Untungnya di guest house gak ada siaran indosiar. Kalo pun ada gak sempat nontonnya karena banyak kerjaan. Siaran indosiar adanya di ruang makan, dan biasanya sudah ada penunggunya pula.
Sekilas akhirnya nonton juga pas istirahat siang di mess tamu. Pengennya mah tidur, tapi temen nyetelnya kenceng banget. Terpaksa terjaga deh... Kebetulan saat itu peserta tinggal tiga, yang akhirnya tersisa dua. Fei, wanita itu, menguji hati para pria jentelmen itu dengan mengakui statusnya sebagai single parent dari anaknya yang berusia 4 tahun. Pada kesempatan berikutnya, dua orang jentelmen itu mematikan lampunya masing-masing. Wew.. Sebegitunya kah? Alasan yang klise, mereka bujangan ingin mendapatkan gadis (perawan). Tanpa mau memberikan kesempatan pada Fei. Sama sekali tidak. Menurutku sih Fei ini mandiri dan pastinya cantik juga ayu. Kalo aku single, gak keberatan rasanya mengenalnya lebih dekat. Dan akhirnya dengan nada dikuatkankuatkan... Fei bilang, "nak maaf ya, ibu belum bisa membawa papa baru untukmu". Di sore harinya, di ruang makan yang sepi... Seorang pria muda mengaku juragan sapi. Sapi impor lagi. Sehari bisa jual lima sapi, dan keuntungan penjualan satu sapi satu juta. Berarti sehari bisa dapat lima juta. Sebulan berapa coba? Kayaknya lupa cara ngitung atau apa, dia memisalkan lagi... Seandainya dapat 3 juta aja sehari, sebulan dah 90 juta kan? (Kan...!!) Selain itu dia punya usaha cafe dan warnet. Warnet cuma buat isengiseng aja, buat fesbukan dan lain-lain (untung dia gak bilang ngempi buat iseng-iseng). Akhirnya dua cewek bertahan, dan dia memilih satu diantaranya seraya menyebutkan alasannya. Well, ini acara cari jodoh yang ditonton berjuta masang mata. Dan peserta utama harus narsis habis untuk menarik perhatian audiencenya. (apa sih sebutannya? Gak pernah merhatiin). Mereka masih muda, enerjik, selain cari jodoh juga pengen terkenal tentunya. Ah... Jika aku masih bujang saat ini, dan dipaksapaksa untuk ikut acara ini, apa yang mau kubilang ya? Hai saya Tiar... Enjineer dekil yang masih suka main kotorkotoran dan oli. Rumah di kampung rawa kalong, biar kecil tapi punya sendiri. Hobby main pingpong. Perlu ditunjukkan disini seperti apa cara main pingpong saya? (semua pada geleng kepala, lampulampu mulai padam). Hmm.. Saya gak bisa main alat musik, pengen bisa salah satunya sih. Tapi saya lumayan biasa membuat puisi, kalo dipaksain bisa juga buat cerpen sederhana. Perlu saya contohkan cara menulisnya? (semua menggeleng, dan tak ada lampu menyala yang tersisa). Huaaaa... Sedih banget hatiku. Btw, untungnya aku mendapat kekasih yang kini menjadi istriku, menjelang tingkat super mutakhir (sudah lewat tingkat akhir sih). Masih idealis, gak materialis. Alhamdulillah dapat istri yang pengertian, bukan pengeretan. Proses pemilihannya mirip Take Him/Her Out Indonesia juga, tapi aku melaksanakannya secara terpisah dan rahasia. Lah kalo semua dikumpulkan, apa kata dunia? Aku mengunjungi dan menjajaki dari sekian banyak asrama putri di Bandung raya. Ngobrol biasa aja, dan tidak harus malem minggu juga. Sekalian belajar mengenal wanita dan mengatasi problemku dalam masalah komunikasi juga. (lihat serial tulisan PENCINTA WANITA). Selain itu aku coba kirim surat ke mereka dan menilai gimana balesannya. Dan setelah melalui usaha yang panjang dan berliku... Tersisa satu dan akhirnya dia resmi menjadi istriku. Pokoknya take me dan all out deh. Jadi... Ada yang mau ikut acara itu? Kalo ikut apa yang mau ditonjolkan? Atau punya pengalaman miripmirip acara ini? Share ya... Di mari boleh, di tempat kamu juga boleh
