Dari milis sebelah...

 

Posted by: "Weby" [EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]
20Loteng%20%28oleh%20Alumni%20ITB%29>   nugrohowibisono
<http://profiles.yahoo.com/nugrohowibisono> 

Mon Apr 14, 2008 12:20 am (PDT) 

*Panen Padi di Atas Loteng*

Senin, 14 April 2008 | 10:34 WIB

Ingkan Harahap (54), Rabu (9/4), memanen padi di atas loteng rumahnya di
Kompleks Perumahan Sumbersari Indah, Kota Bandung. Padahal, empat bulan
lalu lahan loteng seluas sekitar 50 meter persegi itu gersang. Selain
padi, di atas loteng itu Ingkan juga menanam sawi, cabai, labu kuning,
dan kangkung.

Bersandal bakiak dan gunting tanaman ia memangkas beberapa batang padi.
Padi yang dipanen langsung di injak-injak agar bulir-bulir lepas dari
batang dan siap dijemur. Setampah gabah hasil panen beberapa hari
sebelumnya sedang dijemur. Gabah kering tersebut sudah siap ditumbuk
agar kulitnya mengelupas.

Ingkan memang bukan petani. Dia tak punya lesung kayu. Ia hanya
mempunyai lesung batu. "Saya mencoba menggunakan yang ada saja. Saya
alasi lesung dengan jerami agar tumbukan tidak terlalu keras dan membuat
bulir beras hancur," ujar Ingkan.

Ingkan tengah mencoba menjadi petani. Alumnus Jurusan Arsitektur
Institut Teknologi Bandung yang mengelola pendidikan untuk anak, Point,
ini mengawali "debut" sebagai petani pada November lalu. Itu semua
berawal dari sebuah obrolan dengan keluarga. Ia dan sanak saudaranya
memperbincangkan tentang dunia pertanian. Dari obrolan itu, Ingkan
berpikir, "Saya juga bisa menamam sendiri," katanya.

Pada bulan yang sama ia meminta bibit padi dari pengelola sawah
keluarganya di Madiun, Sukiran. Sukiran datang dan memberikan ilmu
bertani padi kepadanya. Sebelum pulang, Sukiran membantu Ingkan menyemai
bibit padi. Beberapa hari kemudian bibit padi tumbuh. Ingkan pun
memindahkannya pada puluhan polybag.

Awalnya, pertumbuhan padi terlambat. Pada masa diperkirakan sudah
berbunga, padi-padi itu belum juga berbunga. Adiknya menyarankan agar ia
memberikan pupuk supaya tanaman cepat berbunga. Namun, Ingkan berteguh
bertani dengan kompos tanpa pupuk kimia.

Kesabarannya membuahkan hasil. Bulir padi akhirnya muncul. Sebulan
setelah penanaman padi pertama, Ingkan menanam padi yang kedua di
puluhan polybag lain.

"Mungkin karena sudah lebih lembab, pertumbuhan tanaman padi yang kedua
lebih baik," kata Ingkan. Dalam tiga bulan padi sudah mampu dipanen
bersamaan dengan padi yang ditanamnya pertama kali. Kini Ingkan memiliki
hampir 100 polybag tanaman padi.

*Hantu sawah*
Kalau mengunjungi "sawah" di loteng rumah Ingkan, jangan heran bila
mendengar suara burung. Sawah di loteng itu sudah membentuk ekosistem.
Selain ada belalang dan kepik, juga terdapat burung-burung. Bahkan, ada
burung yang sudah membuat sarang sebelum padinya berbunga.

Ingkan sadar burung membutuhkan makanan, tetapi ia juga ingin merasakan
hasil jerih payahnya. Itu sebabnya Ingkan memasang bebegig alias hantu
sawah dari baju-baju bekas. Ia membentangkan pita kaset bekas dan
lonceng kaleng untuk mengusir burung.

"Saat ini berita tentang pertanian Indonesia menyedihkan terus. Salah
satunya lahan persawahan makin menyusut," kata Ingkan. Dengan upaya
kecil itu, Ingkan berharap, dari rumah, budaya pertanian masyarakat
Indonesia bisa terus lestari. 



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke