Ternyata ada 3 lagi yang belum tertulis kemarin.

 

Waktu sma kelas 3, selalu gue naik angkot waktu pulang atau pergi ke
sekolah. Seperti biasa gue nyegat dari depan rama supermarket dan yang
menjadi momok adalah perlintasan kereta api agus salim. Bisa lama bener.
Kereta masih di keranji dah di tutup. Tapi hari ini tidak seperti
biasanya... bel tanda kereta lewat sudah berbunyi di tengah jalan yang
macet... sementara angkot gue sudah setengah jalan di penyebrangan ini,
tiba-tiba pintu yang depan sudah tertutup. Semua penumpang panik dan
berusaha keluar, kereta sudah semakin dekat. Gue hanya bisa pasrah,
secara gue suka duduk mojok jadi agak susah keluarnya. Alhamdulillah...
mobil sedan putih di belakang kita tidak maju, sehingga angkot bisa
mundur ke belakang. Ini paling bikin deg-degan.

 

Yang ke-5, saat kerja pertama di Sulzer Hickham Indonesia. Tahun 2000
lah. Sewaktu belum menikah gue kos di Asrama anggrek (kawasan BIC).
Berangkat senin shubuh pulang jumat sore. Hari Jumat ini biasanya kita,
geng bekasi, ikut numpang kawan yang bawa mobil yang ke arah Jakarta.
Nanti tinggal turun di jembatan tol bekasi timur. Yang biasa kita
tumpangi: Asvhin anak muda yang gaul dan pak Julianus sang veteran
Caltex. Pastinya P Julianus selalu ontime, kalo ga buru-buru bisa
ditinggal deh. Dan beliau punya kebiasaan khusus, ambil bahu jalan
(prinsipnya jalur lambat di tengah, jalur cepat di kanan, dan jalur
paling cepat di bahu jalan) dan kalo mau menyalip dia gak percaya spion,
jadi selalu sambil melihat ke belakang (padahal ngambil SIM-nya di Amrik
lo, kok bisa lolos ya?). Kita sih seneng-seneng aja, sebab bisa lebih
cepat sampai di bekasi. Sampai suatu ketika, beliau nyalip truk ke
sebelah kiri (bahu jalan) dengan kecepatan tinggi... tapi di kiri tidak
kosong. Terpaksa ambil jalur rumput dan ternyata di depannya ada
galengan/pembatas besi pula. Kalo gak ngerem cepat dan bagus cara
ngeremnya, bisa mobil ini terjungkal terkena pembatas besi tersebut.
Kalo ke kiri paling benjut, kalo ke kanan ya tabrakan berantai deh.
Alhamdulillah remnya pakem dan bisa diandalkan. Kita pun selamat. (Tapi
akhirnya pada saat aku kembali ke Sulzer tahun 2005, di tahun 2006 mobil
yang beliau kendarai akhirnya naik juga ke galengan besi yang ke arah
cikampek).

 

Yang terakhir tahun 2008 ini, dalam perjalanan pulang dari pernikahan
kawan di tegal. Melewati jalur pantura di malam hari, gue dan
kawan-kawan harus adu reli melawan bis-bis malam. Betul-betul bikin
sport jantung. Soalnya bis-bis ini jelas ga pake aturan, kita sampe
dipepet ke pinggir jalan. Temanku yang panas  berusaha mengejar bis yang
songong ini dan sudah menyiapkan bekas botol minuman untuk disambit ke
bis. Untungnya sang navigator cukup handal, sehingga emosi beliau bisa
turun dan cool down lagi. Kalo engga ga tahu deh. Dan lagi, penumpang
bis itu kayaknya pada protes ke supir dan akhirnya bis berjalan lebih
pelan dan menepi ke pinggir.

 

Semoga ga keulang lagi deh...

 

Have a nice dream,

Tiar Rahman



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke