Betul bangat bos!
Tanpa mengurangi hormat saya pada para pahlawan bangsa kita.
Contoh lain misalnya ada hari Kartini tapi pejuang2 lain seperti Cut Nya
Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny.
Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.. ga ada hari
khusus (secara nasional) untuk menghormati mereka. Trus kalo konsern Ibu Kita
Kartini adalah emansipasi dan pendidikan utk perempuan, Dewi Sartika sudah
bikin sekolah tahun 1902, sedangkan Ibu Kita Kartini baru sebatas wacana saja.
Gak heran Pram nulis buku judulnya: Panggil Aku Kartini Saja.
Kalo bicara sejarah Indonesia memang banyak yang harus ditinjau-ulang. Terlebih
ada yg bilang sejarah digunakan negara sebagai salah satu alat hegemoni.
walah2...
Ayo para sejarawan, nulis buku dong!
Dicky Kurniawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ini dari milis sebelah. Satu lagi gugatan tentang Hari Kebangkitan
Gugatan terhadap Boedi Oetomo Posted by: "farhan farhia" [EMAIL PROTECTED]
Thu May 22, 2008 6:51 pm (PDT) HARKITNAS Pada 100 Tahun Lalu Rakyat Sumatera
Tidak Tidur
function Big(me) { me.width *= 1.700; me.height *= 1.700; }
function Small(me) { me.width /= 1.700; me.height /= 1.700; }
KOMPAS/ANDREAS MARYOTO / Kompas Images
<http://www.kompasim ages.com/>
Peneliti KITLV, Basyral Hamidy Harahap, tengah berbicara dalam
seminar memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional di
Universitas Negeri Medan, Kamis (22/5). Ia mengatakan, pada 100
tahun lalu, peran rakyat Sumatera ada dalam Kebangkitan Nasional
tercermin dalam kehadiran tokoh Soetan Cahyangan. Jumat, 23 Mei
2008 | 03:00 WIB
Setiap kali peringatan Kebangkitan Nasional, rakyat Indonesia
selalu mengaitkannya dengan Boedi Oetomo. Memori seperti ini
dinilai terlalu sempit. Memori ini hanya mengaburkan fakta
seolah-olah orang lain di lain tempat tidak berperan aktif alias
hanya tidur saja.
ââ¬ï¿½Yang lain tidak tidur. Ada kebangkitan di tempat lain,
bukan hanya Boedi Oetomo,ââ¬ï¿½ kata sejarawan Universitas
Negeri Medan (Unimed), Ichwan Azhari, dalam seminar peringatan
100 tahun Kebangkitan Nasional di Unimed, Kamis (22/5).
Ia mengatakan, kisah Boedi Oetomo ini menjadi salah satu bukti
bahwa pengajaran sejarah yang terlalu tersentral dan mengabaikan
para pemain lain dalam panggung sejarah. Negara terlalu dominan
untuk membentuk wacana sejarah yang menjadi milik nasional.
Padahal, sejarah-sejarah lokal mempunyai peran yang tidak kecil.
ââ¬ï¿½Di samping tokoh-tokoh dari Boedi Oetomo, pada saat itu
ada Soetan Cahyangan yang berasal dari Sumatera dan berperan
aktif di dalam Indische Vereniging,ââ¬ï¿½ katanya mencontohkan.
Soetan adalah pendiri dan sekaligus ketua pertama Indische
Vereniging. Organisasi ini dinilai juga lebih heterogen
dibandingkan dengan Boedi Oetomo.
Soal Soetan Cahyangan, peneliti KITLV, Basyral Hamidy Harahap,
juga menyatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukannya,
Indische Vereniging mencakup komponen-komponen yang lebih luas.
Keberadaan Soetan Cahyangan mempunyai peran aktif dalam
organisasi yang berdiri lima bulan setelah Boedi Oetomo.
Sementara sejarawan asal Belanda, Hans van Miert, mengatakan,
banyak alasan tanggal pendirian Boedi Oetomo dijadikan Hari
Kebangkitan Nasional, tetapi ia menyatakan Indische Verenging
mencangkup kalangan yang lebih luas. Meski demikian, ia
mengkritik Indische Vereniging sangat moderat.
Ichwan mengatakan, pengajaran sejarah di sekolah yang cenderung
tersentral sangat membahayakan.
Ia mencontohkan, ketika membaca sejarah Kebangkitan Nasional
dengan materi yang ada sekarang, anak-anak di luar Jawa tidak
akan tersentuh. Akibatnya, mereka akan mengabaikan sejarah yang
ada.
ââ¬ï¿½Hal seperti ini sangat membahayakan. Pertama, terjadi
pembodohan. Kedua, akan memunculkan apatisme. Ketiga, akan muncul
perlawanan terhadap memori yang selama ini telah mengikat kita
sebagai bangsa,ââ¬ï¿½ tuturnya.
Ichwan berharap, sejarah lokal perlu dimasukkan dalam pengajaran
sejarah sehingga terjadi proses transendensi kisah-kisah dalam
sejarah ketika siswa mendapat pengajaran sejarah.
Ichwan cenderung menyarankan adanya perubahan komposisi materi
pengajaran sejarah dari yang hampir seluruhnya tersentral menjadi
terdesentralisasi sehingga peran tokoh lokal dalam sejarah masuk
ke pengajaran.
Cara ini akan menyentuh sisi kebatinan siswa sehingga akan muncul
memori kebangsaan yang lebih baik. Dalam konteks ini, sejarah
Kebangkitan Nasional masih perlu memasukkan peran berbagai tokoh
dan organisasi yang ada saat itu, bukan hanya Boedi Oetomo
It's only a transition...
Dicky Kurniawan
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
omongkosongku.blogspot.com
answerlieswithin.multiply.com