Iya nih bang komar, kang morry sama arafat (raja minyak ya???)
 
masa  cuma mikirin negara melulu sih.... kit-kita yang dibawah gimana???
jangan mentang-mentang senior jadi kelewat lebar ngomongnya...
kaya' kita nih para junior... yang penting bagaimana kitanya...
kita?? junior???...
hi..hi..hi....
 
 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Risman Rais
Sent: 15 Juli 2008 16:36
To: [email protected]
Subject: Re: [sma1bks] SOal Minyak, any commennt?






Bang Komar, Om Mory dan Kang Arafat,

Hellow pa kabar?


Ngomong2 ttg minyak yang katanya harganya selangit yang bikin jadinya
inflasi tinggi dan masyarakat jadi syusyah gara2 turunan minyak dan
barang2 ikut jadi kekatrol... Walaupun sebenernya Indonesia yang kaya
ladang sumber daya mineral, terutama minyak (walaupun katanya dah mau
abis- kecuali yang gw denger ada ladang minyak di Aceh lagi di gali
potensinya, abis bisa menyamai atau lebih dari yang ada di Arab
katanya).

Gw lebih setuju kalo diskusinya adalah seputar kira2 kita bisa berbuat
apa seh, sebagai orang indon apalagi warga bekasi. Secara sekarang
substitusi minyak (Biofuel- CPO, kedelai, jagung, jarak dll) dan harga
komoditi. Belum lagi pangan juga pada naek, beras misalnya (untung
negara netting- g tau daerah karawang yang katanya dulu gudang beras
gimana nasibnya. Apalagi kalo ada bisnis2 atau opportunity2 tertentu
dijaman susah ini yang bisa kita lakonin sama2... itu baru keren euy...


Yah... intinya berbuat dari diri sendiri duluw dan g nyalah2in apalagi
jelek2in orang... toh kita juga ujung2 nya g bisa berbuat apa2 kok...
Itu aja masukannya om - om senior...


--- On Mon, 7/14/08, komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:


From: komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [sma1bks] SOal Minyak, any commennt?
To: [email protected]
Date: Monday, July 14, 2008, 11:38 PM


Tambahan berita dari gue,
Bekasi dapet 18 Milyar per tahun
tapi gak tahu berapa jumlah total..
aneh yah?




Mafia Minyak
Harus Periksa Bos 3 Lembaga
Ronald Tanamas - detikNews


 
<http://www.detiknews.com/images/content/2008/07/14/159/pertamina2-dalam
.jpg> 

Jakarta - Triliunan rupiah uang negara dari migas diduga telah raib
akibat mafia minyak. Tim Indonesia Bangkit mencatat, sejak 2005,
Pertamina melakukan ekspor minyak mentah sebanyak 35.000 barel perhari
dan BP Migas melakukan eskpor yang sama sejumlah 34.000 barrel per hari.
Padahal, Pertamina dan BP Migas dinilai belum perlu melakukan ekspor
minyak mentah. Sebaiknya, dialihkan untuk memenuhi kebutuhan refinery
dalam negeri.
 
Menurut pengamat ekonomi Iman Sugema,  Indonesia  saat ini sebenarnya
mengalami surplus energi. Kalaupun digunakan untuk kepentingan domestik
dan ekspor, negara ini tidak harus mengalami krisis energi seperti
sekarang. Sangat tidak masuk akal kalau PLN mengatakan ada kekurangan
pasokan energi." Kita itu ibarat tikus mati di lumbung padi. Produksi
surplus tapi krisis. Ini menunjukkan kusutnya pengelolaan migas," kata
Iman kepada detikcom.
 
Sementara pengamat perminyakan Kurtubi menuding,  penyebab utama krisis
energi ini adalah Pertamina dan BP Migas yang lalai dan lemah dalam
melakukan kontrol. "Itu hal klasik. Pemerintah sengaja membiarkan demi
kepentingan kelompok atau golongan tertentu," kata Kurtubi.
 
Tudingan Kurtubi ini karena BP Migas dan Pertamina hingga saat ini belum
juga menyerahkan data kuota soal penerimaan BBM bersubsidi yang diminta
oleh DPR dan ini patut dipertanyakan ada apa. Padahal data ini sangat
dibutuhkan untuk mengetahui siapa saja yang menjadi pengemplang minyak
untuk rakyat tersebut.
 
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bidang Pencegahan Haryono
Umar mengungkapkan, KPK sejauh ini masih menghimpun data soal adanya
dugaan penyimpangan tersebut. "Mereka memang eksklusif sekali. Tapi
permasalahannya sudah kami lihat, tinggal meminta keterangan saja," kata
Haryono kepada detikcom.
 
Haryono mencontohkan, setiap laporan kegiatan pengelolaan migas selalu
bersifat tertutup dan rahasia. Bahkan, DPR sebagai mitra pemerintah pun
hanya menerima laporan tanpa disertakan dalam serangkaian kegiatan di
bidang migas. Padahal, kata Haryono, sejak 1981, Indonesia harus
menanggung 100% seluruh biaya yang timbul dari aktivitas eksplorasi
migas, termasuk pembayaran aset eksplorasi.
 
Pembayaran aset eksplorasi ini sangat berpotensi merugikan negara karena
aset cenderung mengalami penyusutan nilai dalam jangka waktu tertentu.
 
Rencana KPK tersebut rupanya mendapat dukungan penuh  DPR. Anggota
Komisi VII DPR Effendi Simbolon mengungkapkan, penggelembungan dana cost
recovery memang sudah seharusnya dibongkar. "Yang harus diperiksa tidak
hanya pimpinan BP Migas, tetapi juga Departemen ESDM dan Departemen
Keuangan." tandas Effendi.
 
Ia memberi contoh, subsidi BBM dibayar Depkeu ke Pertamina. Dan setiap
penerimaan negara dari migas, disetor dan dicatat oleh Depkeu. Sedangkan
kuantiti dari setiap jumlah migas yang diproduksi dan dijual, dicatat
oleh Departemen ESDM. Sebab itu, jika terjadi penyalahgunaan dalam
sektor migas, ketiga institusi itu harus bertanggung jawab dan
pimpinannya harus diperiksa.
 
Sedangkan anggota Komisi VII DPR Alvin Lie mengatakan, hasil audit BPK
perlu dipelajari kembali dengan cermat. Maksudnya kesalahan audit
tersebut memang disebabkan oleh BP migas atau sistemnya yang salah
kaprah. "Ini memang sangat rawan korupsi, perlu diteliti. Sistemnya
memang membuka peluang untuk disalahgunakan. Kalau KPK mau periksa, maka
yang perlu diperiksa juga adalah pimpinan BP Migas yang sebelumnya,"
katanya.
 
Komisi VII DPR mengaku sudah sejak lama mendesak pemerintah agar
memperbaiki sistem pencatatan manajemen keuangan dari
kontraktor-kontrakt or migas. Mereka ini yang membuka peluang
penyalahgunaan. Tapi, pemerintah tampaknya belum tergerak memperbaiki.
Sedangkan Pertamina melemparkan masalah itu kepada BP Migas. Alasannya,
soal penandatangan KKS dengan kontraktor bukan lagi kewenangan lembaga
tersebut, melainkan wewenang BP Migas.(ron/ddg)



 
--------------------------------------------------------
Mail ini telah discan oleh IMSS Trend Micro Tigaraksa 
--------------------------------------------------------
        



--------------------------------------------------------
Mail ini telah discan oleh IMSS Trend Micro Tigaraksa 
--------------------------------------------------------

Kirim email ke