Wuiiiihhhh.....
Anak yang hebat...
Satu petikan yang dapat saya ambil dari crita ini, jangan pernah 
berburuk sangka trhadap kenakalan anak dan jangan pula ringan tangan 
trhadap anak, biarlah anak berbicara maksudnya trlebih dahulu, knapa dia 
sampai melakukan itu. Kalo skiranya alasannya tidak masuk akal, ya 
sbaiknya ditegor tapi tidak dengan kontak fisik... Hal yang paling aku 
hindarkan adalah adanya kontak fisik dengan anak...


Regards,
Linda


------------------------------------------------------------------------
Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, 
sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam 
surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah 
meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang 
anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama 
ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan 
jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk 
anak saya.

 Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera 
berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus 
menyediakan makan untuknya.

 Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. 
Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku 
bergegas berangkat ke tempat kerja.

 Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu 
hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja 
sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya 
langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika 
aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak 
menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah 
dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di 
sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie 
instan yang berantakan di seprai dan selimut!

Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan 
langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan 
mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak 
meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
 
"Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah 
belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah 
mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada 
orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan 
menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu 
lagi untuk saya ... Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi 
aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah 
pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain 
dengan mainan saya ... Saya minta maaf Ayah ... "
 
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin 
anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan 
menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara 
tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya 
dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan 
dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan 
kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar 
anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di 
pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.

Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, 
untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah 
dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua 
kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan 
lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak 
meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa 
dengan bahagia.

Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar 
menyesal....

Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya 
absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku 
berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi 
mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya 
menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer 
game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya 
dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, 
Ayah".

Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara 
"pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang 
adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena 
ia tidak punya ibu.....

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke 
rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca 
dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di 
kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih 
ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya 
bangga juga!

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini 
musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana 
juga di hati setiap orang yg lalu lalang... Lagu-lagu Natal terdengar 
diseluruh pelosok jalan .... tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. 
Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, 
tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami 
puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka 
pun jadi kurang bagus

Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak 
saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah 
berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak 
bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa 
anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti 
sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Ayah". Tidak ada tambahan satu 
kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.

Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa 
alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya 
mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol 
apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?

Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk 
mommy.....".

Tiba-tiba mataku berkaca-kaca..... tapi aku mencoba mengendalikan emosi 
dan terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak 
surat-surat, pada waktu yg sama?"

Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu 
yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu 
tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi 
baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak 
itu dan aku mengirimkannya sekaligus".

Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku 
bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku 
katakan ....

Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk 
selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup 
dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. 
Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah 
itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar 
surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke 
luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut 
sebelum mereka berubah menjadi abu.

Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......

'Mommy sayang',

Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' 
di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan 
tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. 
Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan 
mulai menangis dan merindukanmu lagi.

Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan 
mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari 
saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah 
memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.

Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia 
teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di 
kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat 
untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. 
Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu 
dan ingat mommy? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang 
kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi 
mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya 
tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan 
semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....

Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang 
penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari 
padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani 
hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia 
menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.

 

Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu 
dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah 
kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa 
menggantikan posisinya.

--------------------

Kirim email ke