SANGGAR
ANAK MATAHARI:
ANAK-ANAK
JALANAN YANG PENUH PRESTASI
Hari
Senin, tanggal 29 Maret 2010, menjadi hari yang bersejarah di kota Bekasi.
Pasalnya sekelompok anak jalanan yang bernaung di bawah Sanggar Anak Matahari
berhasil menjadi juara 1 kompetisi teater untuk umum pada event “Soul and
Humanity” yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UNISMA
Bekasi.
Sanggar
Anak Matahari menurunkan 20 anak asuhnya yang terdiri dari anak-anak usia 5
sampai 18 tahun. Karena tema kompetisi adalah tentang kemanusiaan, cerita yang
diangkat adalah mengenai kehidupan mereka sendiri sebagai anak jalanan. Diawali
dengan akrobat dan tampilan judul “Nyanyian Anak
Jalanan” yang dilekatkan pada kardus, anak-anak memeragakan getirnya kehidupan
di jalanan, mulai dari
eksploitasi orangtua terhadap anak, penjualan anak di bawah umur, pemalakan,
tawuran, sampai pencekokan minuman keras. Pada akhirnya hanya satu pesan yang
dituju: anak jalanan sebetulnya tak ingin tinggal di jalanan. Mereka tak ingin
dianggap sampah masyarakat, orang-orang yang tak berguna, karena anak jalanan
hanyalah anak biasa yang ingin sekolah, bermain, dan sayang. Namun semua
hanyalah mimpi jika masyarakat tak mau ambil peduli dan tak bersedia memberikan
kesempatan. Maka, pertanyaan mendasarnya adalah: maukah masyarakat memberikan
anak-anak kesempatan?
Dalam
perkembangannya, Sanggar Anak Matahari menempati satu petakan kontrakan kecil di
daerah Pintu Air, belakang Stasiun Bekasi. Terletak persis di samping
pembuangan sampah dan kandang-kandang kambing, Sanggar Anak Matahari memiliki
banyak potensi. Belum lama ini, Sanggar Anak Matahari yang sebelumnya bernama
Anak Jalanan Islam (Anjalis) memenangi kompetisi penulisan puisi dan juara 2
baca puisi trofi Walikota. Selain itu, sanggar dihuni juara kelas yang santun
dan luar biasa.
Didirikan
oleh Khairul Sidiq alias Ujang kurang lebih sepuluh tahun lalu, semua bermula
dari emperan toko Sentra Niaga. Dari semula 5 anak, anak binaan Ujang menjadi
150 anak. Setelah kedatangan adiknya, Andi, ke Bekasi, sanggar semakin
berkembang lagi. Sanggar Anak Matahari yang bertajuk Anjalis menelurkan album
nasyid pertamanya tahun 2006. Mereka pun mulai merumahkan sejumlah anak di
Kampung Mede. Sejak tahun 2009, Anjalis berganti nama menjadi Sanggar Potensi
Anak Negeri. Namun nama itu tak bertahan lama karena sulit diingat orang.
Akhirnya mulai awal tahun 2010 nama Sanggar Potensi Anak Negeri berubah lagi
menjadi Sanggar Anak Matahari.
Di
sanggar anak-anak diberikan sandang, pangan, papan, dibantu mengerjakan
pekerjaan rumah, pengajian, diberikan pelatihan komputer, teater, musik, puisi,
dan sebentar lagi bela diri. Pengembangannya masih swadaya oleh
sekelompok anak muda di bawah kepemimpinan Andi Suhandi dengan dukungan warga
sekitar dan kontribusi positif berbagai elemen masyarakat.
Hakikatnya, masih banyak kesulitan yang dihadapi, terutama terkait pendanaan
kegiatan sehari-hari dan penyediaan perumahan yang layak – karena masih
tinggal di kontrakan dan banyak anak yang belum tertampung, tapi pengurus
sanggar optimis bahwa dengan keyakinan, ketekunan, motivasi, serta peran serta
masyarakat dan pemerintah yang semakin besar, Sanggar Anak Matahari bisa
bertahan menghadapi perkembangan jaman dan anak-anak bisa tidak di jalanan
lagi, hingga meraih apa yang mereka impikan: bisa belajar, bermain, dan
disayang.
(Nadiah Abidin,
pengurus Sanggar Anak Matahari, penulis naskah “Nyanyian Anak Jalanan"
yang memenangi lomba)
Jika ada yang
berminat menjadi donatur tetap atau sekadar menyumbang sabun, alat tulis, bahan
makanan, dst, silahkan kontak saya di HP: 081310765420, (021) 92822107,
087884422260 atau Andi di (021) 96994575.