---------- Forwarded message ----------
From: Setianto, Budi <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 12, 2008 7:28 AM
Subject:  Bang Amir, Dapurku adalah Surgaku..
Sepenggal dialog dalam sebuah halaqoh...

===========================================

 *Bang Amir*: Ustadz, boleh saya tanya sesuatu ?

Pertanyaan bang Amir ini, menghilangkan keheningan halaqoh dengan ustadz
Ahmad pagi itu.Ramadhan tahun ini San Francisco dan BayArea kehadiran ustadz
Ahmad dari Indonesia.

*Ustadz Ahmad* : iya silakan, memang sekarang kita sedang masuk ke session
tanya jawab. Silakan bang Amir.

*Bang Amir* : Ustadz saya selalu mendengar orang mengucapkan Rumahku adalah
Surgaku. Saya sendiri tidak merasakannya seperti itu ustadz.Sebenarnya
bagaimana caranya menjadikan Rumahku adalah Surgaku itu ustadz ?

*Ustadz Ahmad* : Apakah bang Amir selalu membaca Al-Qur'an ?

*Bang Amir* : Iya ustadz, di bulan Ramadhan ini kami giat membacanya
ustadz.Malah kami sering qiyamullail juga. Dan anak-anak kami, 9 orang, juga
sering melakukannya bersama-sama kami.

*Ustadz Ahmad* : Alhamdulillah anak bang Amir banyak sekali, semoga banyak
rejeki bang. Apakah bang Amir punya pembantu ?

*Bang Amir* : Waduh ustadz, di Amerika tidak ada pembantu, harus kita
kerjakan sendiri semuanya, ustadz.

*Ustadz Ahmad* : Apakah bang Amir sering ke dapur membantu istri memasak ?
atau cuci piring ?

*Bang Amir* : Kadang-kadang ustadz, kalau lagi sempat dan ada waktu.

*Ustadz Ahmad* : Kalau begitu mulai hari ini, bersih dapur dan cuci piring
adalah tugas utama bang Amir. Biarkan istri bang Amir yang tetap masak,
sekali-kali bang Amir bantu masak juga boleh. Tapi ingat bersih-bersih dapur
adalah tugas bang Amir Yang penting jaga agar dapur tetap bersih dan
mengkilap.

*Bang Amir*: Ustadz, pertanyaan saya tentang Rumahku adalah Surgaku, bukan
masalah dapur ustadz.

*Ustadz Ahmad* : Iya saya paham, coba lakukan dulu beberapa hari, nanti kamu
akan tahu bagaimana merasakan Rumahku adalah Surgaku.

Beberapa hari kemudian berlalu, bang Amir menghadiri kembali halaqoh ustadz
Ahmad.

*Bang Amir* : Ustadz Ahmad, jazakallah atas nasehatnya beberapa hari yang
lalu.Saya benar-benar sekarang merasakan apakah itu Rumahku adalah Surgaku.
Istri ku sekarang selalu senang dan riang!!!! Dan yang jelas selalu full
smile, ustadz !!! Sekarang saya benar-benar merasakan Dapurku adalah
Surgaku. Luar biasa ustadz. Saya bersyukur dapat istri yang solehah, ustadz.

*Ustadz Ahmad* : Itulah bang, yang kecil kadang tidak kita perhatikan. Tapi
dari yang kecil itulah sebenarnya sumber nikmat dari Allah yang tiada
terhingga. Kalau istri bang Amir bahagia, maka bang Amir akan menemukan
rumah bagaikan surga di dunia. Surga dunia ini dapat kita rasakan kalau
istri kita bahagia di rumah, bang. Kalau mereka sedih, stress dan tertekan,
maka jangan harapkan rumahku adalah surgaku, bang.Dan satu lagi, kalau istri
abang bahagia di rumah bersama abang, maka abang telah membuat istri abang
menjadi lebih solehah, dan itu nikmatnya akan jatuh ke abang juga.

Saudaraku, sudah berapa lama kita berinteraksi dengan istri kita di rumah ?
Terkadang kita lupa dengan peran mereka di kehidupan kita, menganggap
mereka bagaikan pembantu rumah tangga yang harus mengurus anak-anak di
rumah, memasak dan membersihkan dapur.Mereka bukanlah pembantu rumah tangga,
akan tetapi mereka adalah makhluk Allah yang luar biasa di dunia ini, yang
Allah diciptakan hanya untuk mu seorang, amin.Saudaraku, di bulan Ramadhan
yang ke-11 ini, selain kita giat membaca Alquran dan Qiyamul lail, marilah
kita bantu mereka menyelesaikan tugas-tugas amal solehnya,semoga kelak kita
bisa berkumpul dengan mereka di surga-Nya. Amin.

Martinez, 11 Ramadhan 1429

Yusuf

Kirim email ke