Dari blog sebelah lagi:

=====================

By Kafi Kurnia

 

Seorang pembaca kolom Intrik, menulis e-mail, "Dalam menyusun sebuah
strategi pemasaran yang baik, mana yang harus kita fokuskan lebih tajam
- posisi kita atau posisi musuh kita ?" Ini pertanyaan menarik. Biasanya
acap kali kita membuat analisa pemasaran, secara naluri kita menganalisa
diri kita sendiri. Baru kemudian kompetitor kita. Hasil perbandingan
keduanya barulah kita merumuskan ancaman dan resiko. Kendalanya, analisa
itu seringkali tidak imbang. Kadang kita terlalu percaya diri. Kadang
sebagai orang dalam, analisa tentang diri kita sendiri tidak bisa tajam
dan bias. Akibatnya, kita cenderung lebih fokus terhadap musuh-musuh
kita.

 

Sun-Tzu, sang jendral yang beken, pernah berkata bijak. " Jangan pernah
berpikir bahwa musuh tidak akan pernah menyerang. Siapkan diri kita
selalu siaga menghadapi musuh. Konsentrasikan diri kita untuk
menciptakan posisi yang tidak bisa diserang musuh." Sun-Tzu mengingatkan
kita pada inti utama, yang kontrolnya 100% kita kuasai, yaitu diri kita
sendiri. Jadi kalau menurut Sun-Tzu fokus enerji kita harusnya pada diri
kita - bukan pada musuh kita.

Sun-Tzu, berkilah bahwa biarpun musuh kita punya strategi lebih bagus
dari kita, dan sumber daya yang lebih canggih. Persenjataan yang lebih
lengkap. Tapi kalau pertahanan kita bagus dan tidak bisa ditembus,
akhirnya kita tidak akan terkalahkan juga.

Saya jadi ingat perang Vietnam misalnya. Saat itu mereka hanya punya
sumber daya dan persenjataan terbatas. Konsentasi mereka bukan pada
taktik menyerang, tapi seperti Sun Tzu, justru pada taktik bertahan.
Mereka konsentrasi penuh pada diri mereka sendiri. Berkat filosofi
Sun-Tzu ini, mereka berhasil mengembangkan perang gerilya yang unik dan
akhirnya menang.

Dalam pemasaran kasusnya banyak yang mirip dan juga sama. Banyak
pedagang-pedagang kecil, yang karena tidak punya sumber daya berlimpah.
Kemampuan intelijen yang hampir tidak ada. Sehingga akhirnya yang bisa
mereka andalkan hanyalah diri mereka. Uniknya banyak diantara mereka
yang berhasil dengan cara mereka sendiri. Tak jarang praktek-prakteknya
mereka ngawur, nyeleneh, dan melawan pakem. Pokoknya berhasil.

Seringkali, karena sumber daya mereka sangat terbatas. Mereka juga mahir
melakukan improvisasi. Nasehat lain Sun-Tzu, "Kita harus selalu merubah
aksi kita. Sekali saja musuh mampu mencium aksi kita, dengan mudah kita
akan dikalahkan." Sun-Tzu mengaku ia tidak pernah mengulang taktiknya 2
kali. Ia selalu bereaksi terhadap sebuah ancaman dengan kemungkinan yang
tak terbatas.

Teman saya adalah seorang pedagang baju dan pakaian yang sangat
berhasil. Ketika kembali dari sekolah, ia pernah bekerja dibeberapa
butik terkenal, sebagai brand manager. Tak lama kemudian ia menikah dan
berkeluarga. Semangat entreprener-nya muncul. Ia memutuskan untuk
berjualan baju dan pakaian. Ia mengawali dengan modal sangat terbatas.
Tanpa konsep, dan hanya persiapan sederhana. Ia hanya tau bahwa dirinya
punya satu bakat, ia tau betul selera teman, kolega dan relasinya.
Dengan bekal percaya diri itu, ia berangkat ke Hong Kong. Disana ia
berusaha mencari sumber-sumber whole-saler baju dan pakaian. Pulang dari
Hong Kong ia membawa tiga koper dan mulai berdagang. Sama sekali tanpa
toko, hanya modal pakaian dalam koper, menawarkan produk kesana-sini.

Sedikit demi sedikit, hasilnya ditabung hingga ia punya toko. Biarpun
kompetitornya sangat banyak, ia memfokuskan seluruh enerjinya pada
dirinya. Hal ini yang membuat ia menjadi sangat unik. Ia masih saja
pulang pergi ke Hong Kong untuk belanja baju. Kalau kita tanya para
pembelinya kenapa ia sukses dan disukai pelanggan, ternyata hampir semua
pelanggan mengatakan bahwa ia selalu saja penuh dengan kejutan setiap
kali pulang dari Hong Kong. Para pelanggan-nya merasa pergi belanja ke
Hong Kong, tanpa harus kesana sendiri. Ini rahasia suksesnya.

Ketika saya mengamati prilakunya, ia tidak pernah gentar menghadapi
musuh atau kompetitor apapun. Tanpa sadar ia bertarung penuh dengan
mengamalkan strategi perang Sun-Tzu. Nalurinya tajam. Peka dengan
kondisi berkompetisi, dengan fokus kontrol penuh, yaitu dirinya sendiri.

 



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke