http://taufikurahman.wordpress.com

--- On Tue, 9/16/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Asasi] [[Fwd: Kaca Spion (Catatan Andy Noya)..]]
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tuesday, September 16, 2008, 6:25 PM










    
            



Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan

 Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu

 hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan

 untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan.

 Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga

 suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan

 masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya

 mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya

 makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama.

 Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?



Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal

 rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya

 gundah.



Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu

 mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit

 saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari

 buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan

 buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam

 saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya

 minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran

 terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya

 saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain

 penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah

 gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring

 sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau

 ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti

 tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai

 reporter buku Apa dan Siapa



Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis

 Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya

 terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media

 Indonesia dan Metro TV.



Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di

 sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya

 menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan

 kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi

 menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika

 suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil

 sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak

 ingin menjadi sombong karenanya.



Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .

 Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas

 dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan

 tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain

 bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil.

 Kaca spion mobil itu patah.



Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer

 saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah

 saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang

 sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah

 garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya

 disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar

 yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya.

 Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya

 tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar

 keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara

 keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta

 ganti rugi atas kerusakan mobilnya.



Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak

 bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca

 spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang

 senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang

 mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos

 menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu

 dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan

 ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari

 menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan

 hidup sebulan.



Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.

 Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk

 mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus

 menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya.

 Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya

 selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya?

 Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan

 melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?



Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat

 wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci

 pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya

 benci orang kaya.



Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban

 mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.

 Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya.

 Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika

 mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam

 benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari.

 Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada

 dendam yang terbalaskan.



Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang

 kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil

 mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka

 tidak punya hati nurani.



Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa

 kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu

 tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah

 berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan

 kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa

 bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu

 karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan.

 Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan.

 Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba

 makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika

 dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu

 berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."



Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama

 sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang

 kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya

 terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya

 tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan

 gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang

 berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.



Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak

 sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca

 spionnya saya tabrak.



Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam

 kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika

 mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang

 yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet,

 ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah.

 Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak

 saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah

 seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya.

 Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat

 mobil saya penyok.



Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah

 pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah

 yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.

 Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta

 maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia

 berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut

 ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang

 panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi

 pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang

 itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus

 mereka pikul.



Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan

 begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang

 itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti

 yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman

 hidup yang pahit.



-- 

      Dadang Surahman <dadang.surahman@ muliagroup. co.id>



____________ _________ _________ _________ ________

Dosen mailing list

[EMAIL PROTECTED] id

http://mx1.itb. ac.id/mailman/ listinfo/ dosen



-- 

http://taufikurahma n.wordpress. com




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke