cuman copy paste, tetapi insyaallah berguna

dikutip dari :

http://unseenhands.wordpress.com/2009/06/20/sejarah-taliban/

Sejarah Taliban

Kalau mendengar Taliban pasti kebanyakan orang Islam sendiri langsung berburuk 
sangka.

(Sumber: Dr. Muhammad Abbaas, “Bukan… Tapi Perang terhadap Islam” 
(diterjemahkan oleh Ibnu Bukhori), Solo: Wacana Ilmiah Press, Cet. I, April 
2004, hal. 248-255 dan hal. 245-246)

Setelah mujahidin meraih kemenangan, Amerika Serikat dan pengikut-pengikutnya 
berhasil menyebarkan permusuhan di kalangan faksi-faksi mujahidin, selain juga 
berhasil membunuh Kamal Sananiri pada tahun ’81, pembunuhan terhadap Dr. 
Abdullaah Azzaam pada tahun ’89 berhasil menciptakan perpecahan di antara 
faksi-faksi mujahidin. Sehingga, mereka semua saling memusuhi, sehingga hal ini 
menimbulkan meluasnya ketakutan di sebagian besar kawasan Afghanistan. Keadaan 
ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang berjiwa lemah, sehingga mereka menarik 
pajak dan upeti kepada masyarakat. Semakin banyaklah patroli yang berkeliling 
di jalan-jalan yang mengumpulkan pajak dengan paksa kepada orang-orang yang 
lewat dengan kednaraan mereka. Maka, setiap kelompok dari faksi-faksi itu 
memiliki para penarik pajak yang melakukan tindakan yang mirip dengan tindakan 
para mafia. Maka, merajalelalah kejahatan dengan berbagai bentuknya. Masyarakat 
dilanda ketakutan menyangkut
 keamanan jiwa, harta, kehormatan, dan hak milik mereka. Sebagian orang 
bertahan, sebagian lagi pergi ke luar negeri. Krisis ini semakin parah, 
penderitaan semakin bertambah-tambah, dan harapan semakin pupus. Keadaan ini 
berlangsung selama beberapa tahun, di mana masyarakat sudah kehabisan harapan 
untuk mendapatkan jalan keluar, karena di sana tidak ada seberkas cahaya pun di 
cakrawala dan tiada sepercik harapan di hati. Hanya ada kegelapan yang 
bertumpuk dengan kegelapan, malam gelap gulita yang sangat kelam menyelimuti 
seluruh kawasan Afghanistan, yang semua itu menambah beban di hati putra-putra 
negeri Islam yang telah dihancurkan oleh perang dan dipotong-potong oleh 
taring-taringnya yang tajam, sehingga ia bermalam sebagai sepotong daging yang 
menjadi permainan lidah orang-orang dengki atau bola yang disepak ke sana 
kemari oleh kaki orang-orang berdosa.

Tiba-tiba, tanpa perencanaan oleh seorang pun, datanglah jalan keluar dari 
Allah swt. Maka, muncullah Taliban di permukaan dengan sedikit komandan tempur 
dan personil militer yang kecil untuk mengatakan kepada semua pihak: “Tahanlah 
tangan kalian dan menyingkirlah dari medan! Bukalah kota-kota, 
lapangan-lapangan, jalan-jalan, dan halaman-halaman, dengan sukarela atau 
dengan peperangan!” Lantas, mereka semua pun menyingkir dengan terpaksa dan 
terhina.

Gerakan Taliban bermula pada tahun 1994, pada saat sebuah kelompok kecil dari 
kalangan Talib (pelajar ilmu agama; dalam bahasa Afghan, kata talib dijamakkan 
menjadi Taliban, dengan demikian kata taliban berarti pelajar ilmu agama) dan 
Mulla Afghan di Kandahar melakukan pengusiran terhadap para perampok yang biasa 
merampok kafilah (yang mengadakan perjalanan) dan melakukan pemerkosaan kepada 
wanita di sekitar Kandahar. Para Talib itu, yang dipimpin oleh Mulla Muhammad 
Umar berhasil merampas senjata para perampok dan menemukan beberapa wanita yang 
diculik dan sebagian lagi dibunuh setelah diperkosa. Sebagian perampok itu 
berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman sesuai dengan syariat. Sebagian dari 
gerombolan perampok melarikan diri dari Kandahar. Kemudian, berkembanglah 
euforia dan semangat di kalangan penduduk Kandahar, lantas mereka memecat 
gubernur Kandahar yang berada di bawah pemerintahan Rabbani, karena ia tidak 
mampu menghadapi para perampok itu.
 Mereka pun mengangkat Mulla Muhammad Umar sebagai amir mereka. Mulla (Mulla 
adalah mahasiswa ilmu syariah yang berhenti dari sekolah sebelum memperoleh 
gelar, sedangkan maulawi adalah yang telah berhasil meraih gelar) akhirnya 
mengumumkan penerapan syariat Islam di Kandahar, kawasan yang mereka kuasai. 
Tersebarlah berita keamanan yang terwujud di kawasan Kandahar, sehingga 
berdatanganlah delegasi para Talib dan penduduk kawasan utara dan barat yang 
bertetangga dengan Kandahar. Para pelajar agama itu meminta mereka untuk 
memerintah dan menerapkan syariat Islam di wilayah-wilayah mereka. Para Talib 
itu membantu mereka dalam mengatur wilayah tersebut di bawah kekuasaan mereka 
dan dalam penerapan syariat. Dengan demikian, Taliban telah menguasai sekitar 
seperlima Afghanistan tanpa peperangan, akan tetapi karena keinginan penduduk 
kawasan tersebut akan diterapkannya syariat Islam dan terciptanya keamanan. 
Itulah awal mula gerakan ini. Dr. Sami Muhammad
 Shalih Dallal melukiskan bagaimana gerakan Taliban sering meraih kemenangan 
ini tanpa peperangan. Ia mengatakan:

“Dari rahim sekolah-sekolah agama di Kandahar, dengan fatwa para ulama di 
kawasan Mayuan, muncul Taliban pada hari jumat, 15 Muharram 1415 H bertepatan 
dengan 24 Juni 1994 M di medan konflik perubahan. Ia berawal dari beberapa 
belas penuntut ilmu agama yang dipimpin oleh Mulla Muhammad Umar, kemudian 
banyak penuntut ilmu yang bergabung dengan mereka, di mana kebanyakan mereka 
itu lulusan Universitas Haqqaniyah di Peshawar, Pakistan. Dalam sebuah 
pertemuan besar yang dihadiri oleh 1500 ulama Aghanistan, terpilihlah pimpinan 
dan perintis gerakan Taliban, Mulla Muhammad Umar sebagai Amirul Mukminin. 
Mulailah gerakan Taliban menaklukkan kawasan-kawasan Afghanistan, satu demi 
satu, bermula dari kawasan Ruzajan, dengan pasukan yang jumlahnya hanya 
sebanyak 313 orang, di mana kelak kekuasaannya meluas sedikit demi sedikit. 
Keadaan ini terus berlangsung hingga akhirnya ia menguasai mayoritas kawasan 
itu. Seluruh faksi yang semula saling bertempur sejak
 kekalahan Rusia pada tahun 1989 M berhasil dikalahkannya. Pada masa itu, 
Pakistan mendukung Taliban dan mempermudah gerakan para Talib ke Afghanistan 
untuk bergabung dengan Taliban. Pakistan juga membuka perbatasan untuk suplai 
logistik bagi Taliban. Karena kedudukan terhormat para ulama, maulawi, dan 
Talib di masyarakat Afghan, Taliban meraih kemajuan dengan menguasai 
kawasan-kawasan lain di utara dan timur. Saat itu, Rabbani, sebagai penguasa di 
Kabul belum mengumumkan sikapnya, sebagai taktiknya, karena ia mengetahui bahwa 
pasukan Hikmatyar-lah yang memisahkan wilayah kekuasaan mereka dari Kabul. 
Bahkan, ia menawarkan bantuan kepada mereka untuk menjadi gerakan agama yang 
menjalankan tugas untuk melakukan koreksi serta amar makruf dan nahi munkar. 
Akan tetapi Hikmatyar memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerah kepada 
Taliban. Terjadilah pertempuran di antara mereka di kawasan Ghazni, kemudian ke 
utara hingga kawasan Kabul, di mana wilayah
 kekuasaannya jatuh satu persatu tanpa peperangan atau dengan peperangan kecil, 
karena kebanyakan komandan dan faksi mujahidin, bahkan juga perampok, ragu 
untuk terjun berperang melawan para penuntut ilmu agama.

Beberapa faksi lain, seperti faksi Yunus Khalish dan pasukan Haqqani 
menyerahkan wilayah kekuasaan mereka kepada Taliban di Paktia dan Khost. 
Kebanyakan komandan Sayyaf juga enggan untuk berperang melawan para Talib itu. 
Mereka menyerahkan Nankarhar dan Jalalabad kepada Taliban, karena mereka 
melihat akhlak para Talib itu, serta tindakan mereka menerapkan syariat Islam, 
beramar makruf nahi munkar, mewujudkan stabilitas keamanan, memburu para 
perampok, dan mengamankan jalan. Kemudian, Taliban berhasil mencapai perbatasan 
Kabul. Mereka menghadap kepada Rabbani dengan sejumlah tuntutan, yang paling 
penting di antaranya adalah penerapan syariat Islam. Kemudian, Rabbani meminta 
mereka mengirimkan delegasi untuk berunding dengannya. Akan tetapi, Mas’ud, 
menteri pertahanannya, setelah berjanji kepada mereka untuk menyerahkan 
senjata, menghentikan peperangan, dan berdialog dengan mereka, justru 
mengkhianatai mereka pada pagi hari berikutnya dan membunuh
 sejumlah qurra dan penghafal al-Quran yang menjadi delegasi dari para Talib 
itu. Disebutkan bahwa jumlah orang-orang yang dikhianati itu, yang dibunuh di 
dalam masjid mencapai hampir 250 talib. Akhirnya, Taliban menyerang Kabul, yang 
dalam waktu singkat berhasil dijatuhkan pada malam 26 September ’96, karena 
tidak adanya kepercayaan di antara dua faksi yang mempertahankannya, yaitu; 
kelompok Mas’ud dan kelompok Hikmatyar. Sebelum subuh, Taliban memasuki Kabul 
setelah terjadi pertempuran ringan dengan sebagian penjaganya dari kelompok 
pasukan Mas’ud, Rabbani, dan Sayyaf. Maka, faksi-faksi itu melarikan diri ke 
arah utara, untuk menghentikan peperangan di garis Gunung Siraj, pintu gerbang 
koridor Salink, dan kawasan utara. Saat itu, usia Taliban dihitung dari 
kemunculannya sekitar dua tahun. Kekuasaan Taliban berhenti di kawasan timur, 
selatan, barat, dan barat laut, hingga kawasan Herat. Sedangkan hampir seluruh 
kawasan utara yang meliputi sekitar
 15% kawasan Afghanistan dengan ibukotanya Mazar-i Syarif masih belum dikuasai 
oleh Taliban.

Pada pertengahan tahun ’97, Taliban bergerak ke arah utara dan dalam sebuah 
gerakan cepat berhasil menguasai sebagian besar kawasan utara, dan jatuhlah 
ibukota Mazar-i Syarif ke tangan mereka. Saat itu seluruh dunia menyangka bahwa 
kekuasaan Afghanistan telah berada di tangan Taliban. Tetapi, sebagian milisi 
Uzbek yang semula mengadakan perjanjian damai dan bekerjasama dengan Taliban, 
berkhianat. Pengkhianatan ini menimbulkan pembantaian mengerikan yang menimpa 
pasukan mereka di utara, di mana korban pembantaian ini mencapai 10.000 hingga 
15.000 pasukan Taliban, menurut angka-angka yang disebut, dalam pembantaian 
sadis, di mana kebanyakan dari mereka dikuburkan hidup-hidup dalam kuburan 
masal oleh milisi Uzbek Komunis di Mazar-i Syarif bersama dengan sekutu mereka 
dari golongan Syiah.

Maka, Taliban kembali bergerak ke utara dengan penuh waspada, lantas satu 
persatu wilayah utara jatuh ke tangah mereka sekali lagi. Maka, pasukan Dustum 
pun hancur dan ia melarikan diri ke Uzbekistan. Maka, tidak ada lagi kekuatan 
militer yang melawan mereka kecuali pasukan Mas’ud yang berdiam di sebuah 
lembah sempit yang terbentang dari Panshir hingga Gunung Siraj, kemudian ke 
Tasyarika, hingga ke pintu gerbang Kabul bagian utara, di mana di situ ia 
bertahan bersama pasukan pengikut Sayyaf. Taliban bergerak ke utara mengejar 
pasukan Mas’ud melalui jalan Ghurbind, tempat yang sewaktu-waktu bisa dijadikan 
jalan penyerangan bagi Mas’ud dan Sayyaf ke arah Kabul, dalam upaya 
menguasainya dan mengembalikan neraca kekuatan di Afghanistan, sekali lagi.

Serangan itu benar-benar terjadi ketika pasukan Taliban masih tersebar jauh 
dari ibukota Kabul, di mana pada saat itu, Kabul diselamatkan, setelah oleh 
karunia Allah, oleh sekeompok mujahidin Arab.

Pemerintahan Taliban telah mengumumkan penerapam syariat Islam di seluruh 
kawasan yang berada di bawah kekuasaannya dengan menjadikan Kabul yang 
dikuasainya pada 27-9-1996 sebagai ibukota dan basis gerakan politiknya dan 
menjadikan Kandahar sebagai tempat tinggal Amirul Mukminin dan basis gerakan 
legislasi dan organisasinya.

Dalam waktu singkat, Taliban telah menguasai hampir seluruh kawasan Afghanistan 
(kecuali sedikit kawasan utara yang telah kami singgung sebelumnya) dengan 
memproklamirkan tujuan-tujuannya, yang secara ringkas berupa penerapan syariat 
Islam secara total, penciptaan stabilitas dan keamanan di seluruh kawasan 
negeri Afghanistan, pemulihan bangunan, dan pembangunan infrastruktur di 
seluruh kawasan negeri Afghanistan.

Tak lama setelah itu, musuh-musuh Allah di seluruh dunia pun geger. Mereka 
memperlihatkan kedengkian mereka, membidikkan anak panah mereka, dengan harapan 
mereka bisa mengenai Taliban dalam satu pembunuhan atau paling tidak 
mempersempit ruang geraknya. Maka, mereka mulai melontarkan tuduhan-tuduhan 
sebagai berikut:

   1. Taliban telah membawa Afghanistan dari cahaya peradaban yang gemerlap 
kepada apa yang mereka sebut sebagai kegelapan syariat Islam.
   2. Melarang wanita dari kegiatan belajar dan mengajar serta menutup 
pintu-pintu rumah untuk menghalangi para wanita keluar dari rumah menuju 
sekolah dan universitas.
   3. Melarang kaum wanita bekerja atau berkarir.
   4. Mengharuskan kaum wanita mengenakan hijab.
   5. Melarang minuman keras di seluruh kawasan Afghanistan.
   6. Melarang musik dan lagu di panggung maupun di tempat-tempat umum.
   7. Melindungi para teroris dan melatih kelompok-kelompok mujahidin.
   8. Menanam ganja dan mengekspornya ke seluruh dunia.
   9. Tidak mematuhi undang-undang internasional dan konvensi-konvensi antar 
negara.
  10. Membela kasus-kasus keislaman, khususnya intifadah di Al-Aqsha, Palestina.

Sebagai contoh, Muhammad Hasanain Haikal berkata membawakan sebuah peristiwa 
menyentuh, ketika ia mengatakan:

“Agen intelijen pusat Amerika terlibat sangat intens terhadap peroalan 
Afghanistan, sampai-sampai sekelompok stafnya telah menghabiskan waktu enam 
bulan untuk membuat laporan tentang penyimpangan seksual bagi para pemimpin 
Afghan serta pentingnya menggunakan penyimpangan seksual itu sebagai alat untuk 
menundukkan mereka! Sebagai contoh nyata, agen intelijen tersebut mensinyalir 
adanya perang hebat yang berlangsung selama beberapa bulan antara dua orang 
pemimpin yang kedua-duanya jatuh cinta kepada anak kecil yang ditemukan oleh 
salah seorang dari kedua pemimpin itu, lantas diculik oleh yang lain.”

Ya, Imperium Setan ini telah memproduksi sesuatu paling rendah yang ada pada 
diri manusia yaitu nafsu seks, bermain dengan dan di atasnya. Sesungguhnya, 
setiap orang memiliki titik kelemahan, jika kelemahan itu tidak ditemukan, Anda 
bisa menciptakannya dengan memberikan iming-iming dan menyesatkannya. Jika Anda 
tidak berhasil juga, Anda bisa mempublikasikan kelemahan itu agar 
kebohongan-kebohongan dan kedustaan-kedustaan mengenainya tersebar luas. 
(Sumber: Dr. Muhammad Abbaas, “Bukan… Tapi Perang terhadap Islam” 
(diterjemahkan oleh Ibnu Bukhori), Solo: Wacana Ilmiah Press, Cet. I, April 
2004, hal. 236)

Dalam tuduhan-tuduhan ini, mereka telah mencampuradukkan antara kebenaran dan 
kebatilan. Kebanyakan tuduhan tersebut tidak memiliki dasar kebenaran sama 
sekali, melainkan semata-mata merupakan kebohongan murahan. Kebanyakan darinya 
bahkan merupakan mahkota yang berkilau yang dipasangkan di dahi Taliban.

Adapun pihak-pihak yang berada di belakang tuduhan-tuduhan ini adalah: Amerika 
Serikat, Uni Eropa, Republik Rusia, beberapa republik Islam yang merdeka 
setelah kejatuhan Uni Soviet, India, Yahudi di Palestina, sebagian besar negara 
Islam, PBB, kaum sekuleris di seluruh negara. Semua tuduhan ini dilontarkan 
melalui surat kabar, majalah, buku-buku, siaran radio dan televisi, internet, 
dan berbagai media informasi lainnya.

Seluruh pihak yang telah kami sebutkan tadi telah berhimpun untuk menjatuhkan 
pemerintahan Taliban, meski berapapun biaya yang diperlukan dan meskipun 
penderitaan yang dialami bangsa Afghanistan semakin parah.

Mereka semua menunjukkan dendam mereka dan berlindung di balik payung 
Perserikatan Bangsa-bangsa. Mereka mengepung penuh Afghanistan yang diperintah 
oleh Taliban. Mereka memasang pagar-pagar yang mengisolasi dan menyerangnya 
dari darat dan udara, agar mereka bisa membunuh bangsa Afghanistan dengan rasa 
lapar dan ketertindasan. Kemudian, sesudah itu mereka akan mengatakan: “Ia 
dibunuh dan ditindas oleh Taliban!”

Adapun dari dalam, mereka menyebarkan kelompok-kelompok misionaris yang 
menjelajahi sebagian besar kawasan Afghanistan dengan alasan untuk 
menyelamatkan rakyat Afghanistan yang secara sistematis telah dibuat lapar dan 
takut, kemudian mereka datang untuk menjadi juru selamat, seperti serigala yang 
berbulu domba.

Jumlah organisasi misionaris yang aktif hingga sekarang di Afghanistan dan 
diwarisi oleh Taliban dari masa-masa seblumnya mencapai sekitar 240. Surat 
Kabar Frontie Post yang terbit di Peshawar dengan bahasa Inggris, pada edisi 10 
Desmber 1997, mempublikasikan bahwa organisasi NGO Men telah berhasil 
mengkristenkan 100.000 rakyat Afghanistan selama 7 tahun (mulai tahun 1990 
hingga 1997).

Taliban telah mengumumkan penerapan syariat Islam di seluruh bidang kehidupan. 
Mereka mengeluarkan beberapa keputusan menyangkut persoalan wanita dan 
perlindungannya dari penyimpangan. Mulla Muhammad Umar berkata: “Kita tidak 
anti pengajaran bagi wanita, tetapi kita ingin mengatur pengajaran kaum wanita 
dengan aturan-aturan syariat.”

Taliban juga telah mengeluarkan beberapa keputusan yang melarang penanaman, 
produksi, dan pemakan ganja di Afghanistan, di mana sepanjang sejarah, 
Afghanistan telah menjadi negara terkemuka pengekspor barang haram ini.

Ketika semua itu terjadi, maka semuanya menjadi rambu-rambu yang jelas 
menunjukkan hakikat gerakan Taliban, tujuan-tujuannya, dan target-targetnya 
serta sejauh mana tingkat kebenarannya. Gerakan ini telah mengajukan solusi 
bagi Afghanistan yang terkucil. Ia telah berhasil mewujudkan apa yang gagal 
diwujudkan oleh gerakan lain dan berdiri kukuh ketika yang lain surut ke 
belakang. Berbagai upaya iming-iming maupun penyesatan tidak mampu 
membalikkannya dari jalan yang telah digariskannya, ketika amirnya dengan tegas 
menyatakan—sebagai jawaban atas embargo, tekanan, dan tawar-menawar yang 
diajukan kepadanya: “Sesungguhnya prinsip-prinsip Islam mengenai pemerintahan 
Islam tidak bisa menerima kompromi atau tawar-menawar terhadapnya dengan apapun 
juga.”

Adalah mustahil untuk menjelaskan seluruh sepak terjang Taliban, sekalipun 
dengan menggunakan seluruh lembaran buku ini, oleh karena itu, penulis akan 
memberikan gambaran sepintas, barangkali ini bisa menghilangkan berbagai 
kebohongan yang diceritakan mengenainya.

Kita awali dengan kesaksian Mufti Mesir, Dr. Nashr Farid Washil, di mana beliau 
mengatakan:

“Ketika kita pergi ke sana, kita akan mendapati bahwa realitas Afghanistan 
berbeda sama sekali dari apa yang digambarkan dan disiarkan oleh media massa 
Barat tentang Taliban dengan berbagai pengekangan, pengungkungan wanita, dan 
perkebunan ganja. Kami semua, sebagai delegasi, semula memiliki kesan kuat di 
benak kami bahwa Taliban benar-benar telah mengangkat syiar Islam sebagai 
solusi, tetapi mereka kemudian menanam ganja untuk membiayai gerakan mereka. 
Media massa Barat menyiarkan bahwa mereka mengekang dan melarang kaum wanita 
dari aktivitas mengajar, mengemudi mobil, dan sebagainya, bahwa mereka begini 
dan begitu. Tapi, di sana terlihatlah fakta yang tak pernah terlihat itu, bahwa 
mereka tidak menanam ganja, melainkan membentuk kelompok-kelompok untuk 
memberantas pertanian ganja, bahkan benar-benar membakar perkebunannya. Mereka 
melarang ada satu pohon ganja pun dalam pemerintahan mereka!

Adapun kaum wanita, maka kami melihat mereka ada di jalan raya, di sepanjang 
jalan raya. Mereka mengatakan: bahwa apa yang dipublikasikan itu keliru. Yang 
benar adalah, ‘karena kurangnya sekolah dan gedung sekolah, disebabkan oleh 
kondisi pengajaran yang buruk di negeri kami’, maka kami mulai menyiasati 
keadaan, yaitu bahwa anak laki-laki, khususnya yang tertua akan menjadi 
penanggung jawab dan penting bagi keluarganya; oleh karena itu, kami 
mengutamakan saudara laki-laki paling besar daripada saudara-saudara lainnya, 
sekalipun mereka juga sam-sama laki-laki, agar mendapat tempat di sekolah. Maka 
laki-laki tertualah yang paling utama. Jadi, permasalahannya bukan perempuan 
atau laki-laki, melainkan keadaan telah mengatur aktivitas dan sikap kami. Jika 
keadaan pengajaran membaik, tentu setiap anak perempuan akan mendapat tempat 
seperti anak laki-laki.’

Sebenarnya, kami sangat terkejut dengan keadaan yang disiarkan secara bohong 
oleh media informasi Barat. Saya mengakui bahwa saya pribadi dulu mempercayai 
semua pemberitaan menyangkut Taliban, akan tetapi setelah melakukan kunjungan 
itu, seluruh delegasi tanpa terkecuali yakin tentang ketidakobjektifan media 
massa Barat dan upayanya untuk menyesatkan seluruh dunia, khususnya mengenai 
realitas Taliban dan Afghanistan.

Terus terang, saya juga menganggap kunjungan ini seluruhnya bernilai positif, 
karena dengan kunjungan ini kami mengerti sejauh mana kebohongan 
informasi-informasi yang dipublikasikan oleh media massa Barat.

Saya katakan: sudah waktunya negara-negara Islam untuk mulai mengakui 
pemerintahan Taliban. Ini merupakan pendapat delegasi Organisasi Konferensi 
Islam (OKI) dan pendapat saya pribadi. Saya katakan, sudah waktunya kita 
memahami bahwa kebanyakan kekuatan politik internasional menghendaki kondisi 
menyedihkan ini, di mana kekuatan-kekuatan ini berupaya menciptakan perpecahan 
di antara saudara-saudara seagama. Karena itu, saya menyerukan kepada dunia 
Arab dan Islam untuk merevisi sikapnya terhadap pemerintah Taliban.”

“Jika Anda menutupi dan secara sengaja tidak menyebarkan informasi kepada 
khalayak umum dalam rangka memperdaya mereka, maka itu disebut berbohong, atau 
lebih tepatnya pengkhianatan media, bukan jurnalisme!” (Jerry D. Gray)


      

Kirim email ke