NICE.... 2009/12/30 Erwin <[email protected]>
> Hiks....hiks....hiks..... > > Sent from BlackBecak® > > -----Original Message----- > From: Linda Susanti <[email protected]> > Date: Wed, 30 Dec 2009 08:23:57 > To: ariani hidayah<[email protected]>; ARIAS TANTI HAPSARI< > [email protected]>; arie_lazuardi<[email protected]>; > [email protected]<[email protected]>; milis PJR< > [email protected]> > Subject: [sma1bks] HARTA KITA YANG SEBENARNYA > > Dari millis tetangga, semoga bermanfaat > > •Linda• > > HARTA KITA YANG SEBENARNYA > > Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh > > Kita sering salah menyikapi HARTA KITA YANG SEBENARNYA milik kita, banyak > orang menumpuk hartanya di bank, investasi saham, membeli tanah, rumah, > mobil dan lains ebagainya. > Apakah benar itu milik kita yang sebenarnya??? > > Untuk menjawabnya marilah kita belajar dengan kisah Ibu Ella yang sangat > sederhana ini: > > Ibu Ela adalah wanita yang pekerjaannya mengumpullkan sampah plastic dari > kemasan. Cuma untuk memperolehnya, dia harus memungutnya di sungai. wanita > paruh baya, kurus, rambutnya diikat ke belakang, banyak warna putihnya itu > berumur 54 tahun, inilah petikan wawancara tim Uang Kaget RCTI dengan Bu Ela > > “Assalamu’alaikum…” > “Wa’alaikum salam. Ada apa ya Pak?” tanya Ibu Ela.. > “Saya dari tabloid An Nuur, mendapat cerita dari seseorang untuk menemui > Ibu. Kami mau wawancara sebentar, boleh Bu…?” saya menjelaskan, dan > mengunakan ‘Tabloid An Nuur’ sebagai ‘penyamaran’. > “Oh.. boleh, silahkan masuk.” > > Ibu Ela, masuk lewat pintu belakang. Saya menunggu di depan. Tak beberapa > lama, lampu listrik di ruang tengahnya nyala, dan pintu depan pun dibuka. > “Silahkan masuk…” > Saya masuk ke dalam ‘ruang tamu’ yang diisi oleh dua kursi kayu yang sudah > reot. Tempat dudukannya busa yang sudah bolong di bagian pinggir. Rupanya > Ibu Ela hanya menyalakan lampu listrik jika ada tamu saja. Kalau rumahnya > ditinggalkan, listrik biasa dimatikan. Berhemat katanya. > > “Sebentar ya Pak, saya ambil air minum dulu” kata Ibu Ela. > Yang dimaksud Ibu Ela dengan ambil air minum adalah menyalakan tungku > dengan kayu bakar dan diatasnya ada sebuah panci yang diisi air. Ibu Ela > harus memasak air dulu untuk menyediakan air minum bagi tamunya. > > “Iya Bu.. ngga usah repot-repot.” Kata saya ngga enak. > > Kami pun mulai ngobrol, atau ‘wawancara’. > Ibu Ela ini usianya 54 tahun, pekerjaan utamanya mengumpulkan plastic dan > menjualnya seharga Rp 7.000 per kilo. Ketika saya Tanya aktivitasnya selain > mencari plastic, > “Mengaji…” katanya > > “Hari apa aja Bu…?” Tanya saya > > “Hari senin, selasa, rabu, kamis, sabtu…” jawabnya. Hari Jum’at dan Minggu > adalah hari untuk menemani Ibunya yang dirawat di rumahnya. > > Oh.. jadi mengaji rupanya yang jadi aktivitas paling banyak. Ternyata dalam > pengajian itu, biasanya ibu-ibu pengajian yang pasti mendapat minuman > kemasan, secara sukarela dan otomatis akan mengumpulkan gelas kemasan air > mineral dalam plastik dan menjadi oleh-oleh untuk Ibu Ela. > > Hmm, sambil menyelam minum air rupanya. Sambil mengaji dapat plastik. > > Saya tanya lagi, > “Paling jauh pengajiannya dimana Bu?” > “Di dekat terminal Bubulak, ada mesjid taklim tiap Sabtu. Saya selalu > hadir; ustadznya bagus sih…” kata Ibu Ela. > > “Kesana naik mobil dong..?” tanya saya. > “Saya jalan kaki” kata Ibu Ela > “Kok jalan kaki…?” tanya saya penasaran. > > Penghasilan Ibu Ela sekitar Rp 7.000 sehari. Saya mau tahu alokasi uang itu > untuk kehidupan sehari-harinya. Bingung juga bagaimana bisa hidup dengan > uang Rp 7.000 sehari. > > “Iya.. mas, saya jalan kaki dari sini. Ada jalan pintas, walaupun harus > lewat sawah dan jalan kecil. Kalau saya jalan kaki, khan saya punya sisa > uang Rp 2.000 yang harusnya buat ongkos, nah itu saya sisihkan untuk sedekah > ke ustadz…” Ibu Ela menjelaskan. > > “Maksudnya, uang Rp 2.000 itu Ibu kasih ke pak Ustadz?” Saya melongo. Khan > Ibu ngga punya uang, gumam saya dalam hati. > > “Iya, yang Rp 2.000 saya kasih ke Pak Ustadz… buat sedekah.” Kata Ibu Ela, > datar. > > “Kenapa Bu, kok dikasihin?” saya masih bengong. > > “Soalnya, kalau saya sedekahkan, uang Rp 2.000 itu udah pasti milik saya di > akherat, dicatet sama Allah…. Kalau uang sisa yang saya miliki bisa aja > rezeki orang lain, mungkin rezeki tukang beras, tukang gula, tukang minyak > tanah….” Ibu Ela menjelaskan, kedengarannya jadi seperti pakar pengelolaan > keuangan keluarga yang hebat. > > Dzig! Saya seperti ditonjok Cris John. Telak! > Ada rambut yang serempak berdiri di tengkuk dan tangan saya. Saya > Merinding! > > Ibu Ela tidak tahu kalau dia berhadapan dengan saya, seorang sarjana > ekonomi yang seumur-umur belum pernah menemukan teori pengelolaan keuangan > seperti itu. > > Jadi, Ibu Ela menyisihkan uangnya, Rp 2.000 dari Rp 7.000 sehari untuk > disedekahkan kepada sebuah majlis karena berpikiran bahwa itulah yang akan > menjadi haknya di akherat kelak? > > ‘Wawancara’ yang sebenarnya jadi-jadian itu pun segera berakhir. Saya pamit > dan menyampaikan bahwa kalau sudah dimuat, saya akan menemui Ibu Ela > kembali, mungkin minggu depan. > > Saya sebenarnya on mission, mencari orang-orang seperti Ibu Ela yang cerita > hidupnya bisa membuat ‘merinding’..Saya sudah menemukan kekuatan dibalik > kesederhanaan. Keteguhan yang menghasilkan kesabaran. Ibu Ela terpilih untuk > mendapatkan sesuatu yang istimewa dan tak terduga. > > Minggu depannya, saya datang kembali ke Ibu Ela, kali ini bersama dengan > tim kru televisi dan seorang presenter kondang yang mengenakan tuxedo, topi > tinggi, wajahnya dihiasai janggut palsu, mengenakan kaca mata hitam dan > selalu membawa tongkat. Namanya Mr. EM (Easy Money) > > Kru yang bersama saya adalah kru Uang Kaget, program di RCTI yang telah > memilih Ibu Ela sebagai ‘bintang’ di salah satu episode yang menurut saya > salah satu yang terbaik. Saya mengetahuinya, karena dibalik kacamata > hitamnya, Mr. EM seringkali tidak kuasa menahan air mata yang membuat > matanya berkaca-kaca. Tidak terlihat di televisi, tapi saya merasakannya. > > Ibu Ela mendapatkan ganti dari Rp 2.000 yang disedekahkannya dengan Rp 10 > juta dari uang kaget. Entah berapa yang Allah akan ganti di akherat kelak. > > Ibu Ela membeli beras, kulkas, makanan, dll untuk melengkapi rumahnya. > Entah apa yang dibelikan Allah untuk rumah indahnya di akherat kelak... > > Sahabat Hikmah... > Hidup ini fana...sementara... > Kita diberi waktu di dunia ini untuk menyiapkan KEHHIDUPAN YANG SEBENARNYA > di akhirat. > Barang siapa yang mengumpulkan hartanya hanya untuk KEDUNIAAN maka itu > semua PASTI akan DITINGGALKAN... > Tetapi barang siap mengumpulkan hartanya untuk NEGERI AKHIRAT, maka kita > PASTI akan MENDATANGINYA.... > Sudahkah kita menyiapkan HARTA KITA YANG SEBENARNYA di akherat? > > "Dan carilah dari APA SAJA yang telah Allah BERIKAN KEPADAMU untuk mencapai > KEBAHAGIAAN di NEGERI AKHIRAT, dan JANGANLAH kamu MELUPAKAN NASIBMU di > DUNIA. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. > Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak > menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS 28:77) > > Bahkan apa yang kita infakkan akan dilipatgandakan oleh Allah ta'ala.... > "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan > hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan > tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan > (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) > lagi Maha Mengetahui. " (QS. 2:261) > > Bayangkan dibalas dengan 700 kali lipat !! > > Rumus matematika mengatakan 100 – 10 = 90, tetapi rumus sedekah yang dibuat > oleh Allah ta'ala adalah: 100-90 = 7090 dengan perhitungan: > > 100 kita dapat rizki dari Allah, 10 disedekahkan/diinfakkan maka > 10 dilipat gandakan 700 x menjadi = 7000 > Sehingga 100-10 = 90 + (10x700)= 7090 > > Ada yang bertanya, jadi kalau saya sedekahkan Rp10.000, maka saya akan > mendapatkan kembali Rp.7000.000 ??? Semudah itu??? > Ya ! Silahkan buktikan wahai sahabatku. > > Yang perlu diingat adalah : IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS.. > Cuma kadang kita menhgetahui RIZKI hanya diukur dengan uang...? > Tidak wahai sahabatku.... > Kadang matematika Tuhan ini tidak kasat mata. Tidak melulu uang diganti > dengan uang. Tetapi Allah Yang Maha Suci dengan Kesempurnaan-Nya juga Maha > Mengetahui mana yang terbaik dan apa yang sedang dibutuhkan oleh hamba-Nya > saat itu. Bisa jadi Diganti dengan keselamatan dijalan, bertahun-tahun gak > pernah sakit, mudah cari kerja, kemudahan berusaha, kebahagiaan keluarga, > anak yang berbakti, ditemukan jodohnya dan lain sebagainya. > > Semoga kita senantiasa IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS > > > > ------------------------------------ > > -------------------------------------------------- > Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk > menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....]. > > Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, > kirim email ke [email protected] > > Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke > [email protected]! Groups Links > > > > > > ------------------------------------ > > -------------------------------------------------- > Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk > menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....]. > > Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, > kirim email ke [email protected] > > Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke > [email protected]! Groups Links > > > >
