Mas Edi ini abangnya Herly '91 bukan sich? Yang rumahnya di Tugu? Wassalam, Morry Infra +966-533214840
2008/11/21 Purnama Edi <[EMAIL PROTECTED]> > Jadi teringat Pengalaman waktu di Jepang > Bagi kita yang Ber Agama Islam semestinya Kita itu harus lebih baik dari > Mereka menjaga kebersihan,mencegah kemubajiran karena dah jelas Dalilnya. > > Budaya orang Jepang(ga semua orang jepang sih) membuat saya menarik napas > panjang,membuat saya malu sendiri,dan tercengang. > > Ini Kebiasaan mereka yang pernah saya lihat: > 1. Mendahulukan sama yang tua (mempersilahkan yang lebih tua untuk duduk > di kendaraan,bahkan untuk menaiki kendaraan) > 2. Tertib ngantri(ga ada yang namanya nyodok pengen duluan,pernah punya > temen(indonesia)nyodok antrian di Bandara anehnya juga mereka ga marah kaya > di Indo keluar bahasa kebun binatangnya...mereka bilang silahkan...(mungkin > mereka positive thinking aja kali nich orang kaga nyaho ga boleh nyiap)tapi > ga tahan diketawaan sama semua orang...wekekekkkkkk > 3. Tidak buang sampah sembarangan > Bekas bungkus permen atau tissue mereka kantongin,karena disekitar situ ga > ada tong sampah. > 4. Tidak mau merepotkan Orang lain > Wanita Tuna Susila(WTS) biasa pasang iklan poster di tembok-tembok > menjelang sore,pagi pagi udah ga ada lagi tuh poster,rapi seperti sedia kala > ga ada bekas tempelan. > 5. Menghormati Tamu > Manggut manggut kalo belum kepentok/kejedot ga berenti berenti. > > Saya setuju mulailah dari diri kita sendiri..... > > Edi Purnama/Bio2 > > > > > *Taura <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > > > http://taufikurahman.wordpress.com > > --- On *Thu, 11/20/08, Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [Asasi] FWD: Peduli > To: "'Closed mailing list for ISNET members only.'" < > [EMAIL PROTECTED]> > Cc: [EMAIL PROTECTED] > Date: Thursday, November 20, 2008, 7:16 PM > > Assalamu'alaykom wr.wb. > Kalo' dicari-cari, point-point dalam > artikel di bawah ini pasti ada dalilnya, > baik dalam al-Qur'an mau pun al-Hadits. > Untuk yang hari ini jadi Khatib Jum'at, > barangkali bisa jadi materi khutbah yang > menarik ...... dan mengena ! > Wassalam, Rhiza > [EMAIL PROTECTED] ac.id <rhiza%40unhas.ac.id> > http://www.unhas. ac.id/~rhiza/ <http://www.unhas.ac.id/%7Erhiza/> > > -------- Isi Pesan Asli -------- > Dari: harnyoto buyung <harnyotobuyung@ yahoo.com<harnyotobuyung%40yahoo.com> > > > Balas-Ke: [EMAIL PROTECTED] .com <SMARP74%40yahoogroups.com> > Untuk: smarp74 <[EMAIL PROTECTED] .com <smarp74%40yahoogroups.com>> > Judul: [SMARP74] (unknown) > Tanggal: Tue, 18 Nov 2008 20:35:58 -0800 (PST) > > A nice article, good to share with others. > EMPATI > By: Andy F Noya > > Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di > sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. > Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah > berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin > melihat wajah saya yang memelas karena lapar, > salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap > melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. > > Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para > pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, > mengemas peralatan masak, mengepel lantai > dan ada pula yang membersihkan dan merapikan > meja-meja yang berantakan. > > Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka > seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal > tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika > menemani anak-anak makan di restoran cepat saji > seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan > keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan > tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan > dan mereka serasa tiada jika saya terlalu > asyik menyantap makanan. > > Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang > selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat > bagaimana pelayan restoran itu membersihkan > sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan > yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, > mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, > pemandangan tersebut menjadi istimewa. > > Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu > meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya > dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja > bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari > sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya > rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik > perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu > meninggalkan sampah bekas makanan. > > Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang > ayam berserakan di atas meja. Padahal ada > kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat > sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah > kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. > > Mungkin rombongan itu membawa anak-anak. > > Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang > belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana > mereka begitu tega meninggalkan sampah > berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka > betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu > harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang > pelayan sekalipun. > > Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk > membuang sendiri sisa makanan jika bersantap > di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak > melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. > Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. > > Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan > tertawaan teman-teman. > > Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan > pernah keluar negeri. > > Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, > sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan > ke tong sampah. > > Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal. > > Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa > makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di > tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. > Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang > melakukannya, artinya akan besar sekali bagi > para pelayan restoran. > > Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan > kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah > seorang bapak yang mengajak anaknya untuk > membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di > kompleks rumah mereka. Karena setiap hari > warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya > membersihkan sampah di situ, lama-lama > mereka malu hati untuk membuang sampah disitu. > > Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk > mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya > lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. > Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. > Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk > atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. > Keteladanan kecil yang berdampak besar. > > Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan > senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum > kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya > hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang > yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia > lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. > Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas > kepada banyak orang. > > Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang > tersenyum. > > Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku > "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol > bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa > di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, > orang di belakang saya pasti akan merasa > mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. > Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang > indah akan membuat dia menyebarkan virus > kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang > dia temui hari itu. Saya berharap virus itu > dapat menyebar ke banyak orang. > > Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus > bagi minimal satu orang setiap hari. > > Pujian itu akan memberi efek berantai ketika > orang yang Anda puji merasa bahagia > > dan menularkan virus kebahagiaan tersebut > kepada orang-orang di sekitarnya. > > Anak saya yang di SD selalu mengingatkan > jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" > saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang > kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" > merupakan "magic words" yang akan membuat > orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" > ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya > pembantu rumah tangga kita. > > Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, > misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot > seenaknya menyerobot mobil saya. > > Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa > saya harus berempati pada mereka. > > Para supir kendaraan umum itu harus berjuang > untuk mengejar setoran. > > "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' > > Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah > tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. > > Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang > menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat > nasihat istri tersebut. > > Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita > jika kita dapat membuat orang lain bahagia. > > Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati > pada perasaan orang lain. > > Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan > membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, > kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran. > > Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol > begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan > beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang > permen karet sembarangan, kita sudah menghindari > orang dari perasaan kesal karena sepatu atau > celananya lengket kena permen karet. > > Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi > tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika > berada di tempat-tempat publik, ketika membuka > pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang > untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di > belakang kita? Saya pribadi sering melihat > orang yang membuka pintu lalu melepaskannya > begitu saja tanpa perduli orang di > belakangnya terbentur oleh pintu tersebut. > > Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita > lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita > tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari > hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. > > Mulailah sekarang juga. > > > > ------------------------------ > Dapatkan alamat Email baru Anda! > <http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/> > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! > > >
