dari milis sebelah

=============================

Posted by: "dkadarusman" [EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]
Karbitan%20Itu%3F>   dkadarusman <http://profiles.yahoo.com/dkadarusman>


Sat Feb 9, 2008 7:32 pm (PST) 

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pemimpin karbitan! Anda boleh menggunakan kalimat itu untuk 
menumpahkan kekesalan pada orang-orang yang anda anggap tidak layak 
diposisinya sekarang. Tenang saja, tidak hanya anda yang menggunakan 
sumpah serapah itu. Banyak. Entah diucapkan secara langsung. Atau 
hanya sekedar gerundelan dalam hati belaka. Kita melakukannya ketika 
melihat orang yang lebih muda melesat naik mendahului kita. Juga 
ketika melihat seseorang yang dianggap tidak becus melaksanakan 
tugas-tugas kepemimpinan yang diembannya; kita kemudian - dalam 
hati - berbisik, 'itulah jadinya kalau pemimpin karbitan yang 
dipilih'. Tetapi, bagaimana jika yang terpilih sebagai si pemimpin 
karbitan itu adalah kita sendiri? Apakah kita punya cukup keberanian 
untuk mengatakan kepada diri sendiri - akulah si pemimpin karbitan 
itu?

Masa kecil saya dijalani didaerah pertanian. Selama masa itu pula 
saya dekat dengan beragam macam tanaman, tetumbuhan, dan sayur-
sayuran. Yang selalu ada nyaris sepanjang tahun adalah buah tomat. 
Ayah saya menanamnya dalam jumlah yang cukup banyak. Jika anda 
penyuka tomat dan membeli tomat matang dipasar atau toko swalayan, 
maka ketahuilah bahwa; tomat matang yang anda beli itu tidak matang 
dipohonnya. Sebab, tomat yang matang dipohon tidak akan bisa 
bertahan lama-lama ditempat penyimpanan. Pasti dia akan penyok dalam 
satu atau dua hari kemudian. Dia segera menjadi tomat bonyok. Jadi, 
mengirimkan tomat matang langsung dari kebun ke pasar adalah 
tindakan yang tidak cukup cerdas untuk dilakukan. Kalau begitu, 
tomat matang yang anda beli itu apa? Itu adalah tomat yang dipetik 
dari pohonnya dalam keadaan mentah. Masih keras. Dan berkulit buah 
warna hijau. Bukan merah seperti yang anda lihat sekarang. Lalu, 
untuk menjadikannya matang; tomat itu diperam. Biasanya, dalam 
proses memeram digunakan karbit. Itulah kenapa kita suka sekali 
mengatakan; 'matang karbitan'! Seperti kepada para pemimpin itu. 
Tidak ada yang perlu dipusingkan, bukan? 

Jika seseorang menghardik dan mencap saya sebagai seorang pemimpin 
karbitan - nanti kalau saya berkesempatan menjadi pemimpin - maka 
saya akan mengatakan kepada orang itu: "Terimakasih. Saya tersanjung 
karenanya...." Mengapa saya harus tersanjung? Bukankah harusnya saya 
tersinggung? Saya tahu, biasanya orang marah kalau disebut pemimpin 
karbitan. Saya ini juga pemarah, tapi tidak mau marah gara-gara 
sebutan itu. Mengapa demikian? Ada dua hal. Pertama, tidak ada 
dimuka bumi ini satu orang pun manusia yang langsung berhasil 
menjadi pemimpin hebat. Sebut saja siapa. Semua pemimpin hebat itu 
adalah mereka yang sebelumnya bukan pemimpin kemudian menjalani 
proses penggemblengan yang luar biasa. Persis seperti buah tomat 
mentah yang diperam menggunakan karbit. Semua pemimpin besar yang 
kepemimpinannya lestari, pasti dikarbit terlebih dahulu. 

Tahukah anda bagaimana rasanya berada dalam tempat pemeraman bersama 
dengan batu karbit? Saya tahu. Sebab, dimasa kecil saya sering masuk 
kedalam tempat pemeraman. Rasanya panas. Bau tidak karuan. Gatal. 
Bikin sesak nafas. Dan jika kebetulan saja ada percikan api yang 
melintas; anda bisa membayangkan bagaimana jadinya. Tapi, jika tidak 
demikian, maka buah tomat kepemimpinan anda yang masih hijau itu 
tidak akan pernah menjadi matang. Itu yang pertama.

Kedua. Saya tersanjung, sebab jika saya harus terlebih dahulu matang 
sebelum mulai memimpin; maka sesungguhnya dengan segera saya akan 
menjadi pemimpin bonyok. Kalau saya berkesempatan untuk menjadi 
pemimpin ketika saya masih hijau, maka itulah saat terbaik untuk 
memulainya. Saat itu, saya berkesempatan menjalani semua kesulitan 
dalam proses memimpin. Diserang dan digoyang orang-orang. Diumpat 
didepan dan digunjing dibelakang. Diteriaki sebagai si pemimpin 
karbitan. Semua itu akan menjadi karbitnya yang pertama. Kritikan 
dari orang-orang yang tidak suka dan caci maki dari mereka yang iri 
menjadi karbit yang kedua. Sedangkan kesempatan untuk melakukan 
beragam eksperimen, belajar dari kesalahan, dan memupuk pengalaman 
adalah karbit ketiga. Dan semuanya itu; menjadikan tingkat 
kematangan kepemimpinan kita semakin menjulang tinggi. 

Jadi, kita tidak usah marah kan, kalau digelari sebagai pemimpin 
karbitan? Tapi hey, tunggu dulu. Saya tidak bermaksud mengatakan 
kepada anda; jadilah tomat mentah dan harapkan seseorang 
mengkarbitmu dilubang pemeraman. Saya tidak bermaksud demikian. 
Memang sih, banyak orang yang mencela para pemimpin yang dianggap 
karbitan. Tapi, dalam hati, mereka juga tidak keberatan untuk 
dikarbit jadi pemimpin. Siapa sih yang tidak tergiur fasilitas yang 
diberikan kepada seseorang yang menduduki posisi pimpinan? 
Prinsipnya; daripada lawan gue yang dikarbit, ya mendingan gue dong? 
Perkara gue ini juga pemimpin karbitan; peduli malaikat! 

Jujur saja, banyak orang yang mengharapkan untuk dipromosikan. Kalau 
dipromosikan, biasanya identik dengan jabatan yang lebih tinggi 
dong, ya kan? Ya, lumayanlah; jadi pemimpin kecil-kecilan. Salahkah 
jika kita memiliki keinginan macam itu? Tidak salah sih... Tapi kan 
sebenarnya kalau jujur kita katakan kepada diri sendiri; kita ini 
tidak hebat-hebat amat. Jujur saja, seringkali ambisi kita lebih 
besar daripada kualitas diri kita sendiri. Bagus jika anda tidak 
setuju dengan saya; sehingga saya menjadi lebih tenang karena kita 
punya orang-orang yang beneran hebat seperti anda. Tapi jika anda 
tidak demikian, ijinkan saya meneruskan pembicaraan ini. 

Saya mengatakan bahwa pemimpin hebat itu memang lahir dari proses 
pengkarbitan. Bukan dimatangkan dulu baru didudukkan menjadi 
pemimpin. Tetapi, jangan sembarangan menggunakan perkataan saya 
untuk melegalisasikan ambisi-ambisi anda. Mengapa demikian? Sebab 
ternyata; tidak semua tomat mentah bisa dikarbit menjadi matang. 
Saya ulangi kata-kata saya; tidak semua tomat mentah bisa dikarbit 
menjadi matang. 

Ayah saya, seorang guru SD dan petani yang hebat. Dia mengatakan: 
Dadang, jangan dipetik buah tomat itu! Ketika itu tangan saya 
menyelosor untuk memetik buah tomat yang masih hijau. "Kenapa?" saya 
balik bertanya. "Belum waktunya," begitu ayah saya bilang. "Lho, 
bukankah buah tomat ini bisa diperam?" sanggah saya. "Baiklah, kalau 
begitu," balasnya. "Ambillah, dan peramlah." saya menang. Saya 
memetiknya. Dan kemudian memeramnya.

Tiga hari kemudian, saya membongkar pemeraman. Dan saya menemukan 
tomat itu; membusuk. Tahukah anda mengapa? Benar, karena tomat itu 
dipetik terlampau dini. Belum saatnya bagi tomat itu untuk diperam. 
Sehingga bukannya dia menjadi matang; melainkan membusuk ditempat 
pemeraman. Untuk bisa berhasil diperam, buah tomat harus memiliki 
standar kondisi tertentu. Jika tidak, dia akan membusuk.

Manusia juga begitu. Boleh saja sekarang anda percaya bahwa proses 
pengkarbitan bisa menjadikan anda pemimpin yang hebat. Tetapi, 
sebelum memasuki proses pengkarbitan itu; anda harus mencapai tarap 
kualitas diri tertentu terlebih dahulu. Sebab, jika anda masih hijau 
sehijau-hijaunya, maka proses pengkarbitan itu justru akan sangat 
membahayakan diri anda sendiri. Anda akan membusuk seperti tomat 
hijau tadi.

Mari kita lihat sekali lagi disini tentang dua hal. Satu. Kita tidak 
perlu lagi menyalahartikan proses pengkarbitan jiwa kepemimpinan 
seseorang. Apakah itu orang lain, ataupun diri kita sendiri. Memang 
kita harus mengkarbitnya. Karbitlah jiwa kepemimpinan itu hingga 
matang. Dan biarkan suara-suara miring melintas dibawa angin hingga 
menghilang. Sebab, jika anda berhasil menjalani proses pengkarbitan 
kepemimpinan itu; cepat atau lambat, mereka yang mengkritik anda 
akan mengerti juga pada akhirnya. Mereka akan berbalik menghormati 
anda. Karena, dengan kematangan yang anda miliki setelah menjalani 
proses pengkarbitan itu; anda menjadi pemimpin yang hebat bagi 
mereka. 

Dua. Untuk bisa matang dalam proses pengkarbitan; kita harus 
mempunyai modal dasar yang benar-benar kuat dan baik. Sikap kita. 
Perilaku kita. Kemampuan intelektual kita. Kemampuan konseptual 
kita. Kemampuan operasional kita. Semuanya. Itulah prasyarat bagi 
kita untuk bisa matang setelah dikarbit. Dan jadilah kita; pemimpin 
masa depan yang tangguh dan dapat diandalkan. Pemimpin yang 
memancarkan kemilau indah warna kepemimpinan kita yang menggemaskan. 
Sehingga setiap orang ingin merasakan nikmatnya berada dibawah 
kepemimpinan kita. 

Hey, tapi kan sekarang kita belum memasuki masa pengkarbitan itu. 
Biar saja. Cepat atau lambat, kita akan sampai kepada proses itu. 
Selama kita terus-menerus meningkatkan kualitas diri kita hingga 
mencapai standard yang diperlukan untuk menjadikan diri kita layak 
mendapatkan kesempatan itu. Setelah itu; bersiap siagalah. Anda akan 
dikarbit. Dan Anda. Akan. Menjadi. Pemimpin. Karbitan!

Hore,
Hari baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ <http://www.dadangkadarusman.com/>  

 



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke