--- On Fri, 12/19/08, Taura <[email protected]> wrote:

From: Taura <[email protected]>
Subject: Fw: Metro TV gak mau penyiar berjilbab
To: "Asasi" <[email protected]>
Date: Friday, December 19, 2008, 3:29 PM








http://taufikurahman.wordpress.com








Dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di

belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya

sendiri yakin bahwa " sebagaimana Islam mengajarkan " di balik kebaikan

boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi

tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai

hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu

saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya

bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan

untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah

mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah

berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola

langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang

lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang,

bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran

pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang

sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi.

Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya

saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi

berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan,

tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada

sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri.

Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya

buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter

berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti

pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV,

sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat,

dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan

itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang

terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming

dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan

mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu

saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah

sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro

TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah

sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana

mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa,

menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU,

dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya

mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik.

Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak

keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri

memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam

acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para

profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu,

misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman

baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam

bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam

yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan

ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan

melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan

mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan,

bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang

kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih

kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu

mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada

akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan

personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian

seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena

sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari

siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa

tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut

puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku

dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro

TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle "

seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat,

mentor, bahkan kadang-kadang orang tua " di sebuah lembaga nirlaba. Di

sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik

sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya

berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah

komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk

melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang

masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera

kembali ke jalan yang benar.

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral

dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan

manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah

kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang

dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana

mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan

berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga

semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak

setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala

yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup

dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme "

mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya " ternyata bisa bersemayam

____________ _________ _________ _________ ________
Mus-lim mailing list
mus-...@milis. isnet.org
http://milis. isnet.org/ cgi-bin/mailman/ listinfo/ mus-lim

------------ ---------
Iuran Bulanan (jumlahnya bebas) mohon dikirim ke rekening bendahara
A/N Henda Roshenda Noor, yaitu:
1. Bank Mandiri Cabang Pondok Gede, No. 129.00.0446537. 9 atau
2. Bank BNI Cabang Pondok Gede Bekasi, No. 15892482
3. BCA KCP PONDOK GEDE PLAZA No. 6870332554
Konfirmasikan ke HP. 081585939738 atau 08164823973 (Henda)

 















      

Kirim email ke