ada bang udin ternyata di sini

jadi inget 'kucing kalau dikasih ikan asin ya pasti mau ' :D
tragedi bocoran ulangan kimia :D

kalo bertele-tele, ya gpp kali
kayaknya hidupnya dia juga complicated ^^

gue alhamdulillah baek2 aja....

salam buat keluarga ya ^^

regards,
uy
--- In [email protected], Adi Pradana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Alamak top bgt... tapi ceritanya alot.. agak bertele-2...
> &nbsp;
> btw cerita lo sendiri gimana Wi???
> &nbsp;
> 5th, 10th berikutnya hidup lo akan spt apa???
> &nbsp;
> oh ya lo kemana aja???
> &nbsp;
> Salam,
> &nbsp;
> Saprudin Ade M.
> 
> 
> --- On Tue, 6/3/08, dwi pebrianti [EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
> From: dwi pebrianti [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [sma1bks] stay hungry stay foolish
> To: "elektro ui97" [EMAIL PROTECTED],
[email protected]
> Date: Tuesday, June 3, 2008, 11:25 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> semoga bermanfaat
> 
> -uy-
> ----
> 
> 
> Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University 
> 
> Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, 
> yang akan segera lulus dari salah satu universitas 
> terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. 
> Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana 
> wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita 
> pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup 
> tiga. 
> 
> Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik 
> 
> Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester 
> pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 
> bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. 
> Mengapa saya DO? 
> 
> Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya 
> adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan" 
> dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. 
> Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga 
> sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut 
> anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan 
> istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka 
> berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka 
> orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut 
> berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari 
> seseorang: "kami punya bayi laki-laki yang batal 
> dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: 
> "Tentu saja." Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa 
> ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah 
> angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak 
> menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru 
> melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua 
> saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan 
> tinggi. 
> 
> Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, 
> dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir 
> sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh 
> tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan- 
> habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya 
> tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang 
> harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana 
> kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah 
> menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang 
> tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun 
> memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang 
> terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang 
> saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang 
> pernah saya ambil. 
> 
> Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas 
> wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti 
> perkuliahan yang saya sukai. 
> 
> Masa-masa itu tidak selalu menyenangka n. Saya tidak 
> punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar 
> teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola 
> agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. 
> Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam 
> untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. 
> Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu 
> karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata 
> kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh: 
> Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di 
> AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, 
> setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan 
> dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak 
> harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan 
> mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya 
> belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat 
> variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat 
> tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi 
> cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat 
> ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan. 
> Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi 
> bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, 
> ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, 
> ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer 
> pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya 
> tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan 
> memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk 
> dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, 
> maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya 
> tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas 
> kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. 
> Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu 
> sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun 
> kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. 
> 
> Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik 
> dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya 
> dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya 
> bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di 
> masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, 
> takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun 
> lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak 
> perbedaan dalam kehidupan saya. 
> 
> Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan. 
> 
> Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak 
> masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi 
> orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami 
> bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari 
> hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar 
> dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk 
> terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan 
> saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. 
> 
> Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang 
> Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring 
> pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir 
> sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan 
> bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan 
> lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi 
> kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. 
> Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di 
> usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. 
> Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, 
> tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. 
> 
> Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa 
> yang harus saya lakukan. Saya merasa telah 
> mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya 
> -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan 
> David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas 
> keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang 
> gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon 
> Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul 
> kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang 
> terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya 
> telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya 
> putuskan untuk mulai lagi dari awal. 
> 
> Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru 
> saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian 
> terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang 
> sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, 
> segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu 
> mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam 
> hidup saya. 
> 
> Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan 
> perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta 
> dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri 
> saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang 
> menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, 
> dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di 
> dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, 
> Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, 
> dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi 
> jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene 
> dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. 
> Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya 
> tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun 
> sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala 
> kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan 
> kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya 
> yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya 
> menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan 
> apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan 
> maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan 
> menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan 
> sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu 
> yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan 
> apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, 
> teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan 
> mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana 
> halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama- 
> semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari 
> sampai ketemu. Jangan berhenti. 
> 
> Cerita Ketiga Saya: Kematian 
> 
> Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang 
> kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup 
> seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka 
> suatu hari kamu akan benar." Ungkapan itu membekas 
> dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 
> tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap 
> pagi dan bertanya kepada diri sendiri: "Bila ini 
> adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan 
> apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya 
> selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, 
> saya tahu saya harus berubah. 
> 
> Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat 
> penting yang saya temukan untuk membantu membuat 
> keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua 
> harapan eksternal, kebanggaan, takhut malu atau 
> gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. 
> Hanya yang hakiki yang tetap ada. [b]Mengingat kematian 
> adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari 
> jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. 
> Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada 
> alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.[/b] 
> Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap 
> kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan 
> hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor 
> pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. 
> Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti 
> jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan 
> hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter 
> menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan 
> segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar 
> saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan 
> kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang 
> Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. 
> Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah 
> bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan 
> selamat tinggal. 
> 
> Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan 
> diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan 
> endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, 
> memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil 
> beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, 
> yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat 
> selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis 
> mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang 
> sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya 
> dioperasi dan sehat sampai sekarang. 
> 
> Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan 
> berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. 
> Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya 
> bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut 
> konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: 
> Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang 
> ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk 
> mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. 
> Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus 
> demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari 
> kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya 
> maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. 
> Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun 
> memang begitu. 
> 
> Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan 
> menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan 
> dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang 
> lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda 
> sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang 
> terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata 
> hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada 
> apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor 
> dua. 
> 
> Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang 
> bernama "The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah 
> satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan 
> oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak 
> jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya 
> sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu 
> itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop 
> publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, 
> gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google 
> dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran 
> Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan 
> ungkapan-ungkapan hebat. 
> Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi 
> "The Whole Earth Catalog", dan ketika mencapai titik 
> ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu 
> pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di 
> sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan 
> pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui 
> jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: "Stay 
> Hungry. Stay Foolish." (Jangan Pernah Puas. Selalu 
> Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi 
> tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya 
> selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, 
> karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, 
> saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay 
> Foolish.
>


Kirim email ke