sebntar Linda,
Zulhamli al hamidi ini alumni sma I angkatan berapa?

--- In [email protected], Linda Susanti <linda_susa...@...> 
wrote:
>
> 
> 
> ZULHAMLI ALHAMIDI YANG SAYA KENAL
> 
> Feb 7, '09 3:40 PM
> for everyone
> 
> 
> Sudah belasan tahun saya mengenal sosok dan pribadi Zulhamli 
Alhamidi
> tanpa pernah menemukan kesalahannya sedikitpun kecuali satu kali ini
> saja. Saya prihatin dan bertanya-tanya apakah manusia memang tidak
> boleh khilaf suatu saat? Tulisan ini saya niatkan dalam rangka
> memenuhi salah satu hak-hak ukhuwwah beliau sebagai saudara saya
> sesama muslim.
> 
> Uda Zul, begitu panggilan akrabnya di kalangan anak-anak Rohis sejak
> jadi aktivis da'wah di kampus UNJA. Saya pun sekampus dengan beliau,
> cuma saya FE 93 sedangkan beliau Fapet 94. Tapi sejak sama-sama
> ngantor di Fraksi PKS, saya ikut memanggilnya Uda Zul karena memang
> usia beliau lebih tua 1 tahun dari saya. Saya juga satu majelis 
ta'lim
> dengan istri beliau, Mbak Lisa.
> 
> Da Zulhamli adalah anggota dewan paling miskin di DPRD Kota Jambi
> menurut ekspos LHKPN versi BPK tahun 2004 dengan asset 
pribadi 'hanya'
> Rp.3,5 juta saja (diikuti 3 rekan F-PKS lainnya yang sama-sama
> termasuk paling miskin, selain mas Hizbullah). Berita itu juga bikin
> polemik di koran lokal saat itu, karena Uda Zul memang sangat
> sederhana. Selain masih tinggal numpang di rumah mertua walau sudah
> punya 2 anak, Da Zul juga punya motor 'butut' yang selalu 
menemaninya
> ke manapun. Bahkan motor tua milik Da Zul sempat menginspirasi saya
> untuk bikin puisi (maaf file-nya belum ketemu). Dan motor tuanya itu
> sempat patah jadi dua saat suatu malam beliau ditabrak oleh pemuda
> yang sedang ngebut di dalam gang dalam perjalanan beliau menuju 
tempat
> Mabit ikhwan.
> 
> Ada dua momen yang paling berkesan tentang Da Zul dalam interaksinya
> dengan saya. Pertama, saat suatu hari saya datang ke Fraksi pagi-
pagi
> dalam keadaan sangat lapar dan lemah karena tidak makan malam dan
> belum pula sarapan padahal saya sedang hamil. Dalam keadaan pusing 
dan
> gemetar karena benar-benar tak sanggup berdiri dan melangkah kuatir
> mendadak pingsan, Uda Zul tiba-tiba muncul di Fraksi. Saya sempat
> sungkan dan malu ingin meminta tolong Uda Zul memesan makanan ke
> kantin, tetapi pandangan mata saya sudah mulai agak gelap. Akhirnya
> dengan suara agak pelan, terucap juga permintaan tolong itu ke Da 
Zul.
> Saya pikir kalau saya akhirnya pingsan, bukankah Da Zul juga yang
> repot? Saya sangat merasa kurang sopan menyuruh seorang bapak dua
> anak, apalagi dengan level kaderisasi lebih tinggi dari saya,
> melakukan hal sepele seperti beli sesuatu ke kantin. Tapi
> alhamdulillah Da Zul benar-benar membantu saya pagi itu.
> 
> Yang kedua, saat polemik Pansus Struktur Organisasi dan Tata Kerja
> (SOTK) Penerapan PP.41/2007 di mana saya dipercaya menjadi Ketua
> Pansus di DPRD Kota Jambi. Posisi saya sangat sulit waktu itu,
> dilematis. Kesediaan Da Zul menjadi juru bicara Pansus, membacakan
> hasil kesimpulan Pansus di Rapat Paripurna walaupun berbeda pendapat
> dengan sikap akhir (stemmotivering) Fraksi PKS, sangat saya hargai.
> Pansus maunya ada penghematan anggaran melalui perampingan dinas
> sehingga sepakat dengan 9 Dinas saja dari Formasi 13 Dinas yang ada.
> Tetapi PKS pada menit-menit terakhir setelah masa lobi yang cukup
> alot, justru fix di formasi 14 Dinas mengikuti Golkar sebagai rekan
> koalisi Pilwako saat itu. Saya dan Da Zul sebetulnya utusan Fraksi
> yang tidak terlalu sepakat dengan hasil kesimpulan Pansus, tetapi 
toh
> khalayak juga taulah sikap pribadi kami tentu berafiliasi ke sikap
> akhir Fraksi PKS.
> 
> Beliau sosok yang pendiam, hanya bicara jika perlu saja. Dia orang
> yang sensitif, mudah tergugah hati. Da Zul pernah pingsan dalam 
suatu
> muhasabah sewaktu ada Dauroh Aleg PKS di Bengkulu. Da Zul juga 
pernah
> tiba-tiba menangis saat pidato membacakan Pandangan Umum Fraksi PKS
> saat santer menolak rehab gedung DPRD yang bakal menghabiskan dana
> APBD belasan miliar rupiah. Dan sehari setelah musibah dirinya 
dirazia
> di panti pijat itu, Da Zul juga 2 kali pingsan sebelum akhirnya 
datang
> ke DPW PKS Jambi untuk menghadapi konfrensi pers, lalu menyatakan
> mundur dari DPRD Kota Jambi sekaligus mundur dari pencalegannya di
> Dapil Jambi Timur-Pelayangan.
> 
> Jabatan terakhir Da Zul di DPRD Kota Jambi selain beliau adalah 
Wakil
> Ketua Fraksi PKS, beliau akhir Desember 2008 kemarin baru
> menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Ketua Komisi B. Di struktur
> partai, beliau adalah salah seorang Ketua Bidang di DPW. Beliau juga
> aktif di berbagai kegiatan di DPD dan DPC.
> 
> Saya tidak melihat ada gaya hidup yang berubah signifikan setelah Da
> Zul menjadi Aleg. Hingga saat ini beliau dan keluarganya masih
> ngontrak rumah sederhana di Talang Banjar (karena ada tuntutan Aleg
> PKS harus tinggal di Dapilnya). Di rumahnya pun tidak ada barang
> mewah. Selain motor tuanya itu, hanya tampak satu lemari penuh buku,
> televisi di ruang keluarga, room set anak-anak dan seperangkat 
kompor
> gas di dapur si ummi. Tidak ada sofa di sana, boro-boro koleksi
> keramik mewah!! Tamu yang datang terpaksa duduk lesehan di atas 
karpet
> sederhana. Kalaupun Da Zul sesekali bawa mobil Carry edisi lama, itu
> sebetulnya mobil milik mertuanya, kadang-kadang dipakai untuk
> menjemput anak-anaknya: Ainun, Ahmad dan si kecil Aziz.
> 
> Uda Zul memang sangat gemar olahraga Badminton seperti bapak-bapak
> anggota dewan yang lain. Kantor kami memang punya gedung olahraga
> sendiri, sehingga keluarga besar DPRD Kota bisa leluasa memanfaatkan
> waktu luang di situ. Di kantor, teman-teman Fraksi lain mengakui Da
> Zul cukup lihay main bulu tangkis ini. Mungkin saking semangat, 
badan
> Uda Zul sering pegal-pegal, saya yakin bapak-bapak sparing partner 
dia
> juga begitu jika terlalu menguras energi. Diakui oleh rekan-rekan
> sejawat, kalau pegal mereka kadang mampir rame-rame ke Panti Pijat
> Sehat Bersih yang lokasinya cukup dekat dari kantor dan memang punya
> izin operasional resmi dari Pemerintah Kota. Bahkan sesekali
> bapak-bapak itu bawa istri mereka sekedar pijat refleksi karena 
memang
> pengunjung laki-laki dan perempuan dibedakan tempat dan petugas yang
> melayaninya, harus sama-sama laki-laki atau sama-sama perempuan
> (Itulah yang saya heran mengapa pada kasus Da Zul koq justru
> petugasnya lain jenis? Menurut wartawan yang ikut Razia tetapi tidak
> ikut menjelek-jelekkan Aleg PKS di media, ada kemungkinan razia itu
> direkayasa. Tapi maaf saya tidak ingin buka di sini karena kuatir
> pencemaran nama baik pihak tertentu).
> 
> Yach… siapa sangka hobby berolahraga ini justru menjadi sandungan di
> belakang hari. Mungkin Allah ingin mengingatkan bahwa ada tupoksi 
Aleg
> yang lebih penting daripada sekedar riyadhoh. Wallohu a'lam.
> 
> Yang pasti, kinerja dan keikhlasan Uda Zul dalam beramal jauh lebih
> baik dibandingkan saya. Apa yang telah terjadi atas Da Zul adalah
> pertanda Allah masih sayang sama beliau, Allah mungkin sedang
> mempersiapkan rencana yang lebih baik untuk beliau dan keluarganya.
> 
> Tetapi terus terang kami di Fraksi belum siap kehilangan… Seseorang
> yang pergi begitu saja karena media lokal, nasional, cetak,
> elektronik, bahkan internet secara sistematis telah terlanjur 
membunuh
> karirnya tanpa ampun sampai beliau sangat malu dan tak punya muka 
lagi
> untuk sekedar datang ke kantor. Padahal tidak ada Perda dan aturan
> KUHP / KUHAP yang beliau langgar saat peristiwa di Panti Pijat itu.
> Beliau sedang pijat tradisional di tempat resmi dan petugas resmi,
> tidak ada asumsi razia yang dia langgar tapi Satpol PP dan 
Poltabes –
> dengan alasan mengamankan Pejabat Daerah – telah menggiring publik
> menuduh dia berbuat mesum dengan pemijat. Astaghfirullah… Kasihan 
Uda
> Zul. Sebagai kader Partai Da'wah, Dewan Syari'ah PKS lebih berhak
> menilai sejauh mana kesalahan beliau. Dan inisiatif pengunduran diri
> dari DPRD maupun dari pencalegannya di Pemilu 2009 adalah sebuah
> inisiatif yang patut dihormati. Bahkan itu sebetulnya masih terlalu
> berlebihan.
> 
> Kali terakhir saya bertemu dengan Uda Zul di DPRD – subhanalloh saya
> rasanya mau nangis lagi… - kami berlima duduk bersama di Fraksi PKS
> di Lantai 2, ngumpul saja karena Jum'at pagi itu tidak ada agenda
> rapat. Bang Dede sedang ngonsep Pandangan Umum RPJP di laptop, Mas 
Hiz
> baca koran, saya baca majalah Ghoib buat persiapan ngisi Rohis sejam
> lagi, sedangkan Bang Zay seingat saya baca printout PP.8/2008. Lalu
> Uda Zul? Dia serius memperhatikan HP-nya menyetel tilawah Qur'an 
(kalo
> gak salah, surat Al.Anfaal, taujih robbani yang paling mengena 
jelang
> Pemilu 2009). Murottal itu distel Da Zul agak keras sehingga saya
> yakin terdengar dari lantai bawah ruang Fraksi. Dan kami berlima 
cukup
> lama saling diam menyimak ayat-ayat Allah di sela kegiatan
> masing-masing, sampai menjelang jam 11 siang saya pamit duluan mau 
ke
> SMA 5….
> 
> Ah, Da Zul!! Ketika saya menjenguk ke rumahnya pasca pemberitaan itu
> untuk bertemu dengan istrinya (Mbak Lisa), hanya sekilas saya lihat 
Da
> Zul membukakan pintu untuk kami. Selebihnya, beliau lebih memilih
> masuk ke dalam. Hanya ada Mbak Lisa dan anak-anak yang menyambut 
kami
> dengan sejuta kesabaran di antara suara tertahan dan sesak di 
dadanya.
> Sementara mereka tegar, kami yang memandangi malah menangis. Sama
> seperti Da Zul, saya juga sudah belasan tahun mengenal Mbak Lisa 
sejak
> di Kampus, kami seangkatan 93. Selain dikenal sangat sabar dan
> pendiam, istri Da Zul juga seorang pekerja keras. Beliau guru SD 
Islam
> Terpadu Nurul Ilmi. Bayangkan bagaimana Mbak Lisa harus menghadapi
> ratusan wali murid yang bertanya-tanya tentang kejadian itu. 
Sementara
> anak-anak bertanya, "Ummi… Mengapa Abi tidak ngantor?"
> 
> Kasus razia panti pijat itu pahit banget yak!! Tidak terbayang kalau
> dalam sisa masa jabatan yang tinggal sekitar 5 bulan ini mendadak
> harus menghadapi drama voting di ruang Paripurna, sementara suara 
PKS
> kurang 1 orang… Walaupun saat ini isu pemecatan Kepala Satpol PP
> akibat salah ringkus di razia itu sudah disepakati oleh semua Fraksi
> di DPRD Kota Jambi (di sini total ada 40 kursi), kecuali Fraksi PKS
> memilih abstain untuk menjaga objektivitas. Saya masih tidak habis
> pikir, bukankah istri Kepala Satpol PP itu juga seorang akhwat PKS?
> Ah, otak saya masih bebal membaca situasi politis terselubung di 
balik
> penangkapan berdalih pengamanan Pejabat itu. Tapi semua respon dan
> dukungan dari internal DPRD Kota Jambi tidak akan mengembalikan
> kehidupan Da Zul seperti sedia kala. Mungkin butuh bertahun-tahun
> untuk pulih, entahlah.
> 
> Saya ingin katakan bahwa mungkin Uda Zul bersalah secara syari'ah
> (baca: berdosa) dan kasus ini sudah diambil alih DPP. Tetapi tidak
> layak kita ikut-ikutan memojokkan beliau. Dalam hearing Komisi A
> sepekan setelah kejadian itu, saya katakan kepada perwakilan 
Poltabes,
> Satpol PP, dan rombongan wartawan PWI yang hadir, "Al insaan 
makaanul
> khotho' wa khoiru khothoo-ihaa at tawwabiin." (Manusia adalah tempat
> berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang
> mau bertaubat).
> 
> Sebagai sesama muslim, beliau adalah saudara kita yang punya hak-hak
> ukhuwwah dan harus kita tunaikan. Cukuplah beban vonis sosial yang
> ditanggungnya. Ingatlah istri dan anak-anak serta keluarga besar
> beliau ikut menanggung apa yang dirasakan Uda Zul. Sementara apa 
yang
> sudah kita lakukan hari-hari ini? Apakah memang kita merasa lebih 
baik
> akhlaqnya dibanding beliau? (Terutama untuk saya pribadi dan 1112 
Aleg
> PKS se-Indonesia, kiranya lebih berhati-hati terhadap potensi 
jebakan
> dari lawan-lawan politik)
> 
> Wallohu a'lam.
>


Kirim email ke