Sekedar tambahan info untuk kawan-kawan yang ingin B2W tapi takut polusi udara.

best regards,
Apip Kamil
fis 3 - 91

Bike To Work vs Polusi Udara
Contributed by Ozy
Tuesday, 31 October 2006
Last Updated Tuesday, 31 October 2006

Alasan utama orang enggan melakukan bike-to-work selain kondisi lalu-lintas 
yang semerawut adalah bahaya polusi udara terhadap kesehatan. Banyak yang 
mengatakan para pesepeda sebagai orang gila yang mau bunuh diri. Khususnya di 
kota Jakarta yang konon kabarnya adalah kota no.3 ter-polusi di dunia.
Lalu diantara pemakai jalanan seperti pengguna sepeda motor, mobil, metromini, 
bajay atau bus, apakah pengendara sepeda menjadi korban yang terparah? Ingat, 
kita semua termasuk pejalan kaki, hewan dan tanaman yang berada di kota besar 
seperti Jakarta, sebenarnya sudah menjadi KORBAN
POLUSI UDARA yang kita produksi setiap saat, setiap hari, setiap tahun, bahkan 
mungkin sepanjang hayat. Yang terparah sudah bisa dipastikan adalah pengguna 
jasa bajay, metromini dan bis. Bagaimana tidak selain seringkali 
berdesak-desakan, dan menghirup udara terpolusi langsung, ditambah lagi para 
perokok yang seakan tidak mau peduli dengan aturan larangan merokok ditempat 
umum *&^%&^...@!.
Pengguna mobil, jangan dikira kalau sudah pakai AC lalu bisa bebas polusi, 
belum tentu loh. Kebersihan dalam mobil yang jarang dibersihkan seringkali 
menjadi sarang yang nyaman bagi bakteria udara terutama pengguna taxi. Kondisi 
mobil yang tidak lagi baru dan prima menyebabkan
udara luar masuk dengan mudah dan ini yang kita hirup .... belum lagi kalau 
kondisi jalan lagi macet-macetnya.
Pengendara sepeda motor, sepanjang mereka masih dapat bergerak mencari udara 
lebih segar, masih lebih lumayan; makanya disetiap lampu merah mereka selalu 
berusaha merangsek kedepan sampai melewati batas berhenti. Hanya saja di 
Jakarta kalau lagi macet, motor-pun kerap kali
turut menderita, dan apesnya lagi mereka menghirup udara ”segar” 
yang
terkontaminasi polusi asap knalpot.

Bagaimana dengan pengendara sepeda?

Para pekerja bersepeda hampir dipastikan berusaha untuk menghindari jalur yang 
pengap dengan polusi udara, mereka lebih tertarik mencari jalan alternatif yang 
jarang dilalui kendaraan bermesin, bahkan tidak jarang masuk ke jalan-jalan 
tikus untuk mencari jalur yang rendah polusi. Belum lagi sepeda yang ringan dan 
lincah memungkinkan untuk selalu bergerak dikepadatan lalu lintas.
Keuntungan lain bagi para pesepeda adalah secara tidak langsung telah melakukan 
olah-raga memperkuat otot, mengurangi lemak, melatih koordinasi keseimbangan 
dan juga meningkatkan kemampuan cardio. Dan ini jelas membutuhkan oxygen yang 
lebih banyak dibandingkan mereka yang pasif, duduk dalam mobil atau kendaraan 
umum. Bagusnya bagi olahragawansepeda, mereka menghirup dan menghembuskan lebih 
banyak udara dibandingkan mereka yang pasif tadi dalam satuan waktu yang sama. 
Sehingga hazardous particles tidak sempat mengendap di paru-paru dan
salurannya.

Bagaimana mengurangi efek polusi udara ketika bersepeda?

Tidak seperti kebanyakan pengguna sepeda motor yang menggunakan kain sebagai 
masker atau masker kasa. Para pekerja bersepeda sudah banyak yang menggunakan 
masker khusus untuk racun ringan yang dapat ditemukan dengan mudah ditoko 
bangunan dengan harga cukup terjangkau
(sekitar 30-40ribu + 4500 untuk replaceable filter-nya). Memang pada awalnya 
menggunakan masker ini membuat bernafas menjadi sulit, tapi setelah beberapa 
kali, biasanya kendala ini bisa diatasi.

Hasil penelitian ilmiah dibelahan bumi lain berikut ini juga membuktikan bahwa 
pengguna mobil ternyata lebih beresiko terkena efek polusi udara lebih parah 
dibandingkan pesepeda.

Differences in cyclists and car drivers exposure to air pollution from traffic 
in the city of Copenhagen.
Rank J, Folke J, Jespersen PH. University of Roskilde, Department
of Environment, Technology and Social Studies, Denmark. [email protected]

It has frequently been claimed that cycling in heavy traffic is unhealthy, more 
so than driving a car. To test this hypothesis, teams of two cyclists and two 
car drivers in two cars were equipped with personal air samplers while driving 
for 4 h on 2 different days in the morning traffic of Copenhagen. The air 
sample charcoal tubes were analysed for their benzene, toluene, ethylbenzene 
and xylene (BTEX)
content and the air filters for particles (total dust). The concentrations of 
particles and BTEX in the cabin of the cars were 2-4 times greater than in the 
cyclists' breathing zone, the greatest difference being for BTEX. Therefore, 
even after taking the increased respiration rate of cyclists into 
consideration, car drivers seem to be more exposed to airborne pollution than 
cyclists.

Health Promotion Journal of Australia 2004;15:63-7:


Issue addressed: International studies have consistently found that exposure to 
air pollutants is higher inside cars than outside. However, few studies have 
compared personal exposure to air pollutants by travel mode focusing on usual 
travel patterns.
Objectives: To compare the exposure to benzene, toluene,ethylbenzene and xylene 
(BTEX) and nitrogen dioxide (NO2) for commuters in central Sydney for five 
different commuting modes.

Results: The highest pollutant levels for all four BTEX pollutants were found 
for car commuters. Train commuters recorded the lowest pollutant levels for all 
four BTEX pollutants and NO2, and these levels
were significantly lower than that for car commuters. Commuting by bus recorded 
the highest levels for NO2. Walking and cycling commuters had significantly 
lower levels of exposure to benzene compared with car commuters and 
significantly lower levels of NO2 than bus commuters.

Conclusions: The results of this study are consistent with the findings of 
studies in other cities and found elevated levels of exposure to motor 
vehicle-related pollutants in roadway microenvironments. Strategies that 
encourage commuting by train, walking and cycling should be supported as this 
reduces population exposure to motor vehicle-related pollutants.

Terlampir juga beberapa referensi terkait dengan pembahasan di atas;

1. Carnall D. Cycling and health promotion. A safer, slower urban road 
environment is the key. BMJ  2000; 320: 888.
2. Mersy DJ. Health benefits of aerobic exercise. Postgrad Med 1991; 90: 103-7 
and 110-2. 
3. Kelley GA. Effects of Aerobic exercise in normotensive adults: a brief 
metaanalytic review of controlled clinical trials. South Med J 1995; 88: 42-46. 
4. http://www.nationalcyclingstrategy.org.uk/Health.pdf 
5. Rutter H. Modal shift. Transport and health. A policy report on the health
benefits of increasing levels of cycling in Oxfordshire 
6. Leeds cycling action group. Cycling and Health 
7. Scully D, Kremer J, Meade MM et al. Physical exercise and psychological 
wellbeing. In MacAuley D
(Ed.) Benefits and hazards of exercise. London: BMJ Books 1999. 
8. Fentem PH. ABC of sports medicine. Benefits of exercise in health and 
disease. BMJ 1994; 308: 1291-5. 
9. Joakimsen RM, Magnus JH, Fonnebo V. Physical activity and predisposition for 
hip fractures: a review. Osteoporosis Int 1998; 7: 503-13. 
10. Rank J, Folke J, Jespersen PH. Differences in cyclists and car drivers 
exposure to air pollution from traffic in the city of Copenhagen. Sci Total 
Environ 2001; 279: 131-6.


Kirim email ke