asal jangan beli yang bajakan aja....karya anak bangsa neh....kalo dari negeri lain sebodo amat lah
2008/3/6 Rahman, Tiar <[EMAIL PROTECTED]>: > He he he.. judulnya mirip temporary MDD gue yang lalu (tapi gue masih > ngebahas bukunya). > > istri diajak nonton ke bioskop belum bisa aja. > > Gue ada format AVI-nya sih… > ------------------------------ > > *From:* [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On > Behalf Of *Lusiana M. Hevita > *Sent:* Thursday, March 06, 2008 3:36 PM > *To:* [EMAIL PROTECTED]; Jip 92; [email protected] > *Subject:* [smansabks] Noon Coffee Break > > > > TENTANG AYAT-AYAT CINTA > > Kang Abik, begitu kami akrab memanggilnya. Pertama > kali ketemu, Kang Abik baru menyelesaikan kuliahnya di > Mesir. Penampilannya sangat santri. Sederhana dan > bersahaja. > "Ciri khasnya Habib ini, selalu deh pake sarung…" > komentar ketua umum kami di Forum Lingkar Pena saat > rapat pengurus pusat FLP yang dihadiri Kang Abik saat > Munas di Yogya. Lelaki itu cuma senyum. Di tahun 2004 > itu, karyanya memperoleh penghargaan FLP Award. > Penghargaan internal FLP untuk para penulisnya yang > menurut kami berprestasi. Waktu itu Ayat-Ayat Cinta > (AAC) belum sepopuler sekarang. Tapi sangat mudah bagi > kami menentukan karya siapa yang tahun ini layak > memperoleh penghargaan. Penghargaannya pun cuma > sederhana, tidak ada uang atau materi yang berharga > lain. Sekedar plakat murah berlogo FLP. > > Tapi waktu itu wajah Kang Abik berseri-seri. Merasa > tersanjung mendapat penghargaan dari kami, > teman-temannya di FLP. Waktu itu kami tentunya tidak > menyangka kalau beberapa tahun setelahnya, novel Kang > Abik benar-benar best seller dan kemudian diangkat di > layar lebar. > Saya masih ingat cerita Kang Abik saat menulis AAC. > Beliau baru saja mengalami kecelakaan yang membuat ia > menghentikan total semua kegiatannya, kecuali menulis. > Dan belakangan kami baru tahu kalau hasil jerih payah > Kang Abik itu, adalah untuk mahar pernikahannya dengan > istrinya sekarang. > > Semalam, bersama seorang teman kami menyaksikan AAC di > layar lebar (asli lebar banget..hehehe). Malam itu ada > dua layar untuk AAC. Semuanya cukup penuh (kayaknya, > soale pas keluar banyak banget orangnya). Kami > berhitung. Ini sudah masuk ke minggu ke dua, dan > bangku masih cukup penuh. Beberapa tempat malah masih > ada yang antri. Dua juta penonton seperti target > Hanung, supaya balik modal, sepertinya bisa jadi > kesampaian. > > "Lu nangis nggak, Yand?" > "Ampir sih, tapi aku tahan-tahan mbak." > "Hihi, aku sempet tuh…" > "Cukup mengaduk-aduk emosi sih emang…" > Kami berdua nyengir. Benar-benar emang begitu filmnya > atau kami terbawa suasana karena ingat perjuangan Kang > Abik menulis novel itu? > Yang kami tonton barusan tidak hanya sebuah film, > karya dari Kang Abik. Penulis, pengurus pusat FLP di > masa itu, yang bersahaja dan sederhana. Sejak FLP > cabang Mesir terbentuk, cerita tentang mahasiswa > Al-Azhar di Mesir cukup akrab di telinga kami. > Beberapa teman malah cukup intens ber-email-emailan > ria dengan para mahasiswa Indonesia (yang rata-rata > berjenggot hehehe) di sana. Jadi rasanya kok rada > bangga juga akhirnya khalayak se-Indonesia bisa > menikmati apa yang dulu pernah jadi obrolan di saat > senggang. Walaupun dalam novel tentunya banyak kisah > fiksinya. > > Di sela-sela tayangan film Indonesia yang sering > didominasi cerita hantu, atau kehidupan cinta remaja > ibukota, AAC memberikan warna yang lain. Terlepas dari > berbagai pro kontra (karena banyak juga yang kecewa > dengan alasan nggak sesuai dengan novel aslinya) kami > sangat menikmati film itu. Wah, untung udah lupa sama > novelnya hehehe, jadi kami tidak terlalu banyak > menuntut. Lagi pula, untuk ukuran film lokal, AAC > tergolong lumayan. Paling soal editing suara aja yang > kadang nggak pas. Walau gagal mengambil gambar di > Mesir, toh masih oke-oke aja secara kita bisa maklum > lah. Tarif yang dipasang mahal banget (14 M??). > Padahal, menurut sang Sutradara, biaya film secara > keseluruhannya aja jauh di bawah harga itu. Yo wiss, > nggak apa-apa kok Mas Hanung...tak ada Mesir, Semarang > dan India pun jadi :D > > Film AAC sudah cukup bergizi untuk penonton Indonesia. > Apalagi kalau dibandingkan dengan kualitas film lokal > yang lain. Hmm, bintang 3,5 lah….:) > > > __________________________________________________________ > Never miss a thing. Make Yahoo your home page. > http://www.yahoo.com/r/hs > > CONFIDENTIALITY NOTICE > The information in this email may be confidential and/or privileged. > This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named > above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified > that any review, dissemination, copying, use or storage of this email > and its attachments, if any, or the information contained herein is > prohibited. If you have received this email in error, please > immediately notify the sender by return email and delete this email > from your system. Thank you. > -- Kurniawan I Kanwil DJP Kaltim
