Ekstase Mi'raj
Selasa, 15 Juli 2008 - Sorotan
Oleh : Salim Akhukum Fillah*

Sekiranya ku menjadi Muhammad

Takkan sudi ku beranjak ke bumi

Setelah sampai di dekat ’Arsyi

-’Abdul Quddus, Sufi Ganggoh-

Buraq namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. 
Malam itu diiring Jibril, dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. 
Khadijah, isteri setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. 
Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung yang penuh kasih meski tetap enggan 
beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia 
merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan 
terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari.. Ia 
merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya 
sebagian dari tanda kuasaNya.

Buraq namanya. Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha ketika seluruh Nabi dan Rasul 
berhimpun di sana. Mereka shalat. Dan penumpangnya itu kini mengimami mereka 
semua. Tetapi dari sini Sang Nabi berangkat untuk perjalanan yang menyejarah. 
Disertai Jibril ia naik ke langit, memasuki lapis demi lapis. Bertemu Adam, 
Yahya serta ’Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke 
Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan naik lagi menghadap Allah hingga jaraknya 
kurang dari dua ujung busur. Allah membuka tabirNya..

Allah.. Allah.. Jika melihat Yusuf yang tampan sudah membuat jari para wanita 
teriris mati rasa, apa gerangan rasa melihat Sang Pencipta yang Maha Indah? 
Atau katakan padaku shahabat, apa yang kau rasakan saat melihat Ka’bah yang 
mulia untuk pertama kalinya? Ya, sebuah ekstase. Kita haru. Kita syahdu. Air 
mata menitik. Raga terasa ringan. Jiwa kita penuh. Mulut kita ternganga. Maka 
apa kira-kira yang dirasakan Muhammad, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam ketika ia 
mi’raj bertemu Rabbnya? Kesyahduan. Keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan 
ruhani. Kelegaan jiwa. Tiada tara. Tiada tara. Tiada tara.

Demi Allah, alangkah indahnya, betapa nikmatnya..

Maka ada benarnya Sufi Ganggoh itu. Di saat mengalami puncak kenikmatan ruhani 
itu, tentu ada goda untuk bertahan lama-lama di sana. Kalau bisa, kita ingin 
menikmatinya selamanya. Atau setidaknya mengulanginya. Lagi dan lagi. 
Kesyahduan yang tak terlukiskan, ruhani yang terasa penuh, berkecipak, 
mengalun. Jiwa yang terpana bagaikan titik air menyatu dengan samudera, 
kedirian kita hilang lenyap ditelan kemuliaan dan keagungan Ilahi. Kita ingin 
mereguknya, menyesapnya, lalu rebah, dipeluk, direngkuh, dan menyandarkan hati 
di situ saja. Selama-lamanya.

Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an batin. Kita pasti ingin menikmatinya selalu. 
Kita menghasratkannya tiap waktu. 

Tetapi justru di situlah salahnya.

Justru di situlah kekeliruan terbesar kita.

Coba tengok perjalanan mi’raj Sang Nabi. Ia tidak terjadi setiap hari. Ia 
terjadi sekali, hanya ketika deraan rasa sakit, badai kepiluan, dan himpitan 
beban telah melampaui daya tahan kemanusiaan. Ia terjadi ketika sang Rasul 
merasakan puncak kepayahan jiwa; da’wah yang ditolak, seruan yang diabaikan, 
pengikut yang tak seberapa, sahabat-sahabat yang disiksa, dan para penyokong 
utama satu demi satu mencukupkan usia. Maka satu hal yang kita maknai dari 
perjalanan mi’raj adalah, bahwa ia sekedar sebuah waqfah. Ia sebuah perhentian 
sejenak. Sebuah oase tempat Sang Nabi mengisi ulang bekal perjalanannya. Bekal 
perjuangannya.

Mi’raj bukanlah titik akhir dari perjalanan itu. Merasakan kenikmatan ruhani 
yang dahsyat bukanlah tujuan dari perjalanan hidup dan risalahnya. Itulah yang 
membuat Sang Nabi dan Sang Sufi dari Ganggoh bertolak belakang. Jika Sang Sufi 
memandang ekstase kenikmatan ruhani itu sebagai tujuan hidupnya, Sang Nabi 
sekedar menjadikannya sebuah rehat. Sejenak mengambil kembali energi ruhani, 
mengisi ulang stamina jiwa. Sesudah itu dunia menantinya untuk berkarya bagi 
kemanusiaan. Dan iapun, kata Muhammad Iqbal dalam Ziarah Abadi, menyisipkan 
diri ke kancah zaman.

Padaku malaikat menawarkan,

”Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami

Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”

”Tidak!”, kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya

Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban

Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”

Inilah jalan cinta para pejuang. Para penitinya bukanlah para pengejar ekstase 
dan kenikmatan ruhani. Mereka adalah pejuang yang mengajak pada kebaikan, 
memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. 
Dalam kerja-kerja besar itu, terkadang mereka  merasa lelah, merasa lemah, 
merasa terkuras. Maka Allah menyiapkan mi’raj bagi mereka. Sang Nabi yang cinta 
dan kerja da’wahnya tiada tara itu memang mendapat mi’raj istimewa; langsung 
menghadap Allah ’Azza wa Jalla. Kita, para pengikutnya, berbahagia mendapat 
sabdanya, ”Saat mi’raj seorang mukmin adalah shalat!”

Shalat, kata Sayyid Quthb, adalah hubungan langsung antara manusia yang fana 
dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan 
setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci 
perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan 
dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju realita alam raya.. Ia adalah 
angin, embun, dan awan di siang hari di siang hari bolong nan terik. Ia adalah 
sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah.

Maka shalat adalah rehat. Ketika tulang-tulang terasa berlolosan dalam jihad, 
rasa kebas di otot dan kulit berkuah keringat, Sang Nabi bersabda pada 
muadzinnya, ”Yaa Bilal, Arihna bish shalaah.. Hai Bilal, istirahatkan kami 
dengan shalat!”

Berhala Kekhusyu’an

Seorang musafir berhenti di sebuah Masjid. Ia lelah, gerah, penat, pegal, dan 
pening. Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah ramai, dan asing di 
tengah khalayak. Di masjid itu ia menemukan ketenangan. Wudhunya serasa 
membasuh seluruh jiwa raga. Ketika air itu menyapu, ia seperti bisa melihat 
noktah-noktah hitam dosanya luntur berleleran, mengalir hanyut bersama air. 
Dalam shalatnya ia benar-benar merasa berdiri di hadapan Sang Pencipta. Tiap 
bacaannya seolah dijawab olehNya. Ia merasakan getar keagungan. Ini pertama 
kalinya ia bisa terisak-isak dalam sujudnya. Hatinya diselimuti perasaan 
tenteram, sejuk, penuh makna. Dia merasakan sebuah ekstase.

Saat lain ia lewat di masjid itu. Ia memang sengaja ingin shalat di sana. Ia 
rindu kekhusyu’annya. Masjid ini memancarkan keagungan. Pilar-pilarnya tegak 
kokoh, berlapis marmer kelabu. Kolom-kolom setengah lingkarannya manis dengan 
ukiran geometris. Lampu-lampunya remang dibingkai logam mengilat bersegi 
delapan. Lantainya lembut menyambut tiap sujud, dingin menyejukkan khas granit 
hitam. 

Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut kuningan yang berukir ayat suci.. 
Ia mencoba menghayati shalatnya. Tapi aneh. Kali ini, ia tak menemukan getar 
itu. Ia kehilangan kekhusyu’annya. Benar. Ia kehilangan semua perasaan itu. Tak 
ada ekstase. Tak ada kelezatan ruhani. Tak setitikpun air matanya sudi meleleh. 
Dalam sesal ia menguluk salam. Ke kanan, lalu ke kiri. Dan matanya menumbuk 
terjemah sebuah kaligrafi di dinding selatan. Terbaca olehnya, ”Barangsiapa 
mencari Allah, ia mendapatkan kekhusyu’an. Barangsiapa mengejar kekhusyu’an, ia 
kehilangan Allah.”

Alangkah malang para penyembah kekhusyu’an. Khusyu’ menjadi tujuan, bukan 
sarana menuju Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Maka perhatian utama dalam shalatnya 
terletak pada bagaimana caranya agar khusyu’, atau setidaknya terlihat khusyu’. 
Ayuhai, andai kau tahu bagaimana Sang Nabi dan sahabat-sahabatnya shalat. 
Mereka mendapatkan kekhusyu’an bukan karena mencarinya. Mereka khusyu’ karena 
shalat benar-benar perhentian dari aktivitas maha menguras di sepanjang jalan 
cinta para pejuang. Mereka khusyu’ karena payahnya diri dan kelelahan yang 
membelit melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati.

Seperti para penyembah Al Masih merumit-rumitkan trinitas ketuhanan, berhala 
kekhusyu’an juga sering disulit-sulitkan. Tak salah sebenarnya mengutip kisah 
bahwa ’Ali ibn Abi Thalib meminta dicabut panahnya ketika beliau shalat. Agar 
sakitnya tak terasa karena khusyu’ shalatnya. Tak salah juga meneladani ’Abbad 
ibn Bisyr yang tetap melanjutkan shalat meski satu demi satu anak panah 
mata-mata musuh menancap di tubuh. Tapi apakah hanya itu yang disebut khusyu’? 

Sang Nabi adalah manusia yang paling khusyu’. Dan alangkah indah 
kekhusyu’annya. Kekhusyu’an yang seringkali mempercepat shalat ketika terdengar 
olehnya tangis seorang bayi. Atau memperpendek bacaan saat menyadari kehadiran 
beberapa jompo dalam jama’ahnya. Kekhusyu’an yang tak menghalanginya 
menggendong Umamah binti Abil ’Ash atau Al Hasan ibn ’Ali dalam berdirinya dan 
meletakkan mereka ketika sujud. Kekhusyu’an yang membuat sujudnya begitu 
panjang karena Al Husain ibn ’Ali main kuda-kudaan di punggungnya.

Sahabat, inilah jalan cinta para pejuang. Khusyu’ dan gelora kenikmatan ruhani 
hanyalah hiburan dan rehat, tempat kita mengisi kembali perbekalan dan melepas 
penat. Ini adalah jalan cinta para pejuang. Bukan jalan para pengejar 
kenikmatan ruhani, hingga harus mengulang-ulang takbiratul ihram sampai sang 
imam ruku’. Ini bukan jalan para penikmat kelaparan yang ketakutan berkumur 
saat puasa tapi diam saja menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat 
Ka’bah yang kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk pintu 
rumahnya yang selalu terkunci. 

Senarai sejarah memberi pelajaran tentang para pengejar kenikmatan ruhani. 
Mereka jauh terlempar dari jalan cinta ini. Ada yang merasa diri menjadi mukmin 
yang baik; karena bisa menangis saat shalat, bisa terharu saat membagi zakat, 
bisa berdzikir hingga hilang kesadaran saat berpuasa, atau berhaji setahun 
sekali; terbuta mereka dari dunia Islam yang serak memangil-manggil.. 

Inilah mereka yang selalu bicara agama sebagai urusan pribadi. Urusan pribadi 
untuk menikmati kesyahduan spiritual. Bagi mereka, alangkah nikmatnya shalat 
khusyu’ di atas sajadah mahal, dalam ruangan berpendingin, dengan setting 
pemandangan yang bisa diatur berganti-ganti. Khusyu’ adalah menikmati bacaan 
imam bersertifikat dari audio premium, dalam hembusan harum parfum aromaterapi. 
Jauh di sana, di jalan cinta para pejuang, Sang Nabi shalat di sela-sela jihad 
menegakkan syari’at. Dengan debu, dengan darah, dengan lelah, dengan payah.

Yang lain, mencari pelarian dari tekanan dunia yang menghimpit. Menikmati rasa 
tenteram karena dzikirnya, rasa melayang karena laparnya, rasa syahdu karena 
gigil tubuhnya. Ia bertapa dalam pakaian campingnya, hidup dalam kefakirannya, 
lalu merasa menjadi makhluq yang paling dicintai Allah. Tapi tak pernah 
wajahnya memerah ketika syari’at Allah dilecehkan. Tak pernah ia merasa terluka 
melihat kezhaliman. Tak pernah hatinya tergetar melihat nestapa sesama. 
Orang-orang semacam si Sufi dari Ganggoh. Dialah si burung unta yang merasa 
aman saat membenamkan kepalanya ke dalam pasir. Padahal tubuhnya terguguk tepat 
di depan pelupuk pemburu.

Ekstase. Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an. Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan 
tuhanmu. Dan tak hanya seorang muslim yang beroleh kemungkinan merasakan 
ekstase macam itu. Tanyakan pada seorang beragama Budha, penganut Zen, Tao, 
atau praktikan Yoga. Merekapun mengalaminya lewat meditasi dan rerupa puja. 
Seorang Nasrani dari Ordo Fransiskan yang melarat merasakannya dalam 
pengembaraan bertelanjang kaki ala kemiskinan Kristus. Seorang Nasrani dari 
Ordo Benediktin yang mewah menikmatinya dalam mengoleksi relik-relik suci 
peninggalan para bapa gerejawi.

Bukan itu.

Bukan itu yang kita cari.

Di jalan cinta para pejuang, berbaktilah pada Allah dalam kerja-kerja besar 
da’wah dan jihad. Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada 
iman. Larilah hanya menujuNya. Meloncatlah hanya ke haribaanNya. Walau duri 
merantaskan kaki. Walau kerikil mencacah telapak. Sampai engkau lelah. Sampai 
engkau payah. Sampai keringat dan darah tumpah. Maka kekhusyu’an akan datang 
kepadamu ketika engkau beristirahat dalam shalat. Saat kau rasakan puncak 
kelemahan diri di hadapan Yang Maha Kuat. Lalu kaupun pasrah, berserah.. 

Saat itulah, engkau mungkin melihatNya, dan Dia pasti melihatmu..

*Beliau adalah penulis buku “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”, “Agar 
Bidadari Cemburu Padamu”, “Gue Never Die”, “Bahagianya Merayakan cinta”, 
“Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim”
Taken from http://www.kammi-jepang.net/sorotan.php?id=163


      

Kirim email ke