Surat Imajiner untuk Ki Hajar Dewantara
(menyambut hari pendidikan nasional) by : MIK
Ki Hajar yang terhormat,
begitu anda menerima surat ini aku yakin anda akan bingung dan bertanya-tanya
tentang siapa aku yang dengan berani dan lancang menulis surat ini, sebab dari
sekian banyak teman dan murid-muridmu tidak ada yang mempunyai nama sepertiku.
Sebelum aku memperkenalkan diriku lebih jauh, pertama izinkan aku untuk
memanggilmu dengan sebutan Ki , sebagaimana teman dan murid-muridmu
memanggilmu demikian, selain itu aku juga ingin mengucapkan selamat ulang tahun
buatmu. Barangkali ucapan selamat dariku juga membuat anda tambah bingung
bagaimana aku sampai tahu hari ulang tahunmu.
Ki, panggil aku inlander seperti orang tua dan teman-temanku memanggilku, nama
itu sebenarnya bukanlah nama asli Ki, hanya nama julukan. awalnya aku tidak
mengerti mengapa orang tuaku memberiku julukan demikian. Tetapi setelah aku
beranjak besar aku mengerti dengan sendirinya.
Aku dilahirkan di sebuah dusun terpencil di negeri ini yang diatas peta pun
tidak tercantum namanya. Sebenarnya aku dilahirkan tidak dengan nama tersebut
Ki, orang tuaku memberi nama Setianegara, dengan harapan kelak kalau aku besar
bisa menjadi seorang yang mengadi dan berbakti pada negeri ini. Namun karena
satu dan lain hal kemudian orang tuaku tidak menggunakan nama itu untuk
memanggilku, tetapi menggantinya dengan julukan yang menurut mereka pas dengan
kondisi dan keadaan yang kami jalani.
Orangtuaku merupakan kebanyakan orang dinegeri ini, yaitu kelas bawah yang
terdiri dari para petani, nelayan, buruh dan pegawai rendahan. Hampir semua
dari kami tidak lagi mempunyai lahan, tidak bisa melaut, tidak mempunyai kerja
kalaupun kami bekerja, penghasilan yang kami peroleh tidak cukup untuk hidup
layak. Kondisi yang demikian itu membuat kami tidak menikmati kemerdekaan yang
katanya sudah ada di negeri ini. Kemerdekaan yang memang sesuatu yang mahal,
tetaplah menjadi barang yang mewah bagi kami kaum bawah.
Ki, aku teruskan ceriteraku, semoga anda tidak bosan. Kondisi yang demikian itu
membuat orang tuaku tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk yang lainnya. Hal tersebut
berimbas padaku, aku tidak bisa sekolah !!
Di negeri ini sekarang yang bisa sekolah hanyalah anak-anak orang berpunya,
anak para saudagar, ambtenar, wedana,bupati, tumenggung danpetinggi-petinggi
lainnya. Sedangkan aku anak seorang petani hanya bisa menggigit jari dan
menggantung angan diatas langit yang mendung. Biaya sekolah semakin menjerat!!.
Kata kakekku kondisi ini sama seperti waktu dia kecil dahulu, dia juga tidak
bersekolah karena bukan anak orang berpunya. Sama juga seperti dahulu, yang
bisa bersekolah hanyalah anak-anak para ambtenar dan petinggi lainnya. Tetapi
yang membedakan adalah bahwa para ambtenar dan petinggi tersebut merupakan
orang-orang jauh yang menumpang dan menguasai negeri ini, sehingga
aturan-aturan yang di buat hanya diperuntukan dari dan untuk mereka. Sedangkan
kaum pribumi hanya hidup terkekang di negerinya. Artinya antara mereka dan
kitamemang berbeda, karena dilahirkan dari ibu yang berbeda.
Apakah memang zaman berputarnya seperti ini Ki, padahal kan sekarang aku hidup
di negeri sendiri yang sudah bebas dan merdeka, tidak menumpang, para punggawa
itu satu darah dengan ku, tetapi sepertinya tidak ada perubahan dari zaman
kakekku dulu. Atau memang aturan-aturan yang dibuat juga hanya untuk mereka
yang berpunya saja? Lantas apa bedanya antara ambtenar dulu dan sekarang,
punggawa dulu dengan sekarang?. Aku bingung Ki
Kalau aku membaca zamanmu aku merasa iri Ki, karena pada saat itu walaupun
kondisi negeri ini dikuasai oleh orang-orang jauh, tetapi banyak orang-orang
sepertimu yang memikirkan orang-orang sepertiku. Pasti anda kenal Sukarno,
Hatta, Syahrir, Natsir dan banyak lagi yang aku sendiri tidak ingat satu
persatu. Mereka-mereka itu walaupun berasal dari kaum berpunya tetapi mereka
sedekahkan hidupnya untuk orang-orang sepertiku. Mereka nahkodai negeri ini
menuju dermaga kebebasan dan kesejahteraan. Tidak seperti para nahkoda sekarang
Ki, mereka malah asyik berlayar sendiri-sendiri menuju gerbang kehancurannya
negeri. Sesama mereka saling berlomba tanpa memikirkan penumpangnya yang
penting diri mereka selamat.
Wah aku ngelantur lagi ya Ki?, tapi itulah mungkin kenapa orang tuaku merubah
namaku menjadi inlander , karena nasibnya sama seperti dahulu ketika negeri ini
masih dikuasai orang-orang jauh.
Oh iya, satu lagi Ki, aku tahu hari ulang tahunmu karena pada setiap tanggal
tersebut di negeri ini diperingati sebagai HARI PENDIDIKAN NASIONAL karena para
punggawa negeri ini ingin semangatmu dalam mengentaskan masyarakat dari
belenggu ketidaktahuan diketahui dan diwarisi oleh anak negeri lainnya. Tetapi
perlu anda ketahui ternyata sekarang ini hanya sebatas peringatan tidak jauh
beda dengan peringatan ulang tahun orang-orang berpunya yang penuh dengan pesta
pora setelah itu tinggal sang pembantu mencuci piringnya. Repotnya para
pembantu yang ada malas, tidak bermata dan bertelinga , sehingga tidak pernah
benar-benar bersih.
Sebagai penutup, tolong sampaikan salamku buat teman teman anda yang lain,
kabarkan bahwa di negeri ini sekarang tidak seperti yang mereka cita-citakan.
Indonesia, 28 April 2009
Tertanda,
“Yang mencoba berdiri tegak diatas tanah yang labil ”