saya setuju dengan cara berpikirnya Morry. Sama dengan yang diomongin EBiet G. Ade, "Lihatlah ke dalam. Sebelum bicara....." Perlu ada introspeksi mendalam. Tentang segalanya. Baik TKW maupun budaya kita. Untuk TKW barangkali bukan di stop ya...? Tapi, dikirim TKI yang well trained, well educated, dan well-well yang lain.... Tentang budaya, ya kita kudu ngurusin budaya kita. Jangan pas udah dikalim baru tereak-tereak.....
2009/9/30 Morry Infra <[email protected]> > Kalau jaman sekarang, mungkin yang Toby maksud bener... > > Ada tahapan2-nya... > Jauh sebelum Indonesia merdeka, Sebelum Malaysia merdeka hingga awal2 tahun > 1980-an ketika migrasi orang Indonesia ke Malaysia amat mudah... > > Infact buat yang datang jauh2 sebelum Indonesia merdeka atau malah sebelum > 1900-an... itulah yang banyak mempunyai keturunan raja di sana.... dari > Bugis (Johor dan Selangor)... Minang (Negeri 9)... > Belum lagi orang2 Jawa yang banyak mendiami Johor dan Selangor... > Mereka memang asal muasal orang Melayu Malaysia... ditambah dari keturunan > melayu dari Siam (Petani, Kelantan, Perak, Terengganu, dll)... > > Nah buat yang datang belakangan setelah kerajaan2 Melayu terbentuk... yang > yang masuk dari tahun 40 -an sampai awal 80-an... mereka itu datang, cari > makan dan beranak pinak... sedikit yang menikah dengan orang Malaysia... > mereka menikahnya paling jauh yang sesama perantauan orang Indonesia juga... > Ketika ada pemutihan buat bikin IC (KTP di Indonesia)... mereka baik yang > legal ataupun haram... dibuatkan IC Malaysia... biasanya tiap2 mau ada > pilihan Raya... biar UMNO menang... dan mereka itu banyak juga yang gak > punya passport Indonesia (yang haram).... mereka biasanya disebut... > pemegang IC merah... Dan mereka ini sebagian besar dah jadi Warga Negara > Malaysia... > Jadi kalau ada Pembesar Malaysia jadi PM, jadi Menteri jadi VP Petronas > dan lain2... ya wajar.... > Karena memang Indonesia (dulunya mungkin masih kerajaan Bugis, Goa, > Majapahit, Mataram, dll) merupakan nenek moyang dan leluhur mereka... > Dan so far... bagi yang berpendidikan... mereka respect terhadap orang > Indonesia... > Cuma yaitu... karena saat ini di Malaysia kebanyakan "Indon" (sebutan orang > Indonesia oleh orang Malaysia yang bagi saya berkonotasi merendahkan walau > orang Malaysia selalu membantahnya) yang ada di sana... ya pekerja kasar, > pembantu, pekerja bangunan, pekerja perkebunan dll... sedikit sekali tenaga > profesional... (total jumlahnya bisa sampai 2 jutaan kalau termasuk yang > ilegal...), > sehingga "sebagian" orang Malaysia menganggap remeh dan rendah orang > Indonesia.... padahal kalau dah kenal deket dan percaya.... akan ngaku juga > kalau punya moyang orang Indonesia... > > Jadi memang cuma karena peran media kedua belah pihak lah yang membuat > seakan2 orang Indonesia dan Malaysia panas.... padahal mah... cuma sebagian > kecil.... > So, jangan mudah2 terprovokasi... > > Action kita: > - Suruh tuch pemerintah ngelarang pengiriman pembantu ke negara lain.... > berikan lapangan pekerjaan yang layak di Indonesia... > dan yang paling gampang.... > - Bayar dong pembantu kita, supir kita, tukang kebon kita minimal 1 juta > perbulan... dengan cuti pertahunnya 3 minggu dengan gaji dibayar penuh dan > boleh ngambil cuti 2 kali setahun.... baru dech kita bisa bebas dari hinaan > negara lain... > > Sehingga Indonesia bukan terkenal sebagai negara peng-ekspor pembantu.... > Kalau memang mau ekspor TKI... yang bisa Bahasa Inggris... skilled and > educated... jangan cuma mau jadi pembantu doang..... > > Salam, > Morry Infra > 2009/9/30 Toby Fittivaldy <[email protected]> > >> >> >> Benerkan... gw bilang juga apa...!!! serumpun... >> banyak orang indonesia yang ngadu nasib ke malay.. terus kawin sama orang >> sono... >> eh jadi orang dech... dan udah pasti mereka bawa budaya masing2 dari >> sini.. jawa, sumatra, sulawesi, kalimantan de el el ke sono.. yang mereka >> masih punya rasa memiliki hehehe.. >> >> Waspadalah... Waspadalah.... devide et impera... >> >> Toby Fittivaldy >> Fis2 '94 >> >> >> >> >> --- On *Tue, 9/29/09, Morry Infra <[email protected]>* wrote: >> >> >> From: Morry Infra <[email protected]> >> Subject: [sma1bks] Fwd: Sekolah Laskar Pelangi di Klang - Malaysia >> To: "Dapu" <[email protected]>, "i-siyasah" < >> [email protected]> >> Date: Tuesday, September 29, 2009, 9:12 AM >> >> Boro2 mau perang ah.... >> Kalau dah kenal... mereka akan ngaku keturunan Indonesia juga.... >> >> Salam, >> Morry Infra >> >> ---------- Forwarded message ---------- >> From: Edison Sirodj <esir...@yahoo. >> com<http://mc/[email protected]> >> > >> Date: 2009/9/29 >> >> >> DUTA BESAR DAI BAKHTIAR BUKA SEKOLAH LASKAR PELANGI >> >> - *Akhmad samiri* >> >> *Kuala Lumpur,11 Agusutus 2009* Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa >> Penuh,Tan Sri Dai Bakhtiar secara resmi membuka 'Sekolah Laskar Pelangi'di >> Klang. Ini merupakan hadiah kemerdekaan bagi rakyat Indonesia di klang dan >> sekitarnya. Sekolah dengan mimpi-mimpi besar seperti sekolahnya Andrea >> Hirata pada "Laskar Pelangi". >> >> Siswa sekolah ini adalah anak-anak Indonesia yang tak mendapatkan >> kebenaran mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah fomal di Malaysia. Sekolah >> dengan jumlah 41 siswa ini belum mengenal tingkatan kelas apalagi rapor. >> Usia mereka antara 6-13 tahun. Pelajaran yang diajarkan Agama,mengira >> (Matematika) ,dan Bahasa Malayu. >> >> Sekolah unik ini secara resmi akan ditangani KBRI dengan pengawasan >> langsung Atase Pendidikan Nasional dan dikelola oleh mitra kerja Sekolah >> Indonesia Kuala Lumpur (SIK). >> >> Duta Besar Da'i Bakhtiar berjanji akan mengirim guru-guru dari SIK dan >> buku-buku pelajaran sesuai kurikulum pendidikan Indonesia. Bahkan beliau >> juga meminta tolong untuk menelusuri, mendata berapa banyak anak Indonesia >> usia sekolah yang belum tersentuh pendidikan. Mereka harus sekolah. KBRI >> akan memberikan akses pendidikan mereka. >> >> Duta besar juga mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Engku Raja >> Kamaruddin dan seluruh pengurus Persatuan Penaja Leluhur Melayu Bugis >> Selangor atas jasa-jasanya dalam memperhatikan nasib anak-anak Indonesia di >> Malaysia. >> >> " Orang Bugis adalah orang hebat. Di mana ada pelabuhan di situ ada orang >> Bugis." Puji Duta Besar disambut tepuk tangan warga Makassar dan rombongan >> tamu dari KBRI. >> >> Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Malysia juga teringat kata-kata >> bertuah dari Perdan Menteri M.Najib saat menemaninya pulang kampung ke >> Makassar, katanya," Saya datang ke Goa bukan hendak merampas Goa tapi saya >> datang untuk melaporkan saya adalah keturunan Goa yang berhasil jadi Perdana >> Menteri Malaysia." Berbicara tentang hubungan Indonesia - Malaysia adalah >> cerita tanpa akhir. Hubungan darah, hubungan kekerabatan sejak zaman dulU >> tak bisa dipungkiri. Dulu kita memang satu negara. Malaysia rasanya seperti >> tanah airnya sendiri. >> >> Serah terima sekolah anak-anak Indonesia di Klang dimulai dengan ikrar >> dari Persatuan Penaja Leluhur Melayu Bugis Selangor yang disampaikan oleh >> presidennya, Engku Raja Kamaruddin bin Raja Abdul Wahab. Engku Raja memulai >> ucapannya dengan mengutip Pasal XI dan XII Gurindam XII karya Sastrawan >> Besar Raja Ali Haji. >> >> " Hendaklah berjasa/kepada yang sebangsa/Hendaklah jadi kepala/buang >> perangai yang cela/Hendaklah memegang amanat/buanglah khianat/Hendak >> marah/dahulukan hajat/Hendak dimulai/jangan melalui/Hendak ramai/murahkan >> perangai.// Pasal yang kedua belas:/Raja muafakat dengan menteri/seperti >> kebun berpagarkan duri/Betul hati kepada raja/tanda jadi sebarang >> kerja/Hukum adil atas rakyat/tanda raja beroleh anayat/Kasihan orang yang >> berilmu/tanda rahmat atas dirimu/Hormat akan orang yang pandai/tanda >> mengenal kasa dan cindai/Ingatkan dirinya mati/itulah asal berbuat >> bakti/Akhirat itu terlalu nyata/kepada hati yang tidak buta//. >> >> Harapan masyarakat Klang, anak-anak Indonesia bisa sekolah, bisa mendapat >> rapor atau ijazah dan bisa meneruskan pendidikan baik di Malaysia atau >> sewaktu pulang ke Indonesia. >> >> " Sekolah ini telah berdiri 3 tahun yang lalu. Jumlah murid tidak tentu. >> Untuk berangkat ke sekolah tidak resmi ini masih banyak yang takut di >> perjalanan. Pernah sampai 60 anak, pernah juga hanya 20 murid, jadi tidak >> menentu," Puan Nina,istri Engku Raja Kamarudin, merangkap sebagai kepala >> sekolah. >> >> Duta Besar di akhir acara menyerahkan kenang-kenangan untuk seluruh siswa >> dan pejabat setempat. Turut hadir bersama Duta besar antara lain Ibu Duta, >> Ibu Tatang,Bapak Teguh, Bapak Pramono, Bapak said, Bapak Said. >> >> >> > > -- Komarudin Ibnu Mikam WTS - Writer Trainer Speaker komarmikam.multiply.com yayasanmandirisejahtera.com 0818721014-33113503 karya-karya ; Novel Intelijen SOA (luxima) sekuntum cinta untuk istriku (GIP) prahara buddenovsky (GIP) dinda izinkan aku melamarmu (KBP) sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat) nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat) merit yuk! (qultum media) rahasia dan keutamaan jumat (qultum media) surga Untuk Sahabat (khalil) Kisah 10 Abdullah (khalil)
