Yang paling atas...

Katanya PLN lebih milih pembangkit listrik yang mengkonsumsi BBM ketimbang
pakai Panas Bumi yang harganya jauh2 lebih murah....
Alasannya... kalau PLN pakai BBM... akan di-reimburse pemerintah... kalau
panas bumi gak akan di-reimburse...

Yang lainnya soal aturan di Indonesia soal minyak dan gas bumi.... yang juga
masih ruwet....
Jadi jangan nasionalis buta... tapi nasionalis yang rasionalis... win-win
sebaiknya.

Salam,
Morry Infra
+966-533214840
2009/6/27 komarudin ibnu mikam <[email protected]>

>
>
> Jujur neh...
> saya gak begitu ngerti dengan tema ini.
> Ada yang bisa ngejelasin dengan bahasa awam gak?
>
> thanks ya.....
>
> 2009/6/27 Arief Kurniawan <[email protected]>
>
>
>>
>> Wuih dalem, tapi beberapa BUMN sudah revolusioner cth telkom, pertamina,
>> tapi memang sepertinya PLN belum terdengar nih. Padahal malaysia aja dah mau
>> eksport listrik ke sumatera dengan bahan bakar batubara. And parahnya lagi
>> batubaranya dari kalimantan.....gubrak banget dah......
>>
>> AriefK
>>
>> Sent from my NerdBerry® freakz smartphone powered by XL
>>
>> ------------------------------
>> *From*: Morry Infra
>> *Date*: Sat, 27 Jun 2009 04:11:52 +0300
>> *To*: 'sma1bks'<[email protected]>
>> *Subject*: [sma1bks] Fwd: Dik Iman: Harga energi domestik dan
>> Nasionalisme
>>
>> Share permasalahan energi di Indonesia.....
>>
>> ---------- Forwarded message ----------
>> From: Widjajono Partowidagdo <>
>> Date: 2009/6/27
>> Subject: [] Dik Iman: Harga energi domestik dan Nasionalisme
>>
>>
>> Dik Iman,
>>
>> Apakah PLN berpikir sehat?. Saya pernah tanya Ir. Ali Herman (EL 72) pada
>> rapat di DESDM pada waktu dia masih jadi Direktur PLN: "Kenapa PLN tidak mau
>> beli panasbumi yang biayanya $ 8c/KWH dan kalau pasokan listrik tidak cukup
>> malah memakai BBM yang biayanya $ 30c/KWH. Kenapa PLN kalau beli gas maunya
>> murah sekali dan mikirnya panjang sekali, tetapi kalau pakai BBM tidak
>> mikir?." Waktu itu harga minyak $120/barel. Selesai rapat dia menemui saya
>> dan bilang: " Kalau saya bukan Direktur PLN saya akan bilang seperti Mas
>> Wid. Sebagai Direktur PLN bagaimana saya tidak memilih BBM karena kalau saya
>> memakai BBM dijamin diganti oleh APBN, sedangkan kalau memakai panasbumi dan
>> gas tidak". Seminggu kemudian dia berhenti dari PLN dan kemudian kerja di
>> Bakrie. Sekarang dia menyuarakan seperti yang saya suarakan karena Bakrie
>> mengusahakan panasbumi.
>>
>> Saya tidak mau bilang PLN tidak sehat. Hanya, menurut saya ada yang tidak
>> sehat di Negeri ini sehingga pesawatnya sering jatuh, bendungannya jebol dan
>> banyak rakyatnya yang miskin. Kenapa?. Jawabnya karena tidak punya uang.
>> Kenapa?. Jawabnya karena harga energi domestik rendah, sehingga Subsidi
>> Harga BBM besar (sehingga menguras uang untuk subsidi langsung dan
>> pemberdayaan orang miskin) dan orang malas usaha energi di Indonesia..
>> Buktinya?. Cadangan dan produksi Minyak kita turun. Panasbumi dan Bahan
>> Bakar Nabati (BBN) tidak berkembang.
>>
>> Sekarang mau ditambah semua gas untuk domestik, tetapi harga gas dometik
>> rendah. Artinya, untung bisnis gas kecil. Siapa yang mau usaha kalau
>> untungnya kecil?. Apakah kita tidak sadar bahwa kita sudah disusul Malaysia
>> dalam ekspor LNG dan Australia menemukan gas suuaangat banyak. Tidak perlu
>> kita memperburuk iklim investasi migas di Indonesia yang sudah kurang baik
>> ini.
>>
>> Nasionalisme bukan mengharamkan binis atau berbagi gas dengan negara lain
>> ( Kalau gas itu di Jawa atau Sumatera memang prioritasnya harus untuk
>> domestik. Kalau di Daerah terpencil dan laut dalam?). Membesarkan Pertamina
>> dan Medco juga Nasionalisme. Kalau mereka dapat untung lebih banyak dari
>> Donggi-Senoro, dana tersebut bisa digunakan untuk mengembangkan gas dari
>> lapangan kecil dan menengah di Jawa dan Sumatera, CBM di Sumatera dan
>> Kalimantan dan Panasbumi di Jawa dan Sumatera serta untuk usaha migas di
>> Luar Negeri. Untuk Pertamina, buat pengembangan Natuna dan ONWJ (?). Katanya
>> mau meningkatkan Kemampuan Nasional?.
>>
>> Perlu disadari bahwa Kontrak Bagi Hasil adalah Bagi Produksi. Kalau
>> Recoverable Cost 20% Revenue maka Bagian Pemerintah untuk gas adalah 70%
>> dari 80% atau 56% sehingga Kontaktor punya hak 44% produksi. Kalau
>> mewajibkan semua gas untuk Domesik, siap berurusan hukum?. Kenapa tidak
>> sekalian Minyak semua untuk domestik?.
>> Kita mengekspor minyak karena menurut PSC, kalau Recoverable Cost 20%
>> Revenue, Pemerintah dapat 85% dari 80% yaitu 68% sehingga Kontraktor punya
>> hak 32%. Itulah sebabnya kita masih mengekspor minyak sekitar 30% produksi
>> kita (300.000 barel/hari), walaupun mengimpor minyak dan BBM lebih dari
>> 600.000 barel/hari dan akan lebih besar lagi kalau Gas, Panasbumi, BBN dan
>> CBM tidak berkembang .
>>
>> Seharusnya kita lebih mengutamakan Nasionalime yang rasional bukan yang
>> emosional.
>>
>> Salam,
>> Widjajono
>>
>>
>>
>>  ------------------------------
>> *From*: Kemas Mohamad Asphan
>> *Date*: Fri, 26 Jun 2009 03:27:46 -0700 (PDT)
>> *Subject*: Re: [] Stop ekspor gas bumi ! harga gas 7-8 $/MMbtu
>>
>>   Seharusnya yang visioner untuk kepentingan Nasionalis, pertanyaannya
>> adalah :
>>
>> Mana yang lebih menguntungkan jual ekspor  7-8 U$,/MMBTU  a) Negara dapat
>> duit untuk dibagi-bagikan ke masing2 departemen,
>> atau b) Jual ke Domestik 4-5 U$/MMBTU pemerintah tidak dapat duit dari
>> jual gas, namun dapat memicu/ merangsang untuk meningkatkan industri
>> Nasional ?, dan akhirnya negarapun
>> bisa dapat duit  dari : pajak, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih
>> mandiri secara Nasional.
>>
>> Jawabnya  harus yang b) sebab kita mesti kembali pada konstitusi  yang
>> mengatakan bahwa kekayaan hasil sumber daya alam harus dimanfaatkan untuk
>> sebanyak-banyaknya kepada rakyat.
>>
>> kem'82
>>
>>  ------------------------------
>> *From:* Iman Nurkamal <>
>> *Sent:* Friday, June 26, 2009 2:58:19 AM
>> *Subject:* RE: [] Stop ekspor gas bumi ! & harga gas 7-8 $/MMbtu
>>
>>   Dear mas Wid dan ATM,
>>
>>
>>
>> Ini pertanyaan yang menarik, harga gas sebesar  7 – 8 $/MMBTU perlu
>> diperjelas lebih dahulu, *harga gas tsb berdasarkan keekonomian lapangan
>> atau harga pasar*. Jika harga gas tsb merupakan harga pasar berarti harga
>> keekonomian + opportunity (tergantung harga minyak dunia).
>>
>> Harga gas di domestic biasanya berdasarkan harga keekonomian  + sedikit
>> margin (atau %eskalasi). Pemerintah mempunyai keputusan dalam menentukan
>> harga gas didomestik dengan mengacu minimum harga keekonomian tanpa
>> mengikuti harga pasar internasional.
>>
>> Saya yakin untuk lapangan gas baru seperti senoro-matindok akan lebih
>> kecil dari 8 $/MMBtu jika dijual di wellhead mungkin bisa 4 – 5 $/MMBTU dan
>> kemudian dibangun pabrik pupuk atau mini LNG plant untuk domestic.
>>
>> Pabrik pupuk Kujang, PIM dan PKT sudah mampu beli harga gas lebih dari 4
>> $/MMBtu. PGN sekarang sudah menjual ke PLN dengan harga gas 5 – 6 $/MMBtu
>>
>> *Saya yakin jika PLN berpikir sehat dan ada kemauan menghemat BBM, maka
>> harga gas  7 – 8 $/MMBTU masih sangat murah dibandingkan beli solar*
>>
>> Begitu juga dengan lapangan gas blok Mahakam (Total), Natuna D Alpha dan
>> Masela, Pemerintah tinggal ketok palu jika perlu Pertamina yang mengelola
>> lapangan tsb
>>
>> Salam
>>
>> Orlap
>>
>>
>>  ------------------------------
>>
>> *From:* *On Behalf Of *Widjajono Partowidagdo
>> *Sent:* Friday, June 26, 2009 3:50 PM
>> *Subject:* RE: [] Stop ekspor gas bumi !
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> Pertanyaannya adalah apakah domestik mau beli dengan harga $ 7-8/MMBTU?.
>>
>>
>>
>> Salam,
>>
>> Widjajono
>>
>>
>>
>> PS: Bagaimana pendapat teman2 dari Pertamina dan Medco?.
>>
>> --- Pada *Jum, 26/6/09, Iman Nurkamal <>* menulis:
>>
>>
>> Dari: Iman Nurkamal <>
>> Topik: RE: Stop ekspor gas bumi !
>> Tanggal: Jumat, 26 Juni, 2009, 7:30 AM
>>
>> Wah debat capres cukup lumayan, rupanya JK cukup lumayan menguasai materi!
>>
>> JK dengan tegas “gas bumi harus dimanfaatkan dalam negeri karena bangsa
>> Indonesia sangat membutuhkan sebagai energi dan feedstock”
>>
>> Calon-calon gas bumi yang akan diekspor:
>>
>> - gas Senoro-Matindok, alasan ekspor tidak jelas?
>>
>> - gas Masela, alasan karena harga gasnya sangat mahal (akibat mahalnya
>> project pengembangan lapangan?) jadi domestik tidak mampu beli ?
>>
>> - gas Natura-D Alpha, alasan karena harga gasnya sangat mahal (akibat
>> mahalnya project pengembangan lapangan?) jadi domestik tidak mampu beli ?
>>
>> - sisa gas Kaltim (blok total mahakam) termasuk laut dalam dll  ?
>>
>> Menurut saya, berapapun harga gas di pasar internasional masih dibawah
>> harga minyak mentah karena formula harga gas internasional selalu mengikuti
>> dibawah harga minyak mentah internasional. Sebagai contoh harga minyak
>> mentah ICP sebesar 60/bbl maka harga gas ekivalen (kalori) = 60/6 = 10
>> $/MMBtu. Formula harga gas yang dipakai biasanya 60 % - 80% ICP. Jika
>> dipakai 80% ICP maka 0.8 x 60 = 48 $/bbl = 48/6 = 8 $/MMBTU.
>>
>> Jadi masih lebih murah 10 - 8 = $2/MMBTU dibandingkan kita beli minyak
>> mentah 10 $/MMBTU belum ditambah ongkos refinary mungkin sekitar 5 – 10
>> $/bbl dan efek lingkungan.
>>
>>
>>
>> salam
>>
>> Orlap
>>
>>
>>
>> .
>>
>>
>>
>
>
> --
> Komarudin Ibnu Mikam
> WTS - Writer Trainer Speaker
> komarmikam.multiply.com
> 0818721014-33113503
> karya-karya ;
> Novel Intelijen SOA (luxima)
> sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
> prahara buddenovsky (GIP)
> dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
> sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
> nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
> merit yuk! (qultum media)
> rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)
>
>  
>

Kirim email ke