terserah anda untuk bersikap sinis seperti itu dengan mengatakan pajak adalah komponen utama memperbaiki keadaan kantong pejabat kita, lebih baik anda cek sendiri kontribusi perpajakan di APBN.
beberapa kebijakan telah diambil di undang-undang perpajakan yg baru yg mengakibatkan terjadinya potential loss dari perpajakan dengan harapan di kemudian hari warga negara ini memiliki kesadarannya untuk membayar pajak. baru akhir-akhir ini aja orang-orang ribut tentang pajak dan NPWP padahal undang-undangnya telah ada sejak tahun 1984 (reformasi undang-undang perpajakan), setelah lebih dari 20 tahun, banyak yg ga peduli tentang perpajakan dan sekarang ketika sosialisasi perubahan UU KUP yang KETIGA baru deh pada kebakaran jenggot, ribut sana-sini. Lebih dari 20 tahun pelaksanaan peraturan perpajakan tidak diawasi dengan ketat, ternyata tidak menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjalankan peraturan perpajakan tersebut. Lebih dari 20 tahun penerimaan dari perpajakan ditanggung oleh segelintir orang, ketika sekarang sebagian besar masyarakat diminta untuk menanggung keuangan negara dari sektor perpajakan, ramai-ramai deh berusaha menghindar dengan segudang alasan. 2008/12/16 arrysign <[email protected]> > ada lagi kur, yg memalukan itu kita sebagai warga negara ga mau ditagih > pajak =) > dimana pajak adalah komponen utama untuk memperbaiki keadaan kantong > pejabat kita yah ;) > > ------------------------------ > *From:* kurniawan iswanto <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Tuesday, December 16, 2008 1:50:03 PM > *Subject:* Re: [sma1bks] [Fwd: FW: Apakah Bangsaku Tidak Lagi > Diperhitungkan?] > > yg memalukan adalah kita tidak terlalu berniat untuk memperbaiki keadaan > ini. > > 2008/12/16 komarudin ibnu mikam <komaribnumikam@ > gmail.com<[email protected]> > > > >> he..he..he.. >> lucu. getir dan memalukan ya.. >> pengemis aza nolak rupiah...gile! >> Iraq aza yang negerinya lagi acak adul, dinar iraqnya laku... >> >> duh...... >> >> >> >> 2008/12/15 Linda Susanti <linda_susanti@ sadikungroup. >> com<[email protected]> >> > >> >>> >>> >>> >>> >>> >>> >>> >>> Ini ada tulisan Ustad Yusuf Mansyur. Simple tapi dalem. >>> Mudah2an bermanfaat. >>> >>> Apakah Bangsaku Tidak Lagi Diperhitungkan? >>> 2004 saya jalan ke Brunei. Karena saya pikir dkt, saya cuma bawa 1 >>> kantong plastik saja. Ternyata di perjalanan, bawaan saya bertambah. >>> Begitu masuk bandara Brunei, saya berniat membli tas. saya tawarlah 1 >>> tas di 1 toko. Setelah dikurskan ke rupiah, angkanya jd 4,2jt. saya >>> terbelalak, dan setengah bercanda saya bilang bahwa di Indonesia, tas >>> kayak gini palingan 300-400rb atau paling mahal 1jt dah. Eh, si penjaga >>> toko memasang muka merendahkan gitu, dan bilang: "No no no... Bukan tas >>> kami yang mahal, tapi you punya rupiah yang tak ada harga!". >>> >>> Ya Allah, seperti ditampar rasanya muka saya. Segitunyakah rupiahku? >>> Segitunya kah negeriku? Mata uangnya tak ada harga. Lalu, pegimana >>> bangsanya? Bagaimana negerinya? Adakah martabatnya? >>> >>> 2008 ini entah yang keberapa kali saya mengadakan prjalanan keluar >>> negeri. Sudah tidak saya hitung lg saking seringnya, he he he. Nikmat >>> ini saya syukuri. Saya tringat, dulu saban saya dimandiin dan >>> dipakaikan pakaian oleh ibu saya, ibu saya hampir selalu berdoa dg doa >>> yang relatif sama. Ya, hampir selalu. Doanya biar saya, katanya, >>> gampang bulak balik ke mekkah, seperti ke pasar. Terus biar bisa >>> keliling dunia. Yusuf kecil saat itu, sempat pula bertanya sambil >>> ketawa, masa iya ke mekkah segampang ke pasar? Lagian mana mungkin sih >>> keliling dunia? Ibu saya menjawab, eeeehhhh... Allah Punya Kuasa. Kalo >>> DIA mau, gampang buat DIA mah. Nabi Muhammad aja diterbangin isra >>> mi'raj. >>> >>> Ya itulah doa ibu saya. Alhamdulillah. Trnyata betul. Sekarang saya >>> alami sendiri. Pergi haji buat saya pribadi udah benar-benar gampang. >>> Alhamdulillah. Biar pintu pendaftaran dah ditutup, saya masih bisa >>> pergi dengan undangan kerajaan punya, atau dengan cara-cara yang >>> tahu-tahu saya udah di sana! Subhaanallaah memang. tapi saya ga aji >>> mumpung. Waktu ibu saya, mertua dan rombongan keluarga ga dapat nomor >>> haji, banyak orang dekat bilang, pake dong power ente. Ah, saya mah >>> malah bilang, sabar ya bu. Sabar ya wahai keluargaku. Pergi haji mah >>> urusan Allah. Ga usah dicari-cari. Kalo dah waktunya, ya waktunya. >>> >>> Dan alhamdulillah, pergi ke luar negeri pun sekarang ini saya yang >>> susah payah menolak undangannya. Masya Allah. And I speak not only in >>> bahasa; but both in arabic and english as an international language. >>> >>> Saya bersyukur dengan keadaan ini, tapi sekaligus ada yang membuat saya >>> menjadi tertegun. Betapa "Jakarta" dah ga dianggap. Di hampir semua >>> bandara internasional; baik asia, maupun non asia, nama "Jakarta" ga >>> ada lagi di board penunjuk waktu. Yang ada: London, Paris, New York, >>> dan kota-kota besar dunia. Bahkan ada nama Kuala Lumpur! Sedang >>> Jakarta, yang mewakili satu nama besar: Indonesia, ga ada lagi di board >>> tersebut. >>> >>> Apa yang sedang terjadi dengan bangsa kita, kita semua tahu... >>> >>> Setiap kali keluar kota dan keluar negeri, saya termasuk yang langka >>> punya. Ga bawa duit, dan ga bawa kartu kredit. Bukan apa-apa, sebab >>> biasanya saya dijemput langsung di pintu pesawat. Atau kalaupun tidak, >>> dijemput di setelah lolos imigrasi. Oleh para penjemput di kota-kota >>> atau negeri-negeri orang, saya sudah ditanggung beres. Jadi, uang yang >>> saya bawa, benar-benar ga laku, he he he. Pengertian ga laku ini, hanya >>> untuk menunjukkan ga terpakai. Sebab kalaupun saya bawa dollar, >>> mereka-mereka menahan saya untuk bayar. Mereka saja yang berkhidmat. >>> >>> Hingga satu waktu, saya jalan ke Singapore untuk keperluan pribadi. >>> Berangkatlah saya sendiri, sebagaimana biasanya. Ya, saya senang >>> berangkat sendirian. Sebab simple. Enteng. Ga banyak-banyak orang. >>> Paling banter, berdua dg istri atau anak-anak. tapi ini pun jarang. Dan >>> sampe di Singapore juga sendiri. Ga ada yang jemput. Sebab saya pun >>> tidak mmberitahu kawan-kawan di sana. Sampe di Changi saya baru ingat, >>> saya hanya bawa 2jt. Dan itu rupiah. Belum saya tukerin. Menjelang >>> keluar bandara, saya laper, pengen cari cemilan dan kopi. Bergegaslah >>> saya ke salah satu sudut, untuk beli yang saya maksud. Saya pikir, bisa >>> lah skalian nuker seperti kalo belanja di Bangkok, Thailand. Eh, >>> ternyata saya salah. "Indonesia?", tanya pelayan toko. Ya, saya bilang. >>> Indonesia. "Oh, sorry," katanya sambil muka nya ga enak gitu. "Your >>> money didn't accepted here". Masya Allah! Lagi-lagi kayak ditampar saya >>> ini. Uang rupiah ga diterima di sini. >>> >>> Selanjutnya dia menunjukkan money >>> changer di bandara. Saya mengurungkan niat saya untuk nyemil dan ngopi. >>> tapi saya pura-pura mengiyakan akan menuju money changer. Dan >>> subhaanallaah, kekagetan saya belom selesai. Si pelayan ini masih >>> bersorry-sorry ria. Katanya, jagan kaget, rupiah rendah sekali katanya >>> nilai tukarnya. Waaah, entahlah apa yang ada di benak saya... >>> >>> Bahkan pengemispun tidak menerima rupiahku! Ya, itulah yang saya >>> alami.satir. Mirip komedi satir. Lucu, tapi getir. >>> >>> Antara 2004-2005, dalam 1 lawatan ke Eropa. Saya dkk turun di >>> Frankfurt, German. Dari sini perjalanan ke beberapa negara di Eropa, >>> dimulai. Sekian waktu , sampe lah kami di Belanda. Ada salah satu kawan >>> di rombongan yang mmberi tahu betapa Indonesia sudah tidak ada. >>> "Hatta," katanya, "Di tempat pelacuran, ada pengumuman agar para >>> pelacur tidak menerima mata-mata uang yang ditaroh di list. Salah >>> satunya rupiah!". Kawan saya ini berkata geli. Saya pun ikut tertawa. >>> Tapi ngebatin. Ada segitunya ya. >>> >>> Dari Belanda, kami pergi ke Belgia dan kemudian ke Perancis. Naik kereta >>> super cepatnya Eropa. Enak, nyaman, dan menyenangkan. Turun di stasiun >>> Perancis, kami dicegat oleh 1 pengemis perempuan. >>> Cantik menurut ukuran saya mah. Sampe saya geleng2 kepala, kenapa dia >>> mengemis. Kalo boleh saya bawa, mending saya bawa ke Jakarta, he he he. >>> Trnyata dia mengaku Bosnia punya. Maksudnya, orang Bosnia. Sdg hamil >>> pula. Entah bohong apa tidak. Salah satu kwn, memberinya rupiah. 200rb. >>> Di Indonesia, 200rb ini bukan cuma besar. Tapi sangat besar. Niscaya >>> kalo pengemis di tanah air diberi 200rb, akan sujud2 rasanya kpd yang >>> mmberi. Dia pun saat itu trsenyum. Barangkali dia merasa kwn saya itu >>> sdh mmberinya uang besar. Kwn saya pun senang melihat pengemis itu >>> senang. >>> >>> Lusanya, kami langsung balik ke Amsterdam, Belanda. Naik kereta >>> lagi. Sampenya di stasiun, ketemu lagi dengan pengemis perempuan muda >>> tersebut. Kali ini wajahnya bersungut-sungut. Dari kejauhan dia melihat >>> kami. Begitu melihat kami, dia langsung berlari menuju kami dengan >>> wajah yang tiba-tiba kesal begitu. Terus, langsung menemui kawan saya >>> yang tempo hari ngasih. Dengan kasarnya, uang 200rb itu dipulangin. >>> Katanya, sambil marah, dia mengatakan, ini toilet paper! Gila, saya >>> bilang, uang kita disebutnya kertas toilet. Dia bercerita sambil >>> membuat kawan-kawan terbahak-bahak. Katanya, dia berusaha menukar uang >>> kita itu, tapi ga ada yang nerima. Barangkali semua kawan sama dengan >>> saya, di selipan tawa kami, ada satu kegetiran, segitunyakah rupiah >>> saya? Rupiah kita? Sampe pengemis saja ga menerimanya? Masya Allah. >>> Bangkitlah wahai negeriku. Bangkitlah wahai negeriku. >>> >>> Hampir di setiap events internasional, perhatian kita (untuk saya >>> tidak mengatakan perhatian pemerintah), sangat-sangat kurang. Terbilang >>> lumayan sering anak-anak Indonesia berprestasi memenangkan >>> kompetisi-kompetisi internasional semacam olimpiade fisika, matematika, >>> sains, bahasa dan lain-lain. Tapi sepi benar dari pemberitaan. >>> Berita-berita buat bangsa kita tidak lagi ada, atau sedikit, yang >>> mmbuat kita sendiri bangga. Barangkali seperti tulisan saya ini, he he >>> he. Maaf ya. Tapi emang kenyataannya begini. >>> >>> Saya pernah membaca ada seorang yang sangat pintar di negeri orang. >>> Tapi katanya dia ga merasa dihargai di negeri sendiri. Akhirnya hasil >>> penemuannya dipatenkan di negeri di mana dia belajar dan mengabdi, dan >>> kemudian dia mendapatkan permanen residence dari negeri tsb. >>> >>> Sekelompok kawan TKI di salah satu negara tujuan TKW, mengeluhkan juga >>> tentang "perwakilan" mereka di negeri itu. Katanya, kita punya gedung >>> sekian belas lantai. Tapi nothing buat kita! Begitu katanya. Wuah, >>> miris juga saya dengar. Lihat terusan kalimatnya. "Sedangkan Philipina, >>> hanya 2 lantai, itu pun ngontrak, tapi bangsanya bangga dengan kerja >>> perwakilannya. Puas". Sedangkan kita, benar-benar payah. Kalau kita >>> lapor (maksudnya itu TKW2), kita ga diperlakukan dg ramah. Malah jadi >>> kayak jongos benar-benar. Mereka kemudian cerita, bangsa aslinya >>> sendiri, ketika mereka datang mau mengadu, mereka duluan yang menyapa: >>> What can I do for you...?". Ramah bener. >>> >>> Yah, itu barangkali sekelumit hal-hal yang tidak menyenangkan. Tapi >>> saya percaya, negeri kita masih diperhitungkan di dunia ini. Benarkah? >>> >>> Siapa yang tidak bangga dengan Garuda? Maskapai Penerbangan Nasional >>> yang menginternasional. Bangga. Sejarah Garuda demikian mengagumkan. >>> Hingga ketika diri ini yang bangga dengannya menerima satu kenyataan. >>> Kata seorang petinggi wilayah ketika saya menginap di kediamannya di >>> Amstelvein, Belanda, Garuda tidak lama lagi tutup. Bukannya ga boleh >>> terbang loh. Tapi tutup. Sebab tidak laku atau gimana lah. Ga ngerti. >>> Beberapa tahun setelahnya, saya dikagetkan lagi dengan berita bahwa >>> Garuda tidak diperkenankan melewati Eropa karena satu dua alasan. >>> Bahkan di wilayah saudi pun bermasalah. Entahlah apa yang sedang >>> terjadi. Saat tulisan ini dimuat, Garuda sudah berhasil melewati >>> masa-masa sulit itu. Bahkan Garuda sudah menangguk keuntungan dari yang >>> tadinya merugi. Dan Garuda pun menerima penghargaan internasional. >>> Namun, ketika ada berita bahwa Garuda tutup dan Garuda dilarang >>> terbang, rasanya teriris-iris hati ini. Tarbayang Garudaku yang gagah, >>> yang jadi perlambang negeri ini, harus "menerima perlakuan" tidak >>> hormat seperti itu. Terbanglah lagi Garudaku. Mengangsalah ke seluruh >>> penjuru dunia. Supaya dunia tahu betapa gagahnya lambang negaraku. >>> >>> Saya tersenyum kecut dengan dua berita yang turun dengan rentang >>> waktu yang tidak berapa lama. Yaitu berita tentang petinggi kita yang >>> kamarnya digeledah ketika berada di negeri orang. Dan yang satunya >>> lagi, ketika diperiksa berlama-lama di imigrasi satu airport >>> internasional. Lepas dari kenapa dan bagaimananya kisah di balik dua >>> berita itu, bagi saya ya sekali2 memang petinggi kita kudu merasakan. >>> Merasakan apa? Merasakan jadi warganya. Tidak jarang kami-kami juga >>> diperlakukan demikian. Seenaknya saja mereka masuk kamar hotel kami dan >>> memeriksa kami dengan satu alasan sederhana saja: Kami harus memeriksa >>> Anda! Begitu saja. Ga ada penjelasan. >>> >>> Di Australia, berapa kali saya harus melewati pemeriksaan yang -- hingga >>> -- ikat pinggang saya >>> pun hrs ditaroh di pemeriksaan. Tas-tas saya pun hrs dibuka dan >>> cenderung bahasa seharusnya: diobrak-abrik. Lagi-lagi alasannya >>> sederhana: Kami harus memeriksa Anda. Satu yang menyakitkan, mereka >>> melihat wajah saya: Asia. Asia harus diperiksa. Lalu ditanyalah saya, >>> darimana? Saya jawab dengan gagahnya: Indonesia. Eh tanpa dinyana, >>> petugas membuka lembaran petunjuk, dia urut dengan jarinya, ketemu! Ya, >>> katanya, Indonesia harus diperiksa. Ooo, rupanya dilembar cek-list itu, >>> nama Indonesia masuk daftar negara yang orang-orangnya harus diperiksa. >>> Subhaanallaah. Geram juga saya. Nanti, kata saya, kalau saya udah jadi >>> Presiden, saya gituan dah dunia, he he he. Untunglah saya jauh jadi >>> presiden. Kalo iya, udah perang terus kali bawaannya, ha ha ha. Perang >>> urat syaraf. Betapa tidak, Bali saya periksa ketat seperti mereka >>> memeriksa kita. Kamar-kamar mereka, tak geledah di sembarang waktu. Dan >>> saya instruksikan supaya mata uang yang dipakai, hanya rupiah. Tak >>> bikin peraturan, dolar dan lain-lainnya, kecuali real barangkali karena >>> negeri dengan mekkah dan madinah, he he he, ga boleh masuk ke >>> Indonesia. Mereka sudah harus nuker di negaranya masing-masing. Bakal >>> dimusuhin sih, tapi biar saja. Wong presidennya kan saya, ha ha ha. >>> Negara juga negara saya. Kalo ga suka, ya jangan masuk negara saya. >>> Cuma, saya akan bikin dunia juga jadi perlu sama saya, jadi perlu sama >>> Indonesia. Sehingga pasti mereka akan susah payah nurut, seperti >>> hebatnya kita diam dan nurut diperlakukan oleh mereka! >>> >>> >>> ------------------------------ >>> >>> Menambah banyak teman sangatlah mudah dan >>> cepat.<http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/trueswitch/mailtagline/*http:/id.messenger.yahoo.com/invite/> >>> Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! >>> >>> >> >> >> -- >> Komarudin Ibnu Mikam >> WTS - Writer Trainer Speaker >> komarmikam.multiply .com <http://komarmikam.multiply.com/> >> 0818721014-33113503 >> karya-karya ; >> Novel Intelijen SOA (luxima) >> sekuntum cinta untuk istriku (GIP) >> prahara buddenovsky (GIP) >> dinda izinkan aku melamarmu (KBP) >> sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat) >> nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat) >> merit yuk! (qultum media) >> rahasia dan keutamaan jumat (qultum media) >> >> > > > -- > Kurniawan > > > > -- Kurniawan
