Dari Milis sebelah

==============

 

Rabu, 04 Juni 2008 
Proyek blue energy untuk memproduksi BBM dari air laut, ternyata hanya
akal-akalan. Padahal Presiden SBY percaya dan pabrik sudah berdiri di
Cikeas. Kenapa kasus memalukan ini bisa terjadi?
Oleh: Amran Nansution *



Hidayatullah.com--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY belakangan
ini kurang sehat. Presiden masih batuk-batuk, kata Juru Bicaranya Andi
Mallarangeng kepada wartawan 30 Mei lalu. Rencana pertemuan Presiden di
Istana hari itu dengan tim energi UGM dipimpin Rektor Profesor
Sudjarwadi ditunda.



Beberapa hari sebelumnya, dalam sebuah acara Departemen Kesehatan,
Presiden SBY tiga kali terbatuk-batuk saat berpidato. Ia minta maaf
kepada hadirin yang terdiri dari ratusan dokter karena harus meneguk air
untuk meredam batuk. Menurut Presiden sebulan ini ia kurang tidur
memikirkan BBM.



Sebenarnya wajar saja Presiden sakit. Walau ia dikelilingi seabreg
dokter kepresidenan dengan peralatan paling canggih di negeri ini, toh
ia manusia biasa dengan tanggung jawab berat. Presiden Amerika George
Bush 21 Juli 2007, harus menyerahkan jabatan kepada Wakil Presiden Dick
Cheney, untuk menjalani pemeriksaan kanker di Camp David, selama 48 jam.
Bush pernah mengalami operasi pengangkatan tumor jinak di usus pada 1998
dan 1999, ketika menjabat Gubernur Texas. Pada 13 Januari 2002, ia
sempat kehilangan kesadaran dan terjatuh di Gedung Putih, sehingga
diterbangkan ke Camp David. Jadi kalau SBY cuma batuk-batuk itu soal
kecil.


Nyatanya peristiwa itu tetap menimbulkan gosip di masyarakat. Itu juga
wajar. Maklum Presiden adalah orang nomor satu. Semua kisah tentang
Presiden selalu menarik. Name makes news, nama bikin berita, kata
wartawan. Salah satu gosip itu: SBY terbatuk-batuk karena menghirup gas
CO dari knalpot bis. Ini pasti cerita karangan. Bahwa benar Presiden SBY
mencium asap knalpot, tapi itu terjadi sudah lebih enam bulan silam.
Masak batuknya baru sekarang? Soal asap knalpot, begini ceritanya.
Minggu, 25 November 2007, di rumahnya, di Puri Cikeas Indah, Bogor,
Presiden melepas Tim Blue Energy (energi biru) dipimpin Heru Lelono,
Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah.



Tim membawa lima kendaraan: dua mobil Ford, sebuah Isuzu Panther diesel,
sedan Mazda, dan bis Mitsubishi. Sebuah truk mendampingi sebagai
pengangkut bahan bakar blue energy. Kelima mobil menggunakan bahan bakar
sintetik, konon temuan Joko Suprapto, 48 tahun, pemilik radio swasta
Jodhipati di Nganjuk, Jawa Timur.



Rupanya Presiden SBY berhasil diyakinkan Joko Presiden bertemu Joko
melalui Heru Lelono bahwa ia berhasil menciptakan mesin untuk memproses
air laut menjadi bahan bakar yang amat efisien dan murah. Presiden
percaya dan berkenan memberi nama blue energy untuk bahan bakar ajaib
yang bukan bersumber dari fosil.



Di hari itu, Tim bermaksud menguji-coba blue energy melalui perjalanan
darat dari Jakarta ke Denpasar, sejauh lebih 1225 km, dengan menggunakan
5 mobil berbeda merk dan tahun pembuatan. Di Bali, mobil berikut blue
energy dipamerkan di tengah konperensi PBB tentang perubahan iklim
(UNFCCC). Garis start uji-coba dimulai dari rumah SBY di Cikeas.



Blue energy dikabarkan memiliki emisi karbon rendah. Ia lebih ramah
lingkungan. Pada kesempatan itu, Presiden turun tangan langsung
mengetesnya. Ia duduk di belakang knalpot bis dan mencium asapnya.
Pasukan Pengamanan Presiden sempat kerepotan takut Presiden keracunan.
Tapi tidak. Coba saja, kata Heru Lelono, Ketua Tim Blue Energy dan orang
dekat SBY itu kepada puluhan wartawan yang menyambut rombongan Tim Blue
Energy ketika sampai di Nganjuk, 29 November 2007.



Tim sengaja singgah di sebuah hotel untuk menemui Joko Suprapto.
Mendengar omongan Heru Lelono, Wakil Bupati Nganjuk Djaelani Ishaq
penasaran, lalu mencium asap dari knalpot serupa. Sama sekali tak ada
baunya, katanya berkali-kali kepada wartawan. Kita ingin membuktikan
kepada dunia internasional bahwa kita bukan bangsa kere yang
terombang-ambing harga minyak dunia. Bangsa Indonesia bisa menemukan
bahan bakar sendiri, kata Heru Lelono.



Sementara itu Joko Suprapto bercerita kepada wartawan bahwa ia sudah
meneliti sejak tahun 2001. Inti temuannya adalah keberhasilan memecah
molekul air menjadi H plus dan O2 minus.
Ada katalis dan proses tertentu sampai menjadi bahan bakar dengan
rangkaian karbon tertentu, kata peneliti misterius yang katanya hanya
seorang insinyur elektro dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
Tapi UGM membantah Joko Suprapto pernah terdaftar sebagai mahasiswa
mereka.



Joko mengaku sudah berhasil menyiapkan bahan bakar untuk segala jenis
mesin. Tinggal mengatur jumlah rangkaian karbonnya. Mau premium, solar,
premix, atau avtur, ya sudah ada, katanya, membuat wartawan
terkagum-kagum. Untuk bahan baku, ia putuskan menggunakan air laut.
Kalau air tanah bisa terjadi bahaya kekeringan.



Masya-Allah, Allahu-Akbar. Anda tahu orang ini sedang bicara apa?
Revolusi dunia. Ia bicara untuk menjungkir-balikkan tatanan dunia. Mari
kita bicarakan apa yang terjadi kalau cerita Joko Suprapto benar cerita
yang disampaikannya dan dipercayai Presiden SBY.



Pertama, Joko Suprapto dalam tempo singkat akan jadi salah satu orang
terkaya dunia. Ia cukup menyedot air laut, menjadikannya BBM dan dijual
dengan harga lebih murah. Data The International Energy Agency di Paris,
mengatakan tahun 2007, dunia mengonsumsi BBM 86 juta barel/hari dan akan
meloncat menjadi 116 juta barel/hari di tahun 2030. Bayangkan bagaimana
mudah Joko meraup dollar.



Posisinya akan sejajar dengan orang kaya dunia dari Amerika Serikat,
Bill Gates, pemilik Microsoft dan Warren Buffett, investor sukses pasar
modal. Atau mungkin orang Nganjuk itu akan menyaingi Carlos Slim Helu,
raja telekomunikasi Meksiko berdarah Lebanon. Majalah Fortune menabalkan
Carlos sebagai orang terkaya dunia 2007, mengambil alih jabatan yang
dipegang Bill Gates selama 13 tahun.



Selanjutnya, Indonesia yang miskin dan terdaftar sebagai salah satu
negara gagal (failed state) kontan melonjak menjadi makmur. Soalnya,
penghasilan negara eksportir minyak Arab Saudi, Rusia, Iran, Norwegia,
Kanada, Uni Emirat Arab, dan lainnya akan berpindah ke Indonesia.
Sekarang, penjualan minyak dunia setahun lebih 2 triliun dollar atau Rp
18.000 triliun, kira-kira sama 20 kali APBN kita.
Indonesia yang tahun ini keluar dari organisasi eksportir minyak, OPEC,
karena kegagalan pemerintah menaikkan produksi minyak, mendadak-sontak
menjadi eksportir BBM terbesar mengalahkan Arab Saudi dan Rusia.



Bantuan Langsung Tunai (BLT) distop karena sulit mencari orang miskin di
Indonesia. Tak ada lagi antrean minyak tanah, beras murah, minyak
goreng, dan sebagainya. Tak ada korban berjatuhan karena tabung elpiji
gratis dari Pemerintah gampang meledak karena bermutu rendah.



Kota-kota tak lagi kena giliran pemadaman listrik karena Pemerintah SBY
gagal menyediakan listrik untuk rakyatnya. Jalan-jalan mulus tak
berlubang seperti sekarang, sampai memakan korban tak sedikit, termasuk
artis dan politisi Sopan Sophian. Ia meninggal karena ban motor gedenya
terjebak lubang.



Dalam pemilihan Presiden 2009, tak satu pun calon yang bersedia bersaing
dengan SBY karena merasa pasti kalah. SBY menjadi pahlawan Indonesia,
menyelamatkan negeri dari kemiskinan dan kemelaratan. Ia akan dipilih
berapa kali pun ia mau menjadi Presiden.



Prestasinya mengalahkan Bung Karno yang memerdekakan negeri ini atau
Soeharto yang berhasil membangunnya. Ia tak sebanding dengan Megawati,
apalagi Gus Dur yang memerintah seenaknya sampai jatuh di tengah jalan.



Sementara itu, ekonomi negara kaya minyak langsung anjlok, kalah
bersaing dengan air laut Joko Suprapto yang dijual Rp 3000 atau cuma 30
cent dollar/liter. Arab Saudi, misalnya, langsung menyetop pembangunan
King Abdullah Economic City dan tiga proyek serupa.



Karena bonanza minyak negeri itu sedang membangun 4 kota paling modern
di dunia. King Abdullah Economic City, salah satu dari kota baru itu,
dibangun dengan biaya 27 milyar dollar, luasnya tiga kali Manhattan, New
York. Disiapkan untuk dihuni 2 juta manusia, dilengkapi distrik
industri, keuangan, universitas, dan tempat tinggal.



Beberapa bagian kota terdiri dari pulau di Laut Merah, dihubungkan
dengan jembatan-jembatan berbentuk boulevard, dihiasi pohon palem dan
lampu terang-benderang, mirip kisah seribu satu malam. Ini semua akan
terbengkalai. Termasuk pembangunan sebuah universitas modern di dekat
Jeddah yang direncanakan setara dengan Columbia University atau Harvard.



Rusia dengan ekonomi terkuat sekarang, menjadi letoi. Ambisinya
menyatukan kembali negara bekas Uni Soviet melalui pengaruh ekonomi
langsung berantakan. Padahal sekarang cadangan devisa Rusia hampir 450
milyar dollar tertinggi didunia bila dihitung perkapita. APBN meningkat
10 kali lipat dibanding saat negeri itu dipimpin Boris Yeltsin dan
menjalankan sistem kapitalisme di tahun 1999. Seluruh utang luar negeri
yang dulu sempat gagal bayar kini sudah lunas. Sebagai penghasil minyak
terbesar setelah Arab Saudi, Rusia sekarang bisa bikin apa saja.



Bursa saham dunia terguncang. Saham perusahaan minyak raksasa Exxon
Mobil, Total, Shell, dan sebagainya atau perusahaan pengangkut minyak
dan segala macam turunan bisnis ini akan anjlok. Inggris pasti duluan
terpukul. Industri minyaknya yang berbiaya tinggi karena menambang
minyak di Laut Utara, tak lagi ekonomis. Rig-rig minyak lepas pantai itu
akan ditinggalkan menjadi besi tua.
Tekad Presiden Bush mengeksplorasi minyak di Alaska untuk meningkatkan
produksi Amerika Serikat yang tiap tahun menurun, pasti gagal. Tak ada
lagi perusahaan yang mau mencari minyak dari fosil. 

 

Semua itu karena seorang Joko Suprapto, pemilik radio swasta dari
Nganjuk.



Tak jelas apakah skenario di atas terbayang ketika Presiden SBY bersedia
mencium gas buang dari knalpot bis di Cikeas. Atau ketika ia menyambut
Tim Blue Energy di Hotel Nikko, Nusa Dua, Bali, 2 Desember 2007. Saat
itu, Ketua Tim, Heru Lelono melaporkan hasil uji coba blue energy kepada
Presiden, sebagai sukses besar. Penggunaan bahan bakar amat irit, 15,13
km tiap liter blue energy. Ini tidak merusak lingkungan, emisinya ramah
lingkungan. Tahun depan kita akan mulai memproduksi bahan bakar ini.
Masyarakat pengguna tak perlu memodifikasi kendaraannya, kata Joko
Lelono kepada wartawan seusai melapor kepada Presiden. Uji coba tak
menemukan kendala. Semua beres.


Presiden pun tampak amat berbahagia. Seperti ditulis di website-nya, SBY
didampingi Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menkopolhukam Widodo AS,
Mensesneg Hatta Rajasa, Menbudpar Jero Wacik, Seskab Sudi Silalahi, dan
Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng, mengunjungi stand blue energy.


Untung para pembantunya tak ikut menyedot knalpot bis. Mereka hanya
mendampingi Presiden mengelilingi arena pameran dengan bis berbahan
bakar blue energy. Singkat cerita, di ajang pameran itu blue energy
menjadi primadona karena mendapat perhatian luar biasa dari Presiden.
Seakan ke sanalah nasib negeri ini hendak digantungkan.



Di dalam website Presiden, blue energy dijuluki minyak Indonesia
Bersatu, tampaknya diambil dari Kabinet Indonesia Bersatu. Kata biru
dari blue energy, memang kesenangan SBY. Ingat biru adalah juga warna
Partai Demokrat.



Proyek itu dalam proses berproduksi sebagaimana dijanjikan Heru Lelono.
Pabrik sudah disiapkan di Cikeas, hanya sekitar 2 km dari rumah SBY.
Persisnya, di Kadukpugur, Desa Cikeas Udik, Kecamatan Gunungputri,
Bogor, di sebuah areal seluas 5 hektar. Sekeliling areal sudah ditembok
tinggi.



Kabarnya menurut rencana awal April lalu, Joko Suprapto akan membawa
mesin temuannya untuk dirangkai. Awal Mei, pabrik mulai berproduksi.
Lalu pada peringatan seabad Kebangkitan Nasional di Senayan, 20 Mei
2008, yang dilaksanakan besar-besaran, Presiden akan meluncurkan blue
energy kepada dunia. Sim Salabim, "air laut menjadi bensin."



Tapi itu tak terjadi. Perhelatan di Senayan memang berlangsung megah
tapi tak ada peluncuran blue energy. Apa yang terjadi? Rupanya Joko
Suprapto tak muncul seperti yang direncanakan.
[berlanjut/www.hidayatullah.com]
* Penulis adalah Direktur Institute For Policy Studies



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke