Soal tagline itu, gua si ngeliatnya sekolah tidak secara keras menolak orang 
miskin, tapi orang miskin ternyata tahu diri dengan tidak memasuki sekolah 
berbiaya tinggi. Orang miskin gak mau tahu apakah itu sekolah berstandar 
internasional, punya kerjasama sama Australia atau Israel..mereka tahunya 
pingin anaknya jadi pintar dengan biaya yang murah kalau bisa 
gratis..tis..tis....Di Jerman sekolah gratis, di Brasil juga demikian...di 
Indonesia kurikulum aja berstandar Internasional, tapi biaya standar mana juga 
entah. Lagian ngapain si pake standar Internasional?? Itu bukti bahwa 
pemerintah kita belum bisa menentukan standar Indonesia bagi pendidikan di 
negerinya sendiri. Dan penyelenggara pendidikan begitu bangga dengan status 
standar Internasional (Internasionalnya yang mana juga entah), bangga ber cas 
cis cus di sekolah pake bahasa Inggris dan lupa bahasa Indonesia begitu 
mantabnya....Padahal kalo ngikutin standar Internasional, AS misalnya, 
menekankan
 pentingnya prestasi akademis dengan prestasi ekstrakurikuler. Jadi siswa 
dituntut punya nilai kelas yang bagus sekaligus atlet panjat dinding nasional 
misalnya...Contoh terbaik ada di Film judulnya Coach Carter.....atau merubah 
cara pandang siswa dengan membiasakan menulis seperti di film Freedom 
Writers....di sini??Boro2 mo olahraga, olah otak aja keteteran...pendidikan 
Indonesia tu macam bank...guru menabung di kepala murid, dan satu saat akan 
ditarik kembali lewat serangkaian ulangan..Jadi siswa cuma bisa menerima aja 
kayak robot...

Untuk mengatasi mahalnya biaya pendidikan, gw pikir salah satu cara dengan 
memberikan bantuan dana bagi siswa kurang mampu, seperti yang dilakukan 
beberapa alumni, memang
bisa menjadi cara yang efektif. Tapi (selalu ada tapinya neh...),
pemberian beasiswa model begini tidak mendidik bagi penyelenggara
pendidikan. APalgi jika disertai ancaman DO karena nunggak bayaran
sekolah. Sekolah tu buat mencerdaskan bangsa atau membuat bangsa
semakin bodoh???? Penyelenggara pendidikan seolah tutup mata akan hal
ini, padahal masalah dengan telak ada di depan mata mereka. Mereka tahu
kondisi siswanya....

Segala daya upaya demi kemajuan pendidikan,
seperti beasiswa dan bantuan dana bagi siswa, memang merupakan
penghargaan tertinggi..bagi gua yang paling penting adalah membuka mata
para penyelenggara pendidikan, dan ini bisa dilakukan dengan cara
"keras"....hehehe

 
It's only a transition...

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
[email protected]
[email protected]
omongkosongku.blogspot.com
answerlieswithin.multiply.com
  
 




________________________________
From: zulhamidi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, May 30, 2009 11:37:27 PM
Subject: [sma1bks] Tanggapan Re: Dicky, Benarkah di SMA I sekarang, Orang 
Miskin dilarang sekolah?





Jadi tertarik berkomentar ...

Soalnya kalo ada kalimat "Orang Miskin dilarang sekolah" itu berarti sekolah 
kita menolak kehadiran orang miskin 

Memang secara sadar atau tidak kita harus melihat ini sebagai satu kesatuan 
utuh dari yang namanya sistem yang berlaku di pendidikan kita....

Bukankah peraturan pendidikan yang berlaku di indonesia mengatakan bahwa 
dilarang melakukan pungutan biaya pendidikan untuk sekolah tingkat dasar sampai 
SMA

Tetapi itu hanya berlaku yang reguler.... dan tidak berlaku untuk sekolah yang 
rintisan bertaraf standar internasional.

Alhasil sekolah pun berlomba-lomba untuk meningkatkan sekolahnya menuju standar 
internasional minimal rintisan nya ...

Hal ini sudah terjadi sejak peraturan ini akan dikeluarkan 2006 lalu dimana 
pendidikan gratis baru berlaku untuk program 9 tahun dan mulai 2008 berlaku 
pula untuk SMA/SMK dan MA

So, SMAN 1 Bekasi yang memang sudah dijadikan sekolah yang diunggulkan di 
tingkat kota, propinsi, nasional dan bahkan (kata adek kelas) unggulan di 
tingkat internasional memanfaatkan celah peraturan tersebut untuk memanfaatkan 
peluang pendanaan yang besar untuk kebutuhan sekolah ...(karena menurut saya, 
dana BOS dari pemerintah rasanya tidak cukup memenuhi kebutuhan kalau hanya 
sekedar sekolah reguler saja)

Entahlah, apakah merupakan tuntutan atau kah mengejar prestise atau memang 
merupakan target prestasi para pimpinan sekolah kita, kemudian dibukalah 
program dan kebijakan yang berdampak pada kulaitas sekolah kita dalam 3 tahun 
belakangan 

Diantaranya :

1. Dibuka program kelas Akselarasi (terakhir dibuka dua kelas) dimana siswa 
sekolah hanya cukup menempuh dua tahun dari normalnya 3 tahun. So, kurikulum 
yang ada menjadi begitu padat dan siswa-siswi yang ada di program ini nyaris 
terus belajar dan cenderung study oriented

2. Dibukanya dual program Internasional bekerjasama dengan Instusi pendidikan 
yang ada di Australia .... sehingga mendapatkan ijazah dobel (kalo ngga salah) 
dan berhak mendapatkan kesempatan melanjutkan keluar negeri... Dampaknya 
sekolah memberikan penekanan penguasan bahasa Inggris dalam percakapan yang 
digunakan dalam proses belajar mengajar

3. Program Sekolah berbasis lingkungan dengan turunan programnya yang kemudian 
menitikberatkan pada penjagaan kondisi dan sarana-prasarana sekolah yang 
memadai dan percontohan dalam memadukan lingkungan yang asri dan sebagainya.. . 
Sehingga menambah biaya perawatan dan peningkatan fasilitas sekolah

4. Uang SPP yang dikenakan kepada siswa (menurut kabar dari Arman Direktur PAA 
Adik Asuh Alumni) untuk kelas X bisa mencapai 400 ribuan ....

Ekses yang bisa didapat dari program yang tadi menurut saya adalah diantaranya :

1. Siswa kurang meminati lagi program Ekstrakurikuler di SMA, karena siswa 
lebih mementingkan akademis nya karena selain biaya sekolah yang mahal, 
ditambah lagi beban akademis dan input siswa yang kebanyakan menengah ke atas 
dan cenderung enggan untuk hal-hal yang terlalu serius dan melelahkan.. . 

Hal ini bisa dilihat dari peminat siswa untuk mengikuti program Merpati Putih 
dan sebagainya ....NAmun hal ini dapat dibantu dari kebijakan sekolah yang 
menunjang jalannya program ekstrakurikuler tertentu ... (karena memang sudah 
ditentukan di tingkat walikota untuk kebutuhan perwakilan daerah di event-event 
tertentu)... . entahlah apakah hal ini merupakan solusi tepat... Sebaiknya 
siswa lebih diajak untuk kompromistis terhadap penyeimbangan input yang akan 
mereka dapatkan di antara kurikulum, ekstrakurikuler dan kerohanian.. . agar 
seimbang 

2. Siswa umumnya cenderung untuk menambah jadwal belajar dengan ikut berbagai 
les dan kursus di luar sekolah (karena faktor kekhawatiran yang over terhadap 
standar lulusan dan ditunjang kemampuan finansial orangtua) dan menambah 
kegiatan di luar agenda sekolah dan cenderung membuat lelah dan sebagainya.. . 
sehingga walau pun secara akademis baik namun dari segi fisik dan interaksi 
yang ada akan terkuras tidak maksimal 

Akhirnya pameo "pendidikan yang berkualitas akan memakan biaya tinggi" sulit 
untuk dihindari lagi ...

Saran saya :
1. MEningkatkan kemampuan sekolah untuk mencari pendanaan yang tidak 
berbasiskan siswa.... Contoh dengan menerapkan sekolah berbasis 
enterpreneurship seperti yang dilakukan institusi perguruan tinggi... namun hal 
ini rawan terbentur kendala aturan yang ada, karena sekolah tidak sama seperti 
Perguruan Tinggi yang fleksibilitas dan tuntutan pengabdian ke masyarakat luas 
PT yang harus dilakukan

2.Membangun sarana penunjang dengan bekerjasama dengan Masyarakat dan Dunia 
Industri (seperti yang dikampanyekan dalam program Komite Sekolah)

Hanya memberikan pandangan yang mungkin cenderung subyetif dari saya semata ..  
tapi semoga almamater tercinta dapat terus berkembang lebih baik lagi...

Salam Alumni 

Zulhamidi 
Instruktur Primagama KAlimas
Angkatan 2004

--- In sma1...@yahoogroups .com, komarudin ibnu mikam <komaribnumikam@ ...> 
wrote:
>
> *Ini tulisan dicky di milis inswapala... ...
> 
> Gue tantangin lo, kalo berani. Ngomong sekarang. Kalo takut, gue batalin neh
> tema....
> di sini, di forum yang lebih luas. Ini kan ibaratnya lapangan upacara. Dari
> Ustad sampai preman babelan ada.
> Hayo keluar sini.......
> 
> *PROVOKATORDOTKOM
> 
> 
> From:* Dicky Kurniawan <marcial_riquelme@ yahoo.com>
> *To:* inswap...@yahoogrou ps.com
> *Sent:* Thursday, May 28, 2009 2:21:22 PM
> *Subject:* Re: [inswapala] kabar burung
> 
>   Kalau memang benar maka bagus banget tu almamater kita tercinta...
> Dari dulu memang jadi barometer pendidikan menengah atas di Bekasi. Jaman
> gua sekolah, salah satu indikatornya adalah kelulusan ke PTN  yang tinggi.
> Tapi dulu mah yang lulus UMPTN sebagian besar memang mengikuti pelajaran
> tambahan beserta pelatihan trik-trik mengerjakan soal UMPTN di luar sekolah
> alias bimbel. Kalo mengandalkan kurikulum sekolah mah jauh amat, antara
> materi yang dikasi guru-guru sekola sama soal di UMPTN. Kalo memang serius
> mo bagus di akademik, mestinya guru-guru itu ditingkatkan kemampuan
> mengajarnya. ..siswanya dikasi kebebasan berekspresi. ..beri ruang
> seluas-luasnya bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakatnya, bukan saja
> pada bidang akademik, tapi juga non akademik.
> 
> Tapi jangan-jangan ini proyek mercusuar yang semakin menegaskan: ORANG
> MISKIN DILARANG SEKOLAH!!!
> 
> 
> *It's only a transition.. .
> 
> Dicky Kurniawan
> *News Camera Person
> *NEWS DIVISION
> PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
> Gd. Trans TV 3rd Fl.
> Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
> Jakarta Selatan 12790
> *+628174964705
> marcial_riquelme@
> yahoo.com<http://us.mc01g. mail.yahoo. com/mc/compose? to=marcial_ riquelme@ 
> ...>
> dicky.kurniawan@
> gmail.com<http://us.mc01g. mail.yahoo. com/mc/compose? to=dicky. kurniawan@ 
> ...>
> omongkosongku. blogspot. com <http://omongkosongk u.blogspot. com/>
> 
> answerlieswithin. multiply. com
>


   


      

Kirim email ke