Perempuan itu berteriak memanggil namaku. Begitu melihatnya
waktu seolah mengerut, dan aku mulai berhitung berapa bilangan tahun namanya
tenggelam. Sembilan, sepuluh? Rasanya sudah ratusan tahun!
 
Kami berpelukan, di pinggir jalan layaknya dua kakak beradik
yang bermaafan setelah lama bertengkar. Memang ada rindu, dan juga maaf, karena
lama tidak mencari kabarnya. Rasa bersalah itu makin nyata saat ia mulai
bercerita. Katanya, dia mencariku kemana-mana, sayangnya, rumahku saja dia
sudah tidak ingat. Ah dasar, padahal tidak sekali dua dia pernah bertandang.
Sejak SMP hingga SMA, dia selalu yang rajin berkunjung.
 
Dia juga bercerita masih dengan binaran di matanya, tentang
apa yang dilakukannya sekarang, tentang karir, tentang kerja…heii bagaimana
dengan keluarga? Binaran itu sedikit meredup, meski sama sekali tidak ada bias
kesedihan, tapi terdengar kegetiran itu.
“Gue udah bubaran. Anak-anak sama mantan…”
Aku peluk ia sekali lagi, tak heran dia mencari-cariku.
Pasti banyak yang ingin ia ceritakan. Pasti banyak peristiwa yang telah ia
lewatkan, dan ia ingin berbagi. Kukutuki diriku yang selama ini asyik sendiri.
Sahabat macam apa yang melupakan orang yang pernah begitu setia bersama?
 
Ah, aku pikir dia sudah berbahagia. Segalanya kecukupan,
dengan tiga anak manis yang bahkan tak semuanya sempat aku tengok. Aku pikir
dia sudah melupakan aku, yang katanya sibuk berkarir sementara ia memilih jadi
ibu bagi tiga anak-anaknya. Dan, sepuluh pengabdian yang tulus itu berakhir.
 
“Mungkin ini udah garis hidup gue…” aku tahu ia berusaha
ikhlas menerima semuanya meski pasti tidak semudah dan seringan ucapan itu.
Pagi itu aku berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkannya. Berusaha
mengaitkan satu demi satu peristiwa yang secara acak ia ceritakan. Berusaha
memahami ia yang sekarang. Ya Allah, berikanlah kebahagian yang lebih buat
sahabatku ini, cuma itu pintaku. Kami kemudian berpisah dan berjanji akan
bertemu lagi.
 
Pagi ini perjalananku sunyi, ingatkan menerawang pada
belasan bahkan puluhan tahun silam. Film usang yang tidak akan pernah lekang
karena waktu karena keindahan bersamanya menyertaiku selalu. 
 
 


 
Buat seorang ‘Abang’ yang ikut membantunya menyelesaikan masalah,
thanks for the hand for my beloved best friend…J


      

Kirim email ke