Brorenses rohimatumullah (gaya MZ)
Terima kasih dah membuat milis ini sebagai wacana brainstorming, kalu bukan 
jebolan sma 1, gak ada diskusi keren kayak gini, selesai bermimpi di TV, mari 
lanjut bermimpi di finansial, ini pengalaman gw pribadi, forum dibuka (no 
personalisasi ya, keep cool)

Temen2 Sekedar untuk wacana mengenai asuransi dan Financial Planning Saya 
Pribadi memutuskan untuk menghentikan Asuransi Unitlink Saya, (karena ini harus 
rela kehilangan uang 16juta), tetapi rugi yang saya derita tidak sampai 
kebablasan Akhirnya saya memutuskan pure asuransi tradisional dan investasi 
dinar. Saya punya buku keduanya (Buku Jangan Beli Unitlink dan Dinar 
Soluitons), jika ada yang ingin berminat membacanya saya akan pinjamkan. 

NB: Saya hanya orang awam yang berusaha memberikan informasi ke temen2, bukan 
agen atau sejenisnya ☺ Lengkapnya di : 

1.  Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah
 http://www.pkes.org/?page=profile_list&id=12 

2.  Asuransi Syariah Mubarakah (Asuransi Syari'ah Mubarakah tercatat sebagai 
satu-satunya perusahaan asuransi swasta nasional yang beroperasi secara 
syar'iah penuh di Indonesia-Pemilik Saham Orang Indonesia) 

http://www.mubarakah.com/_profile.php  

3.  Muhaimin Iqbal, Dinar Sebagai Solusi

 http://www.geraidinar.com/ 

4.  Jangan Beli Unit Link
 http://yusaksunaryanto.wordpress.com/2008/02/25/jangan-ambil-unit-link-sebelum-baca-ini/ 

5.  Perencana Keuangan 

http://www.perencanakeuangan.com/files/RagamInvestasi.html  

Jangan Ambil Unit Link sebelum baca ini (dikutip dari nomer 4)

Ditulis pada 25 Februari, 2008 oleh AdminAda beberapa ’teman’ yang tanya kenapa 
saya TIDAK BELI unitlink. Banyak banget alasannya Boss Smile. Mungkin ya… kalau 
ada teman-teman yang mau seperti saya Tongue out jawaban seperti di bawah ini 
bisa membantu heuheuheu…Mbak, produk kami adalah produk unitlink dari 
perusahaan ternama XYZ.Gak mau Mas, saya gak perlu unitlink.Tapi kan perlu 
investasi Mbak.Sudah investasi dong Mas. Untuk investasi saya pakai beberapa 
reksadana, beberapa bisnis, properti dan saham.Tapi reksadana kan ada risikonya 
Mbak.Unit investasi dalam unitlink itu kan reksadana juga Mas. Resiko 
investasinya sama saja, tergantung jenis instrumen di dalamnya.Unitlink kan ada 
asuransinya… dengan 1 juta / bulan, UP nya besar lho Rp 280 juta.No thank you. 
Rp280 juta gak cukup Mas. Itu cuma seharga mobil suami saya. Masak nilai nya 
suami saya disamain sama mobilnya? Kami sudah fully covered Mas, Uang 
Pertanggungannya Rp 1M, cuma bayar Rp 4 juta / tahun. Uang Pertanggungan Rp 4M, 
cuma bayar Rp 13 juta /tahun. Jauh kan?(FYI, asuransi jiwa term life 10 tahun 
untuk seseorang berusia sekitar 30 tahun, dengan Uang Pertanggungan di bawah Rp 
400 juta, paling-paling preminya hanya Rp 750 ribu / tahun)Dalam unitlink ada 
waiver dan rider yang sangat berguna lho Mbak. Jadi kalau ada apa-apa dan tidak 
dapat membayarkan premi nya lagi, perusahan asuransi akan melanjutkan 
investasinya. Jadi di tahun ke 13, uang sekolah S1 nya dapat tetap tercapai.UP 
asuransi jiwa kami sudah sangat memadai. Jadi kalau ada apa-apa, justru UP ini 
yang harusnya langsung keluar, gak usah nunggu 13 tahun lagi dan kami 
investasikan kembali sekarang. (Money today is worth more than money 13 years 
from now!) Target dana S1 anak saya 13 tahun lagi Rp 1,5 M, kalau UP nya 4M 
artinya didepositokan juga sudah cukup.Kalau sampai perusahaan asuransinya gak 
mau membayarkan klaim dengan UP jiwa ini pun, aset yang ada masih dapat 
dikelola agar menghasilkan nilai yang optimal.Yang ini ada investasinya lho 
Mbak.Unit investasi dalam unitlink itu sama saja dengan reksadana. Jadi 
investasinya langsung aja di reksadana Mas. Jadi kalau investasinya Rp 500ribu 
per bulan atau Rp 6 juta /tahun. Terus asuransinya dibeli terpisah dengan 
asuransi jiwa term life 10 thn (beserta asuransi kecelakaan), UP Rp 1 M, premi 
Rp 4 juta /tahun. Jadi dengan bayar Rp 10 juta / tahun saya dapat UP lebih 
besar, investasi saya di reksadana cuma dipotong 0% - 2% subscription fee. Tadi 
Mas kasih saya ilustrasi Rp 12 juta /tahun, UP cuma Rp 280 juta, unit investasi 
dipotong fee 5% dan tahun-tahun pertama gak langsung masuk ke unit 
investasinya.Oh Term life, itu kan traditional Mbak. Kami udah gak jual 
itu.Kenapa dong gak mau jual? Mau traditional atau modern gak masalah Mas. Yang 
penting produknya membuat Financial Plan saya efisien. Dengan mengeluarkan uang 
yang lebih sedikit, saya dapat lebih banyak coverage dan unit investasi yang 
saya dapatkan lebih banyak, gak dipotong-potong fee terlalu banyak. Ini belum 
ngomongin return lho.Term life kan gak ada nilai tunainya Mbak? Terus kalau 
sudah tua, umur 55 misalnya, jadi mahal kan preminya Mbak.Saya perlu asuransi 
jiwa untuk perlindungan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya tidak 
beli asuransi untuk cari nilai tunai. Semua nilai tunai tercapai dengan 
investasi yang sistematik. Saya membuat Financial Plan keluarga saya lengkap 
dengan Dana Darurat dan investasi dibagi berdasarkan tujuan. Jadi keperluan 
asuransi pun harus direview tiap tahun.Umur 55 tahun harusnya sudah siap dengan 
dana pensiun dong. Jadi gak perlu lagi asuransi jiwa. Kalau pun belum punya 
dana pensiun, anak-anak harusnya sudah besar-besar. They should take care of 
themselves, gak perlu lagi nilai tunai atau Uang Pertanggungan asuransi jiwa 
dari kami. Umur segitu yang saya perlukan jadinya asuransi kesehatan untuk 
pensiunan dan Dana Pensiun dalam jumlah besar.Betul Mbak, kesehatan penting 
sekali. Yang ini ada untuk penyakit kritisnya Mbak. 40 penyakit kritis yang 
dicover.Permisi ya… coba deh periksa di polis asuransi yang sudah jadi. 
Asuransi penyakit kritis ini gak akan langsung keluar begitu kena diagnosa. 
Fungsi asuransi penyakit kritis ini fungsinya seperti asuransi kecelakaan : 
untuk menggantikan hilangnya penghasilan karena ketika kena penyakit kritis 
kita gak bisa bekerja normal lagi. Bukan untuk mengobati. Jadi kalo kena 
diabetes, masih bisa hidup 7 tahun lagi, ya gak keluar tuh UP penyakit 
kritisnya. Gagal ginjal kedua-duanya dan tidak bisa transplan lagi, baru keluar 
UP penyakit kritisnya. Stroke, keluar UP nya. Kanker, stadium 4 baru keluar UP 
nya.Jadi kalau kena penyakit kritis gimana dong Mbak?Harusnya Dana Daruratnya 
ada tuh Mas kalo cuma mau Rp 280 juta. Kalau kuatir dengan bagaimana mengobati 
penyakit kritis, kita perlu asuransi kesehatan yang bagus banget – yang mau 
bayarin biaya berobat rutin untuk penyakit kronis. Terutama yang ada guarantee 
renewability nya. Nah di Indonesia belum ada aturan yang mengharuskan guarantee 
renewability, jadi mending ambil asuransi kesehatan yang premium, udah ada kok 
dari luar negeri. Tinggal dibandingkan mana yang prioritas, beli asuransi 
premium ini atau investasi. Premi asuransi kesehatan premium itu berkisar 
antara US$700-US$7000, dengan benefit pembayaran jika sakit yang aduhai 
juga.Yang syariah juga ada lho Mbak(may be it’s the jilbab thing hehehe)Mas, 
bukan soal syariah gak syariahnya. Tapi struktur produk unitlink nya ini yang 
gak nyambung sama sekali dengan Financial Plan saya. Kalau mau cari produk 
syariah, reksadana juga banyak yang syariah.Return unitlink tinggi lho 
Mbak.Kalau mau return tinggi, justru jangan di unitlink Mas. Reksadana Saham 
tuh resiko tinggi, return juga sekarang lagi tinggi. Sama kan unitlink juga 
punya kok reksadana saham, disebutnya equity fund, padahal sama aja. Jadi 
tinggal liat, hayo berapa return equity fund nya?Itu kan cuma urusan MI mana 
yang lebih jago aja. Jadi siapa MI nya?Schroders, Fortis, Manulife, Trimegah, 
Danareksa? MI-MI itu semua jual reksadananya sendiri lho, beli langsung atau 
lewat bank juga bisa, subscription fee nya juga lebih rendah 0%-2%, di unitlink 
3%-5% kan? Coba deh cek siapa MI nya. Kalau MI ini gak jual reksadananya (baca: 
unit investasi dari unitlink) kecuali lewat asuransi yang sister companynya, 
malah gawat dong. Artinya distribusinya terbatas sekali. Ya simple aja, 
bandingin performance nya dengan MI lain. Kita mempercayakan dana kita dikelola 
oleh MI, ya harus mau membandingkan MI-MI ini dong.Tapi, ngapain saya beli 
reksadananya Schroders, Manulife, Fortis atau Danareksa lewat asuransi kalo 
saya bisa beli langsung ke mereka atau lewat bank?(FYI periksa performance MI 
di unitlink dan reksadana. Harusnya dalam 3 tahun terakhir equity fund dari 
unitlink dan reksadana dapat menghasilkan return > 40% per tahun. Jadi kalau 
ada MI yang equity fund nya di tahun 2005 hanya menghasilkan 14%…. tanya 
kenapa! Yang bener aja, diputerin ke mana tuh uangnya, ngaku aja equity fund, 
jangan-jangan isinya bukan saham. Gawat gak tuh?)Ya diversifikasi aja Mbak. 
Kalau punya uang lebih, bisa ditaro di unitlink.Mas, unit investasi dalam 
unitlink itu sama aja dengan reksadana. Jadi kalau mau diversifikasi bukan 
lewat unitlink, tapi di jenis instrument nya. Money Market, Fixed Income, 
Balance or Equity. Jadi diversifikasi bukan liat di struktur asuransi yang 
digabungkan dengan unit investasi reksadana dong. It doesn’t make sense.Ya tapi 
kan gak semua orang seperti Mbak Wina…Lho, kenapa gak? Tell me : Why not?Coba 
kasih alasan yang bener.Kenapa kita semua gak bisa bikin Financial Plan yang 
komprehensif – yang lengkap – yang betul-betul memperhatikan semua kebutuhan 
keluarga kita? Kenapa kita semua gak bisa membuat diri lebih pintar supaya bisa 
mengerti semua isi dagangan produk-produk investasi atau asuransi yang sedang 
ditawarkan di depan mata kita?Kenapa kita semua gak bisa membeli produk 
keuangan dengan lebih efisien, sehingga gak bayar fee kebanyakan, gak beli 
produk yang underperforming, dan bisa mencapai lebih banyak tujuan finansial 
dengan lebih cepat?Gak ada kan alasan supaya kita gak bisa begitu?Tell me why I 
need this??? Frown Seriously…Listen up! Let’s say this together… out loud…You 
ARE smart! You continuously gain more knowledge on investment. Check out the 
numbers and let the numbers speak to you…Numbers don’t lie!Ligwina Hananto
AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone powered by XL

Kirim email ke