Sekedar sharing,....

Selasa, 10 Maret 2009
Umat Islam Golput, Mereka Kompak Milih
Ditulis Oleh : Redaksi

Para uskup di Nusa Tenggara Timur (NTT) minta umat Katolik di provinsi
itu untuk tetap menggunakan hak politiknya pada Pemilu legislatif 9
April 2009, meski pada saat yang bersamaan sedang berlangsung upacara
keagamaan, yakni perayaan Kamis Putih.

"Para uskup (pemimpin tertinggi umat Katolik) di NTT minta umat
Katolik di daerah ini agar tidak golput," kata Gubernur NTT, Frans
Lebu Raya, kepada pers di Kupang, Minggu.

Gubernur Lebu Raya mengemukakan hal tersebut setelah mengadakan
pertemuan tertutup dengan para uskup di NTT untuk mendengarkan
aspirasi mereka seputar pelaksanaan pemilu legislatif pada 9 April
2009 yang bertepatan dengan perayaan Kamis Putih.

Dalam jumpa pers tersebut, Gubernur NTT Frans Lebu Raya didampingi
Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Depdagri, Akhmad
Tanribali, Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama, Stef Agus serta
Ketua DPRD NTT, Melkianus Adoe.

Sementara uskup di NTT yang hadir dalam pertemuan tertutup itu antara
lain Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang, Uskup Atambua Mgr
Dominikus Saku, Uskup Larantuka Mgr Frans Kopong Kupang, utusan dari
Keuskupan Weetebula di Pulau Sumba serta utusan dari Keuskupan Ruteng
di Pulau Flores bagian barat.

Gubernur Lebu Raya menjelaskan, hasil pertemuan dengan para uskup di
NTT yang dihadiri pula Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, H
Abdul Kadir Makarim akan ditindaklanjuti oleh Departemen Dalam Negeri
dan Departemen Agama.

"Setelah menerima masukan dari para uskup di NTT mengenai tradisi
keagamaan berkaitan Kamis Putih itu, Dirjen Kesbangpol Depdagri dan
Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama akan menindaklanjutinya dengan
menyampaikan persoalan tersebut kepada KPU sebagai lembaga
penyelenggara pemilu," katanya.

Dirjen Kesbangpol Depdagri, Akhmad Tanribali mengatakan, aspirasi yang
disampaikan umat Kristiani di NTT lewat para uskup terkait dengan
perayaan Kamis Putih itu akan dibicarakan lagi dengan KPU.

"KPU yang akan memutuskan, apakah pemilu legislatif, khusus di NTT
dapat digeser atau tidak dari tanggal 9 April. Lembaga inilah yang
akan memutuskan, karena Depdagri maupun Depag tidak memiliki otoritas
untuk menunda pelaksanaan pemilu," katanya.

Ia juga mengharapkan agar apapun keputusan yang akan dicapai nanti
bersama KPU, masyarakat NTT harus siap untuk menerimanya.

Gubernur Lebu Raya mengatakan, ada dua alternatif yang menjadi bahan
pertimbangan penting dalam pertemuan terbatas tersebut, yakni
pergeseran waktu pelaksanaan pemilu legislatif di NTT dan pemilu tetap
dilaksanakan pada 9 April, namun hasil penghitungan surat suara dapat
dilakukan setelah hari raya Paskah.

Alternatif tersebut, kata Gubernur NTT, khusus untuk Kabupaten Flores
Timur dan Lembata, karena pada saat itu umat Katolik setempat sudah
khusyuk dalam doa untuk menyambut prosesi Jumat Agung di kota
Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur di ujung timur Pulau
Flores.

"Pengecualian hanya kepada dua kabupaten tersebut, karena tradisi
keagamaan tersebut sudah berlangsung ratusan tahun yang tidak bisa
dibatalkan hanya karena sebuah kegiatan politik kenegaraan," katanya.

Gubernur Lebu Raya mengatakan, jika nanti KPU tetap memutuskan bahwa
pemilu legislatif tetap berlangsung serentak di seluruh Indonesia pada
9 April 2009 sesuai ketentuan UU, maka umat Katolik di daerah ini
diharapkan tetap menggunakan hak politiknya dengan tidak mengganggu
kekhusyukan prosesi rohani keagamaan.

"Atas dasar itu, para uskup di NTT minta agar umat Katolik di NTT
tetap menggunakan hak politiknya serta tetap melaksanakan prosesi
rohani keagamaan pada Kamis Putih dengan khusyuk. Kita harapkan,
kegiatan politik dan keagamaan berjalan dengan baik dan sukses," kata
Gubernur Lebu Raya.(*)

Kirim email ke