----- Forwarded Message ----
From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: adi bogem <[EMAIL PROTECTED]>; Aditya Aswin <[EMAIL PROTECTED]>; Andika
Irawan <[EMAIL PROTECTED]>; andy sierra <[EMAIL PROTECTED]>; arif panji
suprapto <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; Arinto Rian <[EMAIL
PROTECTED]>; armand wily <[EMAIL PROTECTED]>; baday <[EMAIL PROTECTED]>;
Bengbeng <[EMAIL PROTECTED]>; Bramansyah <[EMAIL PROTECTED]>; choky <[EMAIL
PROTECTED]>; deant <[EMAIL PROTECTED]>; donie wahyu <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL
PROTECTED]; Ellya <[EMAIL PROTECTED]>; Gian <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL
PROTECTED]; hendri suroso <[EMAIL PROTECTED]>; Hery Sudrajat <[EMAIL
PROTECTED]>; "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>; Lilik Iskandar <[EMAIL
PROTECTED]>; lily siti <[EMAIL PROTECTED]>; maraden alim <[EMAIL PROTECTED]>;
mohamat arif <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; rachmawanto <[EMAIL
PROTECTED]>; tanto
supriyanto <[EMAIL PROTECTED]>; Wahyu <[EMAIL PROTECTED]>; Yani Kusuma
Wardhani <[EMAIL PROTECTED]>; Yoppy Kumaat <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, July 2, 2008 11:42:40 AM
Subject: Titip Ibu Yaa..Allah!
-bisakah kami menjadi ibu yang dg pengorbanan dan keikhlasannya spt ini?
==================================================================
" Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di
meja..."
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa
mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan
disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
" Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah
dewasa"
pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun
ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran.Buru-buru
kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini
dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin
sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah
artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan
cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah....
Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu
tidak akan pernah mengatakan apa-apa
Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya, " Bu, maafin aku kalau
telah menyakiti perasaan Ibu.
Apa yang bikin Ibu sedih ? " Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan
air mata di sana . Terbata-bata Ibu berkata, " Tiba-tiba Ibu merasa
kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa
menghidupi diri sendiri.
Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa
lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri "
Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani
putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.
Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa
jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha
untuk saling membuka diri melihat arti
kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu
dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera
putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,
" Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu.
Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . Kalian
berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu.
Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah
dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu
kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan
kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, " Ampunkan aku ya Allah kalau selama
ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak
alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. "
Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang
wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku
untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada
pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga,
merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang
takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun
dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur
menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi...
Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak
pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?
" Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin
dimeja.. " Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul
Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap
matanya lekat-lekat dan kuucapkan, " Terimakasih Ibu, aku beruntung
sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu...".
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu,
Ibu...
Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa
menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..
Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat
"aku sayang padamu... ", namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk
menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai
karena Allah.
Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... Ibu
dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.
Percayalah..
. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.
Wallaahua'lam
"Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan
Ibu... dan jika nanti engkau panggil dia, panggillah dalam keadaan
khusnul khotimah, dan kesempatan untuk istiqomah mengirim do'a buat
Ibuku, jika dia telah Engkau panggil. Ampunilah segala dosa-dosanya dan
sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil "