Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal

--- In [EMAIL PROTECTED], "Rumah Ilmu Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Dr. Ratna Megawangi, MSc : Sistem Pendidikan Kita Melawan
Hukum Alam - 



Dalam pidato kenegaraan 16
Agustus 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi janji bahwa pemerintah
memenuhi anggaran pendidikan 20 persen dari APBN sesuai dengan UUD 1945 hasil
amendemen. Diharapkan setelah kesejahteraan guru, materi, dan infrastruktur
terpenuhi, kualitas pendidikan Indonesia akan meningkat untuk menghasilkan
sumber daya manusia yang unggul.

Menurut Ratna Megawangi, praktisi
pendidikan dan pendiri Yayasan Warisan Luhur Indonesia, besaran persentase itu
bukan masalah inti pendidikan Indonesia. Yang penting dibenahi lebih dulu
adalah sistem pendidikan dan hasrat guru untuk mengajar. "Itu yang menjadi
roh pendidikan sumber daya manusia," ujarnya kepada Akmal Nasery Basral, 
Yophiandi, dan Santirta dari
Tempo, Selasa pekan lalu. Berikut petikannya.


Bagaimana Anda melihat janji Presiden dalam pidato kenegaraan yang akan 
meningkatkan
anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBN? 

Memang ada asumsi peningkatan
anggaran akan membuat kualitas pendidikan kita lebih baik, tetapi saya lihat
masalahnya bukan di sana, melainkan pada sistem pendidikan dan kualitas guru. 
Kalau kita bicara roh pendidikan, kedua hal
inilah yang perlu diperhatikan. 

Pendidikan kita selama ini
academic oriented. Contohnya, ujian itu selalu hafalan dari TK sampai SMA.
Setiap sekolah mengajarkan teaching to the test. Padahal, kalau menurut
taksonomi, hafalan itu merupakan tingkat terendah kecerdasan manusia. Menurut
(Albert) Einstein, binatang pun bisa diajarkan menghafal. 

Akibatnya, aspek
kreativitas, deep thinking, tidak berkembang baik. Interpersonal, refleksi, 
emosi, spiritualitas, tidak berkembang baik. Salah
satunya terlihat pada entrepreneurship kita yang masih rendah. Menurut Ciputra,
rasio (entrepreneur dibanding jumlah penduduk) kita cuma 0,18 persen. Padahal
sebuah negara untuk bisa maju membutuhkan sedikitnya dua persen entrepreneur.


Sejauh mana angka-angka itu menjadi penghambat? 

Sejak kecil anak di Indonesia
tidak dibiasakan berpikir kreatif, karena ada sistem peringkat dari satu sampai
sepuluh yang membuat mereka takut berbuat salah. 

Takut salah itu adalah
cerminan takut mengambil risiko. Sikap ini akhirnya terbawa ke dunia kerja. Ini
yang membuat orang Indonesia berpikir selalu mengikuti juklak. Padahal orang 
kreatif itu yang berpikir keluar dari juklak.
Jadi, walaupun sudah (ada kenaikan anggaran menjadi) 20 persen, tetap tak akan
ke mana-mana pendidikan kita.


Apa yang sebaiknya menjadi prioritas pembenahan? 

Pertama, pelajaran tidak boleh
terlalu banyak, terutama di usia dini, 14 tahun ke bawah. Di usia 10 tahun ke
bawah di mana otak berkembang sampai 95 persen, kita ha rus betul-betul membuat
sistem pendidikan yang fun. KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) itu sebenarnya bagus, tapi penekannya 
balik lagi ke teaching to the
test bagi anak-anak SD.


Lalu dari guru yang kurang adalah spirit of teaching. Banyak guru yang tidak 
tahu
bagaimana menjadi guru yang benar walau sudah sarjana. Guru yang berhasil
adalah guru yang membuat anak terus ber tanya, dirindukan anak-anak. Sekolah
yang berhasil adalah sekolah yang kalau libur, atau murid-muridnya dipulangkan
cepat, para murid justru enggan karena mereka maunya tetap di sekolah. Sekolah 
itu kan berasal dari kata Yunani
scholeia, yang artinya tempat bersenang-senang. Sekarang, sekolah kita jadi
tempat anak-anak bersenang-senang atau menakutkan? 



Ada kecenderungan jam sekolah anak-anak
semakin panjang sajabahkan sampaisore hari? Apakah itu tidak membuat anak
jenuh? 

Tidak apa-apa sekolah sampai malam sekalipun asal fun. Kalau tidak fun, sampai
jam 10 pagi pun sudah capek sekali. Jadi, yang penting adalah membuat suasana
bagaimana mereka tidak merasa belajar, tapi bermain, padahal sebenarnya mereka
belajar. Singapura sudah meninggalkan sistem pendidikan berorientasi akademik, 
tapi lebih pada sisi holistik, menyangkut emosi dan sosialnya.
Jepang dan Korea Selatan juga begitu. 

Hukum alam itu menunjukkan mereka yang
berIQ di atas 120 hanya 10 persen dari populasi. Yang ber-IQ di atas 115
sekitar 15 persen. Sisanya yang mayoritas sekitar 85 persen, memiliki IQ di 
bawah itu. Karena itu, kalau fokusnya pada academic oriented, 85
persen siswa pasti tak bisa mengikuti. 


Contoh riilnya bagaimana? 

Olimpiade fisika, olimpiade
matematika, dan sebagainya itu. Saya tanya ke Profesor Yohanes Surya
(pembimbing tim Olimpiade Fisika Indonesia), bagaimana caranya menciptakan para
juara seperti itu? Dia bilang yang dibina itu adalah yang IQ-nya 160 ke atas.
Jumlah murid seperti ini cuma 0,0001 persen dari populasi atau sekitar 3.000 
anak Indonesia. Kalau seperti ini, nggak
dibina pun mereka belajar sendiri sudah jago. Yang harus kita pikirkan adalah
yang mayoritas. 

Di Swedia, saya pernah berkunjung ke satu SMA yang punya 16 jurusan. Ada yang 
untuk menjadi babysitter,
koki, perancang mode, dan sebagainya, selain jurusan sains dan matematika. Saya
hitung komposisi murid berdasarkan jurusan yang mereka ambil, ternyata yang
mengambil sains dan matematika itu jumlahnya hanya sekitar 15 persen. Klop 
dengan hukum alam tadi. 

Sistem
pendidikan kita malah terbalik karena melawan hukum alam (tertawa). Kalau
melawan hukum alam, akibatnya semua rusak, mental, karakter, kepercayaan diri. 
Jadi,
kenapa kita sebagai bangsa gampang marah, karena sejak kecil kita dipaksakan
untuk menerima sesuatu yang bukan seharusnya kita terima. Anak-anak
gampang stres.


Ciri-ciri anak stres itu bagaimana? 

Anak itu akan nggak suka sekolah.
Entah karena pelajaran maupun karena
faktor guru. Input dan respons otak anak itu tak bisa dibohongi. Dia
nggak nyaman. Ada pendapat bahwa
para pendidik di tingkat dasar justru seharusnya para doktor dan profesor yang
mengerti padagogi. Anda setuju?


Saya nggak yakin kalau profesor otomatis bisa mengajar di TK atau SD. Ketika
saya ingin membuat TK nonformal di desa, saya kesulitan mencari guru yang 
memadai.

Akhirnya direkrutlah lulusan SMP
yang membantu mengajar di TK. Kami beri pelatihan praktis. Ternyata mereka bisa
membuat sekolah menjadi tempat menyenangkan bagi murid. Jadi, yang penting ada
lah guru itu punya ilmu the spirit of teaching. Mau berkorban. 

Sekolah kami
mengembangkan konsep community based, yang bayar guru adalah orang tua murid. 
Ada (orang tua)
yang bayar Rp 8.000-10.000 per bulan. Karena itu bayaran guru paling banter Rp
100 ribu. Herannya, kok mereka masih bertahan? Masih mau mengajar? Saya pikir
itu bisa terjadi karena mereka memang sudah jatuh cinta pada dunia pengajaran.


Dari konteks ini, bagaimana melihat program pemerintah mengenai wajib belajar
sembilan tahun yang dimulai dari umur 7 tahun? 

Sekarang pemerintah sudah sadar
dan membentuk banyak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di mana-mana, karena ada
istilah six is too late. Ini juga menjawab kenapa sumber daya kita rendah
karena fondasi selama ini juga tak kuat.

Kalau fondasi tidak kuat, biar
sudah tingkat lanjutan tetap saja tak bias bagus. Ini yang kami antisipasi,
misalnya di Muara Karang, tempatnya anak-anak kelas bawah. Atau di Tapos yang
banyak anak-anak tukang ojek. Sekarang ini sudah ada sekitar 700 sekolah kami
yang seperti ini, dengan murid rata-rata 30 orang per kelas. Mereka kritis 
sekali, bisa bertanya ini-itu
karena, meskipun masih kecil, sudah punya prinsip. 

Yang kita tanamkan bukan
sekadar knowing the good, tapi juga reasoning the good, feeling the good, dan
akhirnya acting the good sehingga mereka menjadi agent of change di kampungnya.
Mereka berani menegur orang dewasa yang buang sampah sembarangan. Yang ditegur
pun nggak marah karena yang mengingatkan adalah anak kecil. Malah jadi lucu dan
malu sendiri orang itu (tertawa).


Bagaimana melihat penetrasi pihak internasional dalam pasar preschool
di Indonesia yang belakangan ini makin menjamur? 

Sekolah asing itu bagus-bagus. Saat
ini kita hidup dalam era globalisasi, kenapa kita mempersoalkan asing atau
lokal? Bagus itu kan universal. Bagi yang punya duit, bisa akses, silakan saja.
Tapi ini kan paling satu persen dari masyarakat. 

Berapa banyak sih yang bisa
membayar uang sekolah TK sebesar Rp 20 juta sebulan? Makanya kami membangun 
sekolah berbasis karakter
yang lebih bisa diakses masyarakat banyak. 

Menurut saya, pendidikan yang
berbasis agama bisa juga menjadi berbahaya jika aspek kognitif terlalu
ditekankan, misalnya doa-doa hafalan seperti di TPA (Taman Pendidikan
Al-Quran), kalau anak nggak bisa lalu disabet sehingga membuat mereka
ketakutan. 

Seorang kepala TPA di Kalimantan Selatan yang ikut pelatihan sekolah karakter 
langsung nangis mengingat
metode pendidikannya selama ini. Akhirnya kami mulai masuk juga ke TPA dengan
meningkatkan sistem mereka menjadi TK nonformal. Belajar Al-Quran kan juga bisa
dengan suasana yang menyenangkan, misalnya dengan menyanyi lebih dulu. 


Inspirasi membuat pendidikan
berbasis karakter ini dari mana? 

Saya terinspirasi oleh Lee Kuan
Yew. Singapura sewaktu berpisah dengan Malaysia itu kan kondisinya critical.
Mereka nggak punya apa-apa, sumber daya alam minim, masyarakatnya pun rentan
konflik karena berbagai ras ada di sana, India, Cina, Melayu. 

Lee adalah
seorang filosofi, maka dia melakukan pemberdayaan sumber daya manusia dengan 
membuka 350 TK. Ini social engineering.
Yang diajarkan itu karakter, bagaimana kebersihan, disiplin. Tak sampai satu
generasi di tahun 1970-an Singapura sudah menjadi Negara yang tertib, menjadi
tempat yang menyenangkan, menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Ini 
direncanakan semuanya. Indonesia mungkin too late ya, tapi
tetap harus dimulai.


Masyarakat mulai berbenah. Ada almarhum Cak Nur (Nurcholish Madjid), Haidar 
Bagir
dengan sekolah Lazuardinya. Biarkan masyarakat membantu pemerintah. 


Kalau guru bisa diajarkan, orang tua murid di rumah bagaimana?
Anak-anak itu kan menghadapi orang tua mereka di rumah yang belum tentu sama
pandangannya mengenai pendidikan? 

Tak jadi masalah. Para orang tua
malah terheran-heran kok anak saya sudah bisa baca? Kok malah sudah nasihatin
saya? Para orang tua itu kita beritahukan apa yang dipelajari anak-anak mereka
di sekolah, misalnya soal kejujuran. Tinggal dibuat pemberitahuan kepada orang
tua agar memberikan ajaran tentang kejujuran. Semua poin yang perlu diajarkan 
di rumah dituliskan.
Hasilnya malah membuat orang tua dan anak tambah akrab karena batinnya diikat.

Bagaimana kalau ada yang
mengaitkan kesuksesan sekolah ini dengan posisi Pak Sofyan Djalil di kabinet?


Kami mulai sekolah ini di tahun 2000, sementara Sofyan masuk kabinet 2004. Pada
saat awal beroperasi, Sofyan menjadi devil's advocate. Apa saja dia kritik.
Akhirnya, saya jalan cari sponsor sendiri, seperti ke Exxon Mobil. 

Sampai
sekarang kalau ada BUMN yang mau menjadi sponsor, saya mewanti-wanti agar lihat 
dulu sekolahnya, dipahami dulu konsepnya, bukan karena suami saya Menteri
Negara BUMN. Sebab, kalau bersifat topdown pasti tak akan long lasting.

Dari 55 sponsor sekolah karakter, memang ada tiga-empat BUMN. Mungkin
karena itu ada yang "menembak", bahwa karena kedudukan suami, yayasan
ini mendapat miliaran rupiah. Bahkan saya dibilang makmur. Silakan diaudit,
sepeser pun saya tidak digaji. Ini juga sudah diaudit, tanya kepada 55 orang 
yang kerja di sini. Tapi saya nggak ambil pusing. Justru kami yang membantu
mereka (perusahaan), karena membuat hasil corporate social responsibility
mereka terlihat. 



Apa target yang belum tercapai? 

Target saya harus ada 10 ribu
sekolah karakter yang bisa kami bentuk untuk membantu pendidikan di Indonesia.
?
--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke