ANGKOR WAT
Supir Tuk-tuk yang seharian ini akan menemani kami
mengunjungi Angkor adalah Anc. Anc memastikan jam 5 pagi kami sudah siap
berangkat agar tidak ketinggalan sunrise. Siip deh, Anc!
Jam 5 pas, kami menuju lobby dan benar saja, Anc sudah
menunggu.
“Sleep well, Miss?” sapanya.
“Oh of course, Anc… after back from Night Market we fall
asleep…”
Lalu Anc dengan penuh semangat menjelaskan rencana
perjalanan kami hari ini.
“If we have enough time, we must go to Lady Pagoda…”
“What is that, Anc?”
Anc menjelaskan dengan bahasa yang tidak begitu jelas, atau
sayanya yang masih ngantuk jadi nggak tune in… gampanglah nanti cari di
Google..:)
Langit Siem Reap masih gelap saat Tuk-tuk kami menyusuri
jalan menuju Angkor Wat. Sepanjang jalan, kami tidak bisa melihat pemandangan
kanan dan kiri. Yang ada hanya gelap. Tuk-tuk Anc terus melaju dalam gelap dan
bayang-bayang hitam.
Heran juga, menuju tempat wisata dunia, tapi nggak ada
secuil lampu listrik pun?
Akhirnya ada titik terang, kami sampai di pos masuk Angkor.
Untuk kunjungan 1 hari dikenai biaya 20 dolar (bandingkan
dengan Borobudur yang 10 dolar saja untuk turis asing), 40 dolar untuk 3 hari
dan jika mengunjungi 7 hari tarifnya 60 dolar. Ini resmi. Di pos ini kami
memperoleh tiket ‘terusan’ yang dilengkapi dengan foto diri. Ya, kami
diharuskan menghadapkan wajah ke kamera yang memang sudah disediakan di depan
loket.
“Jangan lupa senyum menghadap kamera ya, biar gambar kita
cantik di tiketnya...” kata Ari dari loket sebelah. Dan benar saja…subuh ini
kami pasang wajah manis dan tarrraaa… langsung tercetak di tiket masuk…..:)
Oya, kenapa saya bilang tiket terusan, karena sepanjang hari
ini kita akan menggunakan tiket tersebut untuk memasuki beberapa komplek candi
ada di wilayah Angkor dengan menunjukkan tiket tersebut kepada petugas. Bagi
turis yang melakukan kunjungan 3 atau 7 hari, petugas menyediakan wadah plastik
bertali, jadi tinggal mengalungkan tiket itu di leher, biar gampang keluar
masuk Angkor dan tidak perlu kuatir tiketnya terselip entah di mana kan? ;)
Setelah mendapatkan tiket masuk, Tuk-tuk Anc kembali melaju
memasuki wilayah Angkor.
Jalan masuk menuju gerbang Angkor Wat sendiri masih
kira-kira 1 km saat Anc menurunkan kami. Suasana masih cukup gelap, dan
lagi-lagi, tidak ada penerangan lampu listrik. Di depan sana terlihat beberapa
petugas memeriksa tiket dengan menggunakan senter. Suasana tanpa listrik ini
seolah membawa kami pada berabad-abad silam, apalagi melihat siluet Angkor Wat
di depan sana, kami seperti para Monk yang siap mengikuti ritual atau menghadap
raja Khmer….hihihi
“Be careful, Mam…” suara petugas Angkor membuyarkan lamunan.
Mereka membantu kami menyusuri jalan menuju pintu gerbang
dengan penerangan senter. Saat menaiki undakan tangga pun mereka membantu
dengan menyalakan senter. Malah tak segan-segan mereka membimbing pengunjung
lansia, meniti anak tangga maupun jalanan terjal berbatu-batu. Pelayanan yang
menyenangkan….
To be continue