Bang komar, sebenarnya Dewan Maritim Indonesia (DMI) yang diketuai oleh Pak Son Diamar (Ex- Staf Ahli Bappenas Bidang Maritim & Tata Ruang) punya gagasan ini. Pemkab Bekasi pada tahun 2003 juga pernah mengirimkan konsep pengembangan Tata Ruang Pesisir utk Bekasi Utara, khususnya daerah Muara Gembong. Problem yang ada sebenarnya hanyalah di tingkatan teknis, yaitu SIDLACOM (Survey, Idenntification, Design Engineering, LAnd Aquitition, Construction, Operation and Maintenance) untuk pengembangan Inftastruktur kawasan pesisir belum di buat oleh Pemkab Bekasi (pada tahun 2003), sehingga ada penolakan dari DKP. Jadi tinggal ditindaklanjutin ajah tuch rencananya :)
Thx. --- On Mon, 10/27/08, komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [sma1bks] APBU (4) : Pembangunan Berbasis Maritim > To: [email protected] > Date: Monday, October 27, 2008, 7:17 PM > ARSITEKTUR PEMBANGUNAN BEKASI UTARA (5): > ORIENTASI PEMBANGUNAN BERBASIS MARITIM > > Orientasi pembangunan Kabupaten Bekasi yang saat ini tidak > melirik > potensi kelautan dan sumber daya pesisir. Padahal, potensi > laut dan > garis pantainya luar biasa besar. Tercatat 71 mil bibir > pantai > mengular dari perbatasan Jakarta-Bekasi di Marunda hingga > perbatasn > Karawang. Coba hitung, bila zone kekuasaan itu 21 mil ke > tengah maka > kita punya 71 mil x 21 mil = 1.491 mil. Nah, kalau 1 ml = > 1,6 km maka > kita punya 2.385,6 km. Eh, itungan ini salah! Itu hitungan > bila > perbatasan laut kita Negara lain. Nah, kalau perbatasan > kita adalah > laut Jawa dan Kalimantan. So, asal kuat aza. Kapal nelayan > kita bisa > masuk laut lepas dan nangkep Hiu dan Paus….. > Jujur saya, selama ini Pemda Kabupaten Bekasi seakan > menutup telinga > dan mata terhadap potensi laut ini. Pembangunan berbasis > potensi > sumber daya ruang pesisir seolah dikesampingkan. Entah > mengapa. > Mungkin karena kantor Pemdanya yang jauh dari pinggir > laut. Apa yang > Anda lihat, itulah yang diperhatikan. > Padahal catatan sejarah berbicara dengan keras bahwa > berabad-abad > lamanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan peradaban yang > berada di > wilayah Nusantara ini memiliki kekuatan ekonomi dan > politiknya dengan > berbasis pada sumberdaya kelautan. > > Dalam konteks nasional, baru di era reformasilah kesadaran > untuk > menjadikan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan > merupakan arus > utama pembangunan nasional kita. Ini tercermin dari > keputusan politik > bangsa sebagaimana tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan > Negara > (GBHN) tahun 1999. Keputusan itu kemudian ditindaklanjuti > dengan > pembentukan Departemen Kelautan dan Perikanan. Untuk kasus > Bekasi, > sayangnya bidang Dinas Teknis Bidang Kelautan dan Perikanan > baru > setahun terakhir ada. > > Ada sejumlah alasan mengapa kita harus melirik pembangunan > berbasis Kelautan. > Pertama, Bekasi itu merupakan negara maritim. Pasti banyak > yang kaget. > Karena kebanyakan dari kita berasal dari daratan. Tapi > muter-muterlah > di wilayah Bekasi. Niscaya kita akan menyadari bila jumlah > sungai > cukup banyak. Mulai dari kali Bekasi, Kali Cikarang, Kali > Citarum > hingga anak-anak sungai. Banyak. Ini kan pertanda bahwa > Bekasi dulu > menjadikan akses sungai atau transportasi air menjadi > alternatif > utama. Lalu, kemana air atau sungai mengalir? Tentu laut. > Data ini > diperkuat dengan sejumlah penemuan situs bersejarah di > daerah Buni > Bakti, Babelan. Lokasinya kira-kira 5 km dari pinggir laut. > Dengan > akses sungai memungkinkan peradaban manusia tercipta di > wilayah ini. > > Memori sejarah ini mestinya membawa orientasi arah dan pola > pembangunan yang juga memikirkan lut dan potensi pesisir. > Sayangnya > itu semua masih dalam khayalan. > > Secara nasional, banyak daerah-daerah di dalamnya kaya > akan sumber > daya laut dan pesisir. Selain memiliki keanekaragaman > hayati > biodiversity laut terbesar di dunia, wilayah pesisir dan > lautan di > Indonesia juga kaya akan bahan tambang dan mineral seperti > minyak dan > gas, bijih besi, bauksit, dan pasir kwarsa. Semua kekayaan > itu > merupakan aset bagi daerah yang mempunyai keunggulan > komparatif. Di > Babelan darat, ditemukan sejumlah ladang minyak. Tidak > tertutup > kemungkinan 'danau minyak' di perut bumi menjalar > ke bawah laut. > > Kedua, kenyataan terus meningkatnya jumlah penduduk, > sementara > pembangunan hanya terfokus di daratan. Kita seperti berebut > kue kecil. > Padahal kalau pembangunan di sebar, tak hanya daratan. > Barangkali > kondisinya akan berbeda. Lihat saja, sekarang terjadi > pertikaian > masyarakat berebut limbah sisa produksi di wilayah kawasan > industry > seperti Lippo, Jababeka atau MM2100. Belum lagi perebutan > lowongan > kerja dan pembangunan. > > > > > Ketiga, semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia yang > disertai pula > dengan semakin meningkatnya kesadaran umat manusia akan > signifikansi > produk-produk kelautan dan perikanan bagi kesehatan dan > kecerdasan > manusia. Dengan demikian, produk-produk kelautan dan > perikanan akan > menjadi primadona di masa depan. Kita bosan dengan > makanan-makanan > kaleng dan buatan. Maka, kita bisa beralih dengan > makanan-makanan > segar dari nelayan dan petani kita. Persoalannya adalah > infrastruktur > dari daerah pesisir tidak terbangun. Sehingga, biaya > transportasinya > jadi muaaahaal. Akibatnya, berpulang kepada kita sebagai > konsumen. > Harga cumi Rp. 25 ribu per kilo. Bandingkan dengan ikan > lele/emas yang > hanya Rp. 14 ribu per kilo. Harga itu dikarenakan biaya > transportasi > yang membengkak. > > Keempat, di masa mendatang dalam rangka industrialisasi, > kawasan > pesisir dan laut akan mendapatkan prioritas utama mengingat > pesisir > dan laut tidak saja menyediakan sumber daya alam yang > demikian kaya > dan beragam, tetapi juga merupakan potensi tersendiri bagi > pengembangan pembangunan yang non-ekstraktif; seperti > pengembangan > kawasan rekreasi dan pariwisata. Saat ini saja, > berbondong-bondong > orang datang ke wilayah itu untuk memancing. > Wuih…seandainya saja ini > diperhatikan maka bisa jadi akan menjadi sumber alternatif > pemasukan > di bidang pariwisata. Otomatis kemudian akan mendorong > industri > kreatif baik kerajinan maupun karya seni akan turut hidup > dan > berkembang. > > Sumberdaya kelautan merupakan sumberdaya yang senantiasa > dapat > diperbarui renewable resources sehingga mempunyai > keunggulan > komparatif dan kompetitif. Di samping itu industri yang > berbasis > sumberdaya kelautan memiliki keterkaitan backward and > forward linkage > yang sangat kuat dengan industri dan aktivitas ekonomi > lainnya, > sehingga mengembangkan industri berbasis kelautan berarti > juga > menghidupkan dan mendorong aktivitas ekonomi di sektor > lainnya. Ini > termasuk usaha transportasi, komunikasi, perdagangan, > pengolahan, dan > jasa-jasa lainnya. > > Selain itu dari aspek politik dengan kondisi geopolitis > sebagaimana > disebutkan maka bila stabilitas politik dalam negeri dan > luar negeri > dapat tercapai bila kita memiliki jaminan keamanan dan > pertahanan > dalam menjaga wilayah kedaulatan perairan kita. Demikian > pula dari > sisi sosial dan budaya, sebenarnya menjadikan pembangunan > berbasis > sumberdaya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa > merupakan > penemuan kembali reinventing aspek kehidupan yang pernah > secara > dominan ada dalam budaya dan tradisi kita sebagai bangsa. > > Terakhir, potensi harta karun. Menurut Slamet Subiyanto, > mantan KASAL > yang mendeklarasikan diri sebagai capres dari jalur > independen. Saat > ini ada 400 titik kapal karam di seluruh Nusantara. > Informasi ini > mengingatkan kita akan kapal Livina yang terbakar dan > tenggelam di > perairan Muara Gembong. Bukan soal di situ tidak ada emas > batangan. > Namun, bila kita kelola dengan serius besi rongsokan saja > bisa dijual. > Bisa jadi di tempat-tempat lain, ada kapal perompak yang > tenggelam dan > di situ terdapat puluhan batang emas. Nah, bila terbukti > kemudian di > wilayah perairan Kabupaten BEkasi, ada kapal yang tenggelam > maka ini > potensi yang bisa dijadikan pemasukan PAD. [kim] > [tulisan ini hanya pemicu, bila Anda punya masukan atau > tambahan, > silahkan kirim ke milis ini atau ke > [EMAIL PROTECTED] > > ------------------------------------ > > -------------------------------------------------- > Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk > menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....]. > > Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, > kirim email ke [EMAIL PROTECTED] > > Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke > [EMAIL PROTECTED] Groups Links > > > ------------------------------------ -------------------------------------------------- Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....]. Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
