---------- Forwarded message ----------
From: sapta Darma
Date: 2008/10/13
Subject: Krisis Global : Sebuah Kuburan Keruwetan


  Tulisan lanjutan dari Dahlan Iskan tentang krisis AS,

 [ Jum'at, 10 Oktober 2008 ]

Sebuah Kuburan Keruwetan



Di kuburan besar itu tidak ada penjelasan siapa yang dimakamkan ramai-ramai
di situ. Di tiap batu nisannya hanya tertulis kata-kata begini: penyebab
kematiannya adalah keruwetan. Oh, tidak sulit menebak kuburan siapa gerangan
itu: Lehman Brothers dan kawan-kawan! Dan, keruwetan yang menyebabkan
tewasnya berbagai perusahaan terbesar di dunia itu adalah sebuah urusan
yang, menurut Warren Buffett, bernama "racun derivatif".



Racun itu terbuat dari ramuan "kecerdasan, gairah, dan kerakusan".
Unsur-unsur dalam ramuan itu, misalnya, commercial papers, mortgage-backed
securities, short selling, hedging, over the counter, credit default swaps,
equity swaps, interest swaps, margin trading, futures, forward, option, dan
banyak lagi. Kalau toh bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti
dari tiap-tiap istilah keuangan itu tetap saja ruwet. Seruwet memahami
definisi dan peraturannya.



Gampangnya: semua itu adalah anak-cucu dari sistem perbankan yang merasa
tidak cukup lagi kalau hanya mendapat keuntungan dari menerima tabungan dan
memberi pinjaman. Harus diciptakan produk-produk perbankan yang baru. Itulah
derivatif. Yang menciptakannya harus cerdas, bergairah, dan rakus. Yang
menjalankannya harus bergairah, rakus, dan cerdas. Yang memilikinya tidak
harus cerdas, tapi tetap harus rakus dan bergairah.



Saya punya teman pengusaha besar yang asalnya sangat miskin. Dia lima
bersaudara. Saudara tertua kerja mati-matian membanting tulang secara fisik.
Sampai harus bertani dan kemudian berkebun sendiri. Lama-lama si sulung itu
menjadi pengusaha besar hasil bumi. Dia tidak ingin adiknya tidak sekolah
tinggi seperti dirinya. Karena itu, adiknya yang terkecil disekolahkan ke
Amerika. Sekolah keuangan. Maksudnya, agar perusahaan keluarga yang dikelola
secara tradisional itu kelak bisa jadi perusahaan modern.



Si bungsu sekolah dengan tekun dan jadi ahli keuangan. Ketika pulang, dia
merasa perusahaan yang dirintis kakaknya itu harus dibuat modern. Sistem
keuangannya harus secanggih di AS, terutama struktur pendanaannya. Si sulung
merasa bodoh dan karena itu menyerahkan saja semuanya kepada si bungsu.
Terjadilah krismon. Struktur keuangannya ternyata rapuh. Perusahaan itu
mengalami kesulitan yang luar biasa. "Pak Dahlan, gara-gara adik, sekarang
saya harus kembali bertani lagi," katanya saat krismon masih berlangsung.
Syukurlah kini dia sudah jaya kembali.



Sistem keuangan modern memang luar biasa variasinya. Apalagi mendapat
dukungan sistem komputer. Perdagangan derivatif kian lama kian membesar.
Tentu semuanya di atas kertas, atau di layar komputer. Meski namanya
jual-beli, yang berpindah tangan bukan barang atau uang, melainkan
angka-angka. Bertukarnya juga sangat kilat. Antarnegara sekalipun bisa
secepat kilat. Kalau menanam tebu memerlukan 16 bulan, menanam derivatif
hanya dalam hitungan detik.



Enam tahun lalu, Warren Buffett, sudah mengingatkan secara terbuka bahaya
perdagangan derivatif ini. "Derivatif adalah senjata pemusnah masal
keuangan," katanya. Waktu itu istilah senjata pemusnah masal lagi top-topnya
sebagai alasan Presiden Bush untuk menyerang Iraq dan menangkap Saddam
Hussein. "Saya tidak tahu kapan meledak, tapi suatu hari kelak pasti
meledak," tambahnya.



Derivatif ternyata meledak sekarang.



Warren Buffett adalah orang terkaya di dunia saat ini, mengalahkan Bill
Gate. Dialah chairman Berkshire Hathaway yang memiliki bisnis ritel terbesar
di dunia: Wal-mart. Dia punya pengalaman pahit membeli perusahaan yang
rupanya sudah digelembungkan melalui berbagai perdagangan derivatif. Mau dia
jual lagi tidak laku. Maka dia harus membersihkan "lemak dan kolesterol"
dari perusahaan itu selama lima tahun dengan kerugian yang sangat besar.
Dari situ dia menyimpulkan bahwa derivatif pasti akan meledak jadi bom
keuangan. Bahkan, dalam lima tahun setelah dia ucapkan, bom itu sudah lima
kali lipat besarnya.



Subprime (mortgage) ternyata hanya satu bagian kecil dari penyebab kekacauan
keuangan sekarang ini. Volume uang yang terkait dengan derivatif ini jauh
lebih besar daripada perkiraan semula yang hanya USD 15 triliun. (Dalam
rupiah harus ditulis begini: Rp 141.000.000. 000.000.000, dengan asumsi kurs
Rp 9.400 per dolar AS). Bisa jadi transaksi derivatif ini mencapai USD 516
triliun. Angka ini dikeluarkan oleh "ketuanya" bank-bank sentral seluruh
dunia yang disebut Bank of International Settlement (BIS) yang berpusat di
Basel, Swiss.



Begitu besar dan ruwetnya, sampai-sampai menurut Buffett, pemerintah mana
pun, termasuk USA, tidak bisa lagi mengontrol perdagangan derivatif itu.
"Bahkan, hanya untuk memonitor pun sudah tidak mampu," katanya.



Derivatif ini sebenarnya sudah sulit dibedakan dengan perjudian. Dalam
perdagangan saham murni, meski ada unsur spekulasinya, masih bisa
dianalisis. Tapi, dalam perdagangan derivatif yang bisa menganalisis hanya
para pelaku sistem itu. Pemilik uang sulit memahaminya.



Saya punya teman baik yang juga penggemar Formula One. Sukanya keliling
dunia. Dan memotret. Dia pernah bekerja keras selama 20 tahun untuk
mengumpulkan uang sampai Rp 40 miliar. Uang itu dipercayakan kepada satu
bank di Singapura untuk diputar. Masuklah ke mesin derivatif. Dalam hitungan
detik, uang itu amblas. Di meja judi pun tidak akan secepat itu!



"Saya ini kebalikan dari Anda," katanya menghibur diri. "Kalau Anda, sakit
hati dulu lalu mengeluarkan uang. Kalau saya, mengeluarkan uang dulu, lalu
sakit hati," katanya.



Tidak sedikit orang atau perusahaan yang punya jalan hidup seperti itu.



Memang tidak gampang memahami rumus derivatif ini. Saya biasanya menghindar
saja, daripada pusing. Kelihatannya memang ndeso, bodoh, dan tidak modern,
tapi saya memang benar-benar sulit memahami rumusnya.



Bahkan, rumus itu ternyata memang tidak pernah ada. Kesalahan pokok sistem
derivatif adalah tidak adanya kepastian apakah harga saham, uang, bunga,
margin, aset, dan seterusnya itu bisa diperkirakan untuk jangka 3 atau 5
atau 10 tahun. Bahkan, tidak bisa diketahui apakah pasarnya itu memang ada.
Artinya, kalau satu saham yang dibeli itu kini harganya Rp 1 juta, lalu
diperkirakan 5 tahun lagi menjadi Rp 10 juta, maka pertanyaannya adalah:
apakah benar lima tahun kemudian jadi Rp 10 juta? Kalau toh "ya", apakah ada
pembelinya?



Karena kepastian itu memang tidak ada, digunakanlah berbagai asumsi. Sekian
banyak asumsi lantas dijadikan satu menjadi "model". Variasi dari gabungan
asumsi itu melahirkan berbagai model. Belakangan jadilah "model' itu seperti
fakta kebenaran. Yang semula hanya "model" lantas seperti "pasar yang
sesungguhnya" .



Akibatnya, sebelum transaksi, selalu angka-angkanya dimasukkan begitu saja
ke dalam model di komputer. Komputer yang akan menganalisis. Lalu keluarlah
angka-angka akhir: berapa harga saham atau uang itu lima tahun ke depan.
Nilai itulah yang kemudian dianggap sebagai kekayaan riil saat ini. Termasuk
bisa menjualnya atau menjaminkannya untuk pinjam uang. Jaminan itu lantas
dijaminkan lagi, dijaminkan lagi, dijaminkan lagi.... Jadilah, pasar
derivatif menjadi sebesar USD 516 triliun.



Betapa besarnya angka itu bisa dilihat dari data BIS berikut ini. Nilai
saham dan bond (surat utang atau obligasi) di seluruh dunia hanyalah USD 100
triliun. Total nilai realestat di seluruh dunia (yang di pasar modal) adalah
USD 75 triliun. GDP Amerika adalah USD 15 triliun.

Jadi, jangan diingat-ingat tulisan ini. Pertama, meski sudah disederhanakan
penulisannya, tetap saja ruwet. Kedua, daripada takut sendiri. (*)

Kirim email ke