Good...sayang anakku baru kelas satu, mungkin belum ngerti, ya. Menggugah cerita Kejutan Bunda-nya, pantas menang...
--- On Thu, 23/7/09, Rahman, Tiar <[email protected]> wrote: From: Rahman, Tiar <[email protected]> Subject: [sma1bks] NAF #088: Menang Cerpen Anak 100 Kata To: [email protected], [email protected] Date: Thursday, 23 July, 2009, 7:23 AM Menulis cerpen anak dengan jumlah kata terbatas, gampang-gampang mudah. (Berarti mudah ya). 100 kata itu termasuk judul. Sekali kita memulainya, akan membuat kita ketagihan. It is Like a Virus. Fokus untuk satu konflik saja dan harus selesai. Pilihan kata juga yang mudah dimengerti anak-anak. Kebetulan kemarin ada kontes menulis cerpen anak 100 kata di multiply. Aku tulis, aku ikut, dan aku menang. Alhamdulillah. Hadiahnya lumayan, dapat 4 buku, yang akan dikirim via pos/tiki. Kejutan Bunda aku pilih dari 5 cerpen yang pertama kubuat (sekarang total 11 buah). Selamat membaca. 1. KEJUTAN BUNDA Sejuta bintang Seribu harap Satu cinta: Ibunda Intan memandang wajah ibundanya. "Tak bolehkah sekali ini saja, Bunda?" rayunya. Ibu bijak itu tak segera menjawab. Ia tersenyum lembut. Teduh. Sebelum akhirnya berkata, "Sabar ya sayang. Ibu punya sesuatu untukmu besok pagi." Mereka berdua meninggalkan toko mainan itu. Intan sesekali menatap boneka impiannya. Malam itu sang bunda berjaga demi anaknya. Sesekali tangannya tertusuk jarum, tak dirasanya. Menjelang diri hari, selesai juga akhirnya. Hati-hati diletakkan boneka perca berkepang dua di samping bantal Intan. Pagi-pagi Intan berlari, menghambur ke pelukan Ibundanya. "Makasih ya, Bunda. Bonekanya cantik sekali." Air mata Ibunda menetes. Bahagia. 2. PUTRI KELINCI Rika dan Erji memandang anak kelinci yang kesakitan. "Mungkin kakinya sakit," kata Rika. Mereka mendekatinya. Ternyata kakinya tertusuk duri. Erji memegang badannya, Rika mencabut durinya. Kelinci berlari gembira. Sang ayah yang melihat tingkah putrinya mendekat. "Ayah," seru mereka. "Anak baik, mau dengar cerita Jenderal Kancil yang menyayangi binatang?" tanyanya. "Mau yah!" Berceritalah ayah tentang "Jenderal Kancil"* sang raja hutan rimba. Diselingi nyanyian lagu dari kisah tersebut yang masih diingatnya. "Aku mau jadi Jenderal Kancil," kata Erji "Aku mau jadi Putri Kelinci," kata Rika "Kan itu tidak ada di cerita ayah?" Erji protes "Biarin," kata Rika. Sang ayah tersenyum. Nb. *) Jenderal Kancil merupakan Kaset berisi cerita dan lagu, tentang anak yang bermimpi ketika berkemah di hutan. Di mimpinya ia dinobatkan menjadi jenderal kancil, raja sekalian binatang hutan. Kaset ini merupakan album dari Adi Bing Slamet kecil, dengan rambut poninya yang khas. 3. MENULIS BAHAGIA "Buuu...!" Muza memanggil ibunya. "Ada apa sayang?" Ibunya menghampiri. Dilihat anaknya asyik mencoret-coret. Buku pelajaran terbentang di depannya. "Ini bu, tugas mengarang lagi. Bantu Muza ya?" harapnya. "Hmm.. Nanti yang dapat nilai ibu dong?" "Tidak apa-apa, Bu!" sahut Muza. "Ibu kasih tips saja ya?" "Iya deh." Muza menjawab terpaksa. "Kamu ingat sahabat penamu? Indah?" Tanya Ibunya "Ingat Bu!" mata yang redup kembali bersinar "Setiap kamu menulis surat untuk Indah, kamu suka senyum dan ketawa sendiri, kan?" Ibunya meneruskan. "Karena kamu menulis dengan bahagia. Coba saja anggap mengarang ini seperti Muza menulis untuk teman. Pasti nanti bagus hasilnya," tutupnya. 4. TERSESAT Fathin, Ali, dan Nana tak bisa apa-apa. Tiga sekawan ini tersesat. Saat acara bebas Perjusami, mereka memasuki hutan di samping perkemahan. Jiwa petualang serasa meluap saat menapaki akar pohon. Mereka lupa memberi tanda pada jalan dilalui. Hari gelap. Mereka lelah dan lapar. Nana mulai merengek. Fathin menenangkan mereka. "Kita berdoa yuk! semoga Tuhan memberi jalan," kata Fathin. Mereka berdoa, menutup mata. "Lihat ada kunang-kunang. " seru Ali. "Kata kakek, dimana ada kunang-kunang pasti ada sungai di dekatnya," ujar Nana. "Perkemahan kita di dekat sungai, bukan? Mari kita ikuti mereka" sahut Fathin. "Alhamdulillah, " seru mereka berbarengan ketika melihat kembali perkemahan mereka. 5. SEMANGAT Sejenak aku memperhatikan situasi, sebelum memasuki tempat latihan itu. Tiada wajah yang kukenal. Seorang anak mengajakku tersenyum. "Baru sekali latihan ya? Ayahmu mana?" anak itu bertanya. "Iya, aku Sopi. Itu ayahku." jawabku. Kami berjabat tangan berkenalan. "Aku Dani." Sahutnya. Ups! Tangan kiri Dani ternyata cacat. Tak sengaja mata Sopi memperhatikannya. "Tidak apa-apa. Ini bukan halangan bagiku untuk menikmati olahraga ini." Senyum Dani seakan menjawab pertanyaan tak terucap. "Ayo kita pemanasan di meja sana." Lanjutnya, melesat sambil menarik tanganku. Ya. Bagi Dani saja, keterbatasan fisiknya bukan halangan. Aku yakin Dani akan menjadi sahabat sekaligus lawan tangguhku di meja pingpong. Semangat! 6. ANAK HUJAN "Cepat ganti baju, Gi," kata Ariest "Iya, aku udah siap," sahut Gia "Bu, kami mandi hujanan dulu," teriak Aries sambil berlari seakan tak ingin kehilangan hujan kali ini. Ibunya hanya menggelengkan kepala. Mereka sekolah siang pulang sore. Ada rapat guru hari ini, mereka bisa pulang cepat. Sebentar mereka sudah kuyup. Bermain, berlari, mandi di cucuran. Hari semakin sore. Ibunya memanggil pulang. Mereka masih asyik mengejar jejak air. Kilatan putih membelah langit. Petir menyambar kemudian. Dua anak ini berlari ke ibunya. "Makanya, dipanggil ibu cepat pulang," kata ibunya sambil memberikan handuk. "Tapi besok boleh lagi, kan Bu?" Gia nyengir. 7. ISTANA PASIR "Maaf ya, tidak sengaja!" kata Eko sambil memungut bolanya. Wiwiek ingin marah karena istana pasirnya hancur. Tapi dilihatnya anak ini memiliki wajah lucu dan sudah minta maaf, ia tersenyum. "Tidak apa-apa, aku bisa buat lagi," sahutnya sambil kembali mengumpulkan pasir dengan sekopnya. "Wah sedang buat istana pasir ya? Boleh aku gabung?" tanya Eko. Ia melempar bola ke temannya. Mereka pun berkenalan, kemudian sibuk membangun kastil dan benteng. "Yang itu gunung ya?" tanya Eko. "Iya. Putrinya suka naik gunung sih. Yang ini rumah apa?" Wiwiek balik bertanya. "Ini sekolah gratis yang modern. Pangeran ingin rakyatnya pintar semua." Kata Eko. 8. TINGGAL JANJI* Suara buldozer dan debu beterbangan menyambut Sumi yang baru pulang sekolah. Ia berlari ke arah ibunya yang sedang melihat buldozer itu mendorong gubuk mereka. "Kenapa rumah kita, Bu?" tanyanya. "Kena gusur, nak?" Ibunya menahan tangis, sambil memeluk Sumi "Lalu nanti kita tinggal dimana?" ia juga mulai terisak. "Entahlah nak. Mungkin pulang kampung," jawab ibunya. "Dulu waktu kampanye, ada yang berjanji akan membela kita kan, bu?" tanyanya. "Cuma tinggal janji, nak. Entah mereka lupa, atau sengaja lupa." Sahut ibunya sambil menghitung kembali uang yang tersisa di dompet. Cukupkah ini untuk ongkos pulang kampung. Ibunya kembali mendesah, memeluk gadis kecilnya. *) cerita anak apa kritik sosial??? 9. LEBAH MADU Nita membantu ibunya di taman. Menggemburkan tanah dan menyiraminya. Taman di rumah mereka, walaupun kecil, tapi asri. Sesekali ibunya memberi petunjuk kepada Nita. Sedang asyiknya bekerja, Nita melihat lebah hinggap di bunga krisan. Ia mengambil kayu untuk mengusirnya. "Jangan Nit, biarkan saja," cegah ibunya. "Kenapa Mah? Nanti dia merusak bunga kita," tanya Nita. "Nita suka madu, kan?" ibunya malah balik bertanya. "Iya, suka. Manis dan lezat," jawab Nita. "Madu dikumpulkan oleh lebah. Mereka terbang jauh untuk mengumpulkan madu dari bunga-bunga, " terus ibunya. "Berarti mereka baik, ya? Rajin bekerja lagi," kata Nita. "Dan madunya membuat kita sehat," kata ibunya. 10. PERAHU KERTAS Di samping rumah Frida, ada parit kecil yang jernih. Bahkan dari kamarnya, terdengar ricik air mengalir. Frida suka memandangi parit itu. Ikan-ikan kecil terlihat bebas berenang. "Aku ingin membuat perahu kertas ah!" seru Frida dalam hati. Ia berlari ke rumahnya, tangan kecilnya kemudian asyik melipat kertas. Dhanis, kawannya mendekatinya, "sedang buat perahu kertas, ya? Sepertinya seru nih!" Frida menjawab, "Iya." Dhanis meneruskan, "Aku membuat boneka tanah liat. Boleh jadi penumpang perahunya?" Akhirnya perahu dilarung di parit itu. Sebentar saja, ia karam. "Besok kita buat perahu kertas yang besar dan kuat. Biar tidak mudah tenggelam!" kata mereka hampir bersamaan. 11. RESITAL PIANO Resital piano pertamaku, membuatku gugup. Aku bahkan lebih gugup dibandingkan saat ujian akhir semester kemarin. Jas resmi dan dasi kupu-kupu membuatku kurang nyaman. Aku berusaha menenangkan diri. Menarik napas dalam. Namaku disebut. Tepuk tangan meriah. Aku berjalan menuju piano klasik di tengah panggung. Aku menarik nafas lagi. Sesaat kaku, tapi kemudian jemariku mulai lincah menari di tuts piano. "We could be in love"* lagu yang kubawakan, lagu kenangan ayah dan ibuku. Semua terhanyut. Kring.. kring... Siapa sih yang iseng menyalakan handphone saat resital?? Kring.. kring... Ternyata itu alarm jamku! Gubraks! Resital dua jam lagi, aku harus siap-siap berangkat. Nb. * We could be in love yang dinyanyikan oleh Lea Salonga.. I love this song much. Klipnya juga jenaka. Anniversary Homepage: http://www.sulzer. com/175 Anniversary Games: http://www.experien ce-sulzer. com CONFIDENTIALITY NOTICE The information in this email may be confidential and/or privileged. This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any review, dissemination, copying, use or storage of this email and its attachments, if any, or the information contained herein is prohibited. If you have received this email in error, please immediately notify the sender by return email and delete this email from your system. Thank you. New Email addresses available on Yahoo! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
