http://taufikurahman.wordpress.com

--- On Thu, 11/27/08, Teguh Prakoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Teguh Prakoso <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [dago_permai] artikel saya ttg Obama di Republika
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, November 27, 2008, 8:53 AM






Wa'alaykumus salaam WrWb.

Barakallah Pak Taufik...
Barusan saya cek, ternyata tulisan Mr. Taura sdh nongol di website Republika.
Linknya: http://www.republik a.co.id/koran/ 24.html
Berikut isi tulisannya (khawatir gak diarsip-abadi oleh republika):


Kamis, 27 November 2008 pukul 08:38:00
Memahami Euforia Atas Kemenangan Obama 
Taufikurahman
Dosen ITB, Ketua Asosiasi Akademisi ASASI

Kemenangan telak Barack Obama atas rivalnya John McCain dalam pemilihan 
Presiden Amerika beberapa waktu lalu disambut dengan suka cita dan kemeriahan, 
bukan hanya di Amerika, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Di Afrika bahkan 
Presiden Kenya menjadikan hari Kamis 6 November 2008 sebagai hari libur 
nasional untuk merayakan kemenangan Obama yang ayahnya berasal dari Kenya. 

Di Jepang ada sebuah kota yang bernama Obama merayakan kemenangan Barack Obama 
sebagai kemenangan mereka. Masyarakat Indonesia sejak kampanyenya digelar 
beberapa bulan lalu sudah sangat berharap Obama menjadi orang nomor wahid di 
Amerika. 

Kita ikut bangga karena Obama pernah tinggal dan bersekolah (SD) di Jakarta. 
Obama memiliki keterkaitan emosional bukan hanya dengan masyarakat di Amerika, 
terutama dari Partai Demokrat dan masyarakat kulit hitam di sana, tetapi juga 
dengan masyarakat di Afrika dan Asia. Karena itu, dapat dipahami di berbagai 
penjuru dunia menyambut kemenangan Obama dengan gembira dan penuh harapan. 
Umumnya masyarakat di negara-negara di dunia menaruh harapan besar pada Obama 
untuk  mengatasi krisis ekonomi global. 

Simbol perlawanan terhadap rasialisme
Ketika menyaksikan dan mendengar pidato kemenangan Obama melalui layar TV, 
banyak orang ikut meneteskan air mata terharu, sebagaimana juga ratusan ribu  
para pendukung Obama yang berkumpul di Chicago yang mendengar pidato beliau 
secara langsung. Terharu karena Obama menjadi simbol kemenangan warga kulit 
hitam melawan rasialisme di Amerika yang usianya sepanjang sejarah Amerika itu 
sendiri hingga saat ini. 

Dalam pidato kemenangannya, Obama berkisah bagaimana dahulu seorang wanita 
negro tidak punya hak untuk memilih. Namun, sekarang seorang wanita negro 
menjadi first lady-nya Amerika.Kemenangan Obama menegaskan bahwa rakyat 
Amerika, terutama kalangan muda,  pada akhirnya dapat mengesampingkan isu 
rasialisme, dan melihat secara lebih objektif sosok yang mereka harapkan 
membawa perubahan terhadap kondisi di Amerika kendati itu seorang kulit hitam. 
Kemenangan Obama jelas membawa angin segar bagi orang-orang kulit hitam dan 
kulit berwarna lainnya (hispanik) di Amerika, sekaligus meningkatkan status 
pengakuan sosial dan harapan karier atau posisi mereka di tengah masyarakat 
kulit putih Amerika dengan semangat "yes we can" yang digemakan kubu Obama.

Isu perubahan
Kemenangan Obama dari kubu Demokrat tentu bukan hanya merupakan kemenangan 
warga kulit hitam atas rasialisme, tetapi ada hal lain yang perlu 
digarisbawahi. Selama kampanye, Obama berhasil menampilkan citra diri sebagai 
seorang yang benar-benar ingin membawa perubahan kondisi Amerika menjadi 
kondisi yang lebih baik dengan slogannya: the Change we need.

Tim kampanye Obama telah bekerja luar biasa membangun jaringan akar rumput dan 
secara maksimal memanfaatkan media internet untuk menjual ide, gagasan, 
program, baik lewat website, blogs, youtube, dan lainnya untuk memengaruhi 
terutama suara anak-anak muda atau pemilih mula. Berbagai isu dalam dan luar 
negeri dibahas dengan baik oleh kubu Obama selama masa kampanye. 

Isu kebijakan luar negeri Amerika terutama masalah Irak dan Afghanistan telah 
direspons secara berimbang dan baik oleh kubu Obama. Janji Obama menarik 
pasukan Amerika setelah 16 bulan beliau menjabat menjadi presiden menjadi isu 
yang menarik  banyak kalangan, terutama bagi para keluarga tentara yang berada 
di Irak.   

Tidak dapat dimungkiri bahwa krisis ekonomi yang menghajar Amerika akhir-akhir 
ini telah memberikan kontribusi besar terhadap kemenangan Obama. Krisis 
tersebut bagaimana pun dianggap sebagai bentuk kesalahan Pemerintahan George W 
Bush yang berasal dari Partai Republik, partainya McCain. 

Isu ekonomi tampaknya menjadi pertimbangan utama masyarakat Amerika untuk tidak 
memilih McCain dan mereka beralih ke figur Obama walaupun program ekonomi yang 
ditawarkannya barangkali tidak sangat menjanjikan atau tidak berbeda jauh 
dengan program yang ditawarkan McCain. Yang jelas, kubu Demokrat diuntungkan 
karena mereka bukan yang memegang kendali pemerintahan saat krisis ekonomi 
terjadi saat ini.

Tantangan besar menanti
Obama memang baru akan dilantik 20 Januari 2009, tetapi sangat jelas tantangan 
besar menanti dia, yaitu krisis ekonomi Amerika dan dunia dan dua agenda perang 
Irak dan Afghanistan yang menyita banyak korban dan keuangan dari pihak Amerika 
sendiri. Kita berharap Obama akan menepati janjinya untuk menarik mundur 
pasukan Amerika dari Irak, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kevin Rudd 
dengan menarik pasukan Australia tidak lama setelah dia menjabat sebagai 
perdana menteri sesuai janjinya ketika kampanye. 

Kita juga berharap bukan hanya di Irak pasukan Amerika akan ditarik, tetapi 
juga di Afghanistan. Bagaimana pun operasi militer di kedua negara tersebut 
telah memberi citra negatif Amerika, menelan banyak korban baik warga negara di 
kedua negara tersebut maupun tentara Amerika. 

Operasi militer tersebut juga tentunya telah menghabiskan banyak anggaran 
belanja pemerintah Amerika. Saat ini anggaran tersebut mestinya lebih banyak 
difokuskan untuk menangani ratusan ribu orang yang terkena PHK karena banyak 
perusahaan gulung tikar, termasuk beberapa pabrik General Motor, sekian banyak 
orang yang tidak bisa membayar kredit perumahan mereka karena secara ekonomi 
juga mereka sebelumnya sudah bermasalah (kasus sub-prime mortgage). 

Obama harus segera menyiapkan tim ekonomi yang andal untuk mengatasi krisis 
ekonomi, dan penasihat militer yang bijak untuk mengatasi masalah Irak, 
Afghanistan, konflik Palestina-Israel, hubungan dengan Iran dan Korea Utara. 
Obama juga akan menghadapi ancaman bagi keselamatan dirinya dan ini menjadi 
test-case bagi perubahan melawan rasialisme. 

Tidak dapat dimungkiri masih banyak orang Amerika yang bersikap rasis dan tidak 
suka dengan kemenangan Obama. Sejarah Amerika mencatat ditembaknya orang-orang 
yang mencoba membawa perubahan melawan rasialisme di Amerika, sebut saja 
Malcolm X dan Martin Luther King yang keduanya juga orang berkulit hitam. 

Terbunuhnya Presiden John F Kennedy juga merupakan pelajaran penting akan 
mahalnya harga sebuah pluralitas bagi masyarakat Amerika. Obama harus 
menyiapkan diri menghadapi risiko perjuangan melawan rasialisme yang telah 
berurat akar di masyarakat Amerika.  

Harapan vs skeptisisme dunia Islam
Obama memiliki ayah seorang Muslim dari Kenya, Husein Obama, dan kemudian 
seorang ayah tiri Muslim dari Indonesia, Lolo Soetoro. Adanya hubungan 
kekeluargaan Obama dengan orang-orang Muslim di Kenya dan Indonesia memberikan 
makna dan harapan tersendiri bagi dunia Islam secara menyeluruh, bahwa Presiden 
Amerika kali ini yang memiliki hubungan kekeluargaan dekat dengan orang Muslim, 
diharapkan  lebih mengerti Islam, dan mestinya akan lebih menghargai umat 
Islam. 

Kendati demikian, belajar dari pengalaman masa lalu akan sepak terjang Amerika 
di dunia Islam, selain harapan akan datangnya perubahan yang akan dibawa oleh 
Obama, dunia Islam juga tampaknya menunggu dengan skeptis, benarkah Obama akan 
membawa perubahan? Bukankah setiap kebijakan strategis harus dengan persetujuan 
senat? Selain itu,  bukankah selama ini Presiden Amerika dikelilingi oleh 
pihak-pihak yang memiliki lobi kuat terutama dari kelompok orang-orang Yahudi, 
yang notabene selalu memusuhi umat Islam?

Dunia Islam tidak boleh sekadar menunggu kebijakan apa yang akan diambil Obama 
ketika telah menjabat sebagai presiden nanti. Sebaliknya, negara-negara Muslim 
perlu secara aktif melakukan lobi terhadap Obama. Selain itu, kendati sejauh 
ini sangat sulit untuk dicapai, negara-negara Muslim harus membangun 
kebersamaan dan persatuan agar tidak mudah diintervensi oleh pihak asing, yang 
berupaya menancapkan hegemoninya di negara-negara Muslim dan memungkinkan 
mereka dengan leluasa mengeksploitasi sumber daya alam dari negara-negara 
Muslim tersebut.

Ikut bergembira dan menaruh harapan besar atas kemenangan seorang Barack Obama 
sebagai presiden berkulit hitam pertama di Amerika rasanya sah-sah saja, bahkan 
merupakan ekspresi keberpihakan kita terhadap nilai-nilai universal. Sejatiya, 
umat manusia sejak dahulu disatukan oleh nilai-nilai universal keadilan, 
kesetaraan, kasih sayang dan kecenderungan kepada kebenaran. Kejujuran 
masyarakat dunia  dalam mengekspresikannya menjadi sangat penting untuk 
membangun kemanusiaan yang lebih baik dan lebih bermakna di masa depan yang 
penuh tantangan. 

Ikhtisar:
-    Tim kampanye Obama bekerja luar biasa membangun jaringan akar rumput dan 
secara maksimal memanfaatkan media internet.
-    Dunia Islam masih skeptis dengan Barack Obama.


2008/11/27 Taura <[EMAIL PROTECTED] com>











 
Aswrwb,
Tulisan saya berjudul "Memahami Euforia atas kemenangan Obama" dimuat di 
republika (Opini) hari ini (Kamis, 27 Nov 08). Di versi on-line republikanya 
belum muncul, mungkin baru besok. Thanks atas diskusi di milis ini yg 
menjadi bahan inspirasi saya menulis artikel tsb. Tanggapan dan kritik are most 
welcome.
 
Salam,
Taufik  

http://taufikurahma n.wordpress. com
http://taufikurahma nitb.wordpress. com



-- 
Teguh Prakoso
Wireless Communication Center
Universiti Teknologi Malaysia
81310 Skudai, Johor Bahru
 














      

Kirim email ke