FILM LASKAR PELANGI

"..menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada Yang Kuasa
cinta kita di dunia..." Nidji -

Hari itu, Kamis 2/10, suasana XXI di Mega Bekasi hiruk
pikuk, ramai oleh puluhan (bahkan ratusan?) keluarga yang datang dengan
anak-anak mereka. Dari anak balita sampai ABG. Dari mahasiswa sampai Oma Opa.
Semuanya menuju pintu yang sama. Pintu 1 dan 2, tempat diputarnya film Laskar
Pelangi (LP).
 
Beruntung adik saya dapat juga 4 tiket, nyokap nggak jadi
ikutan dengan alasan,”ah sebentar lagi juga diputar di teve. Tuh Ayat-ayat
Cinta aja udah ada…” Wah, padahal nonton di saat film baru diberedar pastinya
beda banget kan? Nyokap emang nggak segregetan kami yang memang sudah
menunggu-nunggu dari kapan taun. Tapi, ya ampyun… dapet tiket sih dapet tiket,
rupanya kami kebagian ‘jatah’ beberapa baris dari depan saja. Kebayang nggak
sih, layar segede gitu kita liat dari deket. Leher sampe pegel rasanya…hehehe.
Tapi demi Laskar Pelangi…dijabanin dengan mata tak berkedip sampe abis *hihi
bo’ong banget, yang ada mata pedes..*
 
Film ini menyegarkan kembali ingatan akan 10 anak ‘ajaib’
asal Belitong. Ikal, Kucai, Lintang, Mahar, Akiong, Sahara, Harun, Borek,
Trapani, Syahdan serta Flo yang memiliki petualangan dahsyat bersama Ibu
Muslimah di SD Muhammadiyah di era pertengahan tahun 70an. Andrea memang nggak
salah kalau sempat bilang, filmnya lebih bagus dari novelnya.
 
Buat yang belum baca bukunya, nggak rugi-rugi amat kok kalau
mau langsung nonton filmnya. Karena Riri Reza berusaha memvisualisasikan hampir
seluruh adegan penting dalam novel itu. Cuma saya agak-agak terganggu dengan
adegan Flo yang kabur ke hutan, dan mempengaruhi Mahar bersama teman-temannya
untuk pergi ke dukun demi supaya ujiannya mereka berhasil (meski akhirnya
penyelesaian konflik yang satu ini dibuat jenaka dan penonton tergelak-gelak).
Adegan itu sebenarnya nggak gitu penting. Malah saya ngarepin ada adegan Bu Mus
datang mengajar di saat hujan deras dengan berpayung daun pisang. Adegan yang
membekas sekali buat Andrea yang dengan itu novel LP ini tercipta. Hiks…sayang
nggak ada. Mungkin Riri Reza sengaja membiarkan pembaca LP dengan imajinya
masing-masing.
 
Akting Cut Mini sebagai Ibu Mus juga tidak mengecewakan,
tidak seperti yang sebelumnya dikhawatirkan orang. Dia berusaha berperan total
dan meninggalkan ke-Cut Mini-annya. Ikranegara sebagai Pak Harfan juga oke
banget. Dialognya yang berusaha menyemangati anak-anak LP memang terasa
menggetarkan. Ikut terharu juga ketika Kepala Sekolah yang sangat bersahaja itu
wafat di atas meja kerjanya.
 
Saya suka sekali dengan tokoh Kucai, Mahar dan terutama
Lintang. Pas banget. Hebat juga ya dapet anak-anak itu. Akting mereka kelihatan
sudah sangat profesional. Bahkan tokoh Harun (yang mengalami keterbelakangan
mental) juga nyaris sempurna. Murid asal SLB itu konon sampai membuat orang
tuanya menangis haru menonton anaknya berakting. Setahu saya (cmiiw) ini film 
Indonesia
pertama yang melibatkan seorang anak difable.. (lima jempol buat Mira Lesmana)
– saya jadi ingat tokoh Encep yang diperankan Anjasmara, yang dibuat-buat itu.
 
Alex Komang berperan sebagai ayahnya Lintang, hanya muncul
sesaat. Padahal dia kan aktor watak yang keren, sayang juga kurang dieksplor.
Porsi kemunculannya kalah dengan Tora Sudiro, tokoh yang sebenarnya tidak ada
dalam novel tapi dimunculkan di film untuk menguatkan cerita. Gaya
Extravaganza-nya susah dilepas. Belum-belum udah bikin penonton tertawa saat
sepedanya nyaris jatuh ‘ditelikung’ sepeda Bu Mus. Untungnya, tidak mengganggu
cerita kok.
 
Adegan yang paling saya sukai adalah ketika Mahar diminta Bu
Mus menjadi koreografer tarian. Mahar yang kreatif, berjiwa seni sekaligus 
kocak abis itu
berhasil membawa teman-temannya menjuarai lomba. Adegan Mahar dan anak-anak LP
menyanyikan (dan menarikan) lagu Seroja juga sangat memukau (jadi pengen bisa 
nyanyiin juga..:D). Tingkat
kekocakannya 7, alias lucu banget. Konon Riri Reza sangat menyukai sin yang
satu ini. Dan terakhir tentunya penonton akan dibuat haru biru ketika anak
sejenius Lintang harus putus sekolah. Siapapun penggemar LP sangat tidak rela
dengan yang satu ini. Tapi begitulan memoar Andrea. Kemiskinan selalu membawa
kenestapaan yang dalam, meski kadang sudah dilawan habis-habisan..:( 

Dalam buku LP The Phenomenon dikisahkan pernah ada para
pengusaha kaya asal Jakarta yang ramai-ramai datang ke Belitong, membawa dana
besar untuk diserahkan pada Lintang. Sayangnya, tak seorang pun tahu dimana
Lintang sekarang berada. Di buku tetralogi pertama ini, tokoh Lintang memang
sangat istimewa. Di buku-buku selanjutnya Andrea mengalihkan ‘keheroikan’
Lintang pada tokoh Arai – yang kurang lebih – hampir sama hebatnya dengan
Lintang dalam semangat untuk terus maju.
 
Terakhir, tidak berlebihan kalau banyak orang memberikan
lima jempol untuk film LP. Sepanjang cerita, kita akan dibuat benar-benar
menjejakkan kaki di bumi Indonesia. Yang disuguhkan adalah potret kehidupan
masyarakat kebanyakan, kita, yang berkulit gelap, berhidung pesek, hidup di
antara garis bawah dan rata-rata ekonomi. Yang berjuang, terus berjuang
mencapai tujuan hidup dan mimpi-mimpi. Jatuh bangun. Kaki jadi kepala, kepala
jadi kaki…(halah, menghayati penderitaan banget :p) Bukan masyarakat yang
berleha-leha dan uncang-uncang kaki sementara hidup bermewah-mewah.
 
Film ini inspiratif sekali. Oase di tengah padang gurun
kenestapaan bangsa yang tiada kunjung berakhir (hihi..bahasanya Balai Pustaka
banget yak ;). Menderita tapi membangkitkan gairah hidup, ide-de, gagasan,
semangat, memacu adrenalin, rasa kebangsaan, waduh…apalagi ya. Pokoknya
kehabisan kata-kata nih jadinya. Sayangnya,satu yang bikin agak kecewa. Ibunya
Ikal diperankan oleh Rieke Oneng, yang tidak jauh dengan Tora, ke-Onengannya
lebih kuat. Alhasil, imaginasi pembaca tetralogi akan sosok ibu yang cerewet,
tegas, keras sekaligus penuh humor itu jatuh berkeping-keping deh. Untungnya
cuma muncul sesekali aja. Akting 10 anak Belitong itulah yang mendominasi. Wah,
keren dah pokoknya. Setelah ini nggak sabar menunggu lanjutannya: Sang  
Pemimpi. 


      

Kirim email ke