Tulisan ini dimuat dalam Tabloid PCplus Edisi 303 dan di
lorongcahaya.multiply.com. penulsinya BJ temen gue.

idenya nyambung, kalao milis sekarang sudah jadi alternatif jejaring sosial.
Buktinya, 12 orang anak yatim di tanjung air udah ada kakak asuhnya.

padahal mereka gak kenal afip kamil, bang kamil, Opik swa, vanda, bunga,
ocha,...morry, dan masih banyak yang laennya...

Perkembangan teknologi (termasuk internet) memungkinkan seseorang mengalami
apa yang disebut sebagai 'mobilitas vertikal'. Terminologi tersebut merujuk
pada pengertian lompatan status sosial yang tak terbatas tempat, waktu dan
bahkan mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya.



Contoh kongkretnya begini, masih ingatkah cita-cita kita masa kecil? Ambil
contoh ingin menjadi Bupati di tempat kelahiran. Terbayang berapa tahun
karier politik yang harus dibangun. Dan belum tentu berhasil. Karena
misalnya kalah dalam pilkada atau malah mungkin *nggak* punya cukup uang
buat kampanye. Walhasil impian tersebut tinggal kenangan belaka.



Namun sekarang, dengan perkembangan teknologi internet. Seseorang yang
tadinya (mungkin) *nobody *bisa menjadi *somebody*. Atau *from zero to hero*.
Entah itu memang karena kapabilitas orang itu yang *super dupe*r hebat alias
jagoan, tapi bisa jadi justru karena hobby dan dedikasinya pada bidang
tertentu sehingga orang tersebut menjadi figur yang menempati 'status
sosial' terhormat yang bahkan tak ada kaitannya dengan latarbelakang
keilmuan yang digeluti sebelumnya.



Ambil contoh misalnya Yanto Prawoto, seorang yang berlatar belakang teknik,
karena kecintaannya pada dunia *scriptwriting*, akhirnya membuat milis
*Layarkata
Network*  yang beranggotakan ribuan anggota dengan impian sama. Menjadi
penulis skenario! Kini milis tersebut telah menghasilkan berapa penulis
skenario dan menjadi tempat *hangout* penulis skenario professional. Dan Mas
Yanto, sapaan akrabnya, sekarang jadi tokoh penting dalam team penulisan
skenario televisi Extravaganza di Trans TV.



Mungkin juga kita bisa berkaca dari pengamalan Helvy Tiana Rosa bersama
beberapa temannya. Staff pengajar universitas negeri di bilangan Rawamangun
ini, kini bahkan mendunia, dengan milis Forum lingkarpena yang kini
anggotanya tersebar di hampir 100 kota besar di Indonesia dan berbagai
mancanegara. Bahkan menginspirasi banyak TKI di Hong Kong untuk menjadi
penulis. Bahkan meluncurkan novel yang diantaranya best seller!



Bahkan beberapa nama diantaranya dianggap menjadi *suhu* dunia *perbloggeran
dan milis *yang meramaikan jagad maya seperti Enda Nasution, Piryadi,
Alfatih, Aulia Masna, Yuza, Farid Gaban, Naratama, Bondan Winarno, atau yang
dari *sononya* sudah ngetop seperti Wimar Witoelar, Yusri Ihza dan Adie
Massardi dan beberapa nama lainnya. Tentu juga Onno Purbo yang rela
meninggalkan jabatan sebagai pengajar di ITB karena terpanggil menjadi guru
yang lebih banyak lagi. Komunitas internet dimanapun berada. Yang membuat
Kang Ono, demikian akrab dipanggil bisa melanglang jagad nyata dan menjadi
konsultan di beberapa negara berkembang.



Komunitas maya (milis) juga membuat orang yang 'biasa biasa' saja menjadi
selebrity di kelompoknya dan dianggap sebagai Kepala Suku (ada yang
menjuluki Kepala Sekolah) bagi komunitasnya. Misalnya Jonriah Ukur Ginting
(Jonru) yang mengelola milis Penulislepas dengan ribuan anggota yang sempat
beberapa kali mengadakan gathering dan workshop penulisan. Padahal awalnya,
bahkan Jonru kebingungan mencari komunitas yang bisa membimbingnya untuk
belajar menekuni dunia penulisan. Atau tengoklah komunitas Bundainbiz yang
anggotanya adalah para ibu rumah tangga. Anggotanya mereka bisa saling
berbagi pengetahuan, arisan dan memulai usaha kecil kecilan tanpa kehilangan
kesempatan mengasuh buah hatinya secara penuh.



Dan kini, silaturahmi dunia maya itu seolah menjadi dunia paralel yang
seramai dunia nyata. Mereka berkumpul dan saling berinteraksi layaknya
pertemuan besar. Yang kadang juga bersilang pendapat seperti dinamika
pergaulan dunia nyata yang sering memantik konflik antar anggota. Contohnya
terjadi di milis mediacare yang dikomandani oleh Radityo Djajoeri, Atau
Faried Gaban dan beberapa jurnalis yang menggerakkan milis jurnalisme.



Intinya, sekarang tak ada batasan waktu dan kesempatan bagi tiap orang untuk
menempati status sosial tertentu dalam dunia maya. Termasuk anda. Atau anda
punya pendapat lain?

Kirim email ke