Ini email dari teman yang sedang melakukan penelitian di Filipina...
Versi cetaknya bisa di lihat di 
http://www.republika.co.id/koran/24/92687/Kekuasaan_dan_Kekerasan_di_Mindanao
 
It's only a transition...

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
[email protected]
[email protected]
omongkosongku.blogspot.com
answerlieswithin.multiply.com
  
 



----- Forwarded Message ----
From: siti sarah muwahidah <[email protected]>
To: [email protected]

 
Politik, Kekuasaan dan Kekerasan di Mindanao
 
Senin sore 23
November 2009, saya sedang menghadiri pameran foto yang diadakan organisasi 
jurnalist
pro perdamaian Mindanao (PECOJON: The Peace and Conflict Journalism Network).  
Acara ini merupakan awal dari rangkaian acara Week
of Peace di Zamboanga City yang bertema “Think Mindanao, Feel Mindanao and
Bring Peace to Mindanao”. Acara pameran yang dilanjutkan dengan diskusi ini
seharusnya selesai pukul 8 malam. Tetapi ditengah acara seluruh jurnalist telah
menghilang dari ruangan. Mereka tergesa pergi untuk mencari tahu kebenaran
kabar buruk yang menimpa kawan-kawan mereka di Manguindanao.  Sugguh ironis, 
awal minggu damai yang
seharusnya menumbuhkan harapan, terguncang oleh pembantaian di provinsi itu. 
Selintas
pertanyaan muncul dipikiran saya: inikah yang dinamakan Feel Mindanao?
 
Walaupun kekerasan
hampir menjadi rutinitas di Mindanao, pembantaian yang memakan korban lebih
dari 55 jiwa itu tercatat sebagai peristiwa kekerasan terburuk yang terkait
dengan Pemilu.  Beberapa mayat
menunjukkan tanda-tanda kekerasan fisik,  seksual, juga mutilasi.  Beberapa
tubuh juga ditemukan dalam bangkai mobil-mobil yang ikut dikubur. Korban 
pembantaian
didominasi oleh perempuan dan wartawan.  
 
Rombongan bermobil  yang terdiri dari sejumlah perempuan anggota
klan Mangdudatu, pengacara, dan wartawan  tersebut bertujuan mengantar Genalyn, 
istri
Esmael Mangdudatu (walikota Buluan,  untuk mendaftarkan suaminya dalam pemilihan
gubernur Manguindanao yang akan datang.  Esmael Mangdudatu berencana 
mencalonkan diri,
walaupun telah tersiar kabar bahwa gubernur Maguindanao yang telah menjabat
selama 3 periode pemerintahan terakhir, Andal Ampatuan, menginginkan salah satu
anaknya, Andal Ampatuan Jr. sebagai pengganti.  Kompetisi politik ini diduga 
kuat menjadi motif utama pembunuhan massal
di pagi kelabu itu.
 
Klan Ampatuan
merupakan klan yang paling berkuasa di Mindanao saat ini. Beberapa posisi
strategis dan pimpinan pemerintahan beberapa kota di Mindanao diduduki oleh
anggota keluarga besar Ampatuan. Bahkan Zaldy Ampatuan, salah satu putra Andal
Ampatuan merupakan Gubernur ARMM (Autonomous Region of Muslim Mindanao) sejak
2005. Selama ini tidak ada politikus yang berani berkompetisi dengan keluarga
ini, karena klan Ampatuan dikenal sering melakukan intimidasi dan tak segan
membunuh demi mempertahankan dan memperluas kerajaan politik mereka.
 
Klan Ampatuan mulai
menyebarkan jaring-jaring kekuasaanya di Mindanao sekitar tahun 2000. Walaupun
pusat kekuasaan mereka ada di Provinsi Maguidanao,  pengaruh Ampatuan menyebar 
dari Lanao del Sur sampai
Tawi-Tawi . Lemahnya law enforcement
di Filipina memberikan kesempatan  merajalelanya
kekuasaan klan Ampatuan. Sementara itu, Presiden Filipina,  Gloria M. Arroyo 
dituding sebagai  supporter terkuat klan ini. 
 
Andal Ampatuan Sr.,  patriakh klan Ampatuan, merupakan mantan
pimpinan paramiliter yang pro pemerintah.  Komitmennya dalam memerangi kelompok 
separatist Muslim telah membuat pemerintah
dengan senang hati menyerahkan tampuk kekuasaan ARMM terhadap klan tersebut.
Keluarga ini juga dikenal merupakan kunci sukses Arroyo dalam memenangi 
pemilunya
yang kedua thn 2004. Perkongsian politik diantara mereka diduga keras merupakan
alasan dibalik pembiaran pemerintah terhadap perekrutan privat army keluarga
tersebut yang diduga mencapai 500 orang. Pasukan pribadi tersebut dipersenjatai
dan dibiayai oleh uang pemerintah, uang rakyat. 
 
Pertarungan politik
dan perselisihan antar keluarga bukan hal yang baru di Filipina, terutama di
Mindanao.  Maraknya kepemilikan senjata
api dan lemahnya penegakan hukum ditambah dengan banyaknya tentara sewaan
membuat  pertarungan politik menjadi
makin sulit dikontrol.  Pendeknya, perseteruan
politik selalu berkait kelindan dengan culture
of violence yang telah mengurat akar di Mindanao.
 
Ketidakpercayaan
terhadap keadilan hukum positif membuat pertikaian antar keluarga atau antar
suku sering diakhiri dengan rangkaian kekerasan dan pembunuhan yang umum
disebut “rido”.  Korban umumnya terbatas pada anggota klan yang
bertikai, tetapi dalam beberapa kasus besar, rido juga membahayakan dan kadang 
memakan korban masyarakat tak
berdosa disekitar mereka.  Rido bisa dipicu oleh masalah kecil
seperti cinta segitiga dan sengketa properti.  Sementara rido yang disebabkan
oleh perselisihan politik bisa memakan waktu bertahun-tahun.  Kedua belah pihak 
baru akan berhenti saling
serang setelah merasa kerugian keluarga mereka telah terbayar dengan seimbang. 
 
Pembantaian di
Maguindanao Senin pagi lalu bukanlah bagian dari rido. Sentimen agama juga 
tidak terdapat disana karena kedua klan
mengklaim dirinya sebagai Muslim. Sejauh ini Ismael Mangdudatu, dari pihak
korban,  telah menyatakan bahwa dia akan
mempercayakan penanganan kasus ini pada pemerintah. Tetapi tampaknya jika
pemerintah Filipina tidak bergerak dengan cepat dan memastikan penegakan hukum
yang adil, kemunculan rido tidak akan
bisa dicegah karena keluarga korban akan mengklaim pembalasan.  Hal ini tentu 
akan memperburuk masalah dan
berdampak negatif bagi masyarakat luas.
 
Ridobukan hanya menimbukan korban jiwa, tetapi
juga kerusakan rumah, lahan pertanian,  dan
fasilitas publik. Riset The Asian Foundation thn 2007 tentang Rido menunjukkan
bahwa pertikaian dan rentetan kekerasan selama Rido mempengaruhi mandeknya
pembangunan kesejahteraan masyarakat disekeliling keluarga yang bertikai. 
 
Saat ini seluruh masyarakat
Filipina mengawasi langkah pemerintah dalam menyelesaikan kasus pembantaian
Maguindanao.  Kasus ini merupakan tes
besar bagi Arroyo, apakah beliau masih akan memprioritaskan aliansi politik
dibanding penegakan keadilan. Tekanan bagi Arroyo makin intens karena kecaman
telah datang dari berbagai organisasi internasional, termasuk  PPB dan Uni 
Eropa. 
 
Mayoritas
masyarakat Mindanao berharap bahwa tragedi berdarah ini bisa menjadi akhir
kekuasaan klan Ampatuan di wilayah ini. Sudah terlalu banyak korupsi dan
kekerasan yang mereka lakukan selama memimpin pemerintahan.  Rumah-rumah besar 
klan Amptuan terlihat
ironis ditengah pemukiman penduduk di provinsi termiskin di Mindanao ini. 
 
Penegakan hukum
yang adil, ditindaknya politikus yang korup dan penolakan tegas terhadap
kekerasan tentunya akan berkontribusi positif terhadap perdamaian dan
pembangunan di Mindanao. Tanpa adanya ketiga hal tersebut gerakan-gerakan
penebar perdamaian di kepulauan ini terasa berjalan sangat lambat.
 
Siti
Sarah Muwahidah,  Associate Researcher,  MAARIF Institute for Culture and
Humanity.  Sedang melakukan penelitian di
Mindanao sebagai Asian Public Intellectual Fellow 2009/2010. Juga terdaftar
sebagai Visiting Research Associate di Institute of Philippine Culture, Ateneo
de Manila University,. 


      

Kirim email ke