Dari blog sebelah...
http://aidasayangkamu.multiply.com/journal/item/39/Mengenang_Sang_Murabb
i

 

----------------------------------------------

Mengenang Sang Murabbi
<http://aidasayangkamu.multiply.com/journal/item/39/Mengenang_Sang_Murab
bi> 

 

 

Ribuan langkah kau tapaki 

Pelosok negeri kau sambangi

Tanpa kenal lelah jemu

Sampaikan firman Tuhan-mu...

 

(Izzatul Islam-Sang Murabbi)

 

Sosok itu begitu melekat dalam pikiran saya. Saya mengenalnya hampir 19
tahun. Semenjak saya lahir, sampai kemudian, ia meninggalkan dunia yang
nista ini.

 

Ustadz Rahmat, pernah menjadi guru di SMP saya, SMPIT Iqro'. Ia mengajar
pelajaran tafsir qur'an. Dulu, pelajarannya bagi saya tidak terlalu
menarik. Karena dulu waktu SMP, jamannya saya lebih suka mantengin mtv
ketimbang belajar. Imbasnya, kelakuan saya nggak beda sama remaja
kebanyakan. Hapalan qur'an selalu menjadi rutinitas yg negbosenin.
Sholat juga jadi hambar. Jilbab, nggak kepingin lebar-lebar. Rasanya,
sedada juga udah katro banget...

 

Astaghfirullah...

 

Begitulah saya dulu.

 

Ups, kenapa malah nginget2 seseuatu yg penginnya saya kubur dalam-dalam?
(pengennya, ingatan saya yg SMP terhapus. Jadi ingatan saat SD langsung
loncat ke SMU)

 

Tiap pelajaran Ustadz Rahmat, saya ngerasa bosan. Walaupun terkadang ia
menceritakan hal2 yg menarik...dan sekarang saya menyesal. Kenapa dulu,
di sebuah kesempatan selama dua jam itu, saya tidak berusaha menggali
ilmunya yg luas. Padahal, ia punya murid lain yg menanti taushiyahnya,
yg tidak akan menyia-nyiakan satu patah katapun yang keluar dari
mulutnya, sementara kami-atau saya, lebih banyak nguap di kelasnya.

 

Pernah, suatu ketika, Ustadz Rahmat marah karena tidak ada satu muridpun
di kelas yang sudah menghapal surat Ali Imran ayat 103. Hanya satu ayat
saja kami diminta menghapal. Tapi tak ada satupun, kecuali anaknya yg
sekelas dengan kami-Thariq. Sebelum ia meluapkan kemarahannya, ia
membuka dompet kulitnya warna cokelat. Mengambil selembar uang sepuluh
ribu.

 

"Saya tantang kalian. Saya akan berikan uang ini bagi siapa saja yg
sudah hapal!"

Senyap. 

 

Tawaran naik. 20 ribu rupiah.

 

Senyap pula.

 

Tambah naik. 50 ribu rupiah.

 

Masih senyap! Bayangkan, Ustadz Rahmat akan memberikan uang 50 ribu
rupiah untuk siapapun yg sudah menghapal surah Ali Imran ayat 103! Tidak
semua ayat! Hanya ayat 103! Tapi tak ada yg bergeming! Betapa
keterlaluannya kami!

 

Dengan lemas, dan muka memerah, ia memasukkan uang itu kembali ke
dompetnya. Saya lihat, saat itu, wajah Thariq juga memerah. Apakah
ayahnya tak pernah terlihat sekecewa ini di rumahnya, sehingga anaknya
sendiri takut? Ataukah Thariq marah pada kami karena kami telah membuat
marah ayahnya?

 

Ustadz Rahmat menyandarkan bahunya ke kursi. Saya tahu, ia tengah
beristighfar. Dan perasaan bersalah menyusup ke dalam hati saya. 

 

Seberapa susah menghapal satu ayat saja? Kenapa saya lalai? Bukan uang
50 ribu yang saya sesali. Tapi saya menyesali diri saya yang bodoh dan
malas. Penawaran Ustadz Rahmat hingga sebesar itu, seperti sebuah
tamparan di wajah saya. Secara tidak langsung, Ustadz telah menegur
saya-kami semua, betapa malasnya kami hingga perlu diberikan uang 50
ribu hanya untuk satu ayat! Di luar sana, muridnya yang lain tak perlu
iming2 uang untuk menghapal qur'an! Murid-muridnya justru
mengejar-ngejar dirinya untuk bertemu sebentar, menggali ilmu yg
berharga darinya...

 

Tapi kami...dua jam bersamanya seminggu dua kali dengan kuapan rasa
bosan...

 

Tapi kami, yang orangtua kami adalah sahabat Ustadz Rahmat, tidak
menghargainya sama sekali! 

 

Satu ayat dari mulut kami, akan dibeli oleh Ustadz! Bukankah itu
tindakan yg kurangajar dari seorang murid? 

 

Tak ada istilah murid kencing berdiri, guru kencing berlari untuk kami.
Yang ada, kami kencing berlari, sementara guru kami, yg menjadi
inspirasi bagi banyak orang itu, mengejar-ngejar kami agar tidak kencing
sembarangan. Kami ibarat anak idiot berumur 14 tahun...

 

Beberapa menit setelah keheningan menyelimuti kami, Ustadz Rahmat
berdiri. Ia mengambil spidol, dan akan menuliskan sesuatu. Beberapa di
antara kami bernapas lega. Ustadz Rahmat akan memulai pelajaran. Spidol
itu tidak mengeluarakan tinta. Sudah kering. Ustadz menggantinya dengan
yg lain. Kering pula. Dan spidol terakhir, nasibnya tidak jauh berbeda.

 

Sekarang, saatnya menghakimi kelalaian kami dalam merawat barang-barang
kebutuhan belajar-mengajar di kelas. Sudah menjadi peraturan bersama,
bahwa kami harus rutn mengisi tinta spidol. Tapi lagi2, kami lalai.
Padahal, gedung sekolah ini, yayasan sekolah ini, adalah milik guru kami
ini, Ustadz Rahmat. Ia yang merintis lembaga ini dari awal. Ia yang
mengepalai yayasan ini. Dan ia, merupakan satu-satunya guru yg tidak
digaji di sini.

 

Ustadz Rahmat melempar spidol itu ke meja. Ia tidak pernah melakukan ini
sebelumnya. Ia begitu lembut, dan kali ini, karena kami, ia marah.

"Tak sadarkah kalian, bahwa kalian adalah penerus Ummi dan Abi kalian?"
hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sebelum ia keluar ruangan,
meninggalkan kami dalam lautan rasa bersalah yg selalu datang
belakangan...

 

Thariq, di tempat duduknya, hanya merunduk. Mukanya memerah padam.

 

***

 

Kematian itu datang dalam diam.

 

Ayah saya, saya memanggilnya Abi, belum pulang dari kantor. Saya tengah
belajar soal-soal SPMB di ruang kerja. Kemudian, handphone Ummi
berdering. Ada telpon dari Abi. Ummi menerima telpon itu. Detik
berikutnya, Ummi mengucapkan, "innalillahi..." dan ia menangis deras
saat itu juga. Perasaan saya nggak enak. Kalau Ummi langsung menangis,
berarti telah terjadi apa-apa pada orang yg begitu dekat dengannya. Saya
dan adik-adik bertukar pandang. Apakah saudara kami terkena musibah?

 

Ummi menutup handphone.

 

"Kenapa, Mi?" tanya kami semua hampir serempak.

 

Sesenggukan, dan setelah beberapa saat, Ummi menjawab, "Abi-nya Isda..."

 

Milla, adik saya yang nomor tiga, yang saat itu masih kelas 1 SMP,
segera bereaksi. Isda adalah teman sekelasnya. Dan kami semua tahu,
siapa Abi-nya Isda; Ustadz Rahmat Abdullah...

 

Kami semua terdiam. Ingatan saya, ketika kami SMP, ketika kami membuat
jengkel Ustadz Rahmat, kembali lagi...saat ini, di mana saya sudah
mengenal makna tarbiyah, di mana saya sudah mengazzamkan dalam diri saya
bahwa dakwah adalah jalan kami, penyesalan itu datang lebih berkali-kali
lipat. Seperti ada bongkahan batu seberat 1 ton yang berusaha memuatkan
dirinya ke bilik-bilik jantung saya. Begitu sesak...

 

Saya ikut menangis. Menangisi kepergian Ustadz Rahmat yang telah
memberikan nama pada saya dan keempat adik saya-ketika kami semua
lahir-dengan nama yang indah dan penuh do'a. Saya menangisi kelalaian
saya untuk menghabiskan waktu bersamanya, belajar lebih dalam tentang
Islam. Saya menangisinya karena kepergiannya, begitu cepat. Kenapa
justru di saat saya sadar siapa Ustadz Rahmat sebenarnya. Kenapa justru
di saat saya tahu, bahwa ialah yang telah menananm benih-benih azzam di
hati para pejuang dakwah hingga dakwah maju seperti saat ini? Kenapa
justru saya baru mempelajari profile-nya, bahwa ia, bahkan, SMA saja
tidak lulus tapi mampu membeberkan hukum kekekalan massa dan
mengaitkannya dengan ayat Qur'an di kelas kami dulu?

 

Abi pulang tiga puluh menit kemudian setelah menelepon. Matanya memerah.
Ia katakan, bahwa ia menangis sepanjang perjalanan. Lalu, kami semua
menangis bersama di ruang tamu...

 

Jam 9 malam, Abi pergi ke rumah Ustadz Rahmat. Hingga besok siang, ia di
sana, berkumpul bersama teman-temannya, sesama murid Ustadz Rahmat. 

 

Saya memahami kedukaannya. Ia salah satu assabiqunal awwalun. Ia diasuh
langsung oleh Ustadz karena dulu mereka bertetangga. Dari awal mengenal
tarbiyah lewat halaqah, Abi tidak pernah berganti murabbi. Ia merasakan
asam-manisnya perjuangan dakwah. Merasakan pula bagaimana dulu harus
sembunyi-sembunyi ketika liqo'. Murabbinya, hanya satu itu, Ustadz
Rahmat. Dan kehilangannya, adalah duka yang lebih dalam seperti saat
kehilangan Ayahnya-kakek saya.

 

Setelah ditinggal pergi Ustadz Madani, yg dulu sering meledek saya,
dunia tarbiyah ditinggalkan oleh syekhnya, Ustadz Rahmat...

 

Orang baik, selalu akan mati cepat...

 

Tapi, saya yakin, kematian mereka, bukanlah untuk kita ratapi
terus-menerus. Hendaknya, rasa kehilangan itu menjadi cambuk buat kita
untuk meneruskan perjuangannya. Untuk membuktikan pada dunia, bahwa
dakwah must go on, walaupun satu persatu pejuang dakwah telah berpulang
ke kampung akhirat...

 

Hingga kini, saya masih ingat kata-kata Ustadz Rahmat.

 

"Tak sadarkah kalian, bahwa kalian adalah penerus Ummi dan Abi kalian?"

 

Pertanyaan itu bergaung dalam relung hati. Pertanyaan itu yang kemudian
membawa saya meninggalkan masa SMP yang memalukan. Dan menyadari, bahwa
saya, adalah anak yang mendapatkan hidayah secara 'instan'. Saya adalah
anak yang telah tertarbiyah sejak keluar dari rahim Ummi. Pantaskah,
saya menolak tongkat estafet yang telah disodorkan oleh orangtua yang
hanif? Pantaskah saya menolak satu nikmat yang telah Allah berikan pada
saya-berupa hidayah yg menyapa saya?

 

Rabbi...berikan guru kami tempat yang paling baik di sisiMu. Dan
izinkanlah hamba, bertemu kembali dengannya, di syurgaMu-walau mulut
ini, rasanya tak pantas memohon itu karena dosa hamba yang berlimpah...

 

 

 

Jati Mekar sunyi, 20 April 2008. 

Diiringi nasyid Izzis, Sang Murabbi. 

Dan airmata berlinang-linang membasahi pipi.

 

 

 

 



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke