*Ada yang punya info ttg pidato Prabu Siliwangi, saat terdesak serangan
kerajaan Banten...?*
*thanks ya...*
**
**
**
*Pidato Wangsit Siliwangi.*

Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu
beliau sebelum menghilang :
*"Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia
padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat
kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk
hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa
mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru
yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab
untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin."*

Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan!
Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke
utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat
memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat
memisahkan diri ke barat!

Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan
kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan
orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan
semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!

Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti,
keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke
saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik
hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun
terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan
kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai
berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan
menoleh kebelakang!

Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi,
yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian,
kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap
tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak
tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah!

Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan
saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang
susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan
terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang
tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu
tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang
lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan
bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran
hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak
akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri.
Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang
mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya
menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok
pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara.

Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab
terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus
menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil
tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi
batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan?
Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting
daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua
yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman
yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap
jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.

Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara
waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan
kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh
kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di
pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang
kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak
terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.

Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita
akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang
hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar
sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang
tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh
negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang
salah arah!

Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara
pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang
terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh
penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit,
perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan
kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk
menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih
bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita
banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan.
mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.

Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan
telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling
menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan
kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa,
jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh.
Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin
bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah
berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam
diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda
dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan
dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang
sebrang.

Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang
keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata.
Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu
berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah
bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang
benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam
negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.

Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak
boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat
pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa
buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan
penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah.
Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu
semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak
penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak
muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang
membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila
kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang
diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus
janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.

Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam
sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah,
mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger,
maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap
mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap
dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan
mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.

Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran.
Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa
yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak
sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.
Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan
menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk
mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri,
kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak
huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di
seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan
bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan
tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya
yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.

Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan
kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa
lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu
mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya
setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari
tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda
berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!

Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan
berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh
gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda
memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab
berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.

Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu.
Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.

Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!

Telah Terbit on Juni 10, 2007 at 4:34 pm

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan
ini.<http://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/uga-wangsit-siliwangi/feed/>

Comments are closed.

Kirim email ke