Awalnya, Ujang yang ngomong. "Bang, tadi ane ngutang beras sekarung buat anak-anak." "Oh gitu ya A', emangnya berapa kilo butuhnya sepekan?" tanya saya. "Ya buat 20 orang, mungkin 20 kiloan dah...." "Beras aza?" "Ya, minimal itulah. Kan lauknya mah bisa nyari kangkung liar di rawa atau genjer. Atau, kalo kepepet makan pake nasi dan krupuk gope. Segitu pun cukuplah alhamdulillah...yang penting ada nasinya..."
PIkiran saya langsung berputar-putar kalimat, "Gue mesti cari beras buat mereka..." Besok paginya saya langsung sms beberapa sahabat. "Pak, 20-an anak-anak saya butuh beras sekarung untuk sepekan. Dua hari lagi bakalan habis. Bila lapang rezeki sudilah kiranya memberkan solusi..." Alhamdulillah, sahabat-sahabat saya langsung menjawab... Ada mbak Ocha yang langsung ngajakin ketemu beso pagi dengan anak-anak. Sayang gak ketemu ya cha... Ada Zifu, sahabat SMA yang langsung menjanjikan ketemu malamnya... Ada juga Pak Siswadi. Ia pengusaha di Bekasi. Plus, Ketua PPCI (Persatuan Penyandang Cacat Indonesia). Bahkan, lebih dari itu, Pak SIs menjanjikan untuk mensuplai beras 20 kilo setiap pekan. Alhamdulillah....bahagia saya mendengarnya. Siang tadi, saya langsung meluncur ke kantr pak Sis. Sayang, siang itu fortuner hitam tak ada di depan. Itu berarti Pak Sis gak ada. Saya langsung masuk dan ketemu Suhar dan Pak Ali. Gak berapa lama Iwan, Muh dan Aming datang. Bertiga. Aming bawa ukulele. Muh bawa bongo bikinan dari pipa. Pas masuk ke dalam kantor, mereka lepas sandal. "Lho, koq nyeker..." "Dilepas diluar om..." kata Iwan. "Oh..." pandangan saya langsung ke luar ruangan di bawah keset. Dibalik kaca. Tapi, ada pandangan aneh. Dahi saya mengernyit. Orangnya tiga. Tapi sandal jepitnya cuma dua pasang. Anehnya lagi, yang satu pasang bentuknya sama. Kanan dua-duanya. "Lho...itu ada yang pake sandal ya? buseet kagak panas apa...?' "He..he..he..biasa om...." Iwan menjawab sembari cengengesan. "Lha yang itu kanan dua-duanya...." saya protes lagi. "Itu punya saya om...dairpada gak kepake ....sayang.." kali ini Muh yang ngomong... Saya tertegun. Gila...Bekasi kalau lagi gak ujan, panasnya itu menikam kepala. Puanaaas....! apalagi jalanan. Turun naik bis. Wah, gak masuk akal dah! Terus, bersama pak Ali dan Suhar kita ke rumah singgah di pintu air. Oh ya, Pak Sis juga berjanji untuk memberikan sejumlah treatmen untuk anak-anak jalanan. Salah satunya adalah menghadirkan psikolog dan psikiater. Mereka akan diminta bantuan untuk melakukan konseling dan penelusuran bakat minat. Konseling itu penting. Karena mereka masing-masing punya cerita buram tentang masa lalunya. Yah, namanya juga jalanan. Terlalu banyak debu-debu dan kotoran jalanan. Mudah2an cedera emosi dan trauma bisa diobati. Penelusuran minat dan bakat perlu dilakukan untuk mengidentifikasi talenta mereka. Mungkin ad ayang berbakat dibidang wirausaha, musik, akting dan lain sebagainya. Sungguh luar biasa. Terimakasih pak Siswadi. Seandainya banyak aghniya semcam pak Sis, wah pasti hidup ini lebih baik. Bahwa hidup adalah berbagi. Harta yang kita miliki terselip hak-hak orang lain. Mudah-mudahan, saya ketemu Pak Sis-Pak Sis yang lain. Bekasi, 21 Januari 2009
