Energi/Sumber daya alam merupakan salah-satu bargaining power suatu negara...
sudahkah Indoensia memanfaatkannya?
Turkey Wants Iran
In Nabucco
Turkey’s Prime Minister Tayyip Erdogan said on Monday
Turkey wanted Iranian gas to be transported to Europe via the planned
Nabucco pipeline despite US opposition.
European Union governments and Turkey signed transit agreements in
Ankara on Monday for the EU and US-backed Nabucco pipeline, which aims
to reduce Europe’s energy dependence on Russia by transporting gas from
the Caspian and Middle East through the planned pipeline from 2014,
Reuters reported.
“We desire Iranian gas to be included in Nabucco when conditions
allow,“ Erdogan told a gathering of Nabucco partner countries and
regional countries, including Iraq and Georgia.
US Opposition
US special energy envoy, Richard Morningstar, on Sunday reiterated
Washington’s opposition to possible use of Iranian gas in Nabucco until
Washington normalizes relations with Tehran. The two are at odds over
Iran’s nuclear program.
Transit countries Turkey, Bulgaria, Romania, Hungary and Austria signed
the long-delayed accord on Monday, giving the 7.9 billion euro project
a major political boost. But questions over supply and financing still
plague its feasibility and as progress of a rival Russian plan edges
ahead.
The European Union has supported the project as a way of reducing its
reliance on Russian gas. A row over prices and debt between Moscow and
Kiev last winter led to Russia cutting off supplies into Ukraine,
including those destined for Europe.
Predominantly Muslim Turkey, which aspires to join the European Union,
hopes Nabucco will strengthen its position as an energy hub for the
West and advance its EU bid.
http://www.iran-daily.com/1388/3446/html/
http://www.dw-world.de/dw/article/0,,4477417,00.html
Perjanjian Gas Nabucco Sisakan Persoalan
Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Peta pipa gas Nabucco
Terdapat dua persoalan yang belum jelas dalam perjanjian pipa gas
Nabucco: Darimana dana delapan milyar euro yang akan mendanai proyek
akbar ini? Dan darimana pula sumber gas ini sebenarnya berasal?
Sebuah proyek raksasa dibangun. Proyek pipa gas alam Nabucco
sepanjang 3.300 kilometer, mulai tahun 2014, akan menyalurkan stok gas
alam ke Eropa, dengan volume 31 milyar kubik meter setiap tahunnya.
Pipa gas ini akan melewati Turki, Bulgaria, Rumania, Hungaria, dan
Austria. Ide proyek akbar ini sudah dimunculkan sejak tahun 2002. Namun
baru setelah perundingan bertahun-tahun, para delegasi pemerintahan
negara-negara itu, Senin ini di Ankara menandatangani kerangka
perjanjian tersebut.
Kontrak perjanjian Nabucco berisi: Negara-negara itu berkewajiban
untuk dapat senantiasa menyalurkan gas alam ke Eropa dalam kondisi
apapun. Eropa mengharapkan dari proyek ini, untuk melepas
ketergantungan energi gas mereka selama ini pada Rusia. Tujuan ini pula
yang ingin dicapai Turki. Namun bagi Turki tujuannya bukan hanya
sekedar itu, papar pakar energi untuk kawasan ini, Fulya Ilbey, yang
bekerja di salah satu perusahaan penyedia pelayanan keuangan besar di
Eropa:
“Sebagai tambahan tujuan yang ingin dicapai, Turki ingin memperkuat
posisinya di kawasan itu dan menarik keuntungan geografis dari
investasi ini, dengan menjembatani energi antara negara yang
membutuhkan gas dan produsennya. Masyarakat Turki dan industri Turki
sangat gembira, bila proyek ini direalisasikan.”
Awalnya, Turki menginginkan 15% gas Nabucco untuk negaranya. Kemarin
Menteri Energi Turki sekali lagi menegaskan, bahwa pernyataan ini harus
dikoreksi, tulis media Turki.
Meski demikian negara ini berharap, dengan keterlibatannya pada
proyek Nabucco ini, maka akan dapat meningkatkan posisi tawarnya untuk
masuk ke dalam keanggotaan Uni Eropa.
Namun dari proyek ini masih tersisa persoalan. Masalah yang
terpenting mungkin: Darimana sumber gas ini sebenarnya berasal? Sampai
perundingan terakhir masih belum juga jelas. Turkmenistan, Azerbaijan,
dan Irak menurut media menunjukkan ketertarikan sebagai pengirim. Di
luar itu diharapkan pula Kazakstan dan Uzbekistan. Sebagai mitra di
masa mendatang kemungkinan Iran dan Mesir akan berpartisipasi. Namun
persoalan besar berikutnya adalah: Bagaimana pembiayaan proyek ini
nantinya? Kembali Fulya Ilbey:
„Diperkirakan biaya yang dibutuhkan sekitar 8 milyar euro, untuk
dapat merealisasikan proyek ini. Uni Eropa telah menjanjikan dana
sebesar 250 juta euro. Saya memperkirakan lima negara mitra hingga
akhir tahun ini akan mencari kemungkinan dana pembiayaannya.“
Seberapa penting proyek ini bagi Uni Eropa? Dapat dilihat dari
kenyataan bahwa Bank Investasi Eropa dan Bank Eropa untuk Pembangunan
Kembali bersedia untuk menyalurkan milyaran euro kredit untuk proyek
ini.
Kilian Pfeffer / Ayu Purwaningsih
Editor : Hendra Pasuhuk
Toby Fittivaldy
Fis2 '94