Angkor Thom dan Ta Prohm

 

Banyak candi di wilayah Angkor, untuk kunjungan satu hari,
kami memutuskan mengunjungi yang besar-besar saja. Setelah puas menghabiskan 
hampir
tiga jam di Angkor Wat, tuk-tuk Anc membawa kami ke Angkor Thom melalui gerbang
Selatan (South gate). Gerbang Selatan ini sebetulnya mirip seperti Gapura versi
candi alias gapura yang sengaja dibuat dengan batu yang sama seperti Angkor dan
ada reliefnya juga. Ada empat gate setahu saya (melihat di peta Angkor dan
menurut cerita Anc), South gate (yang kami barusan lewati), East gate, West
gate dan North gate. Gate ini gerbang menuju Angkor yang lain, dan kami memang
sedang menuju Angkor Thom.

 

Kanan kiri jalan adalah hutan, dan udaranya cukup sejuk di
bulan Februari (apa karena masih pagi ya?). Angin semilir terasa sedikit asing
mengingat kami sedang menuju tempat peninggalan masa lalu yang kemegahannya
dikenal seantero dunia. Hal yang sama juga saya rasakan saat, dulu, mengunjungi
candi-candi di Jawa.

 

Kami tiba di Angkor Thom atau disebut juga dengan Bayon.
Berbeda dengan Angkor Wat yang merupakan bangunan kerajaan, Angkor Thom lebih
seperti Borobudur, alias ‘candi pemujaan’. Masalahnya ada yang aneh. Kalau di
candi-candi pemujaan, kita sangat familiar dengan patung Buddha, di Angkor Thom
yang dijumpai adalah relief raksasa wajah seorang yang lebih mirip seperti raja
daripada sang Buddha. Kepala sang Buddha biasanya tidak ada hiasan mahkotanya,
yang ini kepalanya bermahkota. Atau jangan-jangan wajah sang Buddha di Angkor
memang bermahkota dibanding wajah sang Buddha di Borobudur yang sama sekali
tidak ada mahkota yang menjulang.

 

Rupanya, tebak-wajah-siapa di Angkor Thom ini memang menjadi
ajang diskusi yang menarik. Menurut saya nih, ini sih relief raja Angkor yang
sifatnya narsis abis…hehehe. Nggak tanggung-tanggung… candi dengan empat sisi
isinya muka orang semua… Karena jaman dulu media narsis adanya cuma batu, ya
batulah yang dipakai. Coba ada kamera digital, pasti lain cerita..hehehe. Kami
sempat tertawa geli mendengar percakapan dua wisatawan yang sepertinya suami
istri yang sedang melakukan tebak-wajah-siapa… ketika sang istri dengan sangat
serius menganalisis wajah di candi, lalu mendiskusikan dengan suaminya, dengan
enteng sang suami menjawab, “maybe he is Thom…” =)) 

 

Thom sendiri dalam bahasa Kamboja artinya besar. Dan memang
relief muka-orang-yang-entah-siapa itu besar banget. Setelah lelah menjelajah
sekaligus menebak-nebak muka siapa, kami melanjutkan perjalanan ke Ta Prohm.

 

Ta Prohm sangat populer karena pernah menjadi lokasi syuting
film Tomb Rider yang dibintangi Angelina Jollie. Aksi laga berjumpalitan itu
dilakukan di salah satu sudut Ta Prohm. Berbeda dengan Angkor Wat yang dibangun
di sebidang tanah lapang yang sangat luas, atau Angkor Thom yang dikelilingi
hutan, Ta Prohm adalah hutan itu sendiri. Pohon-pohon besar dengan ‘kurang
ajarnya’ tumbuh menjulang di atas candi yang sekilas seperti tampak ‘teraniaya’
ini. Bagaimana tidak teraniaya, banyak bangunan candi yang tak berdaya dililit
akar pohon raksasa berumur ratusan tahun yang tumbuh tepat di atasnya. Akar
yang besarnya seukuran batang pohon itu tak hanya melilit, bahkan mungkin
–kalau bisa- melahapnya. Tapi kalau menurut Ari, jangan-jangan candi justru
masih lestari karena akar-akar itu turut menyangganya.. Kalau tidak, bisa jadi
susunan bebatuan itu sudah ambruk ‘berkeping-keping’.

 

Melihat itu semua, di kepala saya diputar sebuah film cepat
proses tumbuhnya pohon raksana di atas candi. Bermula dari burung yang
menjatuhkan biji buah di atas batu candi, lalu biji itu bertunas menjadi
kecambah, lalu menjadi tanaman kecil dan seiring dengan waktu terus bertumbuh
selama puluhan bahkan ratusan tahun tanpa seorang manusia pun membersihkannya.
Dan jadilah seperti sekarang…pohon raksasa yang ujungnya saja tak bisa dilihat
oleh mata saking tingginya (kecuali kita usaha banget dan mendongakkan kepala
sampe pegel..hehehe).

 

 

To be continue







      

Kirim email ke