Kalo yang dimaksud ente Andi Mallarangeng maka analisa ane begini bang:

Dalam satu tayangan di TV One...gua sih mengamini saja kenapa Andi ngotot gak 
mau minta maaf...karena katanya, dia tidak bermaksud
rasialis..terlebih kepada salah satu capres yang kebetulan berasal dari 
Sulawesi Selatan.
Yang
dimaksud Andi dalam perkataannya tersebut adalah himbauan untuk
memilih secara cerdas tidak lagi bergantung pada patron kedaerahan atau
kesukuan tertentu. Pilihlah dengan bebas...Andi justru mengajak
semuanya melakukan proses demokrasi dan pemilihan dengan meminimalisir
kedekatan kesukuan atau golongan tertentu...mungkin demikian maksud
Andi...

Realitas
politik nasional memang masih di dominasi kesukuan, dan bahkan menjurus
chauvinis. Masih terekam jaman awal2 reformasi, Marwah Daud Ibrahim yang asli 
Sulawesi Selatan "berambisi" mencalonkan diri menjadi
presiden melalui jalur independen. Dia menghimpun kekuatan massa yang
berasal dari Indonesia Timur melalui jargon Iramasuka (Irian, Maluku, Sulawesi, 
Kalimantan dan Nusa Tenggara). Kelompok ini didirikan Marwah CS untuk menjegal
kekuatan Jawa sentris dalam peta kekuatan politik nasional. Jargon yang
menurut gua cenderung pecah belah, seolah-olah Indonesia itu hanya
Jawa, dan di luar Jawa bukan Indonesia. Dan apa yang dilakukan Marwah,
juga banyak politisi lain dengan menggunakan isu SARA bagi gua adalah
kemunduran berfikir, tak ubahnya jaman kerajaan tradisional yang saling
berperang dan mencaplok wilayah.

Gua
juga tidak menyetujui Jawa Sentris dalam politik nasional, tapi
perlawanannya mesti elegan, tidak lagi berargumen dengan kesukuan atau
golongan tertentu. 

Toh kalo gua bilang seorang Andi Mallarangeng (dan brother's) kelewat maju 
pemikirannya. Dan 2014, The Mall Brothers akan dicari orang....

 
 
It's only a transition...

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
[email protected]
[email protected]
omongkosongku.blogspot.com
answerlieswithin.multiply.com
  
 




________________________________
From: komarudin ibnu mikam <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, July 9, 2009 2:11:33 PM
Subject: [sma1bks] Skenario pilpres: buat dicky





Dicky,
pernah baca email yang berinisial AM?

tterlepas dari siapa yang ngirim. Tapi analisanya menarik. Kalau media sudah 
mereka kuasai dan itu berarti bisa mengendalikan kehendak publik...... .

yang kayak gini:

Menurut saya, kita masih on the track. Isu yang menyudutkan saya di
Makasar, masalah di Medan, DPT bermasalah, atau omongan ngaco PS tentang
GBK tidak akan mempengaruhi pemilih. Apa dia punya bukti kita memanipulasi
media. Masyarakat kan melihat media sendiri lah yang menentukan berita mana
yang pantas mereka turunkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ada
beberapa argumen yang bisa memperkuat keyakinan saya bahwa beragam isu ini
tidak akan mempengaruhi kita.

Pertama, bangsa kita berada pada tahap puncak konsumerisme yang menyebabkan
kaburnya identitas Nasional. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu tinggal
jargon2 saja. Jadi orang akan memiih dari apa yang mereka lihat dan sukai
dan itu jelas masalah pembawaan dan penampilan. Masyarakat konsumen tidak
akan peduli dengan apa yang dibawa oleh orang tersebut. Mau kapatalis,
sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting
mereka puas dengan penampilan si kandidat.. Dan kandidat itu adalah
SBY-Boediono. Jadi, kejadian saya di Makassar kemarin itu tidak usah
dipikir terlalu berat, itu hanya sebuah eksperimen kecil saya untuk melihat
apakah isu berbau SARA masih mendapat tempat di masyarakat kita? dan saya
sudah mendapatkan jawabannya, memang betul terjadi sedikit riak di Makassar
sana dan mungkin elektabilitas JK langsung meningkat tajam. Tetapi lihatlah
pada hari pencontrengan nanti, masyarakat tetap tidak akan bergeming dari
pilihan kita. Sebab bagi masyarakat konsumen, yang penting bukanlah isu,
tetapi penampilan dari kandidat. Ibaratnya blackberry vs pancasila, jelas
ketahuan mana yang laku dan tidak sekarang ini. Masyarakat kita mati2an
berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila.
Ingat bung, Obama bisa jadi presiden hanya karena konsumerisme dan
kapitalisme di AS sedang runtuh sehingga penduduknya kembali ke nilai-nilai
kebangsaannya yaitu "all men are created equal", makanya kulit hitam bisa
jadi presiden. Kalau ndak ada keruntuhan ekonomi ndak mungkin kejadian tuh
Obama boss.

   


      

Kirim email ke