/kalo udah yg pernah dapat maaf yah kl bosen dikirimin artikel ini lg./

Sudahkah Anda Menemukan Garis Horison Kehidupan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dari jaman dahulu kala, konon profesi sebagai peramal merupakan salah 
satu profesi paling laris. Apalagi kemajuan teknologi komunikasi saat 
ini memungkinkan para peramal untuk mempromosikan diri, sehingga minat 
orang menjadi semakin terbangkitkan. Mengapa kita sedemikian tertariknya 
pada ramalan? Karena kita sering penasaran dengan apa yang akan terjadi 
dimasa depan. Mengapa kita penasaran akan masa depan? Karena kita ragu 
bahwa masa depan kita akan baik-baik saja. Sebab, jika kita yakin bahwa 
masa depan kita akan berjalan mulus, kita tidak perlu was-was atas apa 
yang akan kita alami dimasa mendatang. Sekalipun kita tidak pergi ke 
peramal, tetap saja hati kita diliputi oleh kekhawatiran; akankah masa 
depan kita berjalan sesuai dengan harapan?

Minggu lalu, saya berkesempatan melihat garis horison dipinggir pantai. 
Anda tentu masih ingat dengan ’garis horison’, bukan? Garis mendatar 
yang seolah-olah menjadi pembatas antara bumi dengan langit. Jaman 
dahulu kala, garis horison disalahartikan sebagai ujung dunia, sehingga 
jika kita bergerak melewati garis itu, maka kita akan terjatuh ke 
jurang. Memandang jauh ke tengah laut seolah memandang jauh ke masa 
depan. Sehingga, dengan pola pikir seperti itu, kita sering beranggapan 
bahwa hidup kita hanya akan baik-baik saja sampai kita tiba di ’garis 
ujung’ itu. Dan karena ’garis ujung’ itu adalah batas kemampuan 
pandangan kita, maka ketika kita memandang hidup; kita sering khawatir 
atas apa yang akan terjadi ’setelah garis ujung’ itu terlampaui.

Setelah kita memahami bahwa bumi ini bulat, kita tahu bahwa garis 
horison bukanlah ujung dunia seperti yang kita duga. Jadi, jika kita 
bergerak melewati garis horison itu, kita tidak akan terjatuh. Kita bisa 
terus bergerak maju dengan aman dan leluasa. Selain itu, ketika kita 
menggunakan perahu motor menuju ke tengah laut, kita tidak benar-benar 
’tiba’ di garis horison itu. Segigih apapun kita mengejar garis horison 
itu, tidak akan mampu untuk ’menangkapnya’. Sebab, setiap kali kita 
bergerak mendekat kepadanya, setiap kali itu pula dia bergerak menjauh.

Jangan-jangan, hidup juga demikian. Apa yang kita kira sebagai garis 
ujung dunia, ternyata bukanlah ujung dunia yang sesungguhnya. Melainkan 
hanyalah titik maksimal daya pandang kita. Karena itu, apa yang kita 
kira sebagai garis ujung optimisme kehidupan itu bukanlah ujung 
optimisme hidup yang sesungguhnya. Sebab setelah kita mencapai ’batas’ 
yang kita lihat itu, kita bisa menemukan wilayah lain yang terbentang 
diantara diri kita, dengan garis horison baru. Walhasil, boleh jadi 
kesempatan yang kita miliki dalam hidup itu tidaklah sebatas dari ’apa 
yang bisa kita lihat’ dari titik tempat kita berdiri ini. Sebab, 
dibelakang garis horison itu; terhampar kesempatan lain yang begitu luas.

Garis horison, adalah pembatas antara wilayah yang bisa kita lihat, 
dengan wilayah yang tidak bisa kita lihat. Kita dapat dengan leluasa 
menjelajah wilayah yang bisa kita lihat. Dan kalau kita bergerak 
mendekati garis horison itu, maka kita akan mampu untuk melihat wilayah 
lain yang sebelumnya tidak terlihat. Barangkali, hidup kita juga 
demikian. Meskipun kita sering dibatasi oleh sempitnya daya pandang 
kita; namun, ketika kita menjalani hidup ini dengan sungguh-sungguh. 
Lalu kita bergerak maju untuk mengeksplorasi inci-demi inci wilayah itu. 
Ternyata, garis batas itu tidak benar-benar ada. Walhasil, ketika kita 
secara konsisten bergerak maju menjalani hidup; hidup kita sama sekali 
tidak dibatasi oleh garis horison itu. Karena, ketika kita mendekatinya, 
sang garis bergeser menjauh. Seolah dia memberikan ruang yang lebih luas 
lagi kepada kita. Untuk terus menjelajah, tanpa mengenal lelah.

Bayangkan seandainya ketakutan kita akan keterbatasan pandangan itu 
menjadikan kita terdiam. Maka, jangkauan kita tidak akan pernah 
bertambah. Bahkan mungkin, kita akan dikurung oleh pesimisme dan 
ketakutan-ketakuan semu. Sebaliknya, jika kita bersedia menjalani hidup 
ini dengan keyakinan bahwa dunia kita sangatlah luas, maka bukan saja 
kita akan terbebas dari rasa was-was atas keserbaterbatasan yang ada. 
Lebih dari itu, kita bisa bersahabat. Bermain. Dan bercengkrama dengan 
garis horison itu. Ketika kita mengejarnya, dia akan berlari. Sehingga, 
tanpa kita sadari, kita sudah menjelajah jauh sekali. Dan dititik ini, 
kita akan menemukan; betapa rahmat Allah itu terhampar dengan teramat 
sangat luas. Dan semoga kiranya Allah, gembira melihat kita yang dengan 
sukacita bersedia menjalani fitrahnya.


/Catatan Kaki:
Dengan selera humornya yang tinggi, garis horison menyembunyikan masa 
depan kita dibelakangnya; sebagai teka-teki untuk terus-menerus 
dieksplorasi.
/


------------------------------------

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [email protected]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[email protected]! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke